Manual Brew di Negeri Singa

Menikmati nge-manual brew di negeri orang…

Waktu menunjukan jam 23.30 WS (waktu singapura) disaat bubaran diskusi kelompok di Lobby Hotel Boss. Phisik yang mulai lelah karena terforsir agenda kegiatan yang padat tetap terhibur dengan celoteh jenaka rekan-rekan disaat diskusi dinamisasi persepsi tentang makna dari konsep kepemimpinan kolaborasi…. halaah serius pisan nyak?.. kalem ini mah tetep blog yang bertema sederhana kok.

Jadi moo bahas apaan?…

Bahas kopi..

#clingak
#clinguk

Amaan….. yuk nulis lagiiie.

***

Sebelum tiba di kamar, nyempetin dulu survey kolam renang fasilitas hotel yang berada di lantai 4…… keluar lift ambil arah kanan dan kiri sama saja bisa aksee ke kolam renang dan ruang terbuka serta area merokok yang bebas… (maklum di singapur khan nggak boleh merokok sembarangan)… air kolam renang membiru mengajak segera bergabung bercengkerama dalam gerahnya malam…

Sungguh menyenangkan andaikan bisa menceburkan diri di malam hari dengan background gedung tinggi terang benderang buricak burinong… nikmat sekali. Tapi harapan harus ditepis karena waktu untuk nyebur sudah habis……yaach… nggak sempet berenanggg….

Setiba di kamar tak lupa membersihkan diri dan shalat magrib-isya jama qashar (manfaatkan kemudahan fasilitas Allah).

Setelah semua tuntas baru nyiapin ritual kopi yang membahagiakan. Sebungkus kopi gayo aceh yang dibawa dari Jatinangor tersenyum ceria setelah seharian berhimpitan dalam koper hitam kesayangan. Corong V60 pinky, kertas filter segera tersaji sementara untuk air panasnya sengaja membeli cadangan air destilasi 1500 ml seharga 2 dolar singapura khawatir yang dua botol kecil fasilitas hotel nggak mencukupi.

Pemanasnya udah ready, fasilitas hotel… nggak pake lama, segera proses pembuatan air panas dimulai. Sambil menunggu mendidih, beresin dulu peralatannya di keramik hitam yang menjadi meja di kamar hotel….

Trekk!!!... suara katup mematikan sambungan listrik di ketel.. berarti udah mendidih nich. Diamkan dulu ahh…. teorinya supaya suhu turun dibawah 100 derajat celcius… karena manual brew itu aku mah yach ikutan di range 85 – 93 derajat celcius… supaya dapet originalitas ektraksi dari kopi yang akan tersaji.

***

Jangan lupa kertas filter di corong V60 di basahi air panas dulu… buang airnya. Lalu tuangkan bubuk kopinya kira-kira 4 sendok makan… siap-siap membebaskan oksigen melalui proses bloomin.. caranya tinggal seduh perlahan air panas di tengah2 bubuk kopi… sedikit saja… dan biarkan berbusa… itu klo berbusa.

Klo udah beres…. proses manual brew dengan kucuran air perlahan berputar dari luar searah jarum jam… biarkan bubuk kopi bersentuhan dengan panasnya air dan berekstraksi sempurna menghasilkan cairan kopi yang penuh citarasa.

Tunggu hingga tetes terakhir yang jatuh dari ujung V60 ke gelas yang ada.. gelas hotel. Soalnya klo bawa labu kaca buat nampungnya berabe.. takut pecah diperjalanan khususnya bagasi di bandara.

selamat menunggu.

***

Hasilnya…. Body medium cenderung bold.. kepahitannya agak getir heuheuheu. Acidity terasa tetapi stabil (medium), aroma biasa… tapi untuk rasa kebathinan begitu menggelora karena di negeri orang masih bisa menikmati kopi asli Indonesia dengan racikan V60 darurat versi peralatan ala kadarnya.

Srupuuut nikmat….. ingat ya untuk menikmati rasa original kopi wajib hindari gula dan pemanis lainnya. Gunakan temperatur yang cocok dan komposisi takaran kira-kira tetapi mendekati yang dikehendaki.

Trus jangan lupa mainkan imajinasi juga senantiasa berfikir yang positif, supaya ada keselarasan rasa dengan kopi yang dibuat dan dinikmati… jangan2 klo pas nyeduhnya sambil mikirin hutang piutang…. hasil kopinya bakalan pahiiiiiit bangeeeeddd…. silahkan cubbbbaa.

