Arabica Kintamani Stasiun Purwakarta cafe.

Sruput kopi di stasiunnya kopi….

Photo : Sajian arabica bali kintamani dg V60 / dokpri.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Sang arabica bali kintamani hadir dihadapan dalam sajian rapih bersahaja berkawan satu cookies sebagai pemanis dan gelas server untuk bersiap isinya diteguk di kala dahaga kohitala terus mendera.

Malam belum terlalu lama hadir menggantikan peran senja, tetapi gelap sudah pasti melingkupi semua alam semesta raya. Maka rehat sejenak dengan menikmati sajian manual brew v60 kopi hitam tanpa gula adalah sebuah niscaya yang memberi pengalaman berbeda serta hasilkan aneka makna.

Kang Sugih sang barista segera beraksi, meracik kopi arabica bali kintamani. Tentu dengan komposisi 1 : 15, 20gram biji kopi langsung di grinder dan bersentuhan dengan air panas 86° celcius….. currrrrr…..

Lumayan cukup lama menunggu prosesi manual brew ini, tapi ternyata memaknai prosesnya menjadi rasa tasyakur tersendiri. Bagaimana suatu komposisi dimainkan dengan peran masing-masing menghasilkan ekstraksi yang akhirnya satu rasa saling melengkapi, bagaikan sebuah orkestra pernikahan.

Suami dan istri adalah sebuah komposisi yang saling melengkapi untuk menghasilkan harmoni kehidupan berumah tangga. Jika terlalu banyak airnya maka terjadi rasa cawerang atau hambar, begitupun dengan pernikahan. Atau jikalau kopinya terlalu banyak sehingga dominan, maka kepahitan yang mengganggu perasaan.

Disinilah peran sang barista membuat prosesnya bisa saling melengkapi dan menerima. Dalam pernikahan maka peran barista ada di suami dan di istri yang senantiasa terbuka dan menerima kelebihan serta kekurangan masing-masing pasangan untuk saling melengkapi dan berbagi….

Ahaaay, kok dari kopi jadi bahas suami istri?….”

Photo : Kedai stasiun Kopi Purwakarta / dokpri.

Senyuman menjadi jawaban, tapi dalam hati yang terdalam memang inilah salah satu cara diriku memaknai kehidupan, diwakili oleh cerita kopi dan menyambung dengan makna bersuami istri…. setuju khan?

Balik lagi ke arabica bali kintamani, inilah yang sekarang dinikmati… srupuuuut….

Woaah body strongnya hadir, pahitnya menggoda. Aciditynya stabil di medium serta after taste datar plus ada kepahitan yang ‘ninggal‘….. di akhir sruputan. Untuk suhu hampir pas dengan seleraku, tapi kayaknya kalau di atas 90° celcius mungkin lebih baik… ini mah masalah selera saja, overall sajiannya nikmat.

Tapi sruputannya nggak bisa lama, karena harus segera pulang dan bersua dengan istri dan keluarga tercinta. Selamat malam semua, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :

Kedai Stasiun Kopi Purwakarta, Rest Area Km72 Tol Cipularang.

Kohitala Rest Area.

Tugas mendadak adalah perintah, Kopi hitam tetap bikin hati cerah.

Photo : Kopi Tubruk nangkring dulu / dokpri.

PURWAKARTA, akwnulis.com. Pagi yang cerah menyambut kedatangan raga ini dengan senyum yang merekah, tetapi ternyata sesaat kemudian datanglah sebuah titah perintah, “Sekarang ke Ibukota, ada tugas yang harus dihadiri segera”

Secarik surat dilengkapi lembar disposisi sudah siaga di depan mata, tiada alasan apapun kecuali kertas berisi perintah itu diterima dan segera mencari rekan yang bisa menemani perjalanan dadakan menembus kemacetan ke arah jakarta.

Cap cuss cyiiin.

“Trus gimana uang perjalanan dinas dan dukungan akomodasi lainnya?”

Sebuah pertanyaan klasik yang sering menjadi perdebatan hangat dalam sebuah perjalanan dinas.

Tapi kita coba bahwa itu bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan, jalan saja dulu yang penting jangan lupa bawa lembaran visum perjalanan.

Nah, supaya perjalanan menembus kemacetannya tidak terlalu menjemukan, maka perlu rehat sejenak di perjalanan meskipun hanya sesaat saja.

Photo : Kohitala & Friend / dokpri.

Caranya?”

Pilihan sederhana adalah berhenti sejenak di salah satu rest area jalan tol.
1. Pergi ke ATM, ambil duit.
2. Sarapan
3. Ngopay Kohitala
4. isi bahan bakar
5. Isi e-toll

Khusus langkah ketiga dipastikan pesan kopi hitam tanpa gula, meskipun yang manual-an jarang atau nyaris tidak ada semua rest area… eh ada klo di rest area Cipali.. lha ini khan moo ke jakarta.

Bisa di baca di Kopi Mandheiling Rest Area 166 Cipali.

iya yaaa…. jadi pesan kopi hitam kopi tubruk aja, dengan catatan nubruknya nggak keras-keras, takut terpental. Trus ngambil photonya jangan lupa, sebagai bukti kepada dunia bahwa menikmati secangkir kopi tanpa gula juga bikin bahagia.

Setelah selesai semua langkah…

Go……move move.

Maka pergerakan dilanjutkan dengan kendaraan menjelajahi tol Cipularang- tol Japek dan geser dikit Tol Becakayu menjadi alternatif efektif untuk menghindari (sedikit) kemacetan menuju ibukota.

