Ngopay & Ngojay-ku.

Tak terasa nulis ngopay dan ngojay udah 2 tahunan.. sruputt.. gejebur.

Photo : Ngopay & Ngojay / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah keserasian adalah keindahan dan presisi memberi catatan ketelitian tersendiri. Meskipun atas nama seni, sebuah posisi yang tidak beraturan bisa menghasilkan keindahan. Bisa juga pola-pola yang bertabrakan baik warna ataupun bentuk akan menghasilkan aneka persepsi yang didasari dari pendapat dan opini pribadi bergabung dengan pengalaman hidup yang pernah dijalani, bahasa simpelnya adalah seni abstrak, ceunah, atau absurd… eh atau kontenporer… mohon koreksi klo salah gan.πŸ™πŸ™πŸ™.

Tapi…. secara umum, keserasian πŸ“š menjadi adalah sesuatu hal yang mudah dinikmati tanpa perlu berfikir panjang atau mengira-ngira apa sih yang ditampilkan atau tentang gambaran apa yang sedang dihadirkan.

“Bener nggak?”

Photo : Ini Ngopay Kotala V60 / dokpri.

Jawabannya akan variatif, meskipun feeling sih… klo di survey, kecenderungan khalayak akan sepakat dengan keserasian nan presisi yang menghadirkan keindahan.. ayoo… setuju atuuuh.

Begitupun dengan blog ini, akwnulis.com yang tak terasa sudah 2 tahun lebih hadir menjadi media curhat onlen pribadiku sekaligus ajang silaturahmi via share link rutin ke kontak-kontak WA yang ada… maaf klo ngeganggu yaaa.

Photo : Ini Ngojay / dokpri.

Beragam tanggapan yang hadir dalam kata ataupun emoticon dan juga tanpa respon apapun… tidak masalah, yang penting semangat berbagi informasi baik tetap terjaga dengan tema mengerucut tentang ‘Ngopay & Ngojay’ atau minum kopi dan berenang… meskipun cerita tentang kopi masih mendominasi, tapi renang dan kolam renangpun selalu hadir sesekali…πŸŠβ€β™‚οΈπŸŠβ€β™€οΈπŸŠβ€β™‚οΈ

Maka, gambar di awal blog ini mewakili sebuah persepsi, mewakili keserasian tema ‘ngopay & ngojay‘ sekaligus berusaha meng-capture keindahan alam Cipanas garut dalam kesegaran pagi, kebeningan kolam renang dan kenikmatan secangkir kopi hitam.

Photo : Ngopay Olangan Kopi Lanang / dokpri.

Meskipun sebenarnya agak sulit juga kalau minum kopi β˜•β˜•β˜• sambil berenang, karena yang diminum pasti lebih banyak air kolam renangnya atuh hehehe… jadi bisa juga minum kopi di pinggir kolam renang sambil menikmati kopi dan pemandangan yang berenang.. woiiiiiiii……. ups salah lagiii…

Yang paling aman adalah menikmati kopi tanpa gula🍡🍡 dengan seduhan manual dan kopinya spesialty dilanjutkan dengan menceburi eh menceburkan diri di kolam renang, apalagi jikalau kolan renangnya air hangat…. nikmat pisan, lalu jangan lupa dihadirkan dalam jalinan kata dan kalimat yang mungkin bisa memberikan manfaat, minimal bisa dibaca dengan cepat dan ada informasi penting yang didapat.

Selamat menjalani sisa wiken bersama keluarga sebelum esok hari kembali berjibaku dengan tugas-tugas masing-masing yang tak pernah ada habisnya…πŸ’‘πŸ’‘πŸ’‘ Alhamdulillahirobbil alamiin. Wassalam (AKW).

Ngopay & Ngojay di Karawang.

Ngopay Ngojay Curhaaat……

Photo : Kolam Renang Hotel Akshaya Karawang / dokpri.

KARAWANG, akwnulis.com. Panasnya siang ini di daerah Teluk Jambe Kabupaten Karawang terobati oleh gemericik air di kolam renang yang merayu dengan aroma biru penuh kesegaran.

Dengan bentuk kolam renang yang dibuat berkelok, kedalaman flat 1,5 meter memanjakan penginap dan pengunjung untuk segera ngejebur dan bercanda ria bersama di area Hotel Akshaya.

Sayangnya, 2 agenda rapat marathon harus dijalani dan dihadapi. Semua rapat membahas tentang pertanggungjawaban tahunan, otomatis musti konsentrasi dalam melihat angka capaian dibandingkan target yang sudah ditentukan lebih dahulu.