Oke itu saja sekelumit cerita tentang aktifitas singkat daaan…… nyeduh kopi di negeri singa, semoga besok lusa bisa hunting kopi di sini dan tentu menikmatinya disela-sela agenda kunjungan yang super duperr paddat merayap.

Balik ke meja dimana proses seduhan berada disini.

Wilujeng ngopi lur. Terima kasih, Wassalam (AKW).

Kolam renang Hotel Dafam Yogyakarta

Berenang lagi di Kolam renang pribadi hehehe di Kota Yogyakarta.

Semilir pagi di daerah Dagen Malioboro Kota Yogyakarta masih membuai sebagian besar para pelancong di penginapan dan kamar hotel masing-masing. Beberapa becak dan bemot (becak motor) masih terlihat setia menjaga parkir depan hotel, menanti datangnya rejeki dari penghuni hotel yang ingin diantar menuju tujuan masing-masing.

Dari lantai 6 terlihat aktifitas pagi yang masih mayoritas diselimuti mimpi padahal adzan shubuh sudah tuntas dari tadi. Lantai 6 ini tempat bersantai sekaligus kolam renang yang merupakan fasilitas hotel. Di sekitar kolam renang ada beberapa kursi santai, model kursi bar lengkap dengan mejanya yang mengarah ke depan hotel. Bagi yang takut ketinggian tidak disarankan.

Sambil menunggu jam 06.00 WIJ (waktu indonesia jogja), leha-leha sejenak sambil ngetik di smartphone… bahan posting blog hari ini.

Kenapa jam 06.00?… karena itu waktu dibolehkannya kolam renang digunakan, itu kata petugas hotel.

Tapii udah pengen nyebur nich… ahh Gpp diskon 30 menit lah… dan 05.30 WIJ sudah mulai masuk kolam renang,… ternyata airnya nggak terlalu dingin… enakeun seger.

Tidak lupa pemanasan dulu, supaya berenangnya nyaman… ahiiw serasa private pool weh… kesana kemari bolam balik karena kolamnya bukan standar olimpic tapi cukup buat berenang maksimal 5 orang. Klo buat main air ya bisa sampe 15 orang.. tapi bakal kebayang penuh sesaknya.

Tak terasa waktu terus bergerak, aneka gaya dilakukan. Mulai dari gaya bebas, gaya kupu-kupu hingga gaya batu…

Tau nggak gaya batu?… itu yang loncat ke kolam renang trus masuk ke dalam air dan tahan sampai nafasnya abis.. baru naik ke permukaan…

Ih atuh itu mah tenggelam… ya iya khan namanya juga gaya batu… pasti tenggelam. Klo yang ngambang… namanya ‘gaya batu apung’ hehehehehe.

***

Setelah bolak balik berenang beraneka gaya, capai juga… tetapi semburat mentari pagi mulai menembus frame kehidupan, munculkan refleksi kekinian yang penuh kehangatan.

Bergerak ke pinggir, naik ke permukaan dan duduk. Sejenak menghela nafas sambil bersyukur dengan nikmat Illahi setelah menikmati berenang di kolam renang pribadi ( soalnya yang nginap di hotel belum ada yang ke kolam renang), kecuali seorang kawan yang sibuk dengan smartphonenya mengabadikan indahnya sunrise di Kota Yogyakarta.

***

Entah kenapa, sejak beberapa waktu belakangan ini kolam renang menjadi fasilitas utama yang dipikirkan manakala ada kegiatan di hotel, moo dalam kota ataupun luar kota.

Nggak wajib ada siih, tapi klo ada, pasti lebih menyenangkan.

Coba menerung eh merenung sesaat, “Kenapa ya?”

Jawabannya yaitu tadi… seneng aja. Apalagi sejalan sama hobinya jari ngetik di smartphone urusan apapun. Tapi klo seputar kerjaan sih nggak terlalu di ekspose di blog pribadi, meskipun ada beberapa.

Nah kembali ke kolam renang dan pakem blog yang dipake tetep menjunjung originalitas. Tulisan dan photo adalah jepretan sendiri dengan smartphone ini. Bagus atau tidak, itu mah subjektif. Kecuali yang nyebut jelek itu banyakan… berarti emang jelek hehehehe.

