Istiqomah & Kopi.

Mengembalikan makna Istiqomah, juga ngopi yang istiqomah.

Photo : Jalan Lurus di Cilamaya / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah garis lurus terbentang diantara berbagai garis lain yang berbentuk variasi dengan segala maksud dan tujuan. Dalam istilah islam, sebuah sikap yang teguh dan lurus sesuai dengan pedoman keislaman dikenal dengan istilah ‘Istiqomah’.

“Wah jadi ceramah ginih bro?”

“Mumpung bulan ramadhan yaaa?”

Dua komentar yang langsung nyolot dikala mencoba menyampaikan pendapat tentang istilah ini.

Terlepas dianggap sebagai ceramah bulan ramadhan, sebenernya lebih ke ngingetin diri sendiri. Terus terang aja, klo denger kata ‘Istiqomah‘ yang connect di otak justru singkatannya yang memiliki arti jauh banget dari makna yang sebenernya.

“Istiqomah itu singkatan dari Ikatan Suami Takut Istri apalagi di rumah”….

Tuhhhh khan jauh pisaaaan….. ternyata maknawi yang begitu mendalam bisa terselubungi oleh makna berbeda dan terkesan main-main.

Maafkan kami Yaa Allah…

Nah makanya nulis ini, sebagai bagian dari perbaikan diri dan mengembalikan makna Istiqomah kepada arti yang sebenar-benarnya.

***

Kamu istiqomah nggak?” Pertanyaan dari temen agak bingung jawabnya. Ini maksudnya istiqomah yang mana?….

Inget sama istri di rumah, jadi senyum sendiri. Bukan takut istri aku mah, tapi segen heu heu heu…. trus klo makna istiqomah yang sebenernya, maka langsung tertunduk malu, “Apa bener diri ini sudah mengerjakan tuntunan agama secara sempurna dan lurus tanpa banyak cela dan goda?”

Istiqomah itu adalah seorang muslim yang senantiasa menegakkan, mengamalkan dan membela tegaknya agama islam secara konsisten dan berpendirian teguh (haq), sedikitpun tidak memiliki kecenderungan ke jalan yang menyimpang (bathil) tanpa mengenal situasi dan kondisi didasari keyakinan yang benar kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.*)

Itu dia makna istiqomah yang sesungguhnya, insyaalloh tidak akan terjebak pemikiran atau lebih mengutamakan singkatan plesetan dari sebuah istilah yang begitu baik dan memiliki arti yang penuh keberkahan.

***

Photo : Arabica DNA coffee versi Wine / dokpri.

Nah urusan nyeduh kopi juga harus istiqomah….. alias memegang teguh pada satu patokan garis lurus, yaitu Nikotala (nikmati kopi tanpa gula), belajar konsisten dengan petunjuk berpadu pada keyakinan yang ada. “Setuju?”

“Ih dasar ini mah, nulis istiqomah ternyata ujung-ujungnya kopi juga”

“Kalem mas bro, khan sesuai makna istiqomah, dari awal khan blog ini memang fokus dengan tema kopi serta sedikit berenang, ingaat… Ngopay & Ngojay, Inget nggak?”

“Ah kamu mah, alesannya adaa aja. Trus yang sekarang diseduh kopi apa?”

“Nahh….. gitu donk, malam ini giliran sebungkus kopi spesial yang dinikmati tetap menggunakan metode V60, merknya DNA Coffee, singkatan dari Dangiang Nur Alam”

“Woaaah nggak sabar pengen tahu gimana rasanya”

Photo : Ngasuh anak dan dombanya / dokpri.

Tapi mohon bersabar yaaa… cerita DNA coffeenya di tulisan besok yaa… soalnya malem ini khan masih hari minggu, agendanya ngasuh anak semata wayang yang lagi sibuk sama dombanya, katanya lagi sakit jadi harus diberikan perawatan intensif supaya cepat sembuh.. gitu katanya.

Sebagai teaser maka ditampilkan dulu yaa…. secangkir kopi dan bungkus kopi DNA coffee yang akan dibahas esok hari. Selamat berpuasa di hari ke-15, Wassalam (AKW).

***

*)Sumber : Ensiklopedia Pengetahuan Alqur’an & Hadits, Kamil Pustaka, 2017.

Tolol

Sebuah ujaran yang tiba-tiba harus diterima, ada apa gerangan?

“Tolol!!”

Satu kata yang terlontar terasa menerpa wajah dengan seribu tanya. Menyerbu kalbu tanpa ba-bi-bu, dari mulut seorang pengendara motor yang dimuntahkan dari sebelah kanan kendaraan.
Hanya saja tak bisa konfirmasi karena pelontar kata itu langsung tancap gas menembus kemacetan sore.

Mobil dengan sein kiri telah mengambil posisi diam di kiri jalan. Masih termenung dengan kejadian tadi dan teriakan ‘tolol’ menjejak di memori tak mau pergi. “Apa gerangan yang terjadi?” Sebongkah tanya menelisik jiwa.

Segera otak bergerak cepat menyiapkan acara rekonstruksi, membayangkan gerakan mengemudi tadi sehingga berbuah kekecewaan dan menyebabkan seseorang meneriakan ujaran kebencian lisan yang tak sempat direkam sebagai dasar aduan dengan dalih ‘hate speech’ yang lagi ngetren di jagad pancawarna ini.

Tapi setelah melakukan virtual rekonstruksi hingga sepuluh kali, belum ditemukan adegan mana yang mengecewakan pihak lain. Belok kanan, kondisi padat merayap, pasang lampu sein kiri karena mau berhenti dulu, karena ada keperluan, sudah… “Apa yang salah ya?”

Lalu mencoba pendekatan ‘Empatic Egoistis‘, berfikir sebagai posisi pengujar. Ternyata muncul beberapa opsi pilihan, ih opsi itu pilihan.. nggak usah ditulis double sama-sama, ah sudahlah.

Pertama, “Mobil hitam ini mengganggu manuverku yang selalu mepet di kiri klo jalanan macet, khan motor bisa nyelip sana – nyelip sini.”

Kedua, “Pokoknya aku nggak suka terhalang mobil lain, aku khan naik motor, harus lancar.”

Ketiga, “Kamu nggak tau, aku udah ‘kapacirit’ alias ‘ee dikit’ jadi harus segera nyampe kost-an sebelum terjadi bencana lebih besar.”

Keempat, “Apes banget hari ini bos marah-marah, bonus ditahan, eeh ini mobil item malah brenti ngehalangin gua yang lagi galau, Toloool!!!”

Akhirnya ada sebuah kesimpulan yang rasional bahwa sumber kata ‘tolol’ itu karena ketololan pengendara motor yang merasa kenyataan tidak adil dikerjaan plus terganggu di perjalanan dengan gerakan mobilku ke pinggir, padahal sesuai aturan berlalulintas.

Ini cerminan bahwa dalam hidup, tidak semua tindak tanduk atau kelakuan kita yang baik atau berusaha baik dengan mengikuti aturan itu langsung disukai oleh orang lain. Belum tentu.

Meskipun mayoritas manusia pasti suka dengan orang yang berbuat baik. Yang ikutin aturan dan norma kehidupan.

Sekarang jiwa ini tidak merasa penasaran lagi dengan lontaran kata ‘tolol’ tadi, tapi ikut prihatin dan berdoa semoga sang pengendara motor diberi keselamatan dan ketenangan hati. Amiiin.

Yuk tetep istiqomah dan berusaha menjadi baik… baiklah. Wassalam. (AKW).