Viet Black Coffee

Minum kopi di tempat berbeda.

Photo : Viet Black Coffee / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sensasi mencoba sesuatu yang berbeda itu bisa diartikan mendapatkan pengalaman baru, karena sudut pandang suatu momen tergantung dari mana kita melihatnya. Meskipun mungkin sudah tahu tentang barang itu, tetapi dengan lokasi yang berbeda akan lain juga suasana yang didapatkannya atau sebuah rasa yang dihadirkan.

Itulah yang terjadi sore ini, memasuki basement Plaza Indonesia Jakarta, berkeliling mencari kedai kopi hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah restoran yang berornamen asia, yaitu restoran Namnam, sebuah restoran vietnam.

Photo : dilihat dari luar / dokpri.

Restoran ini berbasis di Singapura, dan membuka cabang di Jakarta dan Bali…. “Lha kok promosi?…”

“Yo wis, monggo gugling aja yang pengen tahu resto ini”

“Kenapa memilih tempat ini?”

Jawaban yang muncul sederhana, hanya ingin tahu dengan sajian kopi vietnam yang dibuat dengan metode vietnam drip.

“Halah kagak aneh itu mah, udah banyak yang pake”

Nah itulah pokok bahasan ini, merasakan sebuah sajian kopi dengan cara seduh yang sudah lumrah pake vietnam drip tapi tempatnya beda, sebuah tempat yang disetting suasana vietnam banget sehingga mungkin bisa menghasilkan rasa berbeda.

Photo : Kopi & salad / dokpri.

Sajian kopinya bernama CÀ PHê DEN ( Viet black coffee) dengan harga 35 ribu, bentuknya yaa…. sajian kopi dengan vietnam drip.

Rasa yang dihasilkan memiliki kecenderungan body strong atau bold dan tanpa acidity karena memang basisnya adalah kopi robusta. Tetapi tetap gula yang disajikan tidak akan disentuh, karena sudah istiqomah dengan Kotala, kopi tanpa gula.

Dilengkapi oleh sajian salad yang bernama GÓI BUÓI TOM THIT, berisi Pomelo salad, prawn, chicken, assorted crackers alias kurupuk udang…. ternyata miliki rasa nano-nano, rasa manis dari jeruk.bali yang segar bergabung segarnya udang dan sejumput daging ayam ditambah dengan olive oil dan cuka, hasilkan rasa rujak seafood yang agak asing di lidah…. segar meski agak membingungkan..

Tapi tenaaaang kawan…

Photo : Suasana Restoran Namnam / dokpri.

Masalah rasa jangan khawatir, reseptor otak menerima sinyal kesyukuran, menghasilkan warna rasa di dalam kepala dan mengkristal menjadi rasa segar diantara kepahit-asam-manisan yang merata.

Ditopang oleh suasana resto vietnam yang detail lengkap dengan lampion merahnya, maka sruputan kotala yang tersaji berhasil memberikan aneka makna. Menambah rasa syukur terhadap tambahan pengalaman yang begitu berharga. Sruputtt… nikmaat, Wassalam (AKW).

Pod Rail Transit Suite Gambir

Mencoba kamar super mini di Gambir, ternyata….

Photo : Dalam Pod room / dokpri.

SERANG, akwnulis.com. Perjalanan pagi dari Stasiun Gambir menuju Wilayah Provinsi Banten, terasa begitu nyaman. Semenjak keluar dari Gambir, Nissan grand livina 1500 cc ini tidak menemui kemacetan berarti. Melesat lancar menuju tol kota dan terlihat bertolak belakang dengan arus lalu lintas menuju pusat jakarta. Terlihat kemacetan mengular meskipun sudah digunakan metode contra flow.

Pak Pri Hartono, sopir GoCar dengan tenang mengemudikan kendaraannya membelah suasana sunyi di satu sisi ditemani sinar mentari yang mulai hadir menghangati bumi.

