Ngopi Berdua.

Menikmati kebersamaan dan kopi yang menenangkan.

KBP, akwnulis.com. Tanpa menanti detik dan menit yang cukup lama, segera tersaji pilihan minuman masing-masing yang menemani kebersamaan sore ini. Senja akan datang tetapi menikmati kebersamaan adalah keharusan.

Raga berbincang dan bertukar cerita keseharian, dilengkapi sesekali mulut memberi kalimat penyempurna sehingga jalinan kata yang tertutur adalah cerita kehidupan yang miliki makna.

Smartphone yang selalu menjadi pembatas kebersamaan, hanya digunakan sebagai pelengkap pengambilan gambar saja. Selanjutnya dipaksa tergeletak di meja dan mencoba mulai berbicara satu sama lain, karena jika tidak maka pertemuan ini akan kehilangan ruh sinerginya. Masing-masing akan tetap dengan dunia smartphonenya, sementara semesta kebersamaan akan terciderai tanpa sengaja.

Simpan smartphonemu dan mari kita berbincang sayang”

Sebuah ajakan sederhana yang hasilkan nilai berbeda. Perbincangan akan lebih fokus dan intens tanpa terganggu dengan seliweran notifikasi di smarthone yang senantiasa menggelitik untuk dihampiri dan dibuka dengan jempol lentik… ahaay lentik… udah tangannya jempol semua juga.. ups.

Photo : Manual brew V60 Ijen arabica / dokpri.

Pilihan masing-masing berbeda, tetapi tetap ada kopinya. Diriku diwakili oleh rasa original kopi yang hadir melalui sajian manual brew V60 dengan pilihan kopinya adalah Kopi Ijen arabica yang diseduh dengan suhu 90┬░ celcius menghasilkan kopi siap minum yang harum dengan body dan acidity medium ditambah aftertasenya hadir rasa citrun, kacang tanah dan cocoa…. (moga-moga bener nih lidah mengecapnya)… srupuuut.

Sementara sayangku tercintaah lebih memilih kopi ditemani susu yang dibuat karamel dengan bantuan pemanasan api dipermukaan cangkirnya yang dikenal dengan istilah –chreme bruele-. Sajiannya cantik dan menggoda, tetapi bagi penikmat kohitala ini harus dihindari, karena ada unsur susu dan gula.

Tapi icip dikit boleh khaaan?”….

Boleh donk, saling bertukar icip juga tidak mengapa. Tetapi tetap harus seminimal mungkin, karena…. klo maksimal ntar ngabisin secangkir… atuh akan menimbulkan keributan dan ketidaknyamanan….. meskipun sebenernya pesen lagi gampang, tetapi suasana yang terbangun akan berbeda karena pengalaman yang ada tak akan tergantikan segera.

Selamat sruput sore kawan, jangan lupa sebelum menyruput dibuka dulu maskernya yaa. Wassalam (AKW).

Arabica Wine & Ijen di Renjana

Menikmati V60 Arabica wine vs Ijen.

Photo : Sajian V60 Arabica wine – Renjana / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com.Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah, sejuta rasa bahagia….’

….”Lhaa kok jadi nyanyiin lagu mendiang Chrisye seeh?”

Tapi ini emang pagi yang cerah meskipun bibir merahnya sih relatif. Merah karena obat merah, atau bibirnya kejemur atau polesan lipstik yang mungkin harganya mahal dari mulai Estee Lauder Pure Color Envy Sculpting (400ribuan) hingga Couture Beauty Diamond Lipstick yang harganya (ceunah) 187 Milyar karena bertabur berlian.

Pagi yang cerah ini, menjadi kesempatan berharga untuk menjajal program jalan 30 menit/hari. Kebetulan ada perintah buat ngewakilin bos rapat di salah satu kantor di daerah jl Riau – jl.Laswi. “Kayaknya nyampe kesitu jalan kaki 30 menitan”

Berangkaat…..

Dengan rute Jl. Martadinata / Jl.Riau luruss aja ngikutin trotoar, dan beberapa kali menyebeberang di perempatan… ada 4 apa 5 per4tan. Mulai dari perempatan Istiqomah, Cihapit, ujung jalan Aceh, Gandapura hingga perempatan Jl. Anggrek…

Ternyata 24 menit sudah hampir tiba di TKP, wah masih ada spare 6 menit. Belok kanan dulu ke jalan Anggrek trus ke Jalan Pudak… ternyata ada 4 cafe kopi…. yang pasti ada kopi pudak, kopi Renjana dann…..halah 2 lagi lupa euy.

