KOPI CAMARO di MANGLUNG View & Resto.

Kembali bersua dengan kohitala, kali ini di dataran tinggi selatan Jogjakarta.

JOGJA, akwnulis.com. Perjalanan menanjak dan berliuk menuju dataran tinggi di selatan jogja, mirip dengan perjalanan ke lembang mau cari susu murni, ketan bakar ataupun tahu goreng plus kesegaran suasana alami. Tetapi tentu hal penting yang harus dicari adalah secangkir janji yang tertuang dalam cangkir abadi bernama kenikmatan hakiki dari sajian kopi.

Maka dilakukanlah kombinasi pencarian yang keduanya berdasarkan GPS. GPS pertama adalah global position system yang menjadi nyawanya googlemaps, dimana dengan jari jemari eh salah dengan jempol kanan kiri maka begitu mudah menjelajahi dan mencari lokasi yang didambakan… uhuy.

GPS yang kedua, apa itu?”

Wah ada yang penasaran, ini adalah teknologi tertua yang tak lekang oleh jaman dan tak pupus oleh perubahan. Karena modalnya adalah keberanian dan tentu berbicara dengan sopan. Maka GPS ini bisa dipakai.

Tahu khan?”

Pasti pada geleng kepala khan. Padahal jawabannya gampang banget. GPS ini adalah Gunakan Penduduk Sekitar  alias banyak bertanya kepada orang yang domisili di sekitar tempat tersebut. Minimal sopir grab atau sopir mobil sewaan yang mengantar kita ke tempat lokasi.

Dijamin bisa lebih tepat sasaran dan terukur, termasuk bisa juga berdiskusi tentang rencana kunjungan ke objek wisata. Siapa tahu GPS ini bisa memberikan opsi lebih baik, karena tahu dan berpengalaman untuk rekomendasi waktu yang tepat untuk berkunjung ataupun lokasi wisata lainnya yang bisa menjadi alternatif.

Jadi double GPS lebih efektif hehehehehe.

Setelah menanjak begitu rupa, sekitar 52 menit dari Stasiun Tugu, tibalah di lokasi makan siang menjelang sore kali ini, yaitu The Manglung View & Resto.

Ini adalah hasil GPS kedua lho guys, saran yang recomended dari bapak Sutarno, Driver langganan khusus Jogja karena paham dengan kebutuhan kami berbanyakan ini untuk makan dulu dalam suasana yang relatif ‘tenang.’

Karena tujuan awal kami adalah menuju objek wisata HEHA Sky View yang kata guugle lagi happening. Tapi saran pak Sutarno lebih kami dengarkan karena beliau yang sehari-hari lebih tahu keadaan.

Benar saja, dengan mengikuti sarannya, kami bisa menikmati makan siang dengan nyaman. Menu yang enak dan mengenyangkan serta tidak lupa sajian kopi manual dengan menggunakan seduhan V60 dapat dinikmati dengan pasti. Berlatar belakang pemandangan hamparan daerah Patuk bersama taburan sinar mentari yang mendekati ujung hari.

Pesan kopinya manual brew V60 hot ya mas”
“Inggih”

Wah senangnya, keluarga bisa pesan makanan minum sesuia serela… eh sesuai selera, akupun bisa bercengkerama dengan sang kohitala di wilayah jogja. Beannya adalah arabica camaro dari bantul (klo hasil interogasi mas baristanya) dengan notesnya adalah Sweey honey brown sugar karamel.

Ternyata hasil racikannnya agak mendekati, meskipun sweetnya kurang dapet tapi tergantikan dengan suasana sore dan pemandangan yang memanjakan mata dan belum banyak pengunjung. Eh nggak lama juga, setelah 20 menitan kami berada, ternyata mulai ramai juga.

Sruput dulu guys…. nikmaaat. Kopi manual brew V60 yang asli dan berada di Jogja. Jadi inget tahun lalu menikmati sajian V60 ini dimalam hari, hujan turun dengan lokasi tepat di depan tuggi jogja, yaitu di Cafe Kebon ndalem, ini tulisannya KOPI TUGU JOGJA.

Oh ya, tulisan tentang objek wisata HEHAnya menyusul ya, khan belum sampai.

Maka kembali ke paragraf atas, wisata yang terencanapun harus ada improvisasi di lapangan, jangan lupa GPS google dan GPS asli hehehehe. Selamat malam, have a nice weekend. Wilujeng Idul Qurban 1443 Hijriyah. Wassalam (AKW).