Beberapa tulisanku tentang kolam renang nich pantengin… eh klik aja bro :
1. KOLAM RENANG CIPAKU
2. KOLAM RENANG HOTEL ARYADUTA JAKARTA
3. KOLAM RENANG HOTEL MERLYNN PARK JAKARTA
4. KOLAM RENANG HOTEL MASON PINE
5. MARI MAIN AIR YUK & 6. NGOJAY.

Ternyata baru sedikit ya.. tapi gpp dikit-dikit lama-lama jadi bukit.

***

Akhirnya jadwal sarapan yang harus menghentikan aktifitas menyenangkan ini. Segera meraih handuk dan kembali ke kamar 509 untuk membersihkan diri, membersihkan hati di Hotel Dafam Malioboro Yogyakarta. (AKW).

Kolam Renang Merlynn Park Hotel Jkt

Disela tugas mencoba nikmati kolam renang outdoor dan indoor di salah satu hotel ibukota.

Akwnulis.com, Jakarta. Tepat adzan magrib mulai masuk ke Hotel Merlynn Park di daerah Petojo Jakarta Pusat. Check in dilayani dengan cepat karena sudah beli via aplikasi di smartphone. Weits dapet lantai 21. Gpp ah, yang penting dapet kamar. Tapi khan ini mah nggak ngulas kamar hotel hehehe.

Masuk kamar, ganti baju dan sedikit rebahan di sofa kamar….. dan tak berlama-lama, segera keluar kamar menghambur ke lift menuju lantai 7. Apa sebab coba?…. karena jadwal operasional kolam renangnya ampe jam 9 malem dan sekarang jam sudah hampir jam 8 malem.

Photo : Swimming pool at night / dokpri

Jreng… pintu lift lantai 7 terbuka disambut dengan pemandangan tempat gym yang cukup luas serta beberapa orang sedang olah tubuh ngatur raga. Segera belok kanan dan kolam renang hotel menyambut penuh keceriaan.

Takjub juga melihat kolam renang berbentuk memanjang semi oval dengan dinding berkelok-kelok serta birunya air diterangi lampu didasar kolam memberi sensasi penuh kedamaian. Yang lebih menyenangkan adalah lanskap ibukota menjadi background disaat kita bermain air disini.

Oh iya lupa…. lapor dulu donk sama petugasnya supaya dapet handuk besar serta kunci loker. Jangan lupa liatin nomer kunci kamar… eta keukeuh.

Disini kolam renangnya banyak lho gusy. Semuanya air dingin, tapi khan cocok dengan cuaca jakarta yang relatif panas.

Kolam pertama yang menyambut tadi, posisinya indoor jadi klo siang aman dari sengatan mentari ataupun tetesan air hujan. Panjang kayaknya nyampe 50 meter.. hahaha nggak keburu bawa meteran. Dinding kiri kanannya kelok-kelok tapi kalau di tengah bisa digunakan untuk trek berenang lurus dengan kedalaman 1,6 meter. Terdapat undak-undak di ujung selatan untuk masuk ke kolam… dan segeralah meluncurr.

Photo : Kolam renang 1 lagi / dokpri

Kolam kedua juga kedalaman 1,6 meter dengan bentuk kotak dan satu sisinya menjorok ke depan serta berdinding kaca, bisa dilihat dari bawah lobby hotel. Kelebihan kolam renang outdoor ini adalah seakan menyatu dengan lanscap ibukota, lampu-lampu dan gedung tinggi. Bersama temaram malam yang dikedipi oleh bintang malu-malu.

Trus menyatu dengan kolam renang outdoor untuk dewasa, terdapat kolam dangkal memanjang bagi anak-anak dengan kedalaman 40 cm, tapi karena salah satu ujungnya menyatu dengan kolam renang dewasa, pengawasan orang tua sangat diperlukan. Berbahaya.

Satu lagi ada kolam lonjong dengan diameter 3 meter khusus untuk anak-anak. Untuk fasilitas pembilasan ada yang terbuka atau juga masuk ke dalam kamar mandi yang terpisah laki-laki dengan perempuan. Terdapat 10 kamar mandi dengan shower dan 2 WC dengan kloset duduk.

***

Esok paginya setelah sarapan di restorannya yang cukup luas, bersiap juga kembali menjajal kolam renangnya. Tapi teh panas dan kopi item jangan dilewatkan, sajian makanan lain cukup lengkap termasuk ada sushi dan mpek-pek.. eits khan bukan bahas kulinernya.. ingaat konsistensi.

