Hujan di Malam lara.

Malam temaram berpadu hujan.

Photo : Temaram di Belakang / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Malam ini terasa temaram ditemani gemericik air hujan yang bercengkerama dengan dedaunan. Sebuah rasa melesat ke angkasa dan memandang alam sekitar tidak sehinggar bingar dan terang benderang seperti biasanya.

Sebuah rasa khawatir menyeruak di dada, “Apa yang sebenarnya terjadi kawan?”

Benarkah alam dunia sedang menyembuhkan dirinya dan mengingatkan kepada manusia bahwa kita semua hanya menumpang sementara saja sehingga tidak boleh semena-mena terhadap dunia?

Sebongkah tanya hadirkan beraneka penasaran dan memaksa kumpulkan cerita dan informasi yang bertebaran di jagad maya. Hasilnya ternyata luar biasa membingungkan, mana yang hoak mana yang kabar burung berkelindan dengan teori kontipasi yang berujung pada kengerian dan kebingungan. Medsos dan jagad maya menyajikan limpahruahan informasi yang mungkin nirfaedah…. ahh pusiiing.

Lebih baik sementara kembali dari langit menjejak bumi, menikmati gemericik hujan yang bercumbu dengan dedaunan. Memberikan harum tanah yang tak bisa dilukiskan. Biarkan rasa syukur melingkupi jiwa dan menyadarkan raga, karena ternyata nikmat bisa tetap menjalani kehidupan seringnya terabaikan sehingga kita lupa kepada sang Maha Punya… Allah Taala.

Sepakat tidak sepakat, ini bukan lagi wacana tetapi sudah nyata di hadapan mata. Jadi mari nikmati dan syukuri apa yang ada dan jangan lupa berbagi dengan saudara kita diluar sana yang mungkin tidak seberuntung kita. Semangaaat, Wassalam (AKW).

Behel & Hati

Curhat singkat sesaat.

BANDUNG, akwnulis.com. Tak sengaja bersua dengannya, bersama senyuman yang mempesona. Sesaat terdiam dan teringat seseorang serta sebuah pesan, “Jangan macam-macam”

Ah iya musti bisa menjaga kendali diri, meskipun mungkin rasa ingin tak bisa dihindari, tapi sekali lagi, harus kuat menjaga hati.

Ternyata setelah agak mendekat, ada rasa tenang yang hinggap karena kenyataannya tidak seseram yang dibayangkan. Tidak menarik raga ini dalam magnet kesukaan, sehingga gelap mata berusaha mendekat, memiliki dan menikmati.

“Apa cirinya sehingga menyimpulkan pemilik senyum cantik ini tidak beresiko mencuri hati?”

“Dia pake behel gigi kawan”

“Apa hubungannya behel gigi dengan tidak akan macam-macam?”

“Hahahaha…. justru itu kawan, giginya aja dipagar (behel), apalagi hatinyaa”…

Jiaaaah gubraaag.


Pembicaraan usai dan suasana kembali normal. Wassalam (AKW).

Lalandong – fbs

Haté marojéngja, kedah kumaha?

GARUT, akwnulis.com. Indung peuting maturan raga nu marojéngja, baluweng teu puguh rasa. Pakasaban teu bisa jadi alesan, urusan kulawarga ogé lain caturkeuneun. Kabéh ngaguluyur sakumaha ilaharna. “Tapi naha haté bet tagiwur teu puguh rasa?”

Ningali buku tabungan jeung sertifikat geus lumayan ngahunyud minuhan brankas, kitu deui mobil jeung motor pasesedek di garasi.

Jikan jeung budak kukurilingan mapay nagara-nagara sabudereun dunya, unggal usik laporan dina médsos séwang-séwangan. Sabulan katukang di wilayah asia, ayeuna keur anteng di dataran éropa. Tapi keukeuh ieu haté teu puguh rasa.

Tungtungna buru-buru balik ka lembur, sumujud ka indung bapa. Ménta panghampura ogé pituduh supaya haté jadi tingtrim jeung daria.

“Jang, wayahna ulah loba ngarahul, geus ayeuna mah gawé sing junun sanajan hirup ngontrak bari sagawé-gawé, sabar jeung tawakal”

“Sumuhun Ema, Nuhun” waleran dareuda, teras amit mundur muru kana motor bari teu hilap ngahurungkeun aplikasi, sugan waé aya nu order.

Ayeuna haté tenang da geuning hirup mah ukur pupulasan. (AKW).

Misteri Hati *)part 1

Seonggok hati meneguhkan diri.

#sebuahpuisiAkw

Jendela kerelaan menguàp pasrah
Diemban pilu menugas rasa
Dengan sengaja kubertepuk dada
Meraih sesungging pisau yang menajam

Terucap janji kuhunjamkan pada tubuhku
Membelit kulit bertebar perih
Dipaksa untaian tanganku bergerak
Mencari seonggok daging penentu hari

Setelah waktu terus berlari
Tuk kutemui sepotong hati di tubuh ini
Tanganku menjalar di bawah kulit diatas daging
Mengikuti aliran nadi yang bersorak…
Semua hening.

Kuseka keringat pengharapan
Dari kening kebimbangan yang tampan
Tapi tanganku tak temukan sepotong hati
Tinggalkan tubuh beracak jemu.

Tiba-tiba sesuatu menyentuh jiwaku
Menyuruh otak untuk berpaling menatap beku
Sentuh jalinan jiwa dalam ragaku
‘tuk meraih harapan tak hampa di depan mata menyala

Sesaat decit burung menatap
Kuambil leher ini hingga menjerit
Mataku kupungut hingga dapat
Dengan paksa kupasang dalam kelopak kehidupan

Nafasku tertahan….

