Cawene Coffee

Mendung menggelayut, nyeduh kopi bikin terhanyut.

Photo : Cawene Coffee siap dinikmati / dokpri.

CiMAHi, akwnulis.com. Pagi sedikit mendung disaat mentari malu-malu menampakkan diri, mungkin berlanjut hingga siang hari nanti. Cuaca menjadi nyaman jikala nanti mau berjalan-jalan di siang hari, tanpa khawatir sengatan panas yang mengganggu proses pengelupasan kulit muka, maklum lagi perawatan… awwww.

Enaknya ngapain yaaaa?”

Sebuah pertanyaan yang sangat penting, karena akan menentukan gerakan tubuh selanjutnya. Apakah akan melepas selimut hidup yang sedang membungkus raga ini?.. atau tetap bercengkerama dalam tatap dan kelembutan yang halalan toyyiban?… kembali aneka opsi menjadi pilihan.

Ternyata, diskusi adalah cara efektif untuk menyamakan frequensi, membangun kebersamaan persepsi yang akhirnya berusaha bersinergi. Keputusannya adalah melepas sementara selimut dan beringsut menuju ruang tengah untuk menikmati kenikmatan hidup lainnya meskipun sebagian orang menyebutkan sebagai kepahitgetiran.

Apa itu kawan?”

“Yaaa…. Ngopaay.. eh seduh kopiii!!!”

***

Siang ini yang menggoda selera untuk segera dieksekusi adalah sebuah mahakarya, artisan coffee dari Garut Jawa Barat.. pasti arabica bean dengan label CAWENE COFFFEE.

Tanpa perlu berlama kata, maka air panas disiapkan, kertas filter, corong V60, glass server, timbangan, dan tidak lupa… ya kopinya atuhhh… eh bubuk kasar kopinyaa… Cawene coffee.

Setelah corong V60 berlafis.. eh berlapis kertas filter sudah dibasahi air panas, maka prosesi perseduhan manual kopipun akan segera dimulai…..

3 sendok makan bubuk kopi arabica Cawene…. yaa sekitar 20gr Cawene sudah pasrah menunggu sentuhan air panas 92┬░ celcius. Mengucur perlahan, memutar melawan arah jarum jam. Aroma harum menyeruak, serpihan biji diseduh air telah membebaskan aroma yang terpendam dalam biji kopi Cawene ini…. aslinya harum pisan.

Gelas server Dugio300 menampung tetesan kopi hasil filterisasi manual brew V60 di pagi yang mendung ini. Perlahan tapi pasti mendungnya siang berubah jadi ceria, semarak, seiring dengan prosesi manual brew yang memasuki titik akhir.

Photo : Kopi Cawene bersama corong V60 / dokpri.

Sambil menanti tetesan akhir kopi cawene berkumpul di gelas server, mencoba mencari makna Cawene. Ada yang mengartikan Cawene itu cawan dan berkaitan dengan Uga Wangsit Siliwangi yang terkait tentang satria piningit. Sementara dalam kamus bahasa sunda online (unverified) menyebutkan Cawene ini perawan, senada dengan sebuah pendapat yang menghubungkan dengan syair lagu sunda jaman jadul yang menyandingkan ‘bujang’ dengan ‘cawene’.

Apapun pengertiannya, penulis mah seneng aja kerana eh… karena bentar lagi moo nikmatin kopi cawene ini, hasil manual brew V60 olangan….

Kopi cawene yang diseduh ini dengan label Cawene coffee, artisan coffee & roastery. Process natural medium to dark. Diroasting tanggal 04.03.2019, ground coffee berbungkus hitam dengan berat 250gr. Arabica premium, Garut origin west java indonesia. PIRT 5103205011019-23

Harga free karena ada yang ngasih, hatur nuhun Pak Haji ­čÖĆ­čÖĆ….

Jeng jreeeng…. sajian kopi sudah siaaap.

Cuuur….. dituangkan ke gelas kaca mini kesayangan…

Sruputt.. kumur dikitt… hmmmm

Woaaah…. nikmaatnyooo. Aromanya harum banget, bodynya mantaabs, bold euy.. tebal berisi… dipadu oleh aciditynya yang juga medium high… bikin sensasi ‘ninggal’-nya semakin kentara. Taste yang menyeruak adalah tajamnya rasa fruitty, khususnya lemon dan sedikit jeruk nipis plus tamarind… juga kayaknya muncul rasa berry….

Over all, mantabs nikmat.. tapi untuk pemula mungkin belum pas. Karena akan terkaget dengan body dan aciditynya yang seolah mencengkeram lidah memahitkan mulut.

Buat penikmat kopi hitam, ini recomended.

Srupuut…. nikmaat. Happy wikend guys. Wassalam (AKW).