Photo : Kolam renang anak dan dewasa / dokpri.

Apalagi mengacu pada pasal 33 ayat 1 PMDN 118/2018, sudah jelas bahwa Evaluasi itu adalah perbandingan antara target dan realisasi, titik.

Tapi dalam forum curhat tertinggi sebuah perseroan, maka diskusi hangat yang bersahutan antara reasoning dengan sanggahan akan berpadu dibalut oleh regulasi dan pembelaan….. yang penting kita kedepankan kepala dingin dengan semangat edukatif solutif…. ngomongin kepala dingin, maka berenanglah yang pas… paas bingit, tapi……

Tapi khan nggak pantas, peserta rapat keluar ruangan… eh liat kita lagi asyik berenang supaya kepala dingin meskipun hati panas dan kesel karena pengurus tidak bisa mencapai target.

Photo : Nge-Double espresso dulu yukk / dokpri.

Ada cara lain, pas break maka bergeraklah ke restoran dan pesan segelas kopi double espresso…. bawa di tepi kolam renang… angkat cangkir mininya…. srupuut… glek…… satu kali tandasss…… maka rasa mantaps kepahitan double espresso menyeruak memenuhi indera perasa dan menenangkan jiwa.

“Trus otak panas gimana?”

Sabarrr…. perlahan tapi pasti, pas jiwa sudah tenang maka syaraf ke otakpun ikutan tenang, tensi esmosi.. eh emosi akan berkurang dan otak akan kembali fresh, dingin dan rilex, percayalah.

“Kok cuma double espresso, nggak ada kopi manual brewnya?”

Belum ada ternyata, baru kopi tanpa gula versi mesin yang tersedia… it is Okey, ini juga lumayannn.

Photo : Forum curhat tertinggi / dokpri.

Akhirnya menjelang sore, 2 rapat kinerja tahunan bisa dituntaskan. Meskipun ada dinamika yang tidak terelakkan, tapi itulah bagian dari proses pembelajaran. Diskusi hangat demi status Acquit et de charge, juga melebar ke urusan masa jabatan dan mekanisme pengusulan pengurus…

Makin rameeee… meskipun akhirnya harus fatsun kepada regulasi, tetapi semua pihak menjadi mengerti dan memahami.

Selamat beraktifitas di awal minggu ini kawan. Kerja total, ngopay santai, giliran ngojay lihat-lihat kesempatan. Wassalam (AKW).

Lara di Pantai Utara.

Di kala lara masih tak bisa dipisah oleh logika, mungkin laut penyembuhnya.

Photo : Pantai utara karawang / dokpri.

KARAWANG, akwnulis.com. Di kala sebuncah lara mendera jiwa yang hampa, maka setitik harapan sangat sulit untuk direngkuhnya. Semua detak dan degup jantung kenyataan, seolah semakin memghimpit hadirnya peradaban.

Pada titik inilah, jalan terbaik harus dilakukan. Jangan sampai rasa sesal semakin menenggelamkan nalar sehingga mengambil langkah pintas yang sebetulnya awal dari kehancuran yang sesungguhnya.

“Sudahlah kawan, tak usah dipikirkan, ambil hikmah dari semua kejadian”

“Ngomong sih gampang, kamu memang tidak tahu apa yang sedang kurasakan!!!” Teriakan ketus menyanggah luncuran kata bijak yang berusaha membangkitkan semangat. Kalah oleh aroma keterpurukan yang begitu ketat menelikung dari berbagai arah kemunafikan.

“Tak usah rintangi aku, biarkan diri ini mencari damai dengan alam”

Terlihat wajah sendumu membeku, menatap hampa tanpa ada reaksi apa-apa. Hanya anggukan angin yang merestui tindakan ini.

Kaki langsung berlari menapaki tanah berpasir yang sudah tidak bisa teriak tentang keadilan, menuju jembatan penantian yang akan mengantarkan kepada titik penghabisan di depan sana.

Photo : mancing yuk…

Tapi sebuah papan pengumuman retribusi menahan buncahan semangat yang begitu tinggi. Sesaat tertegun tapi sudah tidak butuh basa-basi, keluarkan uang 10.000,- dan segera beraksi.

Bergerak lurus melewati jajaran tenda-tenda bambu hingga akhirnya menapak pada ujung jembatan bambu yang menggapai panjang ke laut lepas.

Bergerakkk…

Nuansa lara masih menggumpal dalam dada, di kala kaki menjejak menuju ujung dermaga, terasa pondasi bambu yang dibangun begitu sederhana, tapi itulah dunia.

