Diary Coffee 9

Puisi ke-9 tentang kopi hitam dan kawanannya.

Kopi hitam kembali jadi tulisan
Sajak singkat keseharian
Tak terasa sudah diary ke sembilan
Itu bukti bahwa hidup memang menyenangkan

Jumat pagi beredar di dago atas
Menemui seorang pejabat teras
Berbincang ramai dengan tema tak terbatas
Disajikan kopi hitam bergelas-gelas

Awalnya membahas pengelolaan air minum
Terus berlanjut urusan lebih umum
Ngobrolin juga persiapan shaum
Diakhiri Assalamualaikum

Costarica bean giliran dicoba
Di Noah Barn ini adanya
Sambil jumpa sang kawan lama
Sang motivator kita

Costarica bean pahit terasa
Agak sepet dan ada asamnya
Dipikir-pikir dan dirasa
Java Arabica memang jagonya

Tugas mendadak harus ke bandara
Yang akan beroperasi segera
Sebuah kebanggaan semua
Bandara Kertajati di majalengka

Espresso di Tanamera
Balikin semangat makin membara
Jalani takdir tanpa hura-hura
Srupuuut nikmat tiada tara

Menuju kertajati Majalengka
Kembali mampir di rest area
Espresso single tutup dahaga
Di tambah ayam tak cukup dua.

***

Terbang ke yogyakarta
Dalam rangka mencari makna
Malioboro kembali bersua
Kopling (kopi keliling) menyambut dengan setia

Begitupun di Bakmi Mbah Gito
Kopi tubruk sudah bersalto
Tidak lupa segera ambil photo
Dekat di hati jauh di mato

Begitulah diary pekan hari ini
Selamat memaknai hari
Jangan lupa secangkir kopi
Menemani hari meraih janji.

*)Catatan : Tulisan yang tertuang ini tiada niatan pamer. Tapi hanya mencoba berbagi minum kopi asli, kopi hitam eh item tanpa gula tanpa susu. Juga memang rejekinya, ada aja yang nyuguhin dan mentraktir sehingga kopi hitam terus tersaji. Wassalam (AKW).

Kopi & Kolam Renang di Mason Pine Hotel

Kopi dan Kolam renang menjadi paduan yang menyenangkan dan so pasti…. sama-sama punya efek menyegarkan.

Photo : Segelas Espresso siap minum / dokpri.

Birunya air di kolam renang ditambah cuaca wilayah bandung barat yang sejuk betapa memanjakan rasa dan menyegarkan fikir. Mengundang raga untuk segera nyebur dan menikmati sensasi kesegaran air sekaligus menjadi sarana meditasi jiwa. Karena di dalam air hanya mata dan otak yang bisa difungsikan sempurna. Hidung dan telinga harus istirahat sejenak dan momen inilah yang menjadi momen untuk bertafakur, merasakan keterbatasan diri untuk berserah kepada ciptaan Allah yaitu air yang melingkupi.

Kesempatan sekarang mencoba mengulas fasilitas kolam renang di Hotel Mason Pine di Area Kota Baru Parahyangan Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat. Kolam renang ukuran olimpiade yaitu panjang 50 meter dan lebar 25 meter dengan kedalaman 1,2 meter ditambah dengan di sisi depan terdapat kolam persiapan sedalam 60cm cocok buat bersantai sebelum atau sesudah berenang.

Selain itu terdapat juga kolam permainan anak dengan berbagai fasilitasnya, di jamin anak-anak pasti menyukainya. Apalagi klo dapetnya kamar tidur yang akses langsung ke taman trus ke kolam renang… nikmat banget dech.

Untuk fasilitas kolam renang udah pasti handuk tersedia, shower outdoor ada trus moo sambil pesen makanan juga bisa. Tetapi tidak ada lifeguard, jadi musti hati-hati apalagi bersama anak. Sebagai peralatan darurat terdapat pelampung bertali yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk menolong.