****

Obat Penenang – Koplupr├ęgar

Ketenangan hadir melalui obat yang tepat.

Photo : Sajian Koplupregar lengkap dengan peralatan/ dokpri

JATINANGOR, akwnulis.com. Dinginnya malam di Kamar 103 Kampus Kiarapayung begitu kejam menghujami kulit tipis kami. Sesekali angin menyelusup, menyapa dengan seringainya menyusuri kuduk yang kerap meremang.

Untung saja obat penawarnya ada, beberapa bungkus obat penenang tradisional dengan peralatan lengkap satu kontainer plastik. Dibawa khusus untuk menghadapi situasi seperti ini.

“Obat penenang?, hati-hati ah, jangan sembarang bawa obat begitu. Nanti diciduk petugas”

“Udah selow aja kata Wahyu juga (maksudnya lagu Selow yang dinyanyiin Wahyu), cuman segini doang” sambil mengeluarkannya dari dalam kontainer.

Wahhh… ini mah banyak sekali, ah bahaya ini mah.. bahaya” suara parau kawanku yang phobia dengan penangkapan. Tangannya tak henti meremas bungkus alumunium voil.

“Baca atuh bungkusnyaaa…. ini bukan tablet isinya bro, isinya bijiiiii…. biji kopiiii”

“Biji kopi?… tadi katanya obat penenang?”

“Iya penenang hati yang sedang galaw karena rasa dingin dan kegamangan.. ahaaay”

“Sialaaan”

Segera berlari menghindari kejaran kawan yang kalap karena nggak terima dengan kejadian ini.

Makanya jangan phobia berlebihan.

***

Setelah peralatan lengkap di meja, prosesi dimulai. Pasang kertas filter dicorong V60, timbang biji kopi dan digrinder dengan ukuran suka-suka, goyang-goyang 2-6. Siapkan air panas dengan termos pemanas.. josss.

Sang waktu menjadi saksi dikala air panas membasahi dulu kertas filter, serpihan biji masuk saringan, proses blooming bikin harum ruangan yang sebelumnya diawali oleh aroma biji kopi Luwak Garut yang terpecah oleh keperkasaan mesin grinder.

92┬░ celcius sebuah angka yang tepat untuk menyeduh biji kopi spesial dari salah satu tokoh di garut, nuhun pak haji Aam… currr, puter-puter.

Tes.. tes… obat penenang menetes di bejana kaca transparan.. horee.. horeeee…

Aroma khas arabica menyeruak menjadi penenang pertama, diikuti dengan acidity maksimal khas kopi luwak (jangan sambil bayangin kopi yang keluar dari ‘anu’ luwak yaaa….. ), body kopinya medium dan dari keseluruhannya nikmat maksudddnyaaah.

Photo : para pemburu ketenangan / dokpri.

By the way, anyway…. obat penenang itu bernama Kopi Luwak Premium Garut (Koplupregar) versi spesial yang diproduksi oleh CV Dwi putra laksana….

Srupuuut.. srupput, gelas-gelas mini menyambut kehadiran obat penenang suasana ini secepat kilat, sehingga 50gr kopi yang berubah jadi cairan hitam coklatpun tandas dalam waktu singkat.

“Alhamdulillah, udah pada tenang semuanya,……”

“Iyaaaaaaa.. tenang dan senang”

Dinginnya malam sekarang menjadi sahabat, karena dipererat kebersamaan yang berbalut ketenangan. Canda dan tawa serta cerita Bali, Bogor dan Sukabumi serta Cimahi menguatkan kembali chemistry yang telah terjalin kuat di kaki Gunung Manglayang ini. Wassalam (AKW).

Arabica Lestari Kopi – Garut

Unboxing trus Nge-Manual brew Kopi Arabica Java Produksi Lestari Kopi – Garut Indonesia, monggoo…..

Ba’da asyar di minggu sore, celah waktu tersedia sambil menemani gerakan lincah anak ceria yang terus menguntit nempel ayahnya. Yup, hari libur memang dijanjikan untuknya. Meskipun sesekali tentu ada tugas dinas ataupun keperluan lain yang akhirnya harus sesaat berpisah dengan anak semata wayang.

Sebuah janji dan harapan bahwa bisa memberikan waktu terbaik buat sang anak disaat dia mulai menapaki kehidupan semenjak lahir hingga mencapai usia dewasa. Minimal hingga golden age bisa menemani maksimal wabilkhusus di hari libur, karena hari kerja hanya bisa bersua di malam hari saja.

Semoga nanti di hari tua, sang anak tetap setia dan akan menjaga serta merawat orang tuanya karena dulu di kala kecil dan haus kasih sayang, ayah bundanya selalu ada untuknya..

