Espresso Ter-mewah.

Ternyata ini adalah sajian espresso termahal kawan…

Photo : Sajian espresso ter-mewah / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Perjalanan bandung – jakarta dengan bermobil memang butuh perjuangan, seiring dengan tangangan kemacetan di titik strategis di tol Cikampek -jakarta.

Tetapi apa mau dikata, tiket kereta habis, waktunya mepet… ya sudah bersama beberapa kru, meluncurlah menapaki jalan dengan segala kelengkapannya.

Maksudnya, isi bensin, isi e-toll card, isi perut di rest area (eh nanti inih mah), juga isi mobil dengan kresek indomaret/alfamart yang penuh dengan makanan ringan, minuman bersoda dan air mineral…. kayak piknik deh, satu lagi nyalakan aplikasi guglemap dan atau waze buat mantau perkembangan lalu lintas ke depan.

Berkat perkembangan teknologi, kita bisa (dibolehkan) tahu tentang sedikit masa depan lho…. tapi bukan urusan takdir yaa… tapi urusan jalan yang akan dilewati dengan bantuan aplikasi. Maka kita akan berusaha mengambil keputusan untuk memilih jalan terbaik, tercepat dan termudah yang dibantu dengan teknologi, meskipun tak sedikit yang malah tersesat karena guglemap nggak kenal sama panggung hajatan di tengah jalan, atau pagar komplek perumahan yang di gembok…. jadi…. meskipun teknologi bisa (sedikit-banyak) menolong kita, tetapi itu hanya gambaran singkat saja…..

Hikmahnya adalah, mari kita senantiasa bertaqwa karena Allah SWT sudah tahu arah kehidupan kita kemana…. sementara kita cuman tau dikit jalan yang (akan) dilalui aja terkadang suka jumawa…. sotoy dan sombong, tapi itulah dasar sifat kita semua heuheuheu.

Kembali ke cerita perjalanan bandung – jakarta, sesuai guglemap, warna merah hati terpampang di layar smartphone, menandakan kemacetan total siap menghadang. Si gugelmap nggak ngasih alternatif, jadi ya udah jalani aja…. ternyata bener, macet semacet-macetnya.

Segera makanan ringan dan minuman di buka, musik di mobil agak kencengin…. pokoknya bersiap melawan kebosanan…. maka 5,5 jam total perjalanan harus dijalani dengan keceriaan… ya iya laah, kalaupun sambil mutung dan marah-marah plus ngegerutu bin ngegerundel… “Tetep aja macet khan sob?”

Photo : Mesin espressonya / dokpri.

Alhamdulillah, tiba di jakarta menjelang sore langsung menuju tempat acara di kawasan bundaran HI, sebuah hotel megah yang nggak masuk standar biaya level kami… tapi indahnya rejeki, ada sponsor yang memberi kesempatan kepada kami, terima kasih.

Sebuah kamar yang luas dan strategis menyambut kami, juga kamar mandi yang lengkap baik shower, bathtube, toilet dan wastafel yang elegan. Serta yang paling membahagiakan adalah hadirnya mesin kopi yang bisa menghasilkan kopi espresso, dopio, americano lengkap dengan kopinya….. Alhamdulillah lagi.

Maka sebuah sebutan dan kesan mendalam menjadikan momen ini sebagai moment ngopay termewah, karena untuk menikmati sajian segelas espresso maka angka 2 juta lebih harus dikeluarkan….. maksudnya untuk bayar hotelnya hehehehe…. Nuhun pisan Mr.T.

Kepenatan melewati kemacetan tergantikan dengan fasilitas kamar yang begitu menyenangkan, meskipun tidak sempat menikmati kolam renang dan gym-nya tetapi secara keseluruhan tugas bisa dilaksanakan dan làncar……

….. kembali lagi urusan kopi….. nikmat banget ngopay di kamar, gratis, enak dan banyaak.. Asyik… srupuuuut.

Met wiken kawan, Wassalam (AKW).

Kopi Si Petung – Jakarta.

Nikmati kopi si petung dan kerinci di sini…

Photo : Sajian Kopi Si Petung JCH / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com.Bolak balik bandung – jakarta menjadi rutinitas mingguan yang tak terelakkan, argo parahiyangan menjadi kawan setia menemani di perjalanan meskipun sesekali harus menggunakan kendaraan roda empat karena tugasnya mendadak, tiket KA habis nggak mungkin jalan ditempat, apapun situasinya… berangkaaaat.

Maka berbahagialah dikala ada sisa waktu yang bisa digunakan, meskipun itu berarti harus menghitung akurat jangan sampai memgganggu jadwal meeting berikutnya.

Maka…. kali ini dengan menikmati fasilitas transportasi massal di ibukota yaitu MRT, yang lagi hits lhoo……. bisa meluncur dari Bundaran HI ke blok M dengan sekejap, keluar stasiun langsung akses ke mall…. kerenn pisan.

Dibantu aplikasi gugelmap dan culang cileung clingak clinguk, akhirnya bisa bersua dengan Si Petung di lantai bawah, foodcourt Mall Blok M, Jakarta.

Tadinya dikirain adalah sebuah varietas kopi asli jakarta, khan namanya seperti Si Pitung, pahlawan legendaris…. tapi khan kecil kemungkinan di jakarta ada kebun kopi… kebun kopi beneran yaa… soalnya di batas kota bandung dan cimahi ada juga nama daerah kebon kopi… tapi nggak ada kopi nya hehehehe.

