Berenang di Harmoni Hotel.

Relaksasi di kaki Gunung Guntur.

Photo : Kolam renang air agak hangat / dokpri.

CIPANAS, akwnulis.com. Pagi yang cerah di kaki gunung Guntur memberi kesegaran tak terperi. Jangan terus berdiam di kamar, tetapi gerakkan raga dan kuatkan kaki agar melangkah menuju lantai bawah, disana kesegaran lainnya menanti.

Photo : Kolam renang dewasa & kolam renang anak / dokpri.

Gunung Guntur masih sembunyi di balik awan pagi, berselimut dingin yang merayu untuk kembali ke haribaan selimut di kamar lantai 2. Tapi daya tarik kesegaran kolam renang tidak bisa dilupakan, apalagi ada sedikit kehangatan yang akan memanjakan badan, maksudnya kolam renangnya airnya hangaat…. “Iya gitu??”.

Ternyata bener kawan, kolam renangnya bertemperatur hangat-hangat kuku, yach lumayan dibandingkan hanya berdiam di pinggir kolam dan di terpa angin pagi yang menggemaskan.

Jeburr!!!!…

Kolam renang satu lagi untuk bermain anak-anak, lengkap dengan seluncuran dan ember tumpahnya. Cuma anaknya nggak ikut…. yaa… nggak jadi bermain-main disitu.

Photo : Suasana kamar hotel / dokpri.

Kesegaran dan kehangatan air kolam renang memberi rasa nyaman, kombinasi alami yang menghasilkan relaksasi. Sementara kamar yang hangat ditinggalkan dulu, sofa yang luas silahkan menunggu, sementara raga ini bersantai dulu serta semoga jiwapun bisa lebih membumi tanpa terbebani pikiran tugas pekerjaan yang selalu hadir dalam labirin pikiran dan selasar neocortec.

Photo : Sofa & Sajadah / dokpri.

Sebuah pilihan tempat yang pas untuk jeda sejenak, beristirahat di sela beban pikiran dan tugas yang terus di-gas. Kerjaan kelar, istirahatpun bukan hanya kelakar.

Yang kepo, ini namanya Hotel Harmoni di daerah Cipanas Garut.

Hayu ngojay bray, Wassalam (AKW).

Sunrise di Kaki Manglayang

Mengejar harapan menuju kehadirannya.

Photo : Mentari mulai terbit di samping Gunung Geulis/Dokpri.

Berjalan menjejak tanah merah, yang tersenyum meskipun tetap menggigil karena dipeluk dinginnya pagi. Perlahan tapi pasti, kehangatan menjalari urat nadi kehidupan selaras dengan semakin menanjak perjalanan pagi ini. Nafas yang tadinya bergerak lancar sekarang mulai tersengal karena kompensasi untuk meraih kehangatan.

Meskipun dinginnya pagi menggempur dari segala arah, berusaha mendinginkan raga yang mulai membara. Pertarungan inilah yang mengukuhkan rasa sehingga bisa mencapai puncak bukit pertama yang menyajikan hamparan pandangan pagi yang mempesona.

Ternyata sang mentari masih sedang berusaha keluar dari mimpinya, sehingga perlu beberapa saat menunggu detik menata menit supaya bisa membidik sunrise pada saat yang tepat.

Ya.. tepat menurut penulis. Karena tepat itu bisa tidak sama, tergantung konteks dan sudut pandang.

***

Photo : Mentari berpadu dengan siluet tumbuhan di kaki gunung Manglayang/Dokpri.

Akhirnya sambil menenangkan sengal nafas yang kencang menuju normal, mentari muncul perlahan menyajikan kemegahan indahnya pagi hari yang penuh inspirasi.

Inilah salah satu momen yang harus senantiasa disyukuri, karena mentari masih terbit sesuai janji. Menyinari bumi membawa berkah Illahi. Wassalam (AKW).