Dilema Hati.

Itulah kehidupan, pasti ada kesedihan.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi yang sebenarnya ceria tiba-tiba berubah drastis menjadi duka. Betapa semangat awal yang menggelora harus terhapus sirna tanpa kata karena pemandangan yang tersaji di depan mata.

Dia tergolek lemah tanpa bisa menggapai rasa, disampingnya sebuah harapanpun terdiam ditemani kesunyian. Sungguh dilema mendera hati tetapi konsekuensi kerasnya kehidupan memang tidak pandang bulu. Besar kecil menjadi relatif manakala hukum rimba menjadi kuasa, tapi itulah kenyataan yang ada.

Dilema mendera rasa, hati tersiksa tapi itu nyata. Bukan tidak ingin kejadian pagi hari ini mewujud dihadapan mata, tetapi sebuah dampak yang hadir karena kenakalannya beresiko terhadap banyak hal. Mau tidak mau pertimbangan diberikan sanksi setelah sekian purnama melakukan pelanggaran adalah keniscayaan.

Akhirnya dapat ditemukan sosok yang selama ini bergerak lincah di gelap sepi menikmati makanan atau bahan makanan yang seolah sengaja tersaji, padahal disimpan untuk dinikmati di kemudian hari. Terjerat lemah di tengah alat perangkap ditemani sepotong indomie mentah yang ternyata bukan hanya disukai oleh manusia.

Maafkan semua ini harus terjadi, tapi itulah kehidupan tidak ada yang abadi. Hiks hiks hiks, Semoga ini adalah kejadian yang terakhir. Karena betapa sulit membangun semangat jikalau kita terpuruk dalam kesedihan. Menjumputi serpihan harapan dan merajutnya menggunakan perekat kepercayaan. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Khusuk di Mushola Mall

Dilema disaat kenyataan tidak sesuai harapan, terpaksa sebuah rasa dikorbankan demi harapan di masa mendatang.

Ini hanya contoh photo Mushola yang cukup representatif / dokpri

Photo : Contoh Mushola yang representatif di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. (Dokpri)

Adzan magrib berkumandang tepat di saat parkir di halaman mall, alhamdulillah. Segera bergegas menuju mushola yang terletak di basement. Ternyata… udah banyak orang yang antri wudhu. Bersiap menunaikan kewajiban rutin umat islam. Selesai wudu dalam antrian yang lumayan, kembali menunggu karena mushola kecil ini udah penuh.

Iseng diitung kapasitas mushola, yang cuman dua baris ini. 1 imam dan 11 makmum, euleuh cuman maksimal 1 losin eh 12 orang. Padahal yang moo sholat banyak. Sabarr…. tunggu aja. Ternyata tidak lama dan kloter keduapun siap menunaikan sholat.

Dapet posisi jajaran kedua dan segera takbirotul ihram, ‘Allahu Akbar’ mengikuti imam. Imamnya anak muda dan melafalkan Alfatihah serta surat Al Insyiroh di rakaat pertama dengan fasih dan enak iramanya.

Tetapi ternyata memakan waktu lama dan membuat antrian selanjutnya tidak sabar. Muncul celetukan, “Musholanya kecil banget nich”, “Lama banget sih, banyak yang ngantri nich”. Terus terang kekhusukan yang begitu sulit didapatpun terusik. Sang imam muda bertahan dengan bacaan tartil dan gerakan tumaninahnya. Yang ngantri dan merasa kelamaan nunggupun semakin gencar menggerutu.

Diriku terjebak dalam dilema, tapi tak bisa berbuat apa karena keriuhan diskusi hanya di otak saja. Kekhusukan terpaksa tergadaikan, berganti dengan rasa iba merasakan nasib pengantri sambil tetap ikuti gerakan sholat sang imam muda.

Sejumput doa terpanjat, semoga musholla kecil ini segera berubah menjadi luas, lapang dan nyaman serta jamaah yang akan sholat juga tetap banyak. Amin.