IGA BAKAR.

Met Maksi yaa….

CIMAHI, akwnulis.com. Judul tulisan ini terinspirasi dari sajian makan siang suatu waktu yang lalu di sebuah cafe yang menyajikan menu makanan ini. Saat ini agak terbatas untuk makan di restoran atau cafe, atau malah tidak sama sekali nongkrong-nongkrong demi menjaga dan mencegah hadirnya virus covid19 yang memiliki seribu wajah.

Kangen nggak maksi di resto bersama kolega atau keluarga?”

Jawabannya pasti variatif, tapi penulis lebih memilih untuk sementara menahan diri. Jikalau kangen dengan menu-menu ini, maka carilah dokumentasi-dokumentasi yang lalu dikala masih bebas menikmati sajian menu resto baik dengan kolega ataupun bersama keluarga tercinta.

Pilih photonya dan bayangkan kenikmatannya… Yummy.

Nah kembali ke sajian Iga bakar ini, terlihat bahwa sudah lengkap dan siap disantap. Tapi pada saat Basmallah sudah terucap dilanjutkan dengan, “Allohumma bariklana Fii ma rozaktana wakinna adza bannar”… lanjut kepala sendok mengeduk nasi dan daging iga,……. hmmm… terasa ada yang kurang.

Terdiam sesaat sambil meneliti sajian yang ada..

Ternyata, semangkok kuahnya yang belum hadiiir. Karena menu yang dipesan adalah Iga bakar, berarti kuahnya dipisah. Beda dengan iga biasa, pasti bersatu dalam satu mangkok kuah.

Untung aja nggak keburu disikat abis, khan jadi nggak elok jikalau kuahnya datang belakangan dan lanjut di minum pake sedotan hehehehe.

Perlu ketelitian dan kesabaran dalam memaknai dan menikmati sajian makan siang. Berdoa yang utama tetapi teliti terhadap sajian, itu penting juga.

Jadi tahan dulu menanti hadirnya semangkok kuah, untuk selanjutnya dinikmati bersama iga bakar yang sudah stanby di depan mata.

Selamat makan siang… eh makan nasi dan lauknya dimanapun saudara berada… nyam nyam, Wassalam (AKW).