Perjalanan yang begitu tenang dan damai, termasuk melewati kebon jerukpun tidak ada kemacetan berarti, Alhamdulillah pilihan waktu keberangkatan yang tepat, tadi pas pukul 06.00 wib mulai start dari Stasiun Gambir setelah beristirahat sejenak di PODnya Rail Transit Suite Gambir

“Apa itu PODnya Rail Transit Suite Gambir?”

Photo : Ayo mau dimana? / dokpri.

Nah inilah pengalaman yang perlu dicoba. Kebetulan memang dengan waktu yang begitu ketat dengan penjadwalan padat merayap maka praktis dalam 1 minggu ini pergi kesana kemari, atau istilah kerennya ‘ijigimbrang‘ kesana kemari.

Jangan tanya lelah, karena itu adalah realitas. Jangan tanya cape karena itu bikin bete. Tapi jalani saja semua dengan tetap berusaha menyeimbangkan antara kepentingan kerja dengan perhatian kepada keluarga.

Karena apa, kerja keras dalam bekerja tentu berharap mendapat penghasilan untuk keluarga. Disisi lain bukan hanya penghasilan tetapi juga perhatian bagi keluarga menjadi unsur penting yang harus diseimbangkan.

Photo : 20 kamar pod room / dokpri.

Metodenya?….. itu mah terserah masing-masing. Yang pasti, diskusikan dengan pasangan dan anak bahwa konsekuensi pekerjaan menuntut seperti ini. Disisi lain, luangkan waktu untuk tetap berjumpa dengan keluarga meskipun hanya sebentar. Bercengkerama lalu pamit mengejar kereta, tertawa bersama dirumah lalu terbang dengan pesawat berbujet murah. Tugas negara di jalankan, keluarga tetap terperhatikan…

“Ih kok jadi curcol, kamar pod-nya gimana?”

Ini ceritanya…. jeng jreng….

Kamar pod itu ternyata berasal dari istilah bahasa sunda, yaitu ‘nyemPOD‘ alias nyempil di tempat sempit… heuheuheu, maksa ih.

Tapi aslinya, kamar POd ini memang seukuran badan alias segede kotak peti mati atau tempat kremasi dech (klo liat di film-film). Dengan model dormitory asrama, ranjang bertingkat maka harga yang ditawarkan jauh lebih murah, via aplikasi traveloka dapet harga 200ribu untuk 1 hari. Kalau direct ke hotelnya bisa pake 12 jam atau 6 jam dengan harga lebih murah… tapi tidak dijamin ready, karena penuh terus.

Pod room (male only, share room), itu tulisan di keterangan aplikasi. Soalnya penutup kamar nyem-Pod ini hanya tirai….euh kerai belaka, khan klo ada perempuan trus salah kamar bisa berabe, sementara posisinya berjejer dan bertingkat.

Photo : kopi item fasilitas hotel / dokpri.

Overall, ruangannya bersih, AC dingin meskipun berbagi. Kamar PoDnya pake kartu untuk nyalakan lampu, ada kotak penyimpanan dibawah kaki lengkap dengan kunci. Handuk, sikat gigi dan sebotol air mineral tersedia sebagai fasilitas. Kasur dan bantalnya empuk dan bersih.

Nah, kamar mandinya sharing juga, 2 buah wc dan 3 shower, cukup untuk penghuni kamar Pod ini, khan maksimal 20 orang, tinggal giliran aja.

Oh ya mushola juga ada… juga pas pagi harinya ada fasilitas sarapan dalam bentuk nasi kotak, lumayaan… Alhamdulillah.

Meskipun penulis hanya menikmati sekitar 4 jam saja. Karena tiba jam 01.00 wib dengan KA argo Parahyangan dan disambut suasana temaram serta lomba dengkuran dari para penghuni memberi sensasi tersendiri dan jam 05.00 wib sudah bangun, mandi dan shalat karena pagi harinya harus sudah berangkat ke Banten diantar pak Pri sang Driver Gocar. Tidak lupa sebelum berangkat, ngopay dulu fasilitas hotel. Yaa.. kopi ala kadarnya hehehehe.

