Selamat Lebaran 1440 H

Secuil kisah di Hari Fitrah, 1 syawal 1440.

Photo : Ceramah Iedul fitri di mesjid AlKahfi 050619 / dokpri.

GUNUNGHALU, akwnulis.com. Usai shalat Idul Fitri berlanjut musafahah (bersalam-salaman), bibir terus tersungging dan harapan bersua serta silaturahmi bersama saudara, handai taulan, kawan, tetangga dan sahabat sepermainan menjadi sebuah semangat yang memberi makna mendalam.

Shalat Sunat (muakad) Iedul fitri di Mesjid Alkahfi menerbangkan kenangan yang jauh di masa silam. 30 tahun lalu, dikala usia belia, mesjid ini adalah tempat bermain, bermain dan bermain sekaligus tempat menuntut ilmu agama, pondasi pemahaman agama yang menyelamatkan diri ini di kala dewasa.

Tempat balapan lari ataupun balapan naik sarung yang ditarik teman lainnya, mengitari mesjid yang licin dengan lantai porselen yang baru adalah agenda menyenangkan di mesjid ini. Meskipun harus berkorban di jewer DKM dan sarung jadi bolong-bolong karena gesekan dengan lantai…. itu menyenangkan… asli.

Photo : Musyafahah starts / privdoc.

Dahulu, di halaman mesjid terdapat penampungan air berbentuk bulat, di gunakan untuk berwudhu sekaligus kolam renang gratis bagi anak-anak bandel yang rutin masuk kolam yang disebut ‘kulah‘ untuk mencari kesegaran atau jika beruntung mendapatkan beberapa ‘kijing’, kerang air tawar yang cukup besar ukurannya sebesar telapak tangan orang dewasa dan bisa dimakan dengan memasaknya terlebih dahulu.

Di kolam ini pula, aku dan beberapa kawan di rendam dini hari di hari idul fitri karena insiden takbiran misterius di tengah malam, yang penasaran monggo di klik cerita lengkapnya di ….. PENTAKBIR MISTERIUS.

Ah…. banyak sekali kenangan masa kecil yang terlintas dikala sang Khatib Ied memberikan ceramah dalam bahasa sunda yang berirama. Mesjid ini yang sekarang begitu megah dan bernama Mesjid Al Kahfi, adalah bagian masa kecilku yang penuh keceriaan, tawa, suka dan duka…. mulai paham huruf hijaiyah, belajar kitab sapinah dan jurumiyah (meskipun akhirnya nggak tuntas karena lebih banyak main di sekitar mesjid)… tapi minimal halaman-halaman awal quran dan kitab kuning menjadi pembeda dalam memahami Nur Illahi, di kemudian hari.

Akhirnya sesi ceramah tuntas dan di momentum selanjutnya, saling bersalam-salaman, menebar senyum serta jabat erat dan rangkulan bahu dikala jumpa kawan sepermainan, sepengajian yang telah berubah menjadi sosok bapak-bapak (diriku juga hehehehe), ….. ah sang waktu ternyata tak pernah mau berhenti. Hanya kenangan yang mengajak berjumpa dengan suasana masa lalu meskipun hanya bermain di tataran imajinasi.

Hari ini, bersujud di rumah-MU ya Allah, di kampung tanah kelahiran, bersama keluarga kecilku termasuk my little princes yang begitu excited disaat berjumpa pertama kali dan menikmati suasana di‘Rumah Api’ (Bantu masak di kampung Eyang)….

Sebuah kisah memasak berselubung asap di dapur tradisional milik eyang kakungnya di rumah masa kecilku.

Allaaahu Akbar…. Allahu Akbar… Allahuakbar…. Laailahailallah huAllahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil hamd.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah.

Mohon dimaafkan segala khilaf, baik lahir maupun bathin. Wassalam (AKW).

Rumah Api*)

Cerita mudikku, bantu masak di kampung Eyang.

Photo : Aku lagi mriksa rumah api / dokpri.

