Kopi Coldbrew Harimau

Bikin kopi versi Coldbrew bersama harimau.

Jangan terjebak dengan judul ya. Photo yang ditampilkan ini bukan bermaksud menjebak pandangan atau mengarahkan opini tentang kopi harimau. Tetapi sebuah kebetulan dimana dipertemukan antara proses penyeduhan kopi versi kopi dingin dengan sang boneka harimau belenuk yang mendapatkannya cukup menyita waktu disaat bertugas di Pulau Bali.

Cold brew, itu metode penyeduhannya. Kopi yang diseduh dingin adalah pemberian Bu Een Kota Sukabumi, “Hatur nuhun Bu”

Metode seduh dingin sangat sederhana. Yang pasti siapin dulu alat dan tempatnya. Trus kelengkapan terpenting itu tadi kopinya sudah ready Kopi Liong, ini kopi blend khas bogor, robusta dan arabika. Elemen penting lainnya air dingin matang dan gelas ukur.

Caranya, baca basmallah dulu. Lalu timbang bubuk kopinya. Karena ini pake perbandingan 1 : 10, maka ditimbanglah 100 gram lalu masukinn perlahan kedalam tempat seperti tabung saringan yang terletak di tengah bejana. Lalu ukur air dingin sebanyak 1 liter, dikucurin perlahan… eh bahasa sunda. Dituangkan airnya perlahan menimpa bubuk kopi hingga tuntas 1 liter itu berpindah tempat. Jangan khawatir, bejana kaca merk Hario itu kapasitasnya 1,5 liter.

Sesudah selesai, tutup bejana atasnya. Simpan di kulkas minimal 8 jam.

Gitu aja?”
“Nggak bisa dinikmati langsung?”

“Maafkan kawan, metode cold brew memang bukan untuk dinikmati langsung, tapi butuh kesabaran”

“Ahh kirain langsung, ya udah moo nyeduh pake V60 aja!!”

“Silahkan”

***

Boneka harimaupun tersenyum sambil memperlihatkan pose terbaiknya disamping bejana cold brew berisi Kopi Liong yang berekstraksi perlahan menuju kenikmatan rasa di esok hari. Wassalam (AKW).

Harimau Belenuk*)

Nilai kehidupan hadir dari Boneka Harimau belenuk.

Photo Wajah macan tampak depan | lucu | dokpri.

“Ayah beli Boneka Harimau yaa..” Sebuah permohonan sederhana dari anak semata wayangku.
“Siap, Ayah kerja ke luar kota dulu yaaa”
“Oke Ayah, eh jangan lupa sama lolipop ya, dua” sambil kedua tangan terbuka semua, jarinya jadi sepuluh.
“Iya sayangku, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”

Dialog singkat disaat akan kembali berdinas ke pulau dewata dalam rangka pendidikan dan pelatihan yang sedang dijalani dengan pola on-off ini menjadi sebuah kontrak pribadi yang miliki konsekuensi serta hak dan kewajiban. Permintaan sederhana dari seorang anak kecil yang ternyata memberi hikmah besar dalam memandang dan mencoba memahami nilai kehidupan.

***

Di sela-sela istirahat sore ataupun malam hari, video call menjadi keharusan. Kemajuan teknologi yang memutus jarak ratusan kilometer menjadi sebatas jengkal, bisa bercengkerama, bercanda sambil melihat wajah masing-masing di layar smartphone. Ah indahnya kemajuan jaman, meskipun ada beberapa rekan yang tidak suka video call sama istrinya, entah karena apa. Mereka lebih suka telepon suara saja. Ya gpp juga, silahkan itu mah urusan masing-masing.

Photo macan nyamping | belenuk | dokpri.

Setiap kontak baik video call ataupun telepon biasa, pertanyaan tentang oleh-oleh boneka harimau menjadi pertanyaan utama sehingga menjadi kewajiban untuk membelinya.

