Kopi Lembang Red Honey

Pahitnya kehidupan versus pahitnya kopi Lembang RH.

Photo : Quote di IGku @andriekw / dokpri

CIMAHI UTARA, akwnulis.com. “Pahitnya Kopi bisa mengurangi atau menutupi pahit getirnya kehidupan” Sebuah quote yang pernah diupload di IG dan FB ternyata menuai berbagai pendapat. Ada yang setuju, ada yang menentang dan ada juga yang setengah-setengah. Seolah menentang padahal dalam hati meng-iya-kan.

Eh ada juga yang comment lebay alias berlebihan.

“Trus?…. gimana donk?”

Jejak digital sudah tersimpan disaat kita mengirim tulisan, gambar, video di media sosial, sekaligus tanggungjawab sebagai pengirim menjadi melekat.. wadduh.

Eits tapi tenang dulu, daripada pusing mikirin postingan quote yang udah menjadi milik publik, sekarang mah introspeksi aja trus lebih berhati-hati dalam memposting dan meng-upload sesuatu.

***

Sebagai jawaban postingan pribadi tadi di alinea pertama. Segera dibuktikan saja dengan menyinggahi Cafe Kupu-kupu di jalan raya Kolmas Cimahi Utara yang menyediakan aneka menu makanan minuman dan tentunya kopi seduh manual yang menjadi favoritku, metode V70…. eh kelebihan, maksudnya V60.

“Kang, pesen V60 ya. Eh beannya apa?”
Pertanyaan singkat sama pelayan cafe, tapi sang pelayan terlihat bingung.
“Maaf mas, saya masih training, saya tanya ke belakang dulu yaa”
“Oke”

Tak berapa lama, “Kopinya pake kopi dari Lembang”
“Oke kang, peseen!!”
“Baik Mas”

Photo : Sajian Kopi Lembang RH dg V60 / dokpri

Percakapan singkat yang mengandung kejujuran. Pelayan yang masih magang dan belum tahu tentang menu kopi V60 dengan sopan minta maaf dan segera bertanya ke petugas lain. Bagus. Soalnya pernah mampir di suatu kafe, pelayannya nggak ngerti menu kopi tapi sotoy, jadi illfeel. Ini mah bagus, jujur dan sopan.

***

Kopi Lembang Red Honey produk dari @homesteadcoffeebdg tersaji apik pada gelas server dan gelas kaca kecil, tak lupa bean yang terbungkusnya ikut dimejengin sesaat di meja, memanjangkan tatapan mata dan semilir angin di Cimahi utara, betul-betul melupakan pahit getirnya kehidupan… ahaaay.

Photo : gelas terakhir / dokpri

Bodynya medium menyegarkan, aromanya harum dengan acidity khas arabica priangan yang medium high serta taste fruittynya begitu menggoda lidah untuk terus menyeruputnya hingga tandas.

Ternyata, kopi tanpa gula Lembang red honey tanpa gula ini tidak pahit lho, begitupun kehidupan, selama kita senantiasa bersyukur dan bersabar maka perjalanan hidup ini senantiasa diliputi ketenangan dan kebahagiaan. Wilujeng ngopi lur. Wassalam (AKW).

Ngopi Takengon Longberry dkk di Kota Padang

Akhirnya bisa menikmati manual brew di Kota Padang, yummy…

Akhirnya di hari ketiga yang merupakan hari terakhir bertugas di Kota Padang, sempet juga icip-icip kopi beneran.

“Lha coffee break tiap hari sama pas sarapan di hotel khan ready coffee mas bro, kagak bersyukur ini mah!!!” Suara geram menimpali keinginan ini.

“Maafkan jika pilihan kata-katanya kurang berkenan, euh.. belum minum kopi asli yang langsung di grinder trus seduh manual… itu maksutnyaah!”

“Ah dasar kau, maniak kopi!!”

Aku hanya tersenyum simpul, memang klo minum kopi dari hari pertama udah donk. Tapi kopi yang udah tersedia di hotel.. daan.. lumayanlah.

Photo : Segelas Espresso ala Gran Inna resto/dokpri

Trus nyoba segelas espresso buatan restoran hotel, rasanya nikmat.. tapi standar karena memang dibuat oleh mesin ‘yang tidak berperasaan’. Yang bikin menyenangkan adalah nyrupuut espressonya di pinggir kolam renang, suasana berbeda dan tenang….

***

Naah… giliran menikmati kopi beneraaan.. eh kopi manual brew… itulah cerita di hari terakhir.

Photo : Segelas Takengon Longberry hasil V60/dokpri.

Cafenya deket banget dengan Hotel tempat nginep, tapi karena jadwal yang padat nggak keburu mampir hingga akhirnya bisa terlaksana di hari terakhir. Namanya EL’ S Coffee, bangunan yang elegan dan suasana yang cozy. Disaat memasuki pintu depan, suasana keramahan terasa menyapa. Dan… ahaaa….. jejeran biji kopi yang disimpan dalam wadah kaca besar begitu menggoda… ini dia.

Sebenernya banyak juga menu lainnya, tetapi tujuan utamanya adalah ngopi manual brew donk… untuk pelengkap pesan 1 porsi spaghetti Carbonara dan minumannya lemon-grass honey.

Photo : Spaghetti Carbonara ala El’s Cafe/dokpri.

Kesempatan pertama adalah Kopi Takengon Longberry. Sambil menunggu hadirnya sang kopi, pesen dulu Spagheti Carbonara… wuiih berlemak dan berkeju… nggak dibahas ah. Khan moo bahas kopi.

Akhirnya…. setelah menanti 15 menitan, datang juga bejana hario berisi hasil V60 Kopi Takengon Longberry dan segelas kosong sebagai alat menikmati, atuh nggak lucu kalau diminum langsung dari bejana harionya, ntar disangka kesurupan.

Glek…. slrup….. Wuiih cairan kopi memenuhi mulut menenggelamkan lidah yang sudah haus dengan rasa kopi beneran yang di seduh manual secara langsung. Aroma fruitynya tercium meski tidak terlalu harum, body medium dan acidity hampir medium tersisa sejumput rasa asam dibawah lidah dan bertahan beberapa menit setelah cairan kopi lewat menuju lambung dan perut. Untuk taste notenya rasa asam dan sedikit karamel serta ada sedikit atau selarik rasa berry.

Photo : Sajian hasil V60 Wamena coffee/dokpri.

Sebagai bagian dari evidence based bukan hoax maka photo atau video menjadi kewajiban. Meskipun akhirnya hanya photo-photo yang tersaji karena keterbatasan kuota dan kemalasan edit video yang butuh tenaga, waktu serta pemikiran ekstra.

Karena ini adalah saat-saat terakhir di Kota Padang maka ngopinya dilanjut. Pesen lagi manual brew V60 kopi Wamena… mungpung disini.

“Kenapa nggak nyoba kopi Padang?”

“Itu dia, ternyata yang disediakan hanya arabica solok saja dan itupun habis, Jadi… kopi yang ada ajaa…”

Tapi sayang Kopi Wamenanya agak sulit mendeskripsikannya, mungkin udah kekenyangan atau kesalip rasa kopi Takengon Longberry?… padahal udah minum dulu air mineral untuk menetralisirnya.

Jadi body-aciditynya dan tastenya nya bercampur, jadi rasa lumayan.. enak we lah.

Begitulah, segores pena digital tentang petualangan ber-kopi di Kota Padang. Wassalam (AKW).