GUNUNGHALU, akwnulis.com. Kali ini aku moo cerita ya guys… Cerita mudikku ke rumah eyang di kampung tempat kelahiran ayahku…

Perjalanan hampir 3 jam, tidak terlalu kurasakan karena lebih banyak terbuai dalam pangkuan ibunda dengan dengkur teratur yang berirama.

Tetapi pas terbangun, suasana siang sudah berganti dengan kegelapan, ternyata sudah melewati waktu magrib. Awalnya bingung lho, tapi karena ayah ibu ada bersamaku, ya sudah…. tenang sajaaaa….

Nyampe di rumah Eyang di kampung yang disebut daerah Gununghalu. Disambut pelukan hangat eyang istri dan eyang akung…. Alhamdulillah.

***

Perkenalan sama rumah api itu, pas jam 10 malem. Aku kehilangan ayah, ternyata ayah lagi mindahin lokasi parkir mobil ke tempat yg lebih strategis sesuai saran eyang.

Aku berjalan ke dapur dan ternyata eyang lagi pada masak…. woaaah langsung gabung donk, khan di rumah udah biasa masak segala macem (maksudnya main masak-masakan)…. “Eyang ikutan bantu yaaa”
“Iya cantik, silahkan”…. senangnya.

Lalu Eyang memberi peralatan memasak beneran, ada cocolek, garam, gula dan piring bumbu… lalu diberi meja kursi dan dipersilakan bekerja di rumah api.

Photo : I am Binar, still working at Fire house / privdoc

Iya guys, rumah api beneeraan… ada api yang membara dan membakar kayu, lalu diatasnya ada wajan besar berisi air santai dan potongan daging serta berbagai bumbu yang diurus sama eyang kakung. Eyang putri nyiapin bumbunya lalu membuat tumis sayuran, wortel mentimun… eh acar ya?…. Sambal goreng kentang, bihun, sambal dan goreng kerupuk…. waaah ramaiii….

Di rumah api, selain hangat juga asapnya yang bikin sensasi berbeda, seolah kabut menyelimuti malam dan bau khas asap ternyata bikin suasana mudik makin terasa. Aku mah terus aja bekerja membantu eyang, dan asap yang ada tidak bikin sesak atau perih di mata…. pokoknya jadi aneh tapi menarik… beneraan lho guys.

Ayah juga jadinya ikutan nemenin, ngobrol sama eyang istri dan eyang kakung, ibu juga… jadi di saat mendekati tengah malam, suasana rumah api makin ramai dengan celotehan dan berbagai sajian makanan untuk esok hari, hari lebaran.

Oh iya guys, aku juga kangen nenek, ibunya ibuku yang kali ini jauh, karena mudik ke Kuningan. Ingin menyusul, cuma nggak tahu gimana caranya, cuman bisa berdoa dan berharap semuga ayah ibu masih punya jatah libur dan bisa nyusul ke tempat nenek….. yach sementara rumah api menjadi penghiburku dulu…. Kemoon, masak lagiiii.

***

Catatan Binar, 030619.

***

*)Rumah api : Dapur di kampung, dimana proses memasaknya menggunakan kayu bakar, dalam bahasa sunda disebut ‘hawu’ dan aktifitas menghangatkan badan sambil cingogo/jongkok didepannya disebut ‘siduru’.

Happy Eid Mubarrak 1439 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1439 H. Mohon maaf lahir dan bathin.

Adzan magrib sore ini merupakan akhir dari bulan Ramadhan 1439 Hijriyah dan berganti menjadi 1 syawal 1439 H, karena sebagaimana dipahami bahwa kalender penanggalan islam menggunakan patokan terbitnya malam diawali adzan magrib (qomariyah).

Inilah buka puasa terakhir, penutup perjuangan, ibadah dan berbagai laku bajik yang diganjar berlipat-lipat pahala oleh Allah SWT. Termasuk yang sangat dinanti oleh umat islam dimanapun berada adalah mendapatkan rejeki lailatul qodar yang datang di malam ganjil minggu terakhir ramadhan.

Sebuah tradisi bermaaf-maafan dan ucapan selamat idul fitri begitu ramai sekarang, meskipun bukan lisan yang terucap tetapi tulisan dan photo yang mewakili kehendak telah memenuhi kontak aplikasi whatsapp plus telegram dan FB sementara via sms masih ada satu dua.

