Misteri Hati *)part 1

Seonggok hati meneguhkan diri.

#sebuahpuisiAkw

Jendela kerelaan menguàp pasrah
Diemban pilu menugas rasa
Dengan sengaja kubertepuk dada
Meraih sesungging pisau yang menajam

Terucap janji kuhunjamkan pada tubuhku
Membelit kulit bertebar perih
Dipaksa untaian tanganku bergerak
Mencari seonggok daging penentu hari

Setelah waktu terus berlari
Tuk kutemui sepotong hati di tubuh ini
Tanganku menjalar di bawah kulit diatas daging
Mengikuti aliran nadi yang bersorak…
Semua hening.

Kuseka keringat pengharapan
Dari kening kebimbangan yang tampan
Tapi tanganku tak temukan sepotong hati
Tinggalkan tubuh beracak jemu.

Tiba-tiba sesuatu menyentuh jiwaku
Menyuruh otak untuk berpaling menatap beku
Sentuh jalinan jiwa dalam ragaku
‘tuk meraih harapan tak hampa di depan mata menyala

Sesaat decit burung menatap
Kuambil leher ini hingga menjerit
Mataku kupungut hingga dapat
Dengan paksa kupasang dalam kelopak kehidupan

Nafasku tertahan….

***
Catatan :
Coretan puisi ini tertuang di hvs biru muda tertanggal 18 sept’2K ka.up 12.000 WIB Edisi Revisi… sebuah coretan pribadi yang pernah terdokumentasi. Berjudul Misteri Hati part 1.

Selamat menikmati. (AKW)

TAK SESAL BERLIKU

Ternyata pemandangan di pelupuk mata tidak sama dengan apa yang terjadi didalam pikiran dunia . #fiksihariini

Hamparan hijau sawah dan kebun menyejukan pandangan mata. Memberi ketenangan yang tiada tara. Padi berbaris menebar cita, berpadu dengan langit yang mengharu biru. Liukan sungai membelah bukit, di temani pepohonan rindang yang tumbuh segar. Sebuah rumah sederhana berhalaman luas melambaikan harap bahwa kedamaian itu sedang hadir disana.

Tiba-tiba menyeruak rasa, menggelitik keinginan dan mengekstraksi rasa iri dengan apa yang dilihat diluar sana. Sungguh rasa iri ini membuncah, melihat seorang bapak duduk di halaman depan rumahnya. Ditemani secangkir kopi hitam yang masih mengepul asap tipis kenikmatan, ditemani goreng singkong dan ubi serta kacang rebus. Sambil memandang pemadangan menghijau serta kesibukan beberapa binatang peliharaan yang asyik bercengkerama dengan alam, tak peduli dengan permasalahan kehidupan.

Betapa nikmat hidupnya, itu yang membuncah di kepala dan menggejolak di otak sementara diri ini hanya duduk termangu menatap kenyataan terpenjara oleh keadaan yang jauh berbeda. Duduk terdiam di kelas ekonomi Kereta Api Argo Parahyangan yang terus bergerak tanpa inisiatif mengikuti tarikan sang lokomotif.

Tak tahan dengan keadaan, jiwa berontak bergerak secepat kilat menembus kaca tebal kereta. Terbang menjauh melewati hamparan sawah dan kebun dengan udara yang begitu segar. Menuju rumah sederhana tadi di mana seorang bapak tua tengah bersantai sambil menikmati kudapan spesialnya. Ternyata masih ada, duduk santai di halaman depan rumahnya.

Tak banyak bicara lagi karena rasa iri sudah menguasai diri. Langsung jiwa ini menerobos masuk menguasai raga tua yang hanya bisa terpana tak kuasa menolak kedatangan yang tiba-tiba.

Gelap sesaat.. lalu perlahan membuka mata dan… aku sudah menjadi lelaki tua yang sedang duduk di kursi kayu lapuk sambil memandang hamparan sawah dan kebun yang sudah bukan miliknya karena telah terjual untuk membiayai kehidupannya dan kehidupan anak-anaknya yang tak kunjung mandiri miliki pekerjaan yang pasti. Mereka tidak mau jadi petani tapi pergi ke kota tanpa pendikan yang berarti. Akhirnya jadi pengangguran dan membebani orangtua yang semakin renta ini.

Rumah inipun……. ternyata hitungan bulan akan segera dilelang oleh pihak bank, karena tak kunjung mampu membayar angsuran pinjaman yang selalu musnah tertelan ganasnya kehidupan. Satu-satunya hiburan adalah memandang kedatangan kereta api yang saban hari hilir mudik membawa sosok-sosok manusia. Kumpulan manusia yang berpetualang dan menjalani ritme kehidupan yang nikmat, duduk empuk di kursi kereta yang membawa ke tempat-tempat yang menyenangkan. Apalagi raga yang mulai renta dan penyakit tua yang menggerogoti dilengkapi rapuhnya jiwa karena kondisi keluarga. Sungguh iri hati melihat semuanya.

Aku terhenyak dan tersadar ternyata disini kondisinya tak lebih baik. Malah tenyata lebih parah. Segera bersiap harus hengkang nich, daan kembali ke posisi semula. Duduk termangu di kereta.

Tapi…. jiwa ini tak bisa lepas dari raga renta ini. Terpenjara dan terjebak selamanya. Sesal sudah tiada guna. Akibat terbujuk iri termakan dengki, melihat orang lain bahagia padahal miliki masalah kehidupan yang begitu pelik rumit dan penuh duka.

Detik dan menit berlalu, terlihat gerbong akhir Argo Parahyangan telah hilang dari pandangan. Semakin derita terasa, tak kuasa menahan kesedihan karena harus terpenjara dalam raga entah siapa. Mulut gemetar teriak sekuat tenaga hingga akhirnya gulita menyapa.

Perlahan mata membuka dan terlihat langit-langit rumah yang kumuh dan penuh noda bocoran air hujan. Di samping kanan seorang ibu tua lusuh berkulit keriput memijit tangan ini dengan sesekali menyeka lelehan air matanya. Air mata kesedihan dan kepasrahan.

Aku kembali tak sadarkan diri, berjanji untuk menahbiskan diri, hanya bergaul dalam gelap dan temaram.(Akw).

Note : Mari kita syukuri apapun yang Allah SWT takdirkan dalam jalinan perjalanan kita. Angan terjebak dengan iri dengki yang berujung nestapa. Kesedihan dan Bahagia adalah satu paket yang saling melengkapi.

Cukup Jalani, Syukuri dan Nikmati.

Inspirasi dari seberang jendela Argo Parahyangan. (Ini hanya Piksi… eh Fiksi ), Wassalam.