Pengalaman ini menambah wawasan dan hikmah, dimana nanti di alam kubur akan lebih sempit dari ini dan gelap gulita kecuali kita bisa membawa amalan-amalan yang baik, shodaqoh yang ikhlas, serta ibadah lainnya yang bernilai berkualitas di hadapan Illahi robbi serta doa-doa dari anak sholehah serta siapapun yang mendoakan kita kelak. Amiin Yaa Robbal alamiin, Wassalam (AKW).

Kolam Renang Hotel Borobudur – Jakarta

Birunya air bisa mendamaikan panasnya Ibukota, tapiii…..

Photo : Kolam renang Hotel Borobudur / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah harapan terkadang hanya angan yang tak bisa membumi dengan kenyataan. Begitupun dengan kejadian hari ini.

Luas kolam renang biru membentang, airnya jernih mengajak untuk bercengkerama dalam kesegaran. Dengan ukuran olimpic alias panjang 50 meter dan lebarnya 25 meter (standar ukuran federasi renang internasional), kedalaman kolam minimum 1,35 meter hingga 6 meter dihitung dari dinding kolam.

Nah disini, di kolam renang Hotel Borobudur Jakarta, kedalaman kolam renangnya dimulai dari 1,4 meter, 1,5 meter, 1,6 meter dan terakhir paling ujung timur kolam kedalamannya 3,8 meter.

Photo : Kolam renang anak / dokpri.

Di arah kanan barat tersedia juga kolam renang anak kecil dengan ukuran bujur sangkar 10 × 10 meter tapi ada lekukan tajam (kayaknya), soalnya nggak bawa meteran, trus pas nyoba diukur pake jengkalan tangan… keburu pegel heuheuheu, trus mas mas safeguardnya ngeliatin terus. Mungkin dalam hatinya dia berkata, “Orang ini kenapa ya?, kayaknya baru ke kolam renang”

Maka di otak segera disusun rencana, kapan bisa nyebur disini. Bukan untuk berenang di kedalaman 3,8 meter tetapi cukup bercengkerama di pinggir kolam sambil menikmati pemandangan.

“Lho kok gitu, kamu mau berenang atau cuman liat yang berenang?… atau jangan-jangan kamu nggak bisa berenang?”

Photo : Salah satu private garden Hotel Borobudur / dokpri.

Pertanyaan bertubi-tubi menohok diri, menyudutkan harapan yang semakin menyempit.

Pertanyaan itu tidak untuk dijawab. Hadirku disini bukan untuk bercengkerama dengan segarnya air kolam renang ukuran olimpic ini saja tapi banyak hal penting yang harus dikerjakan.

“Apaan tuh?”
“Sttttt.. rahasia” perlahan berbisik sambil menempelkan jari telunjuk di jidat…. eh di bibir.

***

Oh ya, kolam renang disini full fasilitas. Handuk jelas ada, shower buat mandi dan berbilas tersedia. Bilas di luar juga tersedia di dekat kolam renang anak… atau buat anak2 kali ya?

Trus safeguard ada, kursi bersantainya banyak lengkap dengan payung peneduh. Suasana sekitarnya asri dan taman yang luas. Bisa jogging berkeliling area taman, atau bermain tennis lapangan, tinggal milih karena jumlah lapangan tenisnya banyaak.

Photo : Melihat kolam renang dari atasnya / dokpri.

Oh ya lupa, air kolam renangnya dingin. Klo kepengen air hangat ya ada jacuzzi tapi berbeda lokasi dengan kolam renang. Musti jalan dulu melewati pinggir lapang tennis.

Pokoknya lengkap deh, cuman syaratnya memang musti nginep di hotel ini.

