Domba Hitam.

Hijaunya rasa dan hitamnya suasana membuat berbeda.

CISARUA, akwnulis.com. Sekawanan mahluk tuhan yang berwarna hitam melegam, sedang bercengkerama di keteduhan suasana. Mereka terkadang tertawa ataupun saling berbagi cerita, tak lupa rumput menghijau dikunyah bersama.

Sepanjang mata mandang adalah kehijauan semata, memberi rasa tenang dan segar tak terhingga. Apalagi angin pegunungan membelai dengan sepoi mesra… ah segarnya.

Sambil mengangguk-angguk bersama rumput hijau yang terus merajuk, pembicaran tentang nasib masa depan terasa mengalir dan saling melengkapi. Meskipun salah satu dari kami tetap bertahan dengan romantisme keberhasilan masa lalunya, tapi mayoritas kawanan kami sudah berfikir tentang masa yang berbeda.

Mulai berdiskusi tentang kemana harus mencari rumput segar dan bebas biaya sementara perlahan tapu pasti harus tergantikan oleh rumput sintetis yang miliki harga juga sangat tidak enak rasanya pada saat dicoba dikunyah…

Ataupun oksigen yang dihirup penuh kesegaran ini, besok lusa menjadi rebutan kami dan berani menukarnya dengan seluruh uang hasil jerih payah kami.. demi sebuah hirupan janji.

Wooiiiy, mba, kenapa bengong mulu?”

Sebuah bentakan keras mengembalikan semua lamunanku agar kembali berpijak di bumi kesadaran.

“Nggak mba, cuman ada sesuatu yang dipikirin” Mba yang agar kurusan menjawab tersipu dan langsung menjadi objek olok-olokba yang lainnya.

Mba-mba kembali bercengkerama, tetapi dikala mereka sedang bersuka ria, Mba yang tadi bengong langsung ambil posisi ditengah kumpulan mba-mba dan berteriak lantang, “Hai kawanku sesama mba, mari syukuri hidup ini, rumput yang senantiasa menghijau, udara bebas yang gratis kita dapatkan, mbeeeee..beeee

Retorika singkat yang membubarkan kawanan domba hitam, semua berbaris sesuai ketebalan bulu dan ukuran keahlian mengunyah pengalaman. Bergerak ke pinggir savana dimana air segar mengucur tiada henti dan melayani dengan setia.

Selamat berwudhu dan menunaikan Ibadah Shalat Jumat, Wassalam (AKW).

Qurban 1438 H

Ikuti tuntunan agama, belajar ikhlas, sabar dan pasrah sesuai syariat agama.

Sore ceria menemani langkah menyusuri jalan menembus gang kecil menuju satu sasaran. Supaya tidak kesasar maka di WA minta send location dan mister Jipi-├ęs pun otomatis beraksi. Tak khawatir meskipun satelit telkom dikabarkan hilang, karena jaringan internet tetap aman. Yang rawan adalah dompet, karena gesek di mesin ATM semua pada diam. Tak ada respon seolah sudah tidak berkenan ditarik uang.

Meskipun dari hasil penerawangan, ATM tidak bisa keluar uang itu banyak faktor, bisa karena gangguan satelit, emang rekening tabungannya kosong atau salah pake ATM khusus seperti ATM beras :)…. atau bisa aja kartu ATM yang di masukkan ke mesin ATM ternyata kartu e-money untuk tol ( maklum buru-buru).

Photo : domba yang malu-malu domba/dokpri

Kembali ke posisi ondewey, sambil liat layar hape dengan petunjuk arahnya plus kondisi riil yang kasat mata, akhirnya tiba di rumah saudara yang sudah menunggu beberapa lama. Sebuah rumah di kampung yang adem dan komplit, ada kolam ikan, kebun kecil untuk bercocok tanam dan kandang domba… yaa kandang domba, disitulah tujuan akhir kedatangan sore ini. Untuk menengok dulur sekaligus memastikan keberadaan sang domba yang akan dikurbankan esok hari.

Domba gagah berbulu keriting dengan tanduk yang besar, juga terlihat berkaos kaki putih hitam. Tatapannya masih malu-malu karena baru berjumpa secara langsung. Tetapi dengan rayuan rumput hijau ditangan, bisa juga mengelus kepalanya meski terlihat sang domba tetap tegang. Itulah sang domba kami…

Sampai berjumpa esok pagi dom.

Trek..

Trek…

Trekk…

“Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Laailaahaillalloh huwallahu akbar, Allaahu akbar walilla ilham!!”

Gema takbir menggetarkan kalbu terus berkumandang sepanjang malam. Bergema seluruh alam memuji dan memuja Allah Sang Maha Pencipta. Hingga pagi haripun tiba. Bagi saudara kita yang datang dari segala penjuru dunia untuk menuju satu tempat suci tentu sedang bersiap dan berkumpul di padang Arafah. Melaksanakan wukuf di Tanah Suci Mekah Almukaromah.

Photo Mushofahah / dokpri

Photo sedang bersalaman : Dokpri

Kami yang disinipun bersiap menuju masjid besar di lereng gunung Ciremai untuk bersiap menunaikan shalat Idul Adha secara berjamaah. Suasana kekeluargaan terasa begitu kental, karena rata-rata adalah saudara meskipun saudara jauh. Mesjidpun tak kuasa menampung jemaah sehingga jalan dan pelataran rumah penuh berebut demi shalat bersama. Begitupun usai sholat dan khutbah ied, antrian bersalaman (Mushofahah) cukup panjang dan mengular.

Usai shalat ied bergerak menuju makam papah mertua, berdoa bersama di tahun ketiga kematiannya, semoga tenang dan bahagia di alam sana. Kembali ke rumah, segera menuju tanah belakang tempat yang disepakati untuk penyembelihan hewan kurban. Alhamdulillah ijab kabul dan doa memanjat menuju arasyi dengan taburan ayat alquran dan keheningan. Mencoba memaknai ketaqwaan, kesabaran dan kepasrahan serta keikhlasan yang tiada hingga dari Nabi Ibrahim dengan putranya, Ismail.

Darah sudah mengucur dan domba segera diproses untuk berbagi dengan sesama. Ijab kabul penyerahan hewan qurban berikut 3K (kaki, kepala dan kulit) bagi yang bertugas menguliti, mencacag dan membagi. Sekaligus hak 1/3 diijabkan untuk silahkan menjadi bagian yang akan disebar.

Kambing, sapi ataupun unta hanya perantara karena yang sampai kepada Allah SWT adalah nilai taqwa dari hambanya.

Happy Iedul Adha 1438 H. (Andriekw).