Ehh unboxing kopinya lupaa….

Oke guys kesempatan sore ini, nyobain mes├ęk (unboxing) biji kopi ukuran 250 gram produksi dari Lestari Kopi Garut Jawa Barat. Garut itu berada di arah Tenggara Kota Bandung, banyak gunung disana dan kopi lestari ini salah satunya.

Sesaat bungkus hitamnya dibuka, harum bean arabica 100% menyeruak disambut ujung hidung yang langsung menghirup aroma kesayangan. Nggak pake lama, Grinder Willman mengeksekusi 50 gram beannya di putaran 2-3-4-2, suara gilingan plus semerbak harus kopi menebar kedamaian di ruang tengah, menciptakan parfum alami yang membumi.

Air panas 91 derajat sudah siap, V60 dan filterpun standbye…. saatnya mempertemukan bubuk kopi kasar-halus dengan air panas sehingga menghasilkan misteri extraksi yang bakal jadi sensasi.

Diawali dengan proses blooming untuk membebaskan soluble gases agar bergabung dengan udara bebas, dilanjutkan ber-manual brew dengan putaran suka-suka. Yang pasti semua itu dilakukan untuk membiarkan rasa yang terpendam itu bisa timbul dan memberi kenikmatan.

***

Proses manual brew ini cukup singkat karena kondisi lingkungan mendukung, anak cantik lagi bobo dan 2 ponakan meriung sambil terpesona memandang tangan cekatan Bhariste-Amatir ini agar segera hasilkan kopi yang diinginkan.

Sambil memandang tetesan air kecoklatan di ujung V60, “Mau ya Om, tapi pake gula dikiiit!” Reques ponakan masih bisa ditahan dengan tetap fatsun menggunakan rumus kopi tanpa gula.

***

Tiba-tiba suara mungil yang khas terdengar disamping kiri, “Ayah.. ayaah.. kupiii.” Ayshaluna sudah bangun rupanya, heboh liatin yang lagi nyeduh kopi. Trus kakak-kakak sepupunya yang dari tadi diem jadi ikutan, “Kopiii.. kopii .. pake gulaaa!!!”

Tangan kanan masih nyeduh, tangan kiri gendong anak kesayangan yang nggak mau diem. Setelah tuntas hasil V60 di teko transparan, segera dituangkan di gelas kecil spesial. Ternyata rengekan dan permintaan untuk di beri susu dan gula tidak berhenti… gimana ini?.. dilema.

Udah ah… minum dulu… glek.. glek.. yummmy…..

48 gram kopi berpadu dengan 500 ml air panas bersinergi menghasilkan sajian kopi dengan aroma khasnya, acidity medium, low fruitty dan kepahitan hanya segaris terlintas di lidah, sisanya rasa asam sedikit terdiam di ujung lidah…. nyam nyaam..

***

Sambil menikmati kopi Arabica Lestari Garut ini, sebuah kesadaran agar tidak egois dengan kopi murni tanpa gula mulai merayapi jiwa. Bagaimana memberikan rasa bahagia kepada anak dan ponakan yang sedari awal proses begitu antusias mengikuti prosesi manual brew, tapi di akhirnya pas hasil tersaji… mereka tidak menikmati… egois khan?.

Akhirnya keputusan cepat dibuat, ambil 3 sachet tropicana Sweet dan 1 bungkus susu bubuk Dancow. Gabungin dengan kopi hasil seduhan… kocokkk, putar putaar.. kocook page tangan… eh sendokk…. warnanya berubaaah… “Jadi Kolek?”

Bukaaan… tapi jadi Kopi susu… Anak dan ponakan bersorak girang, karena mereka pasti bisa ikutan nyicip. Berebut ambil gelas masing-masing dan disorongkan ke hadapanku… ramee dech…

Masing-masing nyoba setengah gelas dan dengan wajah sumringah, “Enak Om”, trus Ayshaluna binar teriak, “Mantaap ayaah” sambil jempol tangan kanannya diacungkan…. Bahagia itu sederhana, senantiasa berbagi dan hapuskan egois diri.

Pas nyoba nyicip kopi susu dadakan… awww manis bingiiit, padahal kata para ponakan masih agak pahit….

Maklum aku khan udah maniiies dari sono nya… aww.. aww

***

Akhirnya drama kopi susupun usai, sisanya dimasukin ke botol untuk diabadikan. Meskipun akhirnya diminum juga hingga tandas oleh anak dan ponakan.

Wassalam (AKW).

***
Catatan :

100% Kopi Arabica
Kopi Roasbeen Medium
250gr

Komposisi SPKP 13648/3205/17
Halal
Diproduksi oleh Lestari Kopi – Garut Indonesia.
CP 085322577167