Habis sarapan segera menuju lantai 7 dan kembali menikmati kolam renang sambil berjemur dipijit oleh hangatnya mentari pagi ibukota. Setelah lelah main air….. berjemur di kursi santai tepi kolam sambil melihat pemandangan pagi kota jakarta.

Photo : pagi bingit di kolam renang / dokpri.

Terbayang khan nikmatnya?... ini bukan pencitraan, tapi ini bentuk kompromi dalam menjalani tugas yang penuh tantangan dan kesulitan. Tak usahlah kerepotan kerja dicurhatin di blog, sudah cukup dirasakan dan dijalani. Nah berbagilah sesuatu yang menyenangkan…

Jadi…. kerja kerja kerja itu terus lanjut.

Makanya nggak bisa lama bermain air, beranjak ke kamar hotel, mandi, dandan dan segera check out. Lalu pake taksi menuju tempat acara yang dipastikan jam 09.00 wib dimulai… jeng jreng.

Wassalam. (AKW).

***

Baca juga : Kolam Renang Aryaduta Jakarta.

Diary Coffee 3

Catatan puisi ke-3 ku tentang Kerja-Kopi-Kerja.

Bolak balik order dopio
Juga tak lupa single espresso
Sambil diklat atau pas ngaso
Ngopi teruss hilangkan nelongso

Ikuti diklat modernisasi pengadaan
Jadi tantangan ditengah kesibukan
Ternyata penuh perjuangan untuk paham
Apalagi yang digunakan bukan bahasa awam

Untungnya mesin kopi setia menemani
Espresso dan dopio segera tersaji
Black coffeepun standby menanti
Diklatpun jadi penuh arti

Makasih LKPP dan MCAI
PWC membagi ilmu hakiki
Meski terkadang kernyitkan dahi
Karena bahasa asing jadi pengantar hampir tiap sesi

Berlari ke Hotel Horison ruang burangrang
Forum OPD bidang ESDM berkumandang
Nikmati kopi sambil berdendang
Kopi hitam enak dipandang

Disaat harus bergerak ke Kertajati
Mampir sesaat di rest area Cipali
Cobain Espresso-KFC se-sloki
Ngecash agar semangat kembali.

***
Beranjak menuju ibukota
Tugas lain membawa kesana
Berjibaku tentang sanitasi sebagai pokja
Agar jabar sehat terus berjaya

Senyum berseri di KA Priority
Membawa sebotol cold brew sejati
Kiwari farmer sajikan janji
Manglayang Karlina yang bikin pasti

Tiba di Gambir mencari kopi
Temukan pilihan di sudut kiri
Dunkin black coffee adem sendiri
Nikmati rasa tak perlu sensasi

Di Arya duta tugu tani
Cold brew kembali beraksi
Bersanding dengan espresso satu sloki
Tak takut dengan apa yang terjadi

Belum tuntas hilangkan resah
Karena ternyata harus berpindah
Akhirnya ke meja ini hijrah
Bersama kolam renang yang basah

Kembali ke ruang rapat, Kopi hitam ala panitia tersaji
Rasa sederhana tapi nambah lagi
Semua harus disyukuri
Barulah berkah menanti.

Minggu I-II Maret 2018 (AKW).

Kerajaan Abu yang tak Kelabu… 2)

Menjelang malam menabuh tenteram di kerajaan abu yang menawan.

Photo : Gemerlap menjelang malam / Dokpri

Malam bergegas merebut terang bersekutu dengan hujan yang tak henti menyiram bumi. Senandung senja berkabut ungu mengelilingi kerajaan abu, memberi suasana magis yang melenakan. Apalagi gerimis hujan bertabur bubuk penidur, menguatkan rasa malas tiada tara sehingga diskusi mencari ilmu di ruang Tuscanypun harus menentukan pilihan. Lanjut atau jeda.

Acara Capacity Building dari KPPIPpun akhirnya harus berhenti sesaat (padahal emang rundown acaranya gitu…). Bukan karena kerajaan abu dalam keadaan darurat akibat kondisi alam yang tidak bersahabat ataupun karena harus berjuang melawan serangan troll dan monster jahat yang ingin merebut kekuasaan, tetapi konspirasi halus dari bidadari air dan dewa ngantuk didukung dengan lambaian puteri selimut membuat semua satu pemahaman bahwa mari nikmati malam tanpa berpikir dulu tentang pengetahuan.