Pas dideketin… eh ternyata kopi si petung, sebuah varian kopi aceh yang disajikan oleh barista cantik, non Alsy. Nggak pake lama, duduk dibangku tinggi, order dech.

Nama cafenya jakarta coffee house, kantor pusatnya di Cipete (kata non Alsy), malah katanya di cafe yang cipete lengkap dengan mesin roasting dan juga sajian wild luwak kopi…. waaah menarik tuh, kapan-kapan beredar ke situ ah.

Sajian pertama adalah manual brew kopi si petung aceh, menggunakan perbandingan 18gr dengan 210ml air panas bersuhu 82° celcius dan metode seduhnya muter melawan jarum jam hasilkan sajian kopi yang ringan, body cenderung medium less, acidity medium dengan tastenya sedikit karamel dan berry…. enak buat pemula tanpa beban berlebih di lidah. Tetapi buat diriku yang keseringan ngopi…. serasa kurang, tapi tetap nikmat.

Photo : Sajian kopi kerinci JCH / dokpri.

Maka untuk menambah semangat siang ini, dilanjutkan dengaan order kotala (kopi tanpa gula) yaitu kopi arabica kerinci…… kerinci yaaa, bukan kelinci…. hati-hati, itu beda arti.

Gramasi dan jumlah air tetap sama, tetapi menggrinder beannya yang berbeda, dengan putaran 4 mesin grinder Meisser kaffee menghasilkan saja agak kasar dan langsung diseduh dengan air panas 90° celcius….. cirrrrr..

Eh…. currrrr…..

hmmm wangiiiii……

Sambil berbincang singkat dengam non Alsy yang cekatan dan terlihat confident memproses sajian kopi V60 maka waktu yang tersisa tinggal sedikit lagi.

Langsung kopi yang tersaji disruput dan dinikmati, owww bodynya bold agak ninggal di bawah bibir dan aciditynya mantabs, bikin nyengir, after taste tamarin dan lemonnya muncul bersamaan…. lumayaaaan.

Srupuuut….

Akhirnya waktu jua yang memisahkan kita, musti kembali ke alam nyata melaksanakan tugas negara, berangkaaat…

Jadi yang moo ngopay pas di sekitar sini, kedai kopi ini recomended. Srupuut…. sruput lagii,Wassalam (AKW).

Nyoba MRT jakarta.

Akhirnya bisa menikmati MRT di negeri sendiri.

Photo : Kartu single trip MRT & kartu duit elektronik / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah kebanggaan menyeruak dikala meeting tuntas dan waktu luang masih tersedia sebelum tiba saatnya harus kembali ke Bandung menggunakan kereta api dari stasiun gambir jakarta.

“Emangnya moo kemana?.. ngopi yach?”

Ahay, pertanyaan tentang ngopi alias minum kopi menjadi common judge bagi diriku, sebagai penggila kopi, penyuka kopi yeaah… pokoknya minum kopi kapanpun dimanapun. Padahal, itu hanya pencitraan kok. Itu hanya sekelumit rutinitas kehidupanku yang merupakan salah satu syukur nikmat terhadap rejeki yang ada yaitu bisa menikmati kopi tanpa gula, kopi asli seduh manual dan offcourse without sugar, karena sudah manis seeeh….

Gubrak!!!!

Trus yang bikin keren adalah, semakin kita bersyukur dengan salah satu nikmat Illahi ini, semakin sering berkesempatan, berjumpa dengan beraneka jenis kopi atau kedai kopi, restoran yang menyediakan sajian manual brew hingga pas dapet kamar hotel…. eh ada mesin espressonya… ngopi lagi. Alhamdulillah.

Balik lagi ke waktu luang ini, meetingnya di area perkantoran SCBD (Sudirman Central Business Distrik) Jakarta, dan deket banget sama pintu masuk ke MRT Jakarta.

“Ohh… moo nyoba MRT, belum pernah yach?.. kacian”

Ya memang belum pernah, maklum jarang ke kota besar hehehe. Ah nggak usah dimasukin ke hati klo ada pernyataan nyinyir mah, biarkan saja. Memang belum pernah naik MRT di Jakarta, jadi mari kita coba. Cekidot.

Masuk dari stasiun Istora menuju Stasiun Bunderan HI, lalu keluar area stasiun… trus masuk lagi... jadi start resmi dimulai dari Stasiun Bundaran HI….. berangkaaat.

***

MRT Jakarta (Mass Rapid Transit) menjadi kebanggaan diriku sebagai warga NKRI, jadi bagi yang belum pernah mencoba MRT, nggak perlu musti terbang ke singapura. Sekarang tinggal beredar di ibukota, cari akses ke beberapa stasiun MRT….. langsung cobaa.

Oh iya, yang kepo dengan MRT ini, dari mulai sejarahnya, siapa yang jadi penanggungjawabnya, berapa biayanya termasuk bagaimana kelanjutan dari proyek MRT ini, tinggal pantengin aja.. eh emangnya radio.. 🤣🤣🤣, maksudnya klik aja website resminya DISINI.

Photo : Kolase ekspresi girang naik MRT / dokpri.

Nah karena aku juga baru berkesempatan nyoba sekarang, maka pengen berbagi sekaligus pamer, semoga menjadi informasi yang bermanfaat sekaligus ngomporin yang belum pernah nyoba, pasti ketagihan lho… dijamin.