Kolam renang ini posisinya sangat strategis, masuk lobby hotel langsung lurus menuju restoran, turun ikuti tangga ya sudah sampai di tepi kolam renang. Buat pengunjung non hotel dikenai biaya Rp 55rb senin sd kamis dan Rp 70rb di hari jumat-sabtu-minggu. Kolam udah bisa digunakan mulai jam 06.00 wib sd 18.00 wib.

Photo : Suasana dalam kamar / dokpri.

Klo buat yang nginep apalagi yang kamarnya akses langsung taman, ya tinggal bergegas menuju kolam renang. Jangan lupa berpakaian renang tentunya. Soalnya klo bugil, ntar ditangkap satpam.

Photo : Akses dari kamar menuju taman dan kolam renang/dokpri.

Buat yang nggak bisa berenang tapi pengen main air berarti pilihannya bisa gabung dengan area kolam anak atau di kolam standar olimpiade, jalan-jalan aja dalam air. Egepe klo ada yang liat, kaki kaki kita kenapa juga… klo pengen ya ikutin buka baju, nyebur dech. Susah amaat.

***

Eh satu lagi belon dibahas, nggak lupa urusan kopi nich, di Cafenya ada coffee makernya jadi yang moo cappucino, cafe latte, macchiato, americano and double espresso tinggal order aja. Mereka pake bean kopinya house blend arabica-robusta merk Piaza Doro Espresso.

Sayangnya manual brewnya blum ada, padahal suasana mendukung banget buat nikmatin manual brewnya….. tapi sedikit terobati dengan secangkir espresso dan secangkir americano. Urusan harga ya menyesuaikan dengan hotel berbintang di kisaran Rp 40rb sd 50rb per sajian.

Udah ah gitu aja dulu ulasannya. Moo balik ke kamar nich, ngantuuk. Wassalam (AKW).

Diary Coffee 3

Catatan puisi ke-3 ku tentang Kerja-Kopi-Kerja.

Bolak balik order dopio
Juga tak lupa single espresso
Sambil diklat atau pas ngaso
Ngopi teruss hilangkan nelongso

Ikuti diklat modernisasi pengadaan
Jadi tantangan ditengah kesibukan
Ternyata penuh perjuangan untuk paham
Apalagi yang digunakan bukan bahasa awam

Untungnya mesin kopi setia menemani
Espresso dan dopio segera tersaji
Black coffeepun standby menanti
Diklatpun jadi penuh arti

Makasih LKPP dan MCAI
PWC membagi ilmu hakiki
Meski terkadang kernyitkan dahi
Karena bahasa asing jadi pengantar hampir tiap sesi

Berlari ke Hotel Horison ruang burangrang
Forum OPD bidang ESDM berkumandang
Nikmati kopi sambil berdendang
Kopi hitam enak dipandang

Disaat harus bergerak ke Kertajati
Mampir sesaat di rest area Cipali
Cobain Espresso-KFC se-sloki
Ngecash agar semangat kembali.

***
Beranjak menuju ibukota
Tugas lain membawa kesana
Berjibaku tentang sanitasi sebagai pokja
Agar jabar sehat terus berjaya

Senyum berseri di KA Priority
Membawa sebotol cold brew sejati
Kiwari farmer sajikan janji
Manglayang Karlina yang bikin pasti

Tiba di Gambir mencari kopi
Temukan pilihan di sudut kiri
Dunkin black coffee adem sendiri
Nikmati rasa tak perlu sensasi

Di Arya duta tugu tani
Cold brew kembali beraksi
Bersanding dengan espresso satu sloki
Tak takut dengan apa yang terjadi

Belum tuntas hilangkan resah
Karena ternyata harus berpindah
Akhirnya ke meja ini hijrah
Bersama kolam renang yang basah

Kembali ke ruang rapat, Kopi hitam ala panitia tersaji
Rasa sederhana tapi nambah lagi
Semua harus disyukuri
Barulah berkah menanti.