Bergegas menuju ruang utama kerajaan untuk mendapatkan kunci kamar yang mungkin berguna untuk menyingkap misteri kerajaan abu yang tidak kelabu ini. Ahaay… nomer kamarnya spesial, moal béja-béja bisi aya nu maluruh (ga bakal dikasih tau, khawatir ada yang mencari). Langkah pasti menuju kamar menyusuri lorong yang terang benderang, tidak banyak ornamen yang terpampang tetapi hiasa gorden keemasan dan vitrase mewah menambah suasana kerajaan yang menenangkan.

Ternyata kamar yang dituju berada diujung selatan bangunan kerajaan, tanpa banyak tanya segera menempelkan selembar kertas bersegel pemberian pelayan di ruangan depan. Tittt…. pintunya otomatis terbuka, juga semburat titik hijau menyambut mata tepat pada gagang pintunya. Suasana kamar yang gelap cukup memberi suasana seram, tetapi semua sirna disaat langkah kaki memasuki kamar dan kertas tadi di tempel pada dinding kanan (sesuai petunjuk pelayan)…. lampu menyala dan kamar jadi benderang.

Sebuah ranjang king size menyambut kedatangan, ditemani sofa coklat klasik juga kursi malas beserta kekengkapannya, ah benar-benar serasa tamu raja. Bergerak ke kamar mandi, cukup luas juga. Tidak ada bak mandi tetapi secara fungsional lengkap termasuk obat kumur mini dan lotion penyegar kulit, ih bikin betah. Sayangnya gerombolan pengganggu datang, ikut masuk ke kamar dan tanpa basa basi mencoba nikmatnya kasur kerajaan. Yaa pasrah saja karena mereka semua adalah teman seperjuangan. Akhirnya senda gurau dan cerita tentang pengetahuan baru menjadi bahasan. Sambil leyeh-leyeh di kasur, sofa dan lantai.

Sebagai catatan agar besok lusa tak lupa dengan acara KPPIP dan Tusk Consultan tentang Public Private Parnership maka yang musti dibaca dan diperdalam diantaranya : UU 22/2012, Perpres 38/2015, Perka LKPP 19/2015, PMK 190/OMK.08/2015, PermenBappenas 96/2016.

Akhirnya gelap malampun menyelimuti semua rasa yang tadi berbuncah diantara diskusi pengetahuan dengan kantuk serta kemalasan. Tetapi disaat langit malam masih menyisakan biru, segera diabadikan dipadu dengan gemerlap sinar yang muncul di sekitar bangunan kerajaan abu. Sebuah panduan fantastis, apalagi kerling bidadari air di kolam renang masih membekas meskipun rasa cemburu raja kantuk bisa mengalahkan segalanya..zzzzzzz..zzzz..zzz. Wassalam. (Akw).

Kerajaan Abu yg Tak Kelabu..1)

Mengejar tahu merintis ilmu sambil memintal silaturahmi tanpa misi pribadi di sebuah kerajaan abu di wilayah Bandung utara.

Photo : Om Teddy Bear lg santai / dokpri.

Desau pagi menumpang angin berpadu padan dengan segarnya kerinduan. Embun keengganan masih menggelayut manja pada hijaunya dedaunan. Sang waktu sudah melesat membelah pagi, mengantarkan seikat janji yang harus dipenuhi pagi ini.

Setelah merayap membelah rasa menyusuri arah Bandung utara, tibalah di halaman bangunan megah yang mengingatkan nalar menguatkan khayal berada di sebuah kerajaan masa lalu. Tembok tinggi berwarna abu tidak menyiratkan kelabu, malah menelisik hati untuk masuk lebih dalam lagi.

Setelah kendaraan terparkir sempurna, kedua kaki melangkah ringan memasuki pelataran kerajaan abu-abu ini. Senyuman menyebar bertaburan menyambut setiap kedatangan, gemerlap lampu gantung dan sofa-sofa besar berpadu dengan hadokpringatnya lantai yang berselimut karpet tebal. Di ujung dekat perapian, Sang Teddy bear sedang asyik bersantai. Sesaat bertemu muka, senyum mengembang dan anggukan hormat yang tulus menambah rasa betah berada dilingkungan baru ini.