Photo : Barista Renjana beraksi / dokpri

Dari Jalan Pudak langsung balik badan dan kembali kepada jalan yang benar eh.. jalan yang menuju tempat rapat….. 35 menit akhirnya waktu berjalan dari daerah Istiqomah hingga ujung jalan Martadinata-Ahmad Yani. Keringat lumayan mengucur, tapi segar… aslinya segeerr. Yaa kalaupun ada sedikit bau keringet pas ntar rapat, itu mah resiko. Namanya juga jalan kaki, ya keringetan.

—- Cerita rapatnya nggak dibahas

Naaaah… jam 2 siang baru beres rapatnya…… setelah bubar…. jalan kaki lagi menuju jalan anggrek tadi… kemooon.

Photo : Sebungkus arabica wine / dokpri

Namanya Kafe Renjana, kata sang duo barista artinya ‘Rencana‘ tapi diwujudkan jadi cafe. Nama baristanya Rio dan Diki. Menunya banyak, dan ruangannya cozy serta rapih. Ada juga ruangan private buat meeting, itu mah musti booking dulu….. lha kok jadi iklan cafe seeeh!!.

Yang penting kopinya bro, manual brew V60 tea geuning….

Tanpa perlu lama, pilihan biji kopi yang ada dibaca satu persatu. Ah pilihan mah nggak boleh terlalu banyak, lagian yang lainnya udah tau karakter rasanya… wheleeeh wheleeh kayak yang udah nyicip ratusan kopi aja, sombong lu!!

Pertama, Arabica wine. Katanya beannya dari gunung manglayang. Oke deh gpp, ditunggu racikan manual brew V60nya.

Sambil duduk di meja sebelah dalam, mencoba menikmati suasana cafe Renjana dalam waktu yang sangat terbatas ini. Enak juga buat nongkrong, eh tapi jauh dari kantor. Ya sudah sesekali aja.

Tak berapa lama sajian kopi manual brew V60 Arabica wine ala Renjana cafe telah tiba dihadapan. Sebelum dinikmati tak lupa didokumentasi, wajiib itu!!

Ouuww…. bodynya bold dan ninggal di seputar bibir, aromanya oke dan ada taste fruitty yang ninggal plus selarik rasa karamel.

Kata baristanya pake perbandingan 1:15 alias 100ml dengan 15gr bean persajian… cucook deh.

Nggak pake lama, disruput habis tuh sajian kopi arabica wine. Eh sang pelayan lewat, sambil tersenyum berkata, “Om kayak minum air putih aja, teguk teguk habis.. itu khan pahit bingiit”

Senyum tersungging, salah besar. Ini sajian nggak pahit, justru nikmat dan bisa sesaat melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

“Pesen lagi neng, Manual brew V60, kopinya Ijen”
“Oke Kakak”

Ahay kok berubah panggilannya dari Om jadi Kakak….

Photo : Sajian V60 kopi ijen / dokpri

Sajian kedua, manual brew V60 kopi Ijen. Sajiannya sama dengan gelas botol saji transparan dengan gelas kecil. Tanpa embel-embel, polos saja.

Perlahan disruput, kumur dikit dan glek.. glek.. glek… aroma harum dengan body lite, cocok buat pemula. Serta acidity medium. Taste tidak terlalu jelas, sangat tipis rasa fruittynya.. “Eh atau jangan-jangan efek arabica wine-nya belum hilang?”

Nggak usah dipikirkan. Biarkan kopi arabica wine dan kopi ijennya bersepakat di dalam lambung untuk menghasilkan MOU perikekopian yang akhirnya akan keluar dari tubuh ini dalam bentuk yang relatif sama.

Photo : bean kopi Ijen / dokpri

Yang pasti keduanya nikmat dengan segmentasi peminat ya g berbeda. Mau yang strong atau medium, itulah pilihan.

Akhirnya sang waktu jua yang memaksa raga ini hengkang dari Cafe Renjana. Kembali ke alam nyata dan berpetualang menapaki jalan kehidupan yang terbentang sepanjang hayat. Wassalam (AKW).

***

Kopi & Sopir Tembak

Menjalani hari dengan tugas yang nggak mau berhenti, diusahakan tetap bisa ngopi.