***
Catatan :
Coretan puisi ini tertuang di hvs biru muda tertanggal 18 sept’2K ka.up 12.000 WIB Edisi Revisi… sebuah coretan pribadi yang pernah terdokumentasi. Berjudul Misteri Hati part 1.

Selamat menikmati. (AKW)

TAK SESAL BERLIKU

Ternyata pemandangan di pelupuk mata tidak sama dengan apa yang terjadi didalam pikiran dunia . #fiksihariini

Hamparan hijau sawah dan kebun menyejukan pandangan mata. Memberi ketenangan yang tiada tara. Padi berbaris menebar cita, berpadu dengan langit yang mengharu biru. Liukan sungai membelah bukit, di temani pepohonan rindang yang tumbuh segar. Sebuah rumah sederhana berhalaman luas melambaikan harap bahwa kedamaian itu sedang hadir disana.

Tiba-tiba menyeruak rasa, menggelitik keinginan dan mengekstraksi rasa iri dengan apa yang dilihat diluar sana. Sungguh rasa iri ini membuncah, melihat seorang bapak duduk di halaman depan rumahnya. Ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengepul asap tipis kenikmatan, ditemani goreng singkong dan ubi serta kacang rebus. Sambil memandang pemadangan menghijau serta kesibukan beberapa binatang peliharaan yang asyik bercengkerama dengan alam, tak peduli dengan permasalahan kehidupan.

Betapa nikmat hidupnya, itu yang membuncah di kepala dan menggejolak di otak sementara diri ini hanya duduk termangu menatap kenyataan terpenjara oleh keadaan yang jauh berbeda. Duduk terdiam di kelas ekonomi Kereta Api Argo Parahyangan yang terus bergerak tanpa inisiatif mengikuti tarikan sang lokomotif.

Tak tahan dengan keadaan, jiwa berontak bergerak secepat kilat menembus kaca tebal kereta. Terbang menjauh melewati hamparan sawah dan kebun dengan udara yang begitu segar. Menuju rumah sederhana tadi di mana seorang bapak tua tengah bersantai sambil menikmati kudapan spesialnya. Ternyata masih ada, duduk santai di halaman depan rumahnya.

Tak banyak bicara lagi karena rasa iri sudah menguasai diri. Langsung jiwa ini menerobos masuk menguasai raga tua yang hanya bisa terpana tak kuasa menolak kedatangan yang tiba-tiba.

Gelap sesaat.. lalu perlahan membuka mata dan… aku sudah menjadi lelaki tua yang sedang duduk di kursi kayu lapuk sambil memandang hamparan sawah dan kebun yang sudah bukan miliknya karena telah terjual untuk membiayai kehidupannya dan kehidupan anak-anaknya yang tak kunjung mandiri miliki pekerjaan yang pasti. Mereka tidak mau jadi petani tapi pergi ke kota tanpa pendikan yang berarti. Akhirnya jadi pengangguran dan membebani orangtua yang semakin renta ini.

Rumah inipun……. ternyata hitungan bulan akan segera dilelang oleh pihak bank, karena tak kunjung mampu membayar angsuran pinjaman yang selalu musnah tertelan ganasnya kehidupan. Satu-satunya hiburan adalah memandang kedatangan kereta api yang saban hari hilir mudik membawa sosok-sosok manusia. Kumpulan manusia yang berpetualang dan menjalani ritme kehidupan yang nikmat, duduk empuk di kursi kereta yang membawa ke tempat-tempat yang menyenangkan. Apalagi raga yang mulai renta dan penyakit tua yang menggerogoti dilengkapi rapuhnya jiwa karena kondisi keluarga. Sungguh iri hati melihat semuanya.

Aku terhenyak dan tersadar ternyata disini kondisinya tak lebih baik. Malah tenyata lebih parah. Segera bersiap harus hengkang nich, daan kembali ke posisi semula. Duduk termangu di kereta.

Tapi…. jiwa ini tak bisa lepas dari raga renta ini. Terpenjara dan terjebak selamanya. Sesal sudah tiada guna. Akibat terbujuk iri termakan dengki, melihat orang lain bahagia padahal miliki masalah kehidupan yang begitu pelik rumit dan penuh duka.

Detik dan menit berlalu, terlihat gerbong akhir Argo Parahyangan telah hilang dari pandangan. Semakin derita terasa, tak kuasa menahan kesedihan karena harus terpenjara dalam raga entah siapa. Mulut gemetar teriak sekuat tenaga hingga akhirnya gulita menyapa.

Perlahan mata membuka dan terlihat langit-langit rumah yang kumuh dan penuh noda bocoran air hujan. Di samping kanan seorang ibu tua lusuh berkulit keriput memijit tangan ini dengan sesekali menyeka lelehan air matanya. Air mata kesedihan dan kepasrahan.

Aku kembali tak sadarkan diri, berjanji untuk menahbiskan diri, hanya bergaul dalam gelap dan temaram.(Akw).

Note : Mari kita syukuri apapun yang Allah SWT takdirkan dalam jalinan perjalanan kita. Angan terjebak dengan iri dengki yang berujung nestapa. Kesedihan dan Bahagia adalah satu paket yang saling melengkapi.

Cukup Jalani, Syukuri dan Nikmati.

Inspirasi dari seberang jendela Argo Parahyangan. (Ini hanya Piksi… eh Fiksi ), Wassalam.