KOPI TAHLIL.

Menikmati Kopi Tahlil dan Nasi Megono…

Photo : Kopi Tahlil / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Kesempatan pertama dan tidak disengaja bertemu dengan kopi varian baru, namanya KOPI TAHLIL.

Awalnya agak mengernyitkan dahi karena berarti kopi ini berkaitan erat dengan prosesi seseorang yang meninggal dunia… tapi jadi penasaran asal muasal namanya dan yang lebih mantabs adalah rasanya, gimana yaaa….

Nggak pake mikir lama, langsung pesan Kopi Tahlil, dan dipesan tanpa gula tanpa susu…. tinggal menunggu. Hanya saja ini adalah saat makan siang, sekalian saja mencari menu yang tepat dengan kebutuhan. Menunya harus ada karbohidratnya, protein dan jelas sayurannya.

Photo : Nasi Megono / Dokpri.

Setelah mengelilingi daftar menu, ternyata yang ada sayurnya… nyaris tidak ada. Kecuali ……. menu ‘Nasi Megono‘ katanya sih nasi dan diatasnya nanti ditaburi tumis sayuran mirip gudeg gitu… oke deh. lumayan, meskipun bukan sayuran segar….. ada kandungan sayurannya.

Untuk proteinnya cukup dengan pesan telur dadar aja. Cukup tuh, lagian harganya agak lumayan karena rumah makan ini terletak area Bandara, tepatnya di Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta.

***

Hadir pertama dihadapan mata adalah sajian kopi dengan cangkir putih bermotif ayam jago yang gagah.. jadi inget coklat merk Jago di masa kecil dan juga mangkok tukang baso…. legend inih.

Harum kopinya semerbak mewangi dan tak perlu lama langsung membaca Basmallah….. “Bismillahirrohmannirrohiim“…. dan sruputtt perdana…. sruuppp….

Hmmm, ada rasa hangat melewati lidah menuju kerongkongan, bukan hanya rasa pahitnya kopi robusta tetapi ada unsur lain yang beda, yaitu jahe dan sereh…. hangat dan nikmat.

Enak juga guys”

Photo : Sajian Telur dadar / dokpri.

Sambil sruput kedua, ketiga dan seterusnya hadir juga sajian nasi megono, nasi putih biasa dengan topping seperti sayur nangka muda atau urab ya??…. dan sepiring telur dadar, semua kompak menggunakan piring putih bergambar ayam jago yang gagah….. kongkorongoook.

Segera Nasi Megononya dicoba….

Ternyata ada rasa asing yang bikin lidah berdansa, selain daun nangka dan rempah yang ada, juga unsur kecombrang dengan rasa menyengatnya menambah semangat di siang yang panas ini. Bagi sebagian orang yang tidak suka rasa kecombrang yang cukup khas dan tajam… ya jangan maksain.

Tapi bagi diriku yang hanya punya 2 pilihan dalam sajian makanan, yaitu ‘Enak‘ dan ‘Enak bingiit’, rasa kecombrang ini membahagiakan… suweer…. am… am… nyam nyam.

Nah tentang asal muasal nama kopi tahlil ternyata berasal dari acara tahlilan yang digelar pasca meninggalnya seseorang yang beragama islam di daerah Pekalongan Jawa Tengah dan sekitarnya (Mohon koreksi kawan-kawanku di Jateng).

Kopi ini hadir dan disuguhkan kepada para peserta, panitia, tamu dan pihak-pihak yang hadir dalam acara tahlilan yang sering hingga larut atau menyebrang malam, sehingga selain kafein yang bikin melek, susu plus jahe dan sereh yang hangat menjaga badan serta menyegarkan, klop bingit tuh.

Sruput lagi ahh…. mumpung masih ada.

Akhirnya gelas cangkir ayam jago dan piring-piring ayam jago dipamiti dengan berat hati karena jadwal pesawat sudah menanti. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
RM Warung OPEK, Area Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta.
Kopi Tahlil 22rb
Nasi Megono 25rb

***

Ngopi HALU di langit.

Menyusuri angkasa bersama segelas rasa.

Photo : Mari nikmati kopi Angkasa / dokpri.

HALIM, akwnulis.com. Angkasa luas menyambut semangat pagi ditemani sisa-sisa embun yang ikhlas berubah menjadi uap indah penuh harapan. Sedikit awan cumulus terlihat di kejauhan, malu-malu tersibak oleh semburat sinar pagi sang mentari.

Begitupun dengan raga ini, sedang bersiap menyajikan sebuah sensasi pagi, minum kopi di atas langit sejati.

Shubuh tadi meracik dengan manual brew phi-sikti (V60) dan pilihannya adalah bean spesial yaitu HALU pure arabica dengan honey process. Bean ini varietas sigararuntang ditanam di ketinggian 1300 m diatas permukaan laut yang di roaster alias diproduksi oleh Coffee Rush.

Photo : Ini Bean-nya, Arabica HALU pure dari Coffee Rush / dokpri.

Perbandingan 1 : 13 dan temperatur air 90° celcius menghasilkan sajian kopi yang ruar biasa, harum mewangi dengan body strong yang ngangenin. Acidity jangan tanya, bikin ingettttt ajjjah… apalagi aftertastenya muncul selarik rasa nanas, manisnya madu dan akhirnya ditutup dengan dark coklat… yummy.

Yang bikin keren lagi, minumnya diatas langit brow….

“Kok bisa?”

“Bisa donk”….

“Gimana caranya?”

Giniii…….. caranya sederhana kok. Beres meracik ambil tumbler yang langsing dan juga gelas kaca kecil. Lalu bawa di tas dan pergilah ke bandara…. bukan ke terminal yaaa….. khan moo naik pesawaat… uhuy

***

Photo : Tumbler langsing + kopi + snack / dokpri.

Sruput kopi HALU pure arabica di temani langit membiru yang membentang setia adalah sebuah kesempatan langka.

Alhamdulillahirobbil Alamin, Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban.

Sruput lagii…..

Srupuuuut lagi.

Awan tersenyum dan batas horison bernyanyi bersama, menemani perjalanan pagi penuh warna warni.

Yang pasti, raga ini disini bersama jiwa penuh dahaga rasa yang terselesaikan oleh hadirnya sajian kopi hangat kohitala dengan rasa luar biasa.

Photo : Berangkaaat…. / dokpri.

Seiring waktu, akhirnya langit biru kembali diatas sana, setelah raga ini menjejak bumi tanpa hempasan berarti, mendarat selamat di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta. Selamat bekerja kawan, Selamat menjalani hari penuh sensasi. Wassalam (AKW).