Minggu I-II Maret 2018 (AKW).

Cikidang nggak jd Begadang

Menembus malam menjemput harapan, sebuah perjalanan yang menjadi bukti ketaatan dari tugas pekerjaan berbalut rindu terhadap keluarga yang penuh kehangatan

Photo Meeting Tim KEK / Dokpri.

Manusia berencana tetapi Allah-lah yang Maha berkehendak, menghadiri acara di Cikidang Kabupaten Sukabumi yang awalnya 2 hari ternyata harus diubah karena ada tugas lain menanti. Tanpa banyak bersensasi, segera pamit undur diri dari area Cikidang Plantation Resort yang menjadi tuan rumah pertemuan alias meeting tentang penyusunan proposal pengusulan Kawasan Ekonomi Khusus di Jawa Barat khususnya dari Kabupaten Sukabumi serta 5 daerah lainnya.

Photo Club House Cikidang dari parkiran / dokpri.

Setelah adzan isya, kami bergerak meninggalkan Club House Cikidang yang berdiri megah diatas bukit penantian. Perjalanan malam membelah kabut yang begitu erat memeluk. Foglamp hampir menyerah karena tak sanggup menembus tebalnya tirai alam yang berbalut misteri. Foglamp alias lampu anti kabut, karena gara-gara satu huruf bisa bermakna lain yaitu froglamp berarti lampu katak, yang gimana itu?…..

Photo : Lampu mobil menembus kabut / dokpri.

Lampu jauh tak berkutik sehingga kami merayap turun penuh taktik, detik demi detik. Waspada menjalari dada, memanjangkan mata dan menjulurkan telinga agar semua tetap baik-baik saja.

Adrenalin merambat naik, detak jantung berdegup bulak-balik. Terasa ada ketegangan memynculkan prasangka, bersatu dengan bebasnya otak membayangkan yang tidak-tidak. Segera ditepis bayangan seram dengan logika dan setangkup doa agar hati tetap damai dan rasa kembali berbunga.

Rush hitam meliuk menuruni jalan berkelok yang licin karena rintik hujan yang tak berhenti, perlahan tapi pasti hingga mencapai jalan besar menuju arah pulang untuk bersua dengan keluarga tercintaaah. Seatbelt tetap terpasang meski duduk di jok belakang, bukan pupujieun tapi guncangan terasa semakin kencang, perlu ada pengikat sehingga kuat bersandar dalam kebersahajaan.

Photo : Toko Moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

Photo : Pilihan moci Kaswari ‘Lampion’ / dokpri.

1,5 jam berlalu dan tibalah di Kota Sukabumi. Tanpa basa basi segera menuju burung kasuari eh jalan kasuari untuk memborong moci, penganan khas daerah sini yang enak dan aneka rasa. Banyak pilihan toko disini, tapi harap maklum klo kami bapak-bapak muda belanja pasti cari yang praktis. Karena jam 21.00 wib tinggal sesaat lagi, nyaris tak bisa beli moci. Untungnya diberi toleransi dan tanpa basa basi segera masing2 membeli.

Sebelum perjalanan dilanjut lagi, demi bugarnya sang sopir sejati serta berharap menemukan Vsixty maka berlabuh sesaat di Coffee Toffee jl. Suryakencana12 Sukabumi. Tapi ternyata untuk black coffee hanya espresso dan kopi tubruk yang bisa tersaji. Akhirnya double shot espresso Toraja yang membawa pilihan.

Photo Double Shot Espresso Toraja / Dokpri.

Sang sopir larut dengan hot coffee Caffe latte serta vicol pacarnya yang bekerja di ibukota, yaa harap maklum sopir abege.

Hanya 15 menit rehat sudah cukup mengembalikan stamina dan mood untuk segera melanjutkan perjalanan. Selamat beristirahat kawan. Wassalam. (Akw).