CEMBURU & Kenikmatan.

Cemburu itu bumbu, syukur itu nikmat.

Photo : Es campur spesial / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Panasnya siang menyebar kegerahan dari segala penjuru angin, apalagi ditambah hati yang sedang terbakar api cemburu, betapa terasa panas membara luar dan dalam.

Langkah kakipun terasa berat tanpa arah dan tujuan, hanya setitik semangat saja yang masih membuat bertahan, niat untuk membalas dendam.

Tetapi ternyata, waktu dan kenyataan sering tak terlihat tetapi dibalik itu kompak menyelenggarakan pertemuan mini dan berdiskusi meskipun sedikit pihak yang dapat mengamati. Membahas banyak hal, termasuk bagaimana caranya menenangkan sejumlah hati yang hampir gosong terbakar api kebohongan dan penghianatan.

Disinilah sang waktu dan kenyataan bersatu, mengabdikan diri menjadi wujud sebuah momen yang menyenangkan dan berbekas mendalam dengan segala keindahan dan kedamaian. Juga hasil akhirnya adalah hilangnya dendam dan berganti menjadi perasaan kasih penuh sayang.

Sebagai awalan, sajian penyejuk hati adalah sebuah minuman es campur yang dikemas diatas kelapa muda yang dibelah mendadak begitu rupa. Rasa manisnya menggugah rasa ditambah kesegaran alami buah kelapa dan dinginnya es batu yang melingkupinya hadirkan sejumput damai dan dinginkan perasaan.

Selanjutnya sajian makan siang yang begitu banyak pilihan, tak bisa mengelakkan wajah terhadap ikan goreng yang berdiri menantang. Seolah memberi peluang untuk mencurahkan dendam dan kemampuan.

Photo : Wajah mupeng versi Aa Riz / dokpri.

Wajah yang sulit dikontrol terlihat absurd dihadapan sajian makan siang. Lidah menjulur kecil dengan mata menatap tajam penuh harap, bagaikan kucing yang rindu kriuknya ikan gurame goreng. Tenang, nanti kebagian kawan.

Itulah momen pertemuan yang mendamaikan. Hati dan rasa tidak lagi membara karena diberi treatment dingin yang menyenangkan. Dilanjutkan dengan pendekatan kekenyangan sehingga tidak terasa, hanya bisa bersandar tanpa banyak kata-kata.

Mamam yuk… nyam nyam nyam.

Piring dan mangkuk tandas tiada sisa, kecuali duri-duri dalam daging serta seonggok penyesalan. Wassalam (AKW).

Note : Nuhun jamuannya Mr D&D

Kopi Joss – Yogyakarta

Beredar ke Kota Kenangan, coba lagi nikmati kopi legendaris.

Poster Kopi Joss - Dokpri.

Menginjakkan kaki di Kota Yogyakarta serasa kembali ke rumah, kota yang penuh keramahan dan setiap hari adalah liburan karena banyak sekali orang-orang yang datang.

Meskipun kehadiran diri berbalut tugas dinas dan mendadak, tetapi tak perlu digerutui, ikuti perintah dan jalani dengan ikhlas, selesai. Tinggal teknis tiket pesawat dan hotel yang musti cepet supaya bisa tiba di Yogyakarta sesuai jadwal. Alhamdulillah dengan aplikasi Traveloka, dua hal tersebut tuntas melalui pertemuan jempol dan permukaan smartphone plus transfer duitnya via internet banking, kemajuan teknologi memudahkan kehidupan kita.

***

Tiba di Bandara Adisucipto disambut senja yang mengharu biru, lalu tancap gas dianter mas Bronto seorang sopir Transportasi Bandara dengan biaya resmi Rp 150.000. Bayar di loket di dalam area keluar penumpang bandara (taksi resmi)… dan kendaraannya Toyota Fortuner, Alhamdulillah.

Klo pake Grab Taksi di aplikasi biayanya Rp 55.000,- tetapi musti jalan kaki agak jauh dari area bandara menuju jalan raya Solo – Yogya. Yaa monggo terserah mana yang mau dipilih, penulis pernah nyoba pake grab termasuk grab-bike… juga nyoba bis trans Yogya… yang belum itu pake kereta dari stasiun Maguwo yang posisinya tepat berdampingan dengan bandara.

…… kembali lagi monggo, itu choice kita moo pake alat transportasi apa.

Hotelnya ntar dibahas ditulisan berbeda yaa… yang pasti nyampe ke hotel segera mandi dan shalat magrib-isya dijama.. tak terasa jam 19.30 tiba tanpa kata-kata.

Order grab lagii…..

Tring.. datang mas yusuf dengan avanza hitamnya. Capcuss..

***

Dalam waktu 10 menit sudah tiba di tempat yang diharap….. tempat nikmatin kopi khas di kota gudeg…… Kopi Joss.

Sebenernya menikmati kopi ini sudah beberapa kali tetapi saat itu hanya ikut-ikutan rombongan dan bukan tujuan utama juga dulu masih pake gula… sekarang beda, kopinya yang menjadi buruan.

Sejarah dan cerita dari kopi joss dipastikan banyak bertebaran di laman dunia maya. Tapi sekarang hadir disini ingin mencurahkan rasa via tulisan sederhana gimana klo menikmati lagi dalam suasana dan tujuan yang berbeda.

Lokasinya di seberang stasiun kereta api tugu Yogyakarta. Dari ujung utara jalan Malioboro tinggal jalan kaki lewatin eh nyebrangin rel. Photo bentar di tulisan STASiUN YOGYa yang eye chacthing trus jalan dikit.. belok kiri.. disitulah berjajar sekitar 16 sd 20an pedagang kopi joss. Klo pake taksi or transportasi onlen ya tinggal bilang aja moo kesitu.

***

Kopi Joss disajikan dengan sederhana dan seperti bikin kopi biasa. Masukin bubuk kopi ke gelas tambah air panas dann…. tanpa gula yaaa…. nggak aneh khan?… yang bikin khas adalah setelah itu dimasukin arang memerah bara.. masukin ke gelas.. Josssss…. suara pertemuan bara arang dengan air membuat suara khas dan menciptakan citarasa berbeda.

Sabar dulu… jangan asal sruput ntar bibir ma lidah melepuh mas bro..

Tunggu… sabar.. nah sambil nunggu kopi dingin, ada pilihan nasi kucing, indomie tante (tanpa telor), aneka sate (kikil, ayam, kerang, baso, hati, usus, telor puyuh dan lainnya) dengan harga 1 tusuknya Rp 3000…

Harga kopinya Rp 6000 saja, penasaran kopi apa yang dipake… ternyata kopi yang dikemas tradisional dengan merk Murni Baru, lengkap dengan nomor PIRTnya.

Ayo kita coba… sruputtt… ahhh segerr.. hati2 bibir berjumpa arang yang menuhin gelasnya hehehe… aromanya lite, bodynya medium strong… maybe proses roastingnya dark roast. Tastenya.. nggak muncul tapi overall kopinya enak… tentunya tanpa gula atau pemanis lainnya.. kecuali klo wajah siih udah maniss dari sonoh nyah….

Sambil ngopi nggak lupa, nyobain 3 tusuk sate, satu tusuk telor puyuh, suwir daging ayam dan usus.. nikmaat.

Nggak pake lama nongkrong di Kopi Joss ini karena sendirian.. eh berdua sama mas yusuf sopir grab… lalu bergegas kembali ke hotel di daerah Wirobrajan, Yogyakarta. Matur suwun, Wassalam (AKW).