Di ujung dermaga tertegun, menatap bentang alam laut lepas yang begitu damai dan dalam. Sang lara perlahan luruh, perlahan tapi pasti kesedihan mulai berganti dengan secercah harapan yang susah payah muncul kembali…… ini adalah janji.

Hamparan birunya laut ternyata bernuansa coklat, menjadi cerminan sebuah penyambutan bagi jiwa yang sedang menanggung lara. Meskipun di ujung sana, laut membiru telah menanti, tetapi kecoklatan tak bisa melepaskan fungsinya untuk menghibur dan menghilangkan kesedihan yang begitu mendalam.

“Selamat tinggal bangunan kehampaan!!!” Teriakan pamit membahana ke ujung langit. Menggoyangkan horizon dan batas ketiadaan, semua terdiam.

Jebuuuur!!!!!……

Prosesi penyatuan kepentingan terjadi. Jiwa yang sedih melarut dengan segarnya air laut pantai utara. Menghasilkan gelombang ketegaran yang penuh misteri bertabur janji-janji.

Tapi yang pasti, lara dan duka sudah pergi terbawa gelombang coklat yang tak banyak kompromi. Tinggal sekarang adalah semangat yang tersisa harus dipupuk serta dipelihara, agar kelak menjadi penentu derajat dan makna kehidupan fana. Wassalam (AKW).

***

Catatan :
1. Ini hanya goresan pena, jalinan reka kata cerita fiksi belaka, yang terinspirasi dari…..
2. Lokasi Pantai Tanjung Baru, Cilamaya Karawang.

Kopi Tubruk Kegalauan

Mengurangi kegalauan sambil ngopay, semoga semua baik-baik saja.

Photo : Kopi Tubruk Arabica Cibiuk / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Adzan magrib terasa begitu merdu dan penuh makna, di kala raga dan jiwa begitu membutuhkan kehadirannya. Menjadi penentu berhasil-tidaknya perjuangan menahan rasa menekan segala keinginan dunia dan hindari goda yang senantiasa mengintai di semua suasana…. hingga akhirnya bisa berbuka puasa.

“Berbuka puasa pake apa?”

“Kopi donk”

“Cius?”…

“Ya nggak lah, tentu air putih dan doa berbuka yang lebih utama”

“Nggak berbuka dengan yang manis?

Aku terdiam, lalu spontan menjawab dengan menampilkan sunggingan senyum terbaikku, “Enggak euy, soalnya akyu udah maniiez”…

…. g.u.b.r.a.k ….

Setelah reda dari keterjungkalan perasaan, maka dilanjutkan dengan menikmati secangkir kopi tubruk di cangkir putih dan berhias selada… tentu kopi tanpa gula.

Srupuut…. kopi arabika di salah satu rumah makan Kabupaten Garut ini menjadi pembuka semangat dan mengurangi kegalauan malam ini setelah sehari tadi berkutat dengan kesedihan yang tak bisa… tak bisa dan berat untuk diceritakan.

***

Photo : Mesjid Agung Garut / dokpri.

Tadi pagi, masih bisa menikmati udara segar yang tersaji bebas di alun-alun garut. Memandang bangga, betapa gagahnya mesjid agung garut yang menjadi tempat syiar agama islam sekaligus bangunan strategis di Kota Intan.

Lalu bercengkerama dengan air wudhu dan melaporkan kefanaan diri tanpa tendensi dalam rakaat demi rakaat yang bebas dari intervensi…. Alhamdulillah.

Tuntas dari sana, bergerak mengayun langkah menuju bangunan lain yang tidak kalah indah, kediaman pimpinan Kabupaten Garut, Pendopo Bupati…. langsung mencoba mengabadikan sebuah bangunan bernuansa kayu yang sesekali menjadi tempat berkumpul para petinggi ataupun rakyat garut dalam menyampaikan keinginan ataupun menghadirkan solusi dari beraneka rupa permasalahan.

Photo : Bangunan depan Pendopo Bupati Garut / dokpri.

Giliran mendapat kesempatan memasuki lebih dalam area pendopo, wah nuansa dan rasanya beda lho…. maklum khan baru pertama kali ke sini.. (sama kamuuh…).

“Lha… katanya nggak moo cerita, kok ini panjang lebar” komentar komplen menempel di telinga kanan. Aku terdiam, lupa.

“Tapi tanggung ah… lanjut dikit” jawabku, sambil kembali merangkai angan dan memandang ruang pertemuan dengan nama ‘ruang Pamengkang.’