“Sayang anak… sayang anak…” jadi teringat ucapan pedagang asongan mainan anak di bis, dulu jaman masih muda.

***

Hari ketiga acara di Bali, akhirnya ada kesempatan untuk meluangkan waktu mencari boneka ‘cheetah ceetah bang bang’ sebelum bertolak ke bandara. Ternyata lokasi Bali Safari bertolak belakang dengan arah bandara. Ya sudah jajal aja. Ditemani sopir taksi kenalan yang baik hati dan sopan, kami meluncur ke Bali Safari demi membeli sejumput janji untuk anak penyejuk hati.

***

33 menit berlalu, tiba di gerbang depan Bali Marine & Safari. Masuk melewati pos penjagaan dan taksi mengantar hingga ke loket pembayaran. Disitulah bersemayam eh terdapat jualan souvenir binatang-binatang.

“Ada boneka harimau mbak?”
“Ada pak, ada yang kecil 60 ribu, yang berbentuk topi 160 ribu dan ini agak besaran 135 ribu”

Boneka topi kayaknya nggak mungkin, trus yang ukuran kecil kayaknya terlalu kecil, nah berarti ini mungkin yang menjadi pilihan, boneka harimau lucu.

Tapi, sebelum memastikan membeli, agak tertegun karena wajahnya harimau lucu sementara badannya agak aneh, buntet eh bantet nggak jelas gitu. Badannya lebih mirip binatang hamster dech atau anak kelinci. Jadi klo dilihat dari samping memang tampilannya aneh tapi tetep lucu.

“Duh gimana ya?, udah beli ternyata anaknya nggak suka. Tapi beli aja ah, daripada jauh-jauh nggak dapet apa-apa”

Diskusi dalam hati karena kondisi boneka yang badannya nggak mirip harimau. Malah kepikiran beli juga yang ukuran mini, tapi ntar pemborosan, ya sudah lah. Belum lagi kalau diitung sama ongkos taksinya.

***

Ternyata, setelah mendarat dengan keras di runway Bandara Husein dan dijemput hingga tiba di rumah. Boneka harimau dan lolipop yang menjadi pertanyaan.

Perlahan tapi pasti boneka harimau buntet (belenuk, bhs sunda) diambil dari koper, daan….

Reaksi senangnya terpancar dari wajah anak semata wayangku. “Makasih Ayaah” dengan sumringah boneka harimaunya dipeluk-peluk, dibelai dan dipamerin sama nenek serta ibunya.

Anak tidak terganggu dengan tampilan badan yang belenuk (buntet) karena imajinasi mereka tentang harimau lebih melihat muka dan belangnya saja. Tidak perlu berfikir detail tentang bentuk hewan yang proporsional, semua itu cukup dan menyenangkan.

Tiba-tiba tersadar bahwa terkadang diri ini sering mengharapkan suatu barang atau seseorang itu sempurna untuk membantu kita sesuai harapan kita. Sehingga mudah dihinggapi rasa kecewa disaat kenyataan tidak sesuai harapan.

Padahal, semua barang dan juga seseorang pasti ada kekurangan atau kelemahan masing-masing. Sikap ikhlas menerima dari diri kita lah yang memberi warna sehingga rasa syukur akan muncul bahwa ini semua adalah takdir yang harus kita jalani dan syukuri.

Anak kecilku memberi contoh bagaimana menerima sebuah mainan yang bentuknya tidak proporsional meskipun harganya lumayan. Dengan gaya penerimaan yang senang, ikhlas serta apa adanya, menghilangkan rasa cape, melupakan berapa biaya taksi tambahan, berganti aura kebahagian yang menjadi bekal kehidupan.

“Hai Ayah, jangan bengong, ayo kita joget bersama bonekaku, Cheetah cheetah bang bang” Suara anakku membuyarkan lamunan ini. Segera berganti senyuman dan langsung melarut dengan permainannya.

Terima kasih atas pelajaran sederhana ini. Wassalam (AKW).

***

Belenuk*) : Buntet atau Bantat.