Penjaga dan pelayan kerajaan terlihat berbagi tugas menyambut tamu yang datang. Begitupun raga ini bergerak menuruni tangga, melewati kolam renang ukuran besaaar dengan kejernihan air yang begitu menggoda. Terlihat lambaian manja bidadari air, merajuk untuk ikut bergabung dalam segarnya gemericik air. Tapi jiwa menahan karena hadir disini bukan untuk itu, tetapi mencari sejumput mutiara ilmu yang berada di ruang pertemuan tidak jauh dari tempat para bidadari air menari riang.

photo : Kerajaan GeHa Universal / dokpri

Setelah berhasil melewati godaan bidadari air, raga bergerak menuju tangga kristal. Perlahan menurun dan disambut lagi gemericik air mancur kecil sebelum masuk ruang Tuscani. Sebuah ruangan abu yang fungsional, terang temaram merebak rasa kebersamaan dan semangat berbagi pengetahuan. Sebuah bahasan pengetahuan beralur cepat dengan aneka bahasa yang saling melengkapi. Baik bahasa ibu yang resmi di kerajaan juga bahasa asing yang akhirnya hanya mengangguk dan tersenyum tanpa paham apa yang dibicarakan. Tapi minimal dari gestur, ada sedikit yang bisa dimengerti.

Bahasan ilmu biar nanti dibahas khusus tapi yang pasti makasih atas kesempatan bersua dan diundang oleh KPPIP serta rekan-rekan Tusk consultant di bangunan megah klasik, seolah berada di sebuah kerajaan abu yang megah di bilangan Bandung utara, namanya Kerajaan GeHa-Universal.

Photo : Air mancur mini depan Tuscani / dokpri.

Sambil menikmati harmoni musik klasik yang lembut digabung dengan penjelasan tentang Pi-pi-pi, menambah ilmu menambah silaturahmi apalagi yang hadir ada 3 petinggi negeri punggawa utama tentu menambah takjub dan betah berlama-lama.

Meskipun bidadari air dan raja kantuk berlomba merebut rasa, tetapi ketetapan hati tak bergeming untuk terus menimba ilmu mengejar pengalaman. Sehingga keseluruhan latihan dan pembelajatan kehidupan bisa diikuti tuntas meskipun ada keterbatasan karena sudah mulai terjangkit penyakit endemik ‘lanang celup’, yakni gejala otak dan perasaan yang lambat nangkap dan cepat lupa he he he.

Met belajar para pangeran…….

Semoga nanti miliki waktu untuk menikmati hari menapaki relung relung kerajaan abu, selain untuk mendapat ilmu tapi juga pengalaman untuk beredar semu hingga berakhir pada satu pintu titik temu. (Akw).

Citadines

Ah ini sih iseng kutrat kotret pas lihat nama hotel yang sepertinya sudah akrab.

Photo : Dokpri

Tadinya nggak iseng dengan nama hotel, apalagi udah lelah meeting seharian plus jalan macet menuju lokasi hotel. Jadi di tempatkan di hotel manapun ya terima aja yang penting ada tempat nginep. Trus agenda rapatnya dekat, cukup itu. Tapi ternyata pas mau belok dari jalan raya trus liat nama hotelnya…..

O ow… 

Yang menggelitik adalah nama hotelnya. Terletak di jalan Hasanuddin Kota Makassar dan coba tebak apa nama hotelnya?….

Namanya Hotel Citadines, Namanya akrab banget dengan PNS yang sedang DL (Dines luar) atau perjalanan dines (baca : dinas) luar provinsi :).

Cita dan dines, diawali dari cita-cita untuk terbang pake pesawat dan urusannya dines ke luar provinsi, eh nginepnya di hotel cita-cita dines alias citadines (maaf klo maksa tapi mirip khan?….)

Ternyata setelah masuk ke hotel dan wawancara satpam tentang arti citadines, bingung dia jawabnya. Resepsionis hanya bilang itu berasal dari bahasa prancis. Ditanya ke resepsionisnya, ternyata ini hotel baru banget, baru beroperasi bulan april 2017 atau baru berumur 4 bulan lho. 

Ya udah nggak banyak lagi tanya-tanya, check in dan segera menuju kamar. Dalam kamarlah semakin terang benderang kenapa namanya kok mirip2 urusan ‘dines’. Ini hotel adalah bagian dari jaringan hotel internasional dibawah Grup Ascott The Residence dan Somerset Serviced Residence di negara perancis sono.

Citadines apart’ hotel adalah jaringan hotel internasional dan yang di tempati sekarang adalah Citadines Royal Bay Makasar. 

Ya udah ah… kok jadi iklan gratis inih mah. Wassalam. (Akw).