“Woooy… ngapain nongkrong disitu?”
Gelegar suara bos memecahkan konsentrasi. Tanpa jawaban dari mulut yang ternganga, sebuah anggukan lemah mewakilinya.
Untung aja belum copot copot dan pake bikini… eh celana renang.

“Selamat tinggal kolam renang, moo meeting dulu yaaa”

“Iyaa” Kolam renang menjawab sambil mengibaskan riak air membiru, menenangkan hati mungkin bisa bersua lain kali dan menambah semangat untuk bersiap kembali menapaki perjalanan diri hari ini. Wassalam (AKW).

Lapangan Banteng – Jakarta

Jalan pagi di sini, lapangan banteng Jakarta pusat.

Photo : Sinar mentari di sekitar lapangan banteng / dokpi

JAKARTA, akwnulis.com. Sang mentari masih sembunyi dikala raga ini bergerak menapaki kesegaran di jantung ibukota. Jikalau di kesempatan sebelumnya area monumen nasional menjadi tujuan utama. Maka hari ini pilihan jatuh disini, sebuah area lapangan yang ikonik, Lapangan Banteng.

Awalnya disebut dengan Lapangan singa karena terdapat patung singa disana sebagai bentuk peringatan kemenangan Napoleon di Waterloo… dulu disebut juga Waterloopline, wow jauh bingit ya sejarahnya.Tetapi jaman pendudukan jepang, patung singa itu dirubuhkan.

Photo : Lapangan banten dilihat dari lt18 / dokpri

Era pemerintahan Presiden Soekarno dibuatlah Monumen Trikora Pembebasan Irian Barat yang menggelorakan semangat perjuagan rakyat indonesia merebut Irian barat. Berwujudlah patung pemuda pejuang kekar yang terbebas dari belenggu penjajahan karya pematung Edhi Sunarso yang diawali sketsa oleh Henk Ngantung.

Di tahun 2018 dilakukan renovasi besar-besaran sehingga mewujud menjadi taman yang indah dan fungsional dengan 3 zona yaitu Zona Monumen, zona olahraga dan zona taman.

Photo : Taman bermain dan berolahraga / dokpri

Hari ini, menjejakkan kaki disini. Menikmati sepoi angin pagi dengan belaian mesranya. Raga berkeliling menyusuri taman, amphiteater dan zona monumen. Juga berkeliling ke area olahraga dan tempat taman bermain anak, lengkap sudah. Apalagi di tengah-tengah terdapat air mancur yang (katanya) menjadi ikon malam minggu, mengundang ribuan orang untuk menikmatinya.

Tak terasa berjalan kesana kemari, naik turun tangga hingga 45 menit. Keringat membanjir dan dahaga mulai terasa. Segera terobati oleh hadirnya keran-keran air minum yang siap minum, senangnya.

Pagi ini juga bersua dengan Pak Rahmat, warga sekitar yang rutin berlari pagi di lapangan banteng ini. Berbagi sekelumit kisah hidup juga profesi sebagai pengamanan sekaligus ahli pijat refleksi yang siap dipanggil dikala senggang. Nambah kenalan menjalin silaturahmi di pagi yang alami di jantung ibukota.

Tetapi karena waktu meeting sebentar lagi tiba, segera bergegas kembali ke hotel. Bersiap mandi dan bersolek, agar hadir meeting tepat waktu dan molek…. ih masa laki-laki bersolek dan molek, berdandan atuhh!!.

Sebelum naik ke lantai 10, mampir dulu di restorannya. Aneka sajian makanan berlimpah, tapi sesuai janji, hanya potongan buah saja untuk isi perut di pagi ini. Maka semangka, melon dan pepaya yang berada di piring saji dan dengan segera dinikmati.

Wilujeng sarapan bray, Wassalam (AKW).

Ruang Seduh – Jkt

Kemacetan di Jalan Kemang Raya Jakarta bukan menjadi masalah karena memang tidak setiap saat melewati jalan ini.

“Ih kamu mah egois, coba emphati dong dengan kami yang menjadi rutinitas lewat jalan ini!!!”