MRT yang sekarang sudah resmi beroperasi terbentang dari Bundaran HI, nggak pas bundaran HI sih. Tetapi sedikit bergeser ke depan Plaza Indonesia ada petunjuk yang sangat jelas tentang pintu masuk MRT. Baik di kiri jalan depan Plaza Indonesia, di ssberang jalan Thamrin ataupun di jalur tengah tempat naik busway, cuman klo lewat jalur busway ini musti lewati dulu orang-orang calon penumpang busway baru di ujung ada jalan turun ke bawah tanah.

“Ticketnya gimana?”

Nggak usah khawatir, pokoknya turun dulu aja ke bawah tanah… cuss, bisa via tangga dengan anak tangga yang lumayan banyak… latihan dengkul, atau bagi calon penumpang prioritas tersedia lift yang diperuntukan untuk lansia, bumil, busui dll.

Nah pas nyampe lantai bawah, banyak penawaran kartu duit elektronik baik dari beberapa bank nasional seperti e-money mandiri, flazz bca, brizzi bri, jak-card ataupun tiket sekali jalan yang dikeluarkan pihak MRT yaitu single trip card yang berlaku selama 7 hari.

Klo yang pertama kali, mendingan pake kartu yang dikeluarkan MRT, lumayan buat kenang-kenangan, untuk selanjutnya bisa pake e-money yang sudah dipunyai.

Pembelian single trip cardnya bisa via petugas, harganya 20ribu untuk kartunya dan 14ribu untuk biaya dari stasiun HI sampai Stasiun Lebak bulus…. murah khaan?... atau juga melalui mesin.

Caranya gampang, baca petunjuknya secara seksama dan sejelas-jelasnya, ikuti instruksi, keluar deh kartu yang diminta… jikalau bingung, bertanyalah pada petugas…. ingat dengan pepatah lawas, ‘Malu bertanya sesat di jalan, besar kemaluan susah berjalan’.

Beres urusan kartu, baru menuju mesin entri. Tempel dan masuklah kita ke area keberangkatan, tengak temgoklah petunjuk yang bertebaran… ikuti instruksi.

MRT yang datang akan membuka pintu otomatis, maka prioritaskan orang yang keluar dan masuklah dengan tertib.

Jikalau dapat tempat duduk, duduklah. Tapi prioritaskan lansia, bumil, busui dan… lihatlah petunjuk diatas kursi prioritas… jelas kok disana.

Lebih aman berdiri sambil berpegang tali, jangan lupa ambil photo selpi dan segera upload karena para netizen menanti….. eaaaaaaa.

Dari Stasiun Bundaran HI kita akan berhenti di stasiun dukuh atas-setiabudi-benhil-istora-senayan-sisingamaraja-blok M-blok A-haji nawi-cipete raya-fatmawati-.. hingga berakhir di stasiun Lebak Bulus.

Klo udah nyampe, jangan lupa photo-photo lagi, trus tap tiket di mesin untuk keluar, dari situ cari mesin lagi atau petugas untuk beli tiket 14ribu atau top up kartu elektronikmu… masuk lagi dech dengan cara yang sama, tap lagi di pintu masuk…. cekidot.

Nah…. saran aku sih, pilih gerbong MRT terakhir… dijamin masih kosong melongpong.

Trus?….

Disinilah sifat asli wong ndesonya muncul. Pertama sih pose jaim (jaga image), lalu mulai sedikit berulah, pegang sana sini, loncat-loncat… ih bikin malu aja.

Malah diriku juga kepeleset saking semangatnya loncat dan diabadikan oleh seorang rekan…. hasilnya jadi bisa berpose tiduran di lantai gerbong MRT…. aduuh malu. Tapi apa mau dikata, sekarang semua orang jadi pewarta dengan modal smartphonenya, jadi harus ikhlas jikalau photo nggak kobe (kontrol beungeut/wajah) kita tiba-tiba nongol di WAgrup tetangga… alamaaak.

Ah udah ah seru-seruannya, akhirnya kembali duduk di kursi yang tersedia karena di stasiun berikutnya mulai masuk penumpang lainnya dan semua kembali jaga sikap seolah-olah tidak ada kehebohan apa-apa.

Trus yang menarik untuk MRT koridor Bundaran HI sampai lebak bulus itu akan kita dapatkan 2 pengalaman sekaligus. Yaitu perjalanan gelap dari bawah tanah, trus di daerah depan Al Azhar sebelum Blok M, gerbong MRTnya muncul ke permukaan dan langsung berada di atas jalan serta hamparan kota jakarta selatan, excited bingit.

Jadi, yang belum mencoba.. disegerakanlah, bukan hanya menikah bagi para jomlo yang sudah berani eh mampu yang disegerakan, tetapi menjajal MRT inipun harus menjadi prioritas…. mungpung masih agak lowong.

Photo : Dulu, naik MRT di Singapura / dokpri.

Besok lusa tentu akan menjadi lebih padat karena merupakan tulang punggung transportasi massal di Jakarta… percayalah.

Oh iya satu lagi, ada satu stasiun yang akses langsung ke mall yaitu stasiun Mall Blok M… keren khan?… jajal MRT trus nge-mall, shopping, masuk lagi MRT… tepat waktu, murah, cepat dan bersih….. ayoo cobaa.

Oke itu dulu aja cerita kelakuan ndesoku, jikalau dulu berteriak girang karena bisa menjajal MRT di negeri singa, sekarang lebih berbangga karena menikmati MRT di negeri sendiri. Wassalam (AKW).

Viet Black Coffee

Minum kopi di tempat berbeda.

