Espresso Ungu

Sendu itu perlu tetapi dengan sruputan maka sendu bisa berlalu.

Photo : Espresso & bunga Ungu / dokpri.

KBB, akwnulis.com. Dikala sendu berpadu rindu, maka sajian bunga ungupun terasa bernuansa biru. Gemericik air hujan yang singgah di sore ini, melengkapi perpaduan rasa sendu yang terus berpadu.

Untunglah secangkir kopi bercangkir putih mencairkan suasana, dengan rasa kental double espresso menghadirkan kekuatan dan kepahitan yang nyaris sempurna, ditemani serpihan manisnya kenyataan yang berbeda.

Sruputan pertama membuka pikiran yang hampir galau menjadi tenang, perlahan tapi pasti mengembalikan logika kepada jalan yang seharusnya. Biarpun sang rasa masih terus menggelayut dengan godaan iba, tetapi keajegan dalam bersikap adalah sebuah prinsip yang harus diperjuangkan, sekarang, nanti dan seterusnya.

Tapi ternyata gerimisnya hanya sekejap, langsung berganti dengan lebatnya pertanyaan plus gelegar halilintar kepenasaran. Diskusi menjadi hangat dan menegangkan.

Nah…daripada bingung dengan silang pendapat yang tak berkesudahan, padahal jelas bahwa berbeda pendapatan.. maka sruput lagi sisa espresso di cangkir putih, srupuuut…… perasaan lebih tenang. Karena pahit sadisnya espresso berubah menjadi manis dikala belajar ikhlas menerima perbedaan.

Diskusi berlanjut sambil terus menyeruput, kesenduan dan rindu sudah tidak lagi ribut, tapi melarut seiring tuntasnya hujan sore yang sedari tadi beringsut. Wassalam (AKW).

Berkelindan Sunyi 

(Puisi) berbagi rasa berkabut sepi.

Photo : Dokumentasi pribadi

Malam menjelang sunyi, Jengkerikpun diam mematri, Desau daun hanya berani berbisik sesekali, Sementara kamu tetap mengumbar senyum misteri

Perjalananpun sementara terhenti, Terdiam di persimpangan hati, Menanti apa yang akan terjadi, Dengan rasa yang penuh arti

Jangan lengah memegang janji, Karena itulah ujian kualitas diri, Meskipun lupa itu manusiawi, Tapi tidak sesering meremas jemari

Cobalah catat apa yang akan terjadi, Lalu lakukan apa yang ditulis tadi, Meskipun sudah tidak utuh lagi, Hanya waktu yang terpaksa menjadi saksi

Sabar dengan berdetaknya hari, Punguti petuah yang bertabur sepi, Jalinlah menjadi perisai diri, Agar tegar dalam meniti suksesi

Disini merenung sendiri, Sambil membayangkan yang akan terjadi, Meski hanya status penonton sejati, Jadikan suasana segar membumi

Malam masih menjelang sunyi, Detak jantung konsisten teratur berlari, Menyusuri cerita lama yang berseri, Meskipun mungkin tidak terulang lagi.

Gajahenam, 230717 (Akw)