“Ups maaf kawan, tiada maksud begitu. Tapi aku mah apa atuh, bisa ke Jakarta aja paling 3 bulan sekali. Maaf yaa”

Kami bersalaman virtual dengan suara tanpa wujud. Nggak pake lama, kami berteman tanpa ikatan. Meski kemacetan tetap menghadang, tapi minimal rasa lelah antri agak teralihkan.

***

Jadi yang lamanya di Jalan Kemang Raya, hampir 1 jam hingga tiba di tempat tujuan.

“Kamu mau kemana sih?”

Bukan jawaban suara yang keluar, tetapi bahasa tubuh menunjuk ke arah kanan jalan. Jajaran toko dan salah satu tokonya menjadi tujuan utama.

‘Ruang Seduh’ tertulis sebuah nama yang unik. Itulah tujuan malam ini. Berdasarkan info dari IG, tempat ini ada 2 lokasi. Yang satu di Yogyakarta dan satu lagi disini, di Jakarta.

Sebuah tempat menikmati kopi yang disuka para millenial untuk berjumpa, bercengkerama, bekerja ataupun menyendiri menikmati seduhan kopi sambil membaca bermacam buku-buku yang tersaji cantik di rak-rak minimalis yang ditata dengan tema penuh kehangatan.

***

“V60 Kopi Aceh Wonderkid dan Croisant Coklatnya!”

“Oke bang”

Dialog singkat yang menjadi momen penyamputan di kafe ‘Ruang Seduh’. Pelayannya anak muda, wajah datar tanpa senyum.

“Kok nggak sehangat penyambutan seperti beberapa review di IG-nya??” Pertanyaan kecil menggelitik hati, tapi kembali didebat, “Mungkin mereka sudah cape atau memang begitu sama orang yang pertama datang. Atau memang harapanku yang terlalu tinggi disaat membaca IG-nya, ah sudahlah”

Setelah duduk di tempat kosong, memandang sekeliling. Tempat yang menyenangkan untuk bercengkerama menikmati sajian kudapan dan kopi. Sambil kongkow dengan temen-temen. Juga bisa sekaligus bekerja karena konsep mini co-working space tersaji disini. Colokan listrik berhamburan diberbagai tempat, memanjakan golongan Facok ‘fakir colokan’, jadi jangan khawatir lowbatt kawan-kawan.

Photo : V60 Aceh Wonderkid + Croisant / dokpri

Trus di kanan terdapat beraneka buku-buku yang bisa dibaca sambil santai, duduk di bangku-bangku yang berbentuk kubus atau kursi meja yang ditata variatif, ditambah juga pilihan sajian gelato yang bisa diorder terpisah, masih di dalam kafe ‘Ruang Seduh’ ini.

***

Over all, kafe ini enak buat kongkow atau juga untuk menyendiri. Tentunya ditemani secangkir kopi pilihan diri yang bisa diorder berulangkali, tapi jangan lupa membayar lagi hehehehehe.

Alhamdulillah, rasa lelah dan kesal menembus kemacetan dari Jakarta Utara hingga ke daerah Kemang terbayar sudah. Keluarin buku bacaan andalan, juga kabel charger smartphone sambil menkmati harumnya kopi dalam suasana cozy.

Udah ah gitu dulu yach. Sruput. GoodBye. (AKW).

Rapat Evaluasi Kebijakan KEK – Kemdagri 27-28 Okt 2018

Catatan penting Rapat Evaluasi Kebijakan KEK oleh Kementerian Dalam Negeri pada tanggal 27-28 September 2018 di Jakarta.