Photo : Viet Black Coffee / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sensasi mencoba sesuatu yang berbeda itu bisa diartikan mendapatkan pengalaman baru, karena sudut pandang suatu momen tergantung dari mana kita melihatnya. Meskipun mungkin sudah tahu tentang barang itu, tetapi dengan lokasi yang berbeda akan lain juga suasana yang didapatkannya atau sebuah rasa yang dihadirkan.

Itulah yang terjadi sore ini, memasuki basement Plaza Indonesia Jakarta, berkeliling mencari kedai kopi hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah restoran yang berornamen asia, yaitu restoran Namnam, sebuah restoran vietnam.

Photo : dilihat dari luar / dokpri.

Restoran ini berbasis di Singapura, dan membuka cabang di Jakarta dan Bali…. “Lha kok promosi?…”

“Yo wis, monggo gugling aja yang pengen tahu resto ini”

“Kenapa memilih tempat ini?”

Jawaban yang muncul sederhana, hanya ingin tahu dengan sajian kopi vietnam yang dibuat dengan metode vietnam drip.

“Halah kagak aneh itu mah, udah banyak yang pake”

Nah itulah pokok bahasan ini, merasakan sebuah sajian kopi dengan cara seduh yang sudah lumrah pake vietnam drip tapi tempatnya beda, sebuah tempat yang disetting suasana vietnam banget sehingga mungkin bisa menghasilkan rasa berbeda.

Photo : Kopi & salad / dokpri.

Sajian kopinya bernama CÀ PHê DEN ( Viet black coffee) dengan harga 35 ribu, bentuknya yaa…. sajian kopi dengan vietnam drip.

Rasa yang dihasilkan memiliki kecenderungan body strong atau bold dan tanpa acidity karena memang basisnya adalah kopi robusta. Tetapi tetap gula yang disajikan tidak akan disentuh, karena sudah istiqomah dengan Kotala, kopi tanpa gula.

Dilengkapi oleh sajian salad yang bernama GÓI BUÓI TOM THIT, berisi Pomelo salad, prawn, chicken, assorted crackers alias kurupuk udang…. ternyata miliki rasa nano-nano, rasa manis dari jeruk.bali yang segar bergabung segarnya udang dan sejumput daging ayam ditambah dengan olive oil dan cuka, hasilkan rasa rujak seafood yang agak asing di lidah…. segar meski agak membingungkan..

Tapi tenaaaang kawan…

Photo : Suasana Restoran Namnam / dokpri.

Masalah rasa jangan khawatir, reseptor otak menerima sinyal kesyukuran, menghasilkan warna rasa di dalam kepala dan mengkristal menjadi rasa segar diantara kepahit-asam-manisan yang merata.

Ditopang oleh suasana resto vietnam yang detail lengkap dengan lampion merahnya, maka sruputan kotala yang tersaji berhasil memberikan aneka makna. Menambah rasa syukur terhadap tambahan pengalaman yang begitu berharga. Sruputtt… nikmaat, Wassalam (AKW).

Pod Rail Transit Suite Gambir

Mencoba kamar super mini di Gambir, ternyata….

Photo : Dalam Pod room / dokpri.

SERANG, akwnulis.com. Perjalanan pagi dari Stasiun Gambir menuju Wilayah Provinsi Banten, terasa begitu nyaman. Semenjak keluar dari Gambir, Nissan grand livina 1500 cc ini tidak menemui kemacetan berarti. Melesat lancar menuju tol kota dan terlihat bertolak belakang dengan arus lalu lintas menuju pusat jakarta. Terlihat kemacetan mengular meskipun sudah digunakan metode contra flow.

Pak Pri Hartono, sopir GoCar dengan tenang mengemudikan kendaraannya membelah suasana sunyi di satu sisi ditemani sinar mentari yang mulai hadir menghangati bumi.

Perjalanan yang begitu tenang dan damai, termasuk melewati kebon jerukpun tidak ada kemacetan berarti, Alhamdulillah pilihan waktu keberangkatan yang tepat, tadi pas pukul 06.00 wib mulai start dari Stasiun Gambir setelah beristirahat sejenak di PODnya Rail Transit Suite Gambir

“Apa itu PODnya Rail Transit Suite Gambir?”

Photo : Ayo mau dimana? / dokpri.

Nah inilah pengalaman yang perlu dicoba. Kebetulan memang dengan waktu yang begitu ketat dengan penjadwalan padat merayap maka praktis dalam 1 minggu ini pergi kesana kemari, atau istilah kerennya ‘ijigimbrang‘ kesana kemari.

Jangan tanya lelah, karena itu adalah realitas. Jangan tanya cape karena itu bikin bete. Tapi jalani saja semua dengan tetap berusaha menyeimbangkan antara kepentingan kerja dengan perhatian kepada keluarga.

Karena apa, kerja keras dalam bekerja tentu berharap mendapat penghasilan untuk keluarga. Disisi lain bukan hanya penghasilan tetapi juga perhatian bagi keluarga menjadi unsur penting yang harus diseimbangkan.

Photo : 20 kamar pod room / dokpri.

Metodenya?….. itu mah terserah masing-masing. Yang pasti, diskusikan dengan pasangan dan anak bahwa konsekuensi pekerjaan menuntut seperti ini. Disisi lain, luangkan waktu untuk tetap berjumpa dengan keluarga meskipun hanya sebentar. Bercengkerama lalu pamit mengejar kereta, tertawa bersama dirumah lalu terbang dengan pesawat berbujet murah. Tugas negara di jalankan, keluarga tetap terperhatikan…

“Ih kok jadi curcol, kamar pod-nya gimana?”