Penasaran dengan artinya tetapi tidak ada kesempatan menanyakan pada siapa, sehingga akhirnya mbah gugel yang ditanya via jempol menari diatas layar smartphone ini.

Ternyata ada beberapa artikel dan kamus online yang menyajikan pembahasan tentang arti kata ‘Pamengkang‘. Meskipun diriku setuju dengan sebuah penjelasan bahwa pamengkang ini dalam bahasa sunda adalah ‘ruang tunggu sebelum menghadap’…. ini cenderung yang paling cocok.

Karena artikel lainnya bicara tentang nama keris legendaris yang (katanya) bertuah dengan sebutan ‘Keris Pamengkang Jagat’… entahlah.

Serta satu artikel lagi yang menyebutkan arti ‘pamengkang’ ini berasal dari 2 kata dalam bahasa sunda yaitu ‘pameng + kang’ yang artinya ‘Tanggung Kakak‘…. jadi (mungkin), sebuah tempat untuk berhenti sejenak, tapi tanggung, jadi musti diteruskan…. gituuuuu.

“Ohhhh gitu ceritanya… tapi nggak sedih ah.. kok diawal katanya ada kejadian yang menggalaukan jiwa?”

“Sudah cukup, gitu aja ceritanya kawan” Sebuah jawaban penenang suasana, meskipun sebuah beban berat semakin bertambah setelah pertemuan ini. Semoga semua yang terjadi berhikmah berkah. Wassalam (AKW).

Arabica Sunda HΓ©jo – Yo Coffee

Amunisi Kopi hingga Sang Baristi.

Photo : Amunisi Manual brew V60 gayo wine / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pagi ceria di dataran tinggi Kabupaten Kuningan begitu segar dan menenangkan. Apalagi di kala menikmati berlimpahnya air pegunungan, bikin betah dan pengen main air terus… tapi kenyataan harus di hadapi dan di jalani, musti pulang hari ini.

Trus supaya di jalan tiada kantuk yang hinggap di pelupuk mata, maka perlu dipersiapkan amunisi yang tepattt….. Kopi manual brew panas dan pilihannya sesuai stok yang ada adalah Arabica Gayo Wine.

Termos hijau kesayangan menjadi tempat penyimpanan sempurna, nanti di perjalanan sambil nyetir sekaligus nyuput kopay… eh nggak deng, bahaya nyetir sambil nyruput mah. Mendingan brenti sesaat baru minum kopi panas buatan olangan… yummy.

Tetapi ternyata rasa kantuk begitu ganas menyerang, apalagi Tol Cipali yang ‘lurus panjang’ makin mengukuhkan eksistensi kekantukan.

Jadi inget istilah dulu di kampung, “Wilayah yang jalannya berkelok-kelok itu namanya pasti wewengkon Cioray. Tetapi klo wilayah yang jalannya luruuus.. pannjaang, itu namanya wewengkon Tol”…… upsss…. iya gitu ajaah.

Ngantuk sambil nyetir itu berbahayyyaah…. Setermos hijau kopi arabica gayo wine pun akhirnya menyerah.. eh habis di sruput untuk menahan kantuk, karena tanggung jawab di belakang kemudi ini harus penuh konsentrasi supaya bisa mengendalikan kendaraan dengan baik dan benaaar.

Lepas Tol Cipali masuklah ke Tol Cikampek sedikit dan berbelok kiri ke Tol Cipularang, rasa kantuk kembali menyerang…. sementara amunisi kopi panasnya sudah tandas menghilang.

Akhirnya di putuskan mencari kopi keberlanjutan dengan memgarahkan kendaraan memasuki rest area 72A, siapa tahu ada yang jualan kopi seduh manual.

Tralaaaa…. parkir di depan toilet umum yang terlihat bersih. Melangkah ke sampingnya mencari kopi dan akhirnya berjumpa dengan Yo coffee di Yomart.

Photo : Gerobag Yo Coffee dan Baristi / dokpri.

Harganya untuk manual brewnya hanya 10 ribu saja dengan pilihan kopi yang dikemas menarik.. seduh manual lho. Tinggal pesen dulu dan bayar di kasir Yomartnya, balik lagi ke gerobag Yo Coffee dan bersiap menikmati nikmatnya kopi.

Kopi arabica sunda hΓ©jo yang menjadi pilihan untuk di seduh dan yang nyeduhnya adalah baristi Neng Choria53 (akun IGnya bro…..), dengan komposisi 15gr berpadu dengan 180ml air panas 85Β° celcius menghasilkan sensasi arabica khas jabar dengan acidity cenderung medium meninggi.