Akwnulis.com, Jakarta. Rapat Evaluasi Kebijakan Pemerintah berkaitan dengan Penyelenggaraan Kawasan Khusus Lingkup Kawasan Ekonomi Khusus yang di selenggarakan oleh Direktorat Adm Bina Wilayah Kementerian Dalam Negeri, Minute of Meetingnya ini lho :

1. Kegiatan dilaksanakan di Hotel Zuri Express Jakarta Pusat pada tanggal 26-28 September 2018 diikuti oleh peserta dari unsur pemerintah pusat dan 52 orang pejabat provinsi/kab/kota di Indonesia. Dari wilayah Provinsi Jawa Barat yang diundang adalah Pemprov Jabar, kab Sukabumi, Pangandaran, Majalengka, Purwakarta, KBB, Sumedang & Subang, sementara yang hadir dari Pemprov Jabar adalah Kabag Sarek dan staf serta dari kabupaten adalah Asisten Ekbang Kab Sukabumi.

2. Maksud Rapat evaluasi kebijakan pemerintah ini adalah memfasilitasi Pemda dalam rangka membangun sinergi pelaksanaan berbagai regulasi dan kebijakan dalam upaya pembinaan, pengawasan dan pengendalian serta penanganan masalah dan konflik dalam penyelenggaraan pengelolaan dan pengembangan KEK.

Sasarannya adalah mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dibidang pengelolaan dan pengembangan KEK sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Agenda Kegiatan hari Kamis tgl 27 September 2018 diawali oleh Pemaparan Dir Kawasan, Perkotaan dan Batas Negara, Kemendagri mengenai Evaluasi Peran Pemerintah Daerah pada KEK dalam menggerakkan perekonomian daerah guna memperkuat kebijakan ekonomi nasional dilanjutkan dengan
membahas tentang capaian dan tantangan pengembangan KEK kurun waktu 2014-2019 dan arah Kebijakan Pengembangan KEK 2019-2014, serta Evaluasi kebijakan dan Implementasi Penanaman Modal dalam mempercepat kemudahan berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus, dimana terdapat poin2 penting yaitu :

a. Konsep KEK adalah faktor pemerataan bangkitan ekonomi, faktor pertumbuhan dan faktor daya saing dengan Target RPJMN 2019 adalah 25 KEK, kondisi eksisting 12 KEK susah ditetapkan dan baru 4 yang beroperasi yaitu : KEK Palu, KEK Mandalika, KEK Sei Manke dan KEK Tanjung Lesung.

b. Poin penting awal adalah pengusulan KEK dari 4 pihak yang dimungkinkan yaitu Pemprov, Pemkab/Pemkot, Kementerian/Lembaga dan Badan Usaha harus melalui Komitmen dengan pemerintah daerah khususnya terkait ‘restu’ untuk keringanan pajak dan retribusi serta regulasi RTRW yang sesuai.
c. Permasalahan mendasar dalam penyelenggaraan KEK adalah : Ketersediaan lahan, pembiayaan, ìnsentif, pola hubungan dengan kebutuhan masyarakat, pengembangan usaha BUP, pelimpahan kewenangan oemberian insentif dan Komitmen Pemda serta perijinan.
d. Terkait peran Provinsi dan Kab/kota dalam melaksanakan verifikasi serta pemeriksaan berkas usulan KEK dari badan usaha berdasarkan PermenkoPerekonomian No.7/2011 adalah terbatas pada pengecekan kelengkapan secara administratif saja karena verifikasi detail dan kedalaman konten akan dilakukan oleh Dewan Nasional KEK.

4. Agenda Kegiatan Hari Jumat, 28 September 2018 bertema Kebijakan Penyediaan Lahan dalam mendukung Pembentukan KEK di daerah serta Best practise pengusulan KEK Singhasari Kabupaten Malang serta penyusunan rekomendasi rapat evaluasi, kesimpulannya adalah :

a. Keterkaitan penyediaan Lahan dalam penyelenggaraan KEK pasa awalnya tidak menggunakan mekanisme UU 2/2012 karena KEK tidak termasuk kriteria untuk kepentingan umum, tetapi setelah terbit Perpres 58/2017 dan KEK menjadi bagian dari PSN maka UU 2/2012 menjadi pedoman dalam penyediaan Lahan untuk penyelenggaraan KEK.