Ini ceritanya…. jeng jreng….

Kamar pod itu ternyata berasal dari istilah bahasa sunda, yaitu ‘nyemPOD‘ alias nyempil di tempat sempit… heuheuheu, maksa ih.

Tapi aslinya, kamar POd ini memang seukuran badan alias segede kotak peti mati atau tempat kremasi dech (klo liat di film-film). Dengan model dormitory asrama, ranjang bertingkat maka harga yang ditawarkan jauh lebih murah, via aplikasi traveloka dapet harga 200ribu untuk 1 hari. Kalau direct ke hotelnya bisa pake 12 jam atau 6 jam dengan harga lebih murah… tapi tidak dijamin ready, karena penuh terus.

Pod room (male only, share room), itu tulisan di keterangan aplikasi. Soalnya penutup kamar nyem-Pod ini hanya tirai….euh kerai belaka, khan klo ada perempuan trus salah kamar bisa berabe, sementara posisinya berjejer dan bertingkat.

Photo : kopi item fasilitas hotel / dokpri.

Overall, ruangannya bersih, AC dingin meskipun berbagi. Kamar PoDnya pake kartu untuk nyalakan lampu, ada kotak penyimpanan dibawah kaki lengkap dengan kunci. Handuk, sikat gigi dan sebotol air mineral tersedia sebagai fasilitas. Kasur dan bantalnya empuk dan bersih.

Nah, kamar mandinya sharing juga, 2 buah wc dan 3 shower, cukup untuk penghuni kamar Pod ini, khan maksimal 20 orang, tinggal giliran aja.

Oh ya mushola juga ada… juga pas pagi harinya ada fasilitas sarapan dalam bentuk nasi kotak, lumayaan… Alhamdulillah.

Meskipun penulis hanya menikmati sekitar 4 jam saja. Karena tiba jam 01.00 wib dengan KA argo Parahyangan dan disambut suasana temaram serta lomba dengkuran dari para penghuni memberi sensasi tersendiri dan jam 05.00 wib sudah bangun, mandi dan shalat karena pagi harinya harus sudah berangkat ke Banten diantar pak Pri sang Driver Gocar. Tidak lupa sebelum berangkat, ngopay dulu fasilitas hotel. Yaa.. kopi ala kadarnya hehehehe.

Pengalaman ini menambah wawasan dan hikmah, dimana nanti di alam kubur akan lebih sempit dari ini dan gelap gulita kecuali kita bisa membawa amalan-amalan yang baik, shodaqoh yang ikhlas, serta ibadah lainnya yang bernilai berkualitas di hadapan Illahi robbi serta doa-doa dari anak sholehah serta siapapun yang mendoakan kita kelak. Amiin Yaa Robbal alamiin, Wassalam (AKW).

Kolam Renang Hotel Borobudur – Jakarta

Birunya air bisa mendamaikan panasnya Ibukota, tapiii…..

Photo : Kolam renang Hotel Borobudur / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah harapan terkadang hanya angan yang tak bisa membumi dengan kenyataan. Begitupun dengan kejadian hari ini.

Luas kolam renang biru membentang, airnya jernih mengajak untuk bercengkerama dalam kesegaran. Dengan ukuran olimpic alias panjang 50 meter dan lebarnya 25 meter (standar ukuran federasi renang internasional), kedalaman kolam minimum 1,35 meter hingga 6 meter dihitung dari dinding kolam.

Nah disini, di kolam renang Hotel Borobudur Jakarta, kedalaman kolam renangnya dimulai dari 1,4 meter, 1,5 meter, 1,6 meter dan terakhir paling ujung timur kolam kedalamannya 3,8 meter.

Photo : Kolam renang anak / dokpri.

Di arah kanan barat tersedia juga kolam renang anak kecil dengan ukuran bujur sangkar 10 × 10 meter tapi ada lekukan tajam (kayaknya), soalnya nggak bawa meteran, trus pas nyoba diukur pake jengkalan tangan… keburu pegel heuheuheu, trus mas mas safeguardnya ngeliatin terus. Mungkin dalam hatinya dia berkata, “Orang ini kenapa ya?, kayaknya baru ke kolam renang”

Maka di otak segera disusun rencana, kapan bisa nyebur disini. Bukan untuk berenang di kedalaman 3,8 meter tetapi cukup bercengkerama di pinggir kolam sambil menikmati pemandangan.

“Lho kok gitu, kamu mau berenang atau cuman liat yang berenang?… atau jangan-jangan kamu nggak bisa berenang?”

Photo : Salah satu private garden Hotel Borobudur / dokpri.

Pertanyaan bertubi-tubi menohok diri, menyudutkan harapan yang semakin menyempit.

Pertanyaan itu tidak untuk dijawab. Hadirku disini bukan untuk bercengkerama dengan segarnya air kolam renang ukuran olimpic ini saja tapi banyak hal penting yang harus dikerjakan.

“Apaan tuh?”
“Sttttt.. rahasia” perlahan berbisik sambil menempelkan jari telunjuk di jidat…. eh di bibir.

***

Oh ya, kolam renang disini full fasilitas. Handuk jelas ada, shower buat mandi dan berbilas tersedia. Bilas di luar juga tersedia di dekat kolam renang anak… atau buat anak2 kali ya?

