DRAGON Breathe Snack vs CIKBUL.

Sebuah dilema antara kewaspadaan dan memuji atas kreatifitas penamaan.

CIMAHI, akwnulis.com. Perkenalan dengan makanan ringan jajanan anak yang sekarang menjadi viral ini belum lama, baru sekitar 1 – 2 bulan lalu. Itupun karena ikut-ikutan anak semata wayang dan temennya yang pengen nyoba jajanan yang bisa bikin kayak naga.

Jadi bisa menyemburkan asap dari mulut dan hidung sepeti seekor naga yang begitu perkasa di dalam film – film yang beredar dengan berbagai versi.

Nama jajanannya adalah dragon breathe atau dragon smoke (asap naga alias nafas naga kali yeee….).. atau ice smoke itupun ternyata di korea sana sudah lebih dulu menyasar kebiasaan jajan anak negeri ini dengan sebutan pong pong korean snack. Soft diplomacy yang perlu diwaspadai selain lagu Kpop, busana hingga berbagai ungkapan bahasa korea yang ternyata sudah menjadi bagian keseharian anak-anak kita.

Nah pas nyobain jajanan ini, memang sensasi bernafas bagai naganya berhasil guys. Dari mulut menyembur asap dan jika lebih seru lagi. Setelah snack atau chiki ini ditelan, mulutnya tutup, maka pas bernafas, keluarlah asap putih dari lobang hidung.

Seruuu….

Tapi ternyata, tak berapa lama tenggorokan terasa perih dan kering serta sedikit batuk. Ah mungkin karena udara dingin di dataran tinggi. Ternyata dari situ batuk – batuk kecil terus hadir hingga malam harinya tenggorokan begitu gatal dan batuk hampir tiada henti.

Gawat nich, kayaknya gegara nelen nitrogen cair yang jadi campuran chiki tadi, supaya bersensasi nafas naga”

Obat batuk pilihan segera dicari, di minum dan sedikit tenggoroka  lega, meskipun batuknya belum ilang. Iseng searching di google tentang jajanan ini, dan terperangah…

Ternyata di Amrik sana sama BPOM Amriknya sudah dilarang lho, penggunaan nitrogen cair di jajanan anak karena dianggap berbahaya (Liputan6.com). Ditambah juga belum lama ini ada anak yang luka bakar di ponorogo terkait erat dengan jajanan ini (detiknews, 220722).

Jadi sarannya, hati-hati dengan jajanan anak. Beri pengertian tentang kemungkinan bahayanya, sehingga tidak menyesal dikemudian hari karena sakit dan membuat tidak nyaman.

Nah, ternyata pas kemarin mendapat tugas ke daerah kabupaten kuningan jawa barat, jenis makanan ini sudah diduplikasi atau replikasi atau diubah versi muatan lokal. Disini terjadi dilema antara memuji karena kreatifitas tapi juga khawatir penyebaran jajanan anak yang menggunakan nitrogen cair ini makin masif beredar.

Nama jajanan dragon breathe versi jawa barat ini yang bikin senyum simpul. Namanya adalah CIKBUL, singkatan dari Chiki Ngebul atau chiki yang berasap. Wah makin banyak saja jajanan anak yang berasal dari kata CI, seperti cireng, cilor, cipluk, cilok dan sebagainya ditambah dengan cikbul ini hehehehehe.

Ya gitu deh, senang dengan kreatifitas penamaan jajanannnya tapi harus waspada bagi orangtua untuk mengingatkan anaknya. Terima kasih, happy weekend. Wassalam (AKW).

Kenangan pertama mengenalmu..*)

Jumpa pertama memberi kesan mendalam, apalagi dilengkapi peristiwa yang tak terlupakan. lengkap sudah sebuah memori terpatri di hati dan terekam jelas di ingatan.

Photo : Mamang bandros sedang standbye / dokpri.

Segarnya udara pagi menambah energi untuk mengarungi hari yang selalu mudah untuk dijalani. Setelah masuk kelas diawali doa pagi serta menyanyi, tersaji bubur kacang hijau hangat yang diletakkan pada mangkuk warna warni.

Semua berdoa dengan seksama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya supaya si kacang hijau cepat berpindah ke dalam perut mungil kami. Kenapa kacang hijau?.. karena ini hari senin, klo selasa-rabu biasanya susu murni ditambah kue mari.