b. Mekanisme penyediaan lahan berdasarkan UU 2/2012 bisa dilaksanakan dengan syarat pengusulnya adalah : Pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN yang ditugaskan pemerintah pusat. Jika pengusulnya badan usaha swasta atau BUMN non penugasan maka pola penyediaan lahannya melalui kesepakatan dengan pemilik tanah (B to B).

c. Terkait best practise proses pengusulan KEK Singhasari di Kab Malang, poin pentingnya adalah koordinasi intensif dengan Kementerian terkait, pemprov dan pihak swasta sehingga singkronisasiprogram dan pemahaman masing2 pihak bisa saling melengkapi dan saling mendukung.

5. Agenda terakhir adalah penyusunan rumusan hasil Rapat Evaluasi yang disepakati bersama antara Panitia dengan para peserta rapat yaitu :

a) Perlu adanya peningkatan SDM di dalam administrasi dan BUPP KEK (Badan Usaha Pengelola dan Pengembangan) yang mengerti perijinan dan pembangunan kawasan

b) Perlu pemahaman regulasi dan kebijakan yg komprehensif dan holistik antara Pemerintah Pusat, Prov, Kab/Kota dan swasta

c) Kementerian dan K/L memfasilitasi daerah2 yg telah mengusulkan KEK ke Dewan Nasional KEK utk penetapan PP dg memenuhi persyaratan sesuai dg peraturan perundangan

Demikian MoM-nya, cekidot. (AKW).

Kolam Renang Park Regis Arion Kemang

Review iseng Kolam Renang Hotel

Photo : Malam menelang di kolam renang / dokpri

Tadinya udah semangat mau berenang, memanjakan diri bercengkerama dengan segarnya air di kolam renang. Meskipun kejernihannya didukung penuh oleh kaporit tetapi tetap saja memanjakan mata dan menenangkan hati.

Padahal berenangnya pun belum fasih dengan aneka gaya, baru bisa meluncur lalu gerakkan tangan dan kaki hingga tubuh bisa bergerak ke depan secara perlahan tapi pasti.

Jam 21.09 baru bisa masuk kamar di lantai 3, simpan tas dan buka sepatu. Giliran buka tas, ternyata celana renang nggak dibawa, kecewa.

Eh nggak juga, memang nggak niat berenang juga kok. Ini sih klo kebetulan ada kolam, ya nyebur deh. Tapi survey itu penting, minimal jadi referensi jikalau next time nginep lagi di hotel ini.

Nggak pake lama, segera keluar kamar, masuk lift dan menuju lantai 7 dimana kolam renang berada, info dari petugas hotel.

Bener saja, keluar pintu lift di lantai 7 langsung ada petunjuk ke kolam renang, ruang fitnes dan Spa. Tapi sepi nggak ada orang, mungkin petugasnya lagi ke toilet.

Photo : Kolam renang lantai 7 / dokpri

Langsung menuju pintu akses ke kolam renang dan akhirnya bisa menikmati suasana damai sambil terdiam di pinggir kolam. Bentuknya standar persegi dengan kedalaman 1,5 meter. Panjang sekitar 20 meter dan lebar 7 meter (ahay kira-kira, maklum nggak bawa penggaris bro).

Sambil berkeliling di area kolam renang, menikmati sedikit pemandangan Jalan Kemang Raya dari lantai 7. Semilir angin malam menyapa jiwa melewati gazebo kayu di ujung kanan, 1 set meja kursi serta terdapat 4 kursi santai yang bisa digunakan pasca berenang ataupun untuk rilex sesaat sambil menikmati hidangan yang dipesan.

Tapi, niat berenangnya urung terjadi karena malam mulai larut juga kebetulan malem jumat. Jadi segera diputuskan kembali ke kamar di Hotel Park Regis Arion untuk beristirahat menyongsong esok yang penuh harap (AKW).