Trus safeguard ada, kursi bersantainya banyak lengkap dengan payung peneduh. Suasana sekitarnya asri dan taman yang luas. Bisa jogging berkeliling area taman, atau bermain tennis lapangan, tinggal milih karena jumlah lapangan tenisnya banyaak.

Photo : Melihat kolam renang dari atasnya / dokpri.

Oh ya lupa, air kolam renangnya dingin. Klo kepengen air hangat ya ada jacuzzi tapi berbeda lokasi dengan kolam renang. Musti jalan dulu melewati pinggir lapang tennis.

Pokoknya lengkap deh, cuman syaratnya memang musti nginep di hotel ini.

“Woooy… ngapain nongkrong disitu?”
Gelegar suara bos memecahkan konsentrasi. Tanpa jawaban dari mulut yang ternganga, sebuah anggukan lemah mewakilinya.
Untung aja belum copot copot dan pake bikini… eh celana renang.

“Selamat tinggal kolam renang, moo meeting dulu yaaa”

“Iyaa” Kolam renang menjawab sambil mengibaskan riak air membiru, menenangkan hati mungkin bisa bersua lain kali dan menambah semangat untuk bersiap kembali menapaki perjalanan diri hari ini. Wassalam (AKW).

Lapangan Banteng – Jakarta

Jalan pagi di sini, lapangan banteng Jakarta pusat.

Photo : Sinar mentari di sekitar lapangan banteng / dokpi

JAKARTA, akwnulis.com. Sang mentari masih sembunyi dikala raga ini bergerak menapaki kesegaran di jantung ibukota. Jikalau di kesempatan sebelumnya area monumen nasional menjadi tujuan utama. Maka hari ini pilihan jatuh disini, sebuah area lapangan yang ikonik, Lapangan Banteng.

Awalnya disebut dengan Lapangan singa karena terdapat patung singa disana sebagai bentuk peringatan kemenangan Napoleon di Waterloo… dulu disebut juga Waterloopline, wow jauh bingit ya sejarahnya.Tetapi jaman pendudukan jepang, patung singa itu dirubuhkan.

Photo : Lapangan banten dilihat dari lt18 / dokpri

Era pemerintahan Presiden Soekarno dibuatlah Monumen Trikora Pembebasan Irian Barat yang menggelorakan semangat perjuagan rakyat indonesia merebut Irian barat. Berwujudlah patung pemuda pejuang kekar yang terbebas dari belenggu penjajahan karya pematung Edhi Sunarso yang diawali sketsa oleh Henk Ngantung.

Di tahun 2018 dilakukan renovasi besar-besaran sehingga mewujud menjadi taman yang indah dan fungsional dengan 3 zona yaitu Zona Monumen, zona olahraga dan zona taman.

Photo : Taman bermain dan berolahraga / dokpri

Hari ini, menjejakkan kaki disini. Menikmati sepoi angin pagi dengan belaian mesranya. Raga berkeliling menyusuri taman, amphiteater dan zona monumen. Juga berkeliling ke area olahraga dan tempat taman bermain anak, lengkap sudah. Apalagi di tengah-tengah terdapat air mancur yang (katanya) menjadi ikon malam minggu, mengundang ribuan orang untuk menikmatinya.

Tak terasa berjalan kesana kemari, naik turun tangga hingga 45 menit. Keringat membanjir dan dahaga mulai terasa. Segera terobati oleh hadirnya keran-keran air minum yang siap minum, senangnya.

Pagi ini juga bersua dengan Pak Rahmat, warga sekitar yang rutin berlari pagi di lapangan banteng ini. Berbagi sekelumit kisah hidup juga profesi sebagai pengamanan sekaligus ahli pijat refleksi yang siap dipanggil dikala senggang. Nambah kenalan menjalin silaturahmi di pagi yang alami di jantung ibukota.

Tetapi karena waktu meeting sebentar lagi tiba, segera bergegas kembali ke hotel. Bersiap mandi dan bersolek, agar hadir meeting tepat waktu dan molek…. ih masa laki-laki bersolek dan molek, berdandan atuhh!!.

Sebelum naik ke lantai 10, mampir dulu di restorannya. Aneka sajian makanan berlimpah, tapi sesuai janji, hanya potongan buah saja untuk isi perut di pagi ini. Maka semangka, melon dan pepaya yang berada di piring saji dan dengan segera dinikmati.

Wilujeng sarapan bray, Wassalam (AKW).

Ruang Seduh – Jkt

Kemacetan di Jalan Kemang Raya Jakarta bukan menjadi masalah karena memang tidak setiap saat melewati jalan ini.

“Ih kamu mah egois, coba emphati dong dengan kami yang menjadi rutinitas lewat jalan ini!!!”

“Ups maaf kawan, tiada maksud begitu. Tapi aku mah apa atuh, bisa ke Jakarta aja paling 3 bulan sekali. Maaf yaa”

Kami bersalaman virtual dengan suara tanpa wujud. Nggak pake lama, kami berteman tanpa ikatan. Meski kemacetan tetap menghadang, tapi minimal rasa lelah antri agak teralihkan.

***

Jadi yang lamanya di Jalan Kemang Raya, hampir 1 jam hingga tiba di tempat tujuan.

“Kamu mau kemana sih?”

Bukan jawaban suara yang keluar, tetapi bahasa tubuh menunjuk ke arah kanan jalan. Jajaran toko dan salah satu tokonya menjadi tujuan utama.