Di Ibukota sudah menanti Kohitala & Anggreknya.

Selamat beredar kawan, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :

Rest Area Km97 arah jakarta, Cafenya yang paling deket dengan tempat wudhu Mesjidnya.

Perjalanan berdinas di Bulan Ramadhan

Rehat sejenak di rumah-Mu.

Photo : Mesjid Omar Nuril Barokah, Rest area km101-102 Tol Cipali arah ke Cirebon / dokpri.

BANDUNG coret, akwnulis.com. Perjalanan shaum hari kelima beraneka rupa dan penuh dinamika. Yang paling terasa tentu menjaga stamina apalagi berturut-turut perjalanan ke luar kota.

Tujuan perjalanannya ke kota dan kabupaten di wilayah provinsi jawa barat, dengan menggunakan transportasi darat, dan dibiasakan satu mobil bersama-sama biar hemat, serta di perjalanan juga bisa jadi ajang curhat.. meskipun lebih sering para penumpang tidur terlelap, tinggal pengemudi konsentrasi dan phisiknya harus kuat…. semangaaat.

Yang menarik ternyata anggapan pihak diluar kita.. sangat variatif, mirip cerita sahibul hikayat tentang ‘keledai dan penunggangnya‘…

Ada yang komen, “Semangat ya, biarpun shaum tetap bertugas ke luar kota demi melaksanakan tugas dinas. Semoga lancar di perjalanan”

Ada juga, “Ah itu mah alasan, supaya bisa beredar dengan biaya dinas”

… dan banyak lagi yang memberi support juga sedikit sindiran.

Padahal yang tahu sebenarnya adalah kita yang menjalani, betapa berbedanya diskusi di luar kota, tanpa snack dan makan minum di siang hari bulan ramadhan.

Menapaki jalan tol dan jalan lainnya yang melelahkan.

Perjalanan yang panjang via tol cipali hingga ke perbatasan jawa tengah sana…. atau bermacet ria di tol cikampek arah jakarta. Semua di jalani bersama tim, PP.. pulang pergi dalam 1 hari.

Photo : Mesjid Jami Al Ishlah Jayamukti – Banyusari – Karawang / dokpri.

Capek?… iya, tapi ini adalah tuntutan tugas.

Jadi?….

Cukup satu kata saja, JASUNI. Jalani-Syukuri dan Nikmati.

Salah satu cara istirahat dan rehat sejenak dalam perjalanan berdinas di bulan ramadhan ini tentu singgah duluuu…… abadikanlah tempat yang disinggahi dengan photo terbaikmu. Lalu upload di medsos tanpa perlu berpikir berapa jempol yang akan muncul di Instagram atau halaman facebookmu.

Tapi menjadi pictogram, alias agenda bergambar yang mungkin besok lusa menjadi pengingat sekaligus bukti bahwa memang tanggal segitu pernah beredar ke daerah situh…. atau bukti pernah mampir di situ sebelum tiba di tempat yang menjadi tujuan.

Selamat menjalani ramadhan dengan khidmat dan tugas tetap bisa dilaksanakan dengan tepat. Wassalam (AKW).

Sakit

Harus istirahat dulu. See you next time.

Setelah mencoba bertahan dengan segala kekuatan phisik yang tersisa, akhirnya harus nurut dan tunduk dengan sebuah alasan, “Kasihan jangan sampai nular lagi ke anak”

Itu memang sebuah asumsi, bahwa sakitnya anak karena ayahnya juga sedang sakit. Trus nggak sembuh-sembuh pun karena ayahnya sakit tapi nggak mau berobat. Meskipun mungkin ada penyebab lain yang kita tidak tahu. Tapi asumsi itu semakin kuat… dan sebagai ‘kambing hitam’ akhirnya harus mengalah, berobat resmi sama dokter di poliklinik kantor. Diperiksa itu ini hinggga di ‘uap‘ segala, demi sebuah proses kesembuhan.

Maka beragam zat kimia bernama obat harus diakrabi kembali setelah hampir 2 tahun dihindari seiring pola hidup ketofastosis yang dijalani. Meskipun ada rasa malu dalam diri karena beberapa bulan belakangan ini pola ketofastosisnya juga nggak bener, banyak cheatingnya, tapi mengubah kembali sebuah kebiasaan perlu penyesuaian mendalam.

Maka rombongan Ambroxol, Sanmol, Salbutamol, Metilfrednica, Cefadroxil dan Cetirizine bersama-sama memasuki rongga mulut, lebur di aliran lambung dan hancur terserap aliran darah melaksanakan fungsi masing-masing dengan satu tujuan bersama adalah menyembuhkan penyakit batuk pilek yang begitu awet menemani aktifitas diri hingga hampir 1 bulan ini.

***

Dampaknya ke tubuh yang terasa nggak berapa lama adalah lemas, ngantuk dan tidak bertenaga. Makan sih nggak ada gangguan, tetapi rasa lemas dan pegal disaat antibiotik menyebar ke seluruh aliran darah untuk membasmi virus penyakit membuat malas bergerak dan aktifitas. Sementara istri tercinta bingung dan sedih karena anak semata wayang masih lemes dan mogok makan dan super rewel, nggak mau makan apapun kecuali ‘nenen‘ sama ibunya.

Sebuah perjuangan seorang ibu apalagi ayahnyapun terbaring lemas karena efek obat yang sedang bekerja, yang tabah ya istriku.

***

Semoga sembuh segera anakku Binar, ayah juga dan semuah-semuah-nya, Ibu, nenek dan semyanta senantiasa diberi kesembuhan dan kesehatan. Wassalam (AKW).