***

The Manglung View & Resto.
Jl. Ngoro ngoro ombo No. 16 patuk, Kecamatan Patuk Kab. Gunung Kidul Yogyakarta.

Qurban 1438 H

Ikuti tuntunan agama, belajar ikhlas, sabar dan pasrah sesuai syariat agama.

Sore ceria menemani langkah menyusuri jalan menembus gang kecil menuju satu sasaran. Supaya tidak kesasar maka di WA minta send location dan mister Jipi-és pun otomatis beraksi. Tak khawatir meskipun satelit telkom dikabarkan hilang, karena jaringan internet tetap aman. Yang rawan adalah dompet, karena gesek di mesin ATM semua pada diam. Tak ada respon seolah sudah tidak berkenan ditarik uang.

Meskipun dari hasil penerawangan, ATM tidak bisa keluar uang itu banyak faktor, bisa karena gangguan satelit, emang rekening tabungannya kosong atau salah pake ATM khusus seperti ATM beras :)…. atau bisa aja kartu ATM yang di masukkan ke mesin ATM ternyata kartu e-money untuk tol ( maklum buru-buru).

Photo : domba yang malu-malu domba/dokpri

Kembali ke posisi ondewey, sambil liat layar hape dengan petunjuk arahnya plus kondisi riil yang kasat mata, akhirnya tiba di rumah saudara yang sudah menunggu beberapa lama. Sebuah rumah di kampung yang adem dan komplit, ada kolam ikan, kebun kecil untuk bercocok tanam dan kandang domba… yaa kandang domba, disitulah tujuan akhir kedatangan sore ini. Untuk menengok dulur sekaligus memastikan keberadaan sang domba yang akan dikurbankan esok hari.

Domba gagah berbulu keriting dengan tanduk yang besar, juga terlihat berkaos kaki putih hitam. Tatapannya masih malu-malu karena baru berjumpa secara langsung. Tetapi dengan rayuan rumput hijau ditangan, bisa juga mengelus kepalanya meski terlihat sang domba tetap tegang. Itulah sang domba kami…

Sampai berjumpa esok pagi dom.

Trek..

Trek…

Trekk…

“Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Laailaahaillalloh huwallahu akbar, Allaahu akbar walilla ilham!!”

Gema takbir menggetarkan kalbu terus berkumandang sepanjang malam. Bergema seluruh alam memuji dan memuja Allah Sang Maha Pencipta. Hingga pagi haripun tiba. Bagi saudara kita yang datang dari segala penjuru dunia untuk menuju satu tempat suci tentu sedang bersiap dan berkumpul di padang Arafah. Melaksanakan wukuf di Tanah Suci Mekah Almukaromah.

Photo Mushofahah / dokpri

Photo sedang bersalaman : Dokpri

Kami yang disinipun bersiap menuju masjid besar di lereng gunung Ciremai untuk bersiap menunaikan shalat Idul Adha secara berjamaah. Suasana kekeluargaan terasa begitu kental, karena rata-rata adalah saudara meskipun saudara jauh. Mesjidpun tak kuasa menampung jemaah sehingga jalan dan pelataran rumah penuh berebut demi shalat bersama. Begitupun usai sholat dan khutbah ied, antrian bersalaman (Mushofahah) cukup panjang dan mengular.

Usai shalat ied bergerak menuju makam papah mertua, berdoa bersama di tahun ketiga kematiannya, semoga tenang dan bahagia di alam sana. Kembali ke rumah, segera menuju tanah belakang tempat yang disepakati untuk penyembelihan hewan kurban. Alhamdulillah ijab kabul dan doa memanjat menuju arasyi dengan taburan ayat alquran dan keheningan. Mencoba memaknai ketaqwaan, kesabaran dan kepasrahan serta keikhlasan yang tiada hingga dari Nabi Ibrahim dengan putranya, Ismail.

Darah sudah mengucur dan domba segera diproses untuk berbagi dengan sesama. Ijab kabul penyerahan hewan qurban berikut 3K (kaki, kepala dan kulit) bagi yang bertugas menguliti, mencacag dan membagi. Sekaligus hak 1/3 diijabkan untuk silahkan menjadi bagian yang akan disebar.

Kambing, sapi ataupun unta hanya perantara karena yang sampai kepada Allah SWT adalah nilai taqwa dari hambanya.

Happy Iedul Adha 1438 H. (Andriekw).