‘Ruang Seduh’ tertulis sebuah nama yang unik. Itulah tujuan malam ini. Berdasarkan info dari IG, tempat ini ada 2 lokasi. Yang satu di Yogyakarta dan satu lagi disini, di Jakarta.

Sebuah tempat menikmati kopi yang disuka para millenial untuk berjumpa, bercengkerama, bekerja ataupun menyendiri menikmati seduhan kopi sambil membaca bermacam buku-buku yang tersaji cantik di rak-rak minimalis yang ditata dengan tema penuh kehangatan.

***

“V60 Kopi Aceh Wonderkid dan Croisant Coklatnya!”

“Oke bang”

Dialog singkat yang menjadi momen penyamputan di kafe ‘Ruang Seduh’. Pelayannya anak muda, wajah datar tanpa senyum.

“Kok nggak sehangat penyambutan seperti beberapa review di IG-nya??” Pertanyaan kecil menggelitik hati, tapi kembali didebat, “Mungkin mereka sudah cape atau memang begitu sama orang yang pertama datang. Atau memang harapanku yang terlalu tinggi disaat membaca IG-nya, ah sudahlah”

Setelah duduk di tempat kosong, memandang sekeliling. Tempat yang menyenangkan untuk bercengkerama menikmati sajian kudapan dan kopi. Sambil kongkow dengan temen-temen. Juga bisa sekaligus bekerja karena konsep mini co-working space tersaji disini. Colokan listrik berhamburan diberbagai tempat, memanjakan golongan Facok ‘fakir colokan’, jadi jangan khawatir lowbatt kawan-kawan.

Photo : V60 Aceh Wonderkid + Croisant / dokpri

Trus di kanan terdapat beraneka buku-buku yang bisa dibaca sambil santai, duduk di bangku-bangku yang berbentuk kubus atau kursi meja yang ditata variatif, ditambah juga pilihan sajian gelato yang bisa diorder terpisah, masih di dalam kafe ‘Ruang Seduh’ ini.

***

Over all, kafe ini enak buat kongkow atau juga untuk menyendiri. Tentunya ditemani secangkir kopi pilihan diri yang bisa diorder berulangkali, tapi jangan lupa membayar lagi hehehehehe.

Alhamdulillah, rasa lelah dan kesal menembus kemacetan dari Jakarta Utara hingga ke daerah Kemang terbayar sudah. Keluarin buku bacaan andalan, juga kabel charger smartphone sambil menkmati harumnya kopi dalam suasana cozy.

Udah ah gitu dulu yach. Sruput. GoodBye. (AKW).

Rapat Evaluasi Kebijakan KEK – Kemdagri 27-28 Okt 2018

Catatan penting Rapat Evaluasi Kebijakan KEK oleh Kementerian Dalam Negeri pada tanggal 27-28 September 2018 di Jakarta.

Akwnulis.com, Jakarta. Rapat Evaluasi Kebijakan Pemerintah berkaitan dengan Penyelenggaraan Kawasan Khusus Lingkup Kawasan Ekonomi Khusus yang di selenggarakan oleh Direktorat Adm Bina Wilayah Kementerian Dalam Negeri, Minute of Meetingnya ini lho :

1. Kegiatan dilaksanakan di Hotel Zuri Express Jakarta Pusat pada tanggal 26-28 September 2018 diikuti oleh peserta dari unsur pemerintah pusat dan 52 orang pejabat provinsi/kab/kota di Indonesia. Dari wilayah Provinsi Jawa Barat yang diundang adalah Pemprov Jabar, kab Sukabumi, Pangandaran, Majalengka, Purwakarta, KBB, Sumedang & Subang, sementara yang hadir dari Pemprov Jabar adalah Kabag Sarek dan staf serta dari kabupaten adalah Asisten Ekbang Kab Sukabumi.

2. Maksud Rapat evaluasi kebijakan pemerintah ini adalah memfasilitasi Pemda dalam rangka membangun sinergi pelaksanaan berbagai regulasi dan kebijakan dalam upaya pembinaan, pengawasan dan pengendalian serta penanganan masalah dan konflik dalam penyelenggaraan pengelolaan dan pengembangan KEK.

Sasarannya adalah mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dibidang pengelolaan dan pengembangan KEK sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Agenda Kegiatan hari Kamis tgl 27 September 2018 diawali oleh Pemaparan Dir Kawasan, Perkotaan dan Batas Negara, Kemendagri mengenai Evaluasi Peran Pemerintah Daerah pada KEK dalam menggerakkan perekonomian daerah guna memperkuat kebijakan ekonomi nasional dilanjutkan dengan
membahas tentang capaian dan tantangan pengembangan KEK kurun waktu 2014-2019 dan arah Kebijakan Pengembangan KEK 2019-2014, serta Evaluasi kebijakan dan Implementasi Penanaman Modal dalam mempercepat kemudahan berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus, dimana terdapat poin2 penting yaitu :

a. Konsep KEK adalah faktor pemerataan bangkitan ekonomi, faktor pertumbuhan dan faktor daya saing dengan Target RPJMN 2019 adalah 25 KEK, kondisi eksisting 12 KEK susah ditetapkan dan baru 4 yang beroperasi yaitu : KEK Palu, KEK Mandalika, KEK Sei Manke dan KEK Tanjung Lesung.