Photo : Sajian Kopi Ijen dengan metode V60 / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com. Dikala harus tampil mewakili pimpinan, disitulah latihan kepemimpinan terbuka lebar. Tidak usah takut, coba saja. Ini kesempatan bagus untuk melatih kemampuan berbicara di depan umum sekaligus ajang belajar untuk menyampaikan materi yang diketahui dan dipahami.

Itulah yang terjadi hari ini, istilah bekennya mah ‘sopir tembak‘ heu heu heu heu.

Dengan berbekal sejumput keberanian dan serpihan-serpihan puzzle pemahaman, segera tampil menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara pelatihan di sebuah hotel yang indah, Hotel Amarossa.

Tadinya kirain bakal ketemu penyanyi mungil asal sumedang, Rossa. Ternyata nggak ada, memang nama hotelnya Amarossa.

Alhamdulillah acara lancar dan bahagia, nambah temen nambah sodara.

***

Tuntas bertugas menjadi ‘sopir tembak’, bergegas pamit kepada panitia. Karena harus bersiap untuk meeting lanjutan di siang hari. Padahal coffee break sudah tersedia, ya sudah lewat saja.

Ternyata pas keluar hotel, mobil nggak ada. Eh baru inget, khan tadi yang nyopirin disuruh beli sesuatu ke daerah Buahbatu… lupa euy.

Ya sudah jalan kaki saja ke kantor, lumayan sambil berolahraga.

Photo : Acting membaca bahan rapat di cafe 9/11 (dokpri)

Maka ngagidiglah.. eh basa sunda, berjalan kaki lah keluar dari halaman hotel Amarossa menelusuri jalan Aceh, belok kanan jalan Banda dan lurus saja… trus belok kiri dan dipertigaan jalan Halmahera berhenti sejenak, ada yang menarik di seberang sana.

“Apa yang menariknya kang?”
“Sesuatu”

Sebuah bangunan berdinding putih, bertuliskan 9/11.

Langsung masuk, aroma kopi semerbak. Iya cafe kopiiii……. cuman nggak leluasa tanya-tanya dan pilah pilih karena waktu yang terbatas. Sebuah dilema, pengen ngopi tapi waktu sedikit sekali. Ya sudah dibujeng enggalna.

“Neng, pesen manual brew V60, kopi ini nich, kopi Ijen sama satu lagi cappucino”

“Oke kakak, semua jadi 36ribu”

Nggak banyak nanya, bayar, tunggu kembalian, ambil kembalian dan cari tempat duduk di luar.

Photo : Sajian secangkir Capucinno / dokpri

10 menit kemudian, muncul sajian yang dinanti-nanti. Kopi manual brew V60 dan secangkir capucinno untuk kawanku.

Disajikan dengan gelas botol server bening dan gelas mini yang menarik.

Srupuut….. euh… acidity ada sih, khas rasa kopi arabica, tapiiiii….. euh.

Suasana hati yang diburu-buru atauu…..penyebabnya, air yang digunakan nyeduhnya kurang pas takaran suhunya. Mungkin cuma 60┬░celcius jadi ‘baleuy’ alias rasanya hambar karena ekstraksi bijinya nggak maksimal.

Tapii… ya sudahlah. Mungkin lain kali kalau mampir, bisa dinikmati sajian lainnya.

Photo : Sebungkus kopi Ijen / dokpri

Berhubung waktupun begitu sempit, ya usah sruput… glek glek glek… tandas. Langsung bergerak kembali mengayun kaki menyusuri jalan Halmahera-Riau-Banda dan akhirnya sampai di gerbang belakang kawasan Gedung Sate.

Tiba di ruangan, sepatu ganti sandal dan segera wudhu, sholat dhuhur dulu bray.

***

Baru beberapa detik selesai sholat, handphone berdering.

Tap…. segera diangkat, “Assalamualaikum!!”

“Waalaikumsalam, Maaf pak, kata bapak, rapat yang jam 13.00 tolong dipimpin saja, wakili, bapak masih kegiatan dengan Menteri di Subang” Suara aspri bos menyampaikan mandat.

“Siap”

Owwmaygaat….. tugas kedua hari ini, jadi ‘sopir tembak’ lagi. Semangaaaat!!!.

Sedikit bulir keringat tiba-tiba hadir di dahi, mengingat rapat sekarang bukan rapat sembarangan. Tapi ya sudahlah. Hadapi, jalani, dan jangan lupa ngopi. Wassalam (AKW).