Nyam… nyam… nyam. Perut kenyang hati senang dan bu guru cantik kembali mengajak berdendang sesaat sebelum istirahat pagipun datang. Senda gurau bersama kawan disaat istirahat adalah momen yang begitu indah untuk dikenang. Tak banyak yang perlu dipikirkan. Cukup datang tepat waktu, berbaris berdoa dan bernyanyi, makan dan bernyanyi lagi sebelum akhurnya tiba waktu pulang.

Disinilah aku tumbuh bersama kawan lainnya, disebuah daerah pegunungan di perkebunan teh Bandung Selatan. Disini kami belajar mengenal teman dan bisa bermain sepuasnya meski dikungkung oleh bangunan dan taman menghijau yang cukup luas bagi kami untuk bersilaturahmi dengan alam dan menikmati aneka permainan. Dari mulai cungkelik cungkedang, panjat tali, komidi putar, rumah-rumahan, ucing sumput, rerebonan, balap karung serta yang paling trending adalah ayun-ayunan atau gugulayunan.

Photo : Seloyang Bandros / dokpri.

Ditempat ini pula mulai mengenal aneka makanan dan beberapa jajanan meskipun terbatas. Karena untuk jajanan, ibu kepala sekolah pasti pasang muka galak dan suara menggelegar sehingga hanya sedikit pedagang yang berani berjualan jajanan atau mainan. Satu jajanan yang jadi favorit adalah ‘bandros’, jajanan khas jawa barat yang bahannya adalah terigu, kelapa dan garam. Dibuat dengan menggunakan loyang cetakan, dimasak mendadak dengan memasukan adonan putih agak encer tersebut ke loyang dan dibawahnya dipanaskan oleh bara api yang menggunakan bahan bakar potongan kecil kayu bakar.

Bentuknya atau sebutan lainnya yaitu ‘kue pancong’ dan tersaji hanya dua rasa yakni original berarti agak asin dan manis, jika ditabur gula putih diatasnya. Belum berfikir rasa-rasa variasi lha wong gitu aja selalu ludes diserbu oleh kami, anak kecil haus jajan.

Aku punya selera setengah mateng sehingga hasilnys masih lembek dan lembut atau sekali-kali cukup kering sehingga ada kriuk dikit pas dikunyah di mulut kami. Itulah sensasi yang terejam di memori ini.

Yang lebih bikin nggak terlupakan tentang bandros ini adalah sensasi tenggelam akibat rebutan bandros. Dibilang tenggelam mungkin agak lebay, tapi itulah kenyataan.

Sekolah kami TK Melati milik PT Perkebunan Nusantara VIII di Bandung Selatan memang dikelilingi taman serta selokan kecil dan di depan sekolah kami ada selokan yang cukup besar buat kami anak TK.

Siang itu kami berkumpul mengelingi mamang bandros yang lagi hits saat itu. Pas satu baris bandros tuntas dimasak, kami bersiap menerima dengan sigap. Hanya saja karena ingin duluan jadi berebut dan saling dorong. Akibatnya aku dan Dade temanku terdorong ke belakang serta kecebur ke selokan.

Gujubar…….. semua terkesiap dan siap membantu. Tapi kami berdua yang tenggelam sudah bisa berdiri lagi di selokan yang cuma berkedalaman 40cm. Yang jadi judul tenggelam karena wajah kami.. eh kepala kami yang meluncur duluan menyentuh permukaan air selokan sehingga tenggelam ‘sesaat’ :).

Bu guru TK yang cantik terlihat datang tergopoh dengan wajah pucat pasi khawatir anak didiknya menderita luka. Tetapi sesaat tersenyum lebar melihat kami yang tertawa-tawa sambil menyantap banderos setengah mateng yang udah campur sama air selokan. Meskipun sudah pasti basah kuyup dan kedinginan. Tukang banderos hanya bisa terdiam dan serba salah. Tapi menjaga pikulan peralatan dagang lebih utama dibanding membantu kami, karena itu menyangkut hajat hidupnya.

Sejak itu keakraban kami dengan banderos semakin erat, tiada hari tanpa jajan sang bandros dengan menu tetap, setengah mateng. Termasuk disaat kami mulai menginjak sekolah dasar, banderos panas tetap setia menanti di halaman depan sekolah untuk ditukar dengan uang receh yang kami pegang. Meski tentu mamangnya berganti-ganti orang.

Photo : Bandros siap tersaji dokpri.

Udah mateng pak, ini bandrosnya!!”, suara mamang bandros membuyarkan kenangan, terlihat sajian hangat satu loyang bandros yang membangkitkan kenangan. “Makasih mang” selembar uang berpindah tangan, selarik kenangan memperkaya ruang. Hatur nuhun mang. (Akw).

*) Maksudnya kenangan pertama mengenal bandros.