b. Poin penting awal adalah pengusulan KEK dari 4 pihak yang dimungkinkan yaitu Pemprov, Pemkab/Pemkot, Kementerian/Lembaga dan Badan Usaha harus melalui Komitmen dengan pemerintah daerah khususnya terkait ‘restu’ untuk keringanan pajak dan retribusi serta regulasi RTRW yang sesuai.
c. Permasalahan mendasar dalam penyelenggaraan KEK adalah : Ketersediaan lahan, pembiayaan, ìnsentif, pola hubungan dengan kebutuhan masyarakat, pengembangan usaha BUP, pelimpahan kewenangan oemberian insentif dan Komitmen Pemda serta perijinan.
d. Terkait peran Provinsi dan Kab/kota dalam melaksanakan verifikasi serta pemeriksaan berkas usulan KEK dari badan usaha berdasarkan PermenkoPerekonomian No.7/2011 adalah terbatas pada pengecekan kelengkapan secara administratif saja karena verifikasi detail dan kedalaman konten akan dilakukan oleh Dewan Nasional KEK.

4. Agenda Kegiatan Hari Jumat, 28 September 2018 bertema Kebijakan Penyediaan Lahan dalam mendukung Pembentukan KEK di daerah serta Best practise pengusulan KEK Singhasari Kabupaten Malang serta penyusunan rekomendasi rapat evaluasi, kesimpulannya adalah :

a. Keterkaitan penyediaan Lahan dalam penyelenggaraan KEK pasa awalnya tidak menggunakan mekanisme UU 2/2012 karena KEK tidak termasuk kriteria untuk kepentingan umum, tetapi setelah terbit Perpres 58/2017 dan KEK menjadi bagian dari PSN maka UU 2/2012 menjadi pedoman dalam penyediaan Lahan untuk penyelenggaraan KEK.

b. Mekanisme penyediaan lahan berdasarkan UU 2/2012 bisa dilaksanakan dengan syarat pengusulnya adalah : Pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN yang ditugaskan pemerintah pusat. Jika pengusulnya badan usaha swasta atau BUMN non penugasan maka pola penyediaan lahannya melalui kesepakatan dengan pemilik tanah (B to B).

c. Terkait best practise proses pengusulan KEK Singhasari di Kab Malang, poin pentingnya adalah koordinasi intensif dengan Kementerian terkait, pemprov dan pihak swasta sehingga singkronisasiprogram dan pemahaman masing2 pihak bisa saling melengkapi dan saling mendukung.

5. Agenda terakhir adalah penyusunan rumusan hasil Rapat Evaluasi yang disepakati bersama antara Panitia dengan para peserta rapat yaitu :

a) Perlu adanya peningkatan SDM di dalam administrasi dan BUPP KEK (Badan Usaha Pengelola dan Pengembangan) yang mengerti perijinan dan pembangunan kawasan

b) Perlu pemahaman regulasi dan kebijakan yg komprehensif dan holistik antara Pemerintah Pusat, Prov, Kab/Kota dan swasta

c) Kementerian dan K/L memfasilitasi daerah2 yg telah mengusulkan KEK ke Dewan Nasional KEK utk penetapan PP dg memenuhi persyaratan sesuai dg peraturan perundangan

Demikian MoM-nya, cekidot. (AKW).

Kolam Renang Park Regis Arion Kemang

Review iseng Kolam Renang Hotel

Photo : Malam menelang di kolam renang / dokpri

Tadinya udah semangat mau berenang, memanjakan diri bercengkerama dengan segarnya air di kolam renang. Meskipun kejernihannya didukung penuh oleh kaporit tetapi tetap saja memanjakan mata dan menenangkan hati.

Padahal berenangnya pun belum fasih dengan aneka gaya, baru bisa meluncur lalu gerakkan tangan dan kaki hingga tubuh bisa bergerak ke depan secara perlahan tapi pasti.

Jam 21.09 baru bisa masuk kamar di lantai 3, simpan tas dan buka sepatu. Giliran buka tas, ternyata celana renang nggak dibawa, kecewa.

Eh nggak juga, memang nggak niat berenang juga kok. Ini sih klo kebetulan ada kolam, ya nyebur deh. Tapi survey itu penting, minimal jadi referensi jikalau next time nginep lagi di hotel ini.

Nggak pake lama, segera keluar kamar, masuk lift dan menuju lantai 7 dimana kolam renang berada, info dari petugas hotel.

Bener saja, keluar pintu lift di lantai 7 langsung ada petunjuk ke kolam renang, ruang fitnes dan Spa. Tapi sepi nggak ada orang, mungkin petugasnya lagi ke toilet.

Photo : Kolam renang lantai 7 / dokpri

Langsung menuju pintu akses ke kolam renang dan akhirnya bisa menikmati suasana damai sambil terdiam di pinggir kolam. Bentuknya standar persegi dengan kedalaman 1,5 meter. Panjang sekitar 20 meter dan lebar 7 meter (ahay kira-kira, maklum nggak bawa penggaris bro).

Sambil berkeliling di area kolam renang, menikmati sedikit pemandangan Jalan Kemang Raya dari lantai 7. Semilir angin malam menyapa jiwa melewati gazebo kayu di ujung kanan, 1 set meja kursi serta terdapat 4 kursi santai yang bisa digunakan pasca berenang ataupun untuk rilex sesaat sambil menikmati hidangan yang dipesan.

Tapi, niat berenangnya urung terjadi karena malam mulai larut juga kebetulan malem jumat. Jadi segera diputuskan kembali ke kamar di Hotel Park Regis Arion untuk beristirahat menyongsong esok yang penuh harap (AKW).