Ada yang ngirim ucapan sebelum tiba hari lebaran karena khawatir crash klo bareng2 kirim message sebelum atau sesudah idul fitri.… jiga jaman baheula. Ada juga pas hari H.

Tulisan dan photo beredar cepat tanpa batas wilayah, menyasar ke segenap penjuru dunia.

Sekarang mah infrastruktur telekomunikasi nasional kayaknya udah bisa handle service dari seluruh masyarakat indonesia sehingga bisa layani semaksimal mungkin.

Dengan rangkaian kata puitis mendayu-dayu juga yang simpel ringkas tapi paten… daaaan ada juga yang buru-buru atawa kurang konsentrasi…. ngirim ucapan orang lain.. copas gitu. Mungkin maksudnya baik, tapi lupa nama pengirimnya nggak diedit…. jadi salah dech… plus sedikit malu hehehehe.

Diriku juga nggak mau ketinggalan, kolaborasi sama istri bikin ucapan selamat idul fitri donk… manfaatin kemajuan teknologi dengan beragam aplikasi…. cekidottt.

Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri

1 Syawal 1439 Hijriyah.

Taqobalallahu Minna Waminkum.

*Andriekw-Mia & Binar*

Wassalam.

Binar Time

Saatnya ngasuh anak yang berkualitas.

Photo : Pose gaul ngikutin gaya anak/dokpri

Libur menjelang Idul Fitri 1439 H tahun ini memang spesial, begitu panjang dan bisa dimanfaatkan untuk banyak hal. Tetapi satu hal yang prioritas adalah menjaga kedekatan dengan ananda Ayshaluna Binar Wardana sekaligus ibunya… pasti atuh ibunya.. kumaha siiih.

Trus bukan berarti ibadah bulan ramadhannya terabaikan.. itu mah nggak usah dibahas disini. Biarkan daku dan Allah SWT aja yang tahu….

Photo : Ikutan pake aplikasi kekinian, binar dan anak kakak/dokpri.

Daan….. dikarenakan ibunya masih bekerja meskipun libur panjang sudah dimulai termasuk musti gawe di wikend (maklum tenaga medis), praktis kehadiranku buat ngasuh si kecil jadi maksimal.

Ternyata ayahnya ada di rumah itu ngebuat Binar manja bingiit… nggak mau ditinggal barang sedetik, kencing ke kamar mandi aja susah. Apalagi ditinggal mandi… gedor-gedor pintu kamar mandi sambil nangis teriak sekencang-kencangnya,

“Ayaaaah…!!!”
“Ayaaaahhh..!!!.”

Pokoknya nggak mau jauh-jauh dari ayah. Makan minta disuapin, jalan-jalan, nonton tayangan ‘pudding toys, mickey mouse, omar hana, donald duck hingga HI5’ …. joget2, loncat2 dan berlari kesana kemari….

“Ternyata mirip kelakuanku di masa kecil hehehe”… Aku tersenyum sendiri, teringat cerita ibunda dan bapak tercinta yang dulu begitu sabar dan telaten merawat dan mengurus serta menjags anak laki-lakinya yang nggak mau diem serta banyak ‘kamonesan.”

Sekarang giliranku mengasuh dan mengurus anak yang begitu aktif, lincah sekaligus mudah mewek klo keinginannya tidak dipenuhi…. alias sudah paham memanfaatkan senjata ‘nangis’nya untuk mencapai tujuan.

Tindakan tegas melarang anak untuk lakukan sesuatu menghadapi tantangan serius karena berada di rumah mertua, perlu strategi khusus.

Jadilah ayahnya kelinci percobaan anak umur 2 tahun 3 bulan ini. Dari mulai didandanin pake kacamata mainan, topi mainan, di ulas lipstik hingga belepotan hingga disapu blas-on pink yang membuat pipi merona heu heu heu…

Alhamdulillah waktu libur ini begitu berkualitas…

*)Maaf photo berlipstik cemongnya tidak ditampilkan. Khawatir ada cowok yang seneng, soalnya jadi cantik bingit… ahaaay. Wassalam (AKW).