JAGA BUDAK – fbs

Tungtungna aya bongbolongan.

Tulisan singkat cerita fiksi berbahasa sunda : FBS, fiksimini basa sunda.

CIMOHAY, akwnulis.com. Katunduh geus salaput hulu, tinggal sareup reupeun. Tapi geuning budak mah kalah ka beuki cènghar, tengah peuting ngajak ulin. Geus diolo nyoo hapè kalahka ngagèlèhè, dicombo ku nongton pilem dina tivi kalahka beuki capètang bari noèlan pipi.

Hayang nyentak ngan paur sieun jadi matak, rèk diciwit bisi ngajerit. Komo dibekem mah, pimanaeun kolotna ngamuk, Uing diusir teu meunang dumuk.

Satèkah polah mikir meureut uteuk, susuganan aya ilapat mèh budak tèh tunduh tuluy sarè sakumaha ilaharna.

Jos!, bujur di tojos ku rokrak. Uing ngagurubug, budak badeur lumpat bari ngabarakatak.

Kasabaran bèak, langsung budak leutik tèh diudag. Gep leungeunna beunang, dirawèl awakna. Ngagedeblug duaan dina sisi panto dapur. Gogoakan.

Tonggèngkeun bujur nu tadi ditojos rokrak, beuteung sayaga langsung nambah tanaga, Bruuutt!!.. meuni pas pisan kana beungeutna.

Dadak sakala budak tèh bageur, nurut jeung jigrah. Teu loba pamènta tapi jadi singer jeung bageur. Tuluy ngolèsèd ka pangkèng, tunduh ceunah. Alhamdulillah. (AKW).

Waspada yuk.

Harus itu, penting sekali.

Photo : Handsanitizer dan bunga / IG akwnulis

BANDUNG, akwnulis.com. Media sosial semakin booming pasca pandemi covid-19 melanda negeri. Kaum rebahan yang sebelumnya dicap golongan pemalas unfaedah menjadi bertambah banyak meningkat signifikan karena diperintahkan negara dengan slogan singkat #stayathome juga #workfromhome.

Kenapa booming?.. karena medsos menjadi tempat berinteraksi baru, bersilaturahmi sekaligus menginformasikan aktifitas diri kepada khalayak banyak

Tiga bulan telah berlalu, ternyata mencoba menjadi kaum rebahan itu tidak mudah, rasa bosan melanda, tertekan karena ingin melihat dunia luar, sementara belum ada kepastian bahwa vaksin buat sang virus hadir segera di hadapan kita.

Nah, sekarang muncul istilah new normal juga adaptasi kebiasaan baru (AKB) yang mulai melonggarkan pergerakan dengan pola terbatas dan protokol kesehatan yang ketat, tentu disambut antusias oleh masyarakat dan semua pihak untuk kembali beraktifitas.

Tapii…. protokol kesehatan menjadi mutlak diperlukan.

Kenyataannya ternyata belum semua paham, baik kaum rebahan dan non kaum rebahan. Mayoritas adalah anggapan sepele dan kembali beraktifitas biasa… sehingga kasus-kasus baru bermunculan dari momentum kerumunan salah satunya yang pasti tak bisa dihindarkan adalah pasar.

Maafkan jika pilihannya dengan istilah kaum rebahan dan rebahan, karena mungkin juga ada yang variatif antara seneng rebahan tapi sibuk beredar, jangan risau kawan, ini hanya istilah saja.

Jadi jikalau harus berinteraksi dengan kerumunan, pastikan kita siap dengan peralatan perang. Minimal menggunakan masker, bersarung tangan dan menjaga jarak dengan orang lain, gunakan handsanitizer dan mencuci tangan…. minimmmmal itu teh. Klo bicara maksimal… usahakan jangan berinteraksi dengan kerumunan….. tapi khan kita banyak kebutuhan yang perlu interaksi.

Ibu-ibu mayoritas berkomentar terkait belanja di pasar adalah, “Tapi da aku mah nggak bisa onlen, paling ke warung tetangga atau nyegat mang sayur yang lewat”

Photo : Ruang rapat jaga jarak / dokpri.

Maka kembali ke rumus tadi, gunakan masker dan sarung tangan serta jaga jarak. Senantiasa mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap selesai berinterkasi dengan orang lain.

Begitupun jikalau harus meeting secara phisik, pastikan bahwa protokol kesehatan sudah diterapkan. Penyediaan handsanitizer bukan lagi hiasan, tetapi suatu kewajiban yang harus kita gunakan. Kursi meja berjarak minimal 1 meter harus didesain sedemikian rupa dan penggunaan masker sudah pasti, itu mutlak bin harus kawan.

Jangan sampai ketidakwaspadaan kita menjadi celah bagi sang virus covid-19 ini merajalela. Selamat beraktifitas kawan, Wassalam (AKW).

Catatan : akwnulis juga ada di IG, kepoin aja IG : akwnulis.