Hasil seduhan dimasukkan ke termos hijau kecilku. Memberi amunisi untuk melanjutkan berlari.. eh mengemudi menuju janji yang harus ditepati. Wassalam (AKW).

Berenang di Pandeglang

Berenang di sini, sebagai hiburan dalam perjalanan.

Photo : Kolam renang dini hari / dokpri.

PANDEGLANG, akwnulis.com. Adzan shubuh berkumandang dikala menjejakkan kaki di lobby hotel Horison Altama Pandeglang Provinsi Banten, setelah perjalanan selama 6 jam menyusuri pekatnya malam melintasi 3 provinsi (Jabar-Jakarta-Banten).

Lelah bukan untuk berkeluh kesah, tapi sesaat mendesah untuk selanjutnya musnahkan resah dan hasilkan sesuatu yang bernilai berkah.

Salah satu yang bikin semangat adalah kecipak air menyegarkan dari kolam renang yang segera menyambut dikala raga ini tuntas cek in dan bergerak menuju kamar. Sayangnya sang kolam masih dalam proses pembersihan sehingga harus bersabar dikala ingin bercengkerama dalam basah yang menyegarkan.

***

Tuntas meeting adalah saat yang tepat untuk mencoba bercengkerama dengan segarnya rasa dan biru kemilau kolam renang di hotel ini.

Photo : Kolam renang di sore hari / dokpri.

Memang bukan infinity pool, ataupun berukuran olimpic yang panjang dan luas. Tetapi mensyukuri kesempatan sekecil apapun adalah nilai hakiki dalam kehidupan.

Jadi segeralah berubah, menyesuaikan kostum agar cocok dengan kolam renang. Bukan pake solempak yang terlalu minim, bukan pula pake jas dasi trus loncat nyebur ke kolam sementara peserta dan panitia rapat lainnya masih bergerombol di sekeliling kolam renang.

Bersabarlah…..

Biarkan waktu bernafas sejenak, melepaskan sisa resah yang mungkin masih tersimpan di ujung dada pengharapan.

Photo : slice fruit with hot lemon / dokpri.

Akhirnya sore haripun menyapa, sepi suasana membuka peluang untuk bercengkerama dalam kesegaran kolam berkelok dengan kedalaman 1,2 meter ini.

Ditemani payung-payung warna warni penghibur lara hati, cukup sebagai penggugah raga memberi modal kesegaran sebelum berjibaku kembali dengan kepadatan lalu lintas Pandeglang – Jakarta – Bandung.

Gejebur!!!!!

Selamat #ngojay, Wassalam. (AKW).

Di rumah-MU

Bersimpuh di Banten & Tasikmalaya….

Photo : Mesjid Raya AlBantani – Banten / dokpri.

TASIKMALAYA, akwnulis.com. Perjalanan kehidupan memang penuh dinamika, berubah dan sering tidak sesuai rencana. Itulah indahnya menjalani misteri kehidupan.

“Tidak perlu risau dengan masa depan, mari tafakuri masa lalu, jalani dan syukuri hari ini, maka insyaalloh masa depan bisa dijalani dengan baik-baik saja”

“Ah kamu mah retorika, udah jelas banyak hal yang harus dipikirkan dan membebani kepala ini. Enak aja bilang syukuri dan tafakuri!!!” Komentar tegas yang terlihat penuh rasa waswas.

Diriku terdiam, dan berusaha memberikan wajah datar tanpa ekspresi.

Photo : Mesjid Raya AlBantani, di dalamnya / dokpri.

Padahal, di otak inipun berseliweran urusan yang tak kunjung terselesaikan. Pusing dan mual langsung menyerang, keringat kebingungan mulai mengucur tak tertahan.

Bener juga, gimana ini ya?” Pertanyaan menggantung tanpa jawaban pasti. Seolah awan hitam yang semakin tebal menutupi cahaya mentari sehingga bumi menggigil diserang dinginnya kekhawatiran.

***

Photo : Mesjid Agung Tasikmalaya / dokpri.

Alhamdulillah, sebuah pencerahan kembali menjalar hangat di sanubari. Membisik lembut menenangkan hati, “Tidak usah banyak khawatir, mengadulah kepada yang punya”

Terdiam dan menunduk, merasa malu. Karena terkadang raga ini lupa, bahwa semua masalah ini harus bisa diselesaikan sendiri. Padahal tidak ada daya sedikitpun, jikalau yang punya yaitu Allah SWT tidak mengijinkan.

Astagfirullohal Adzim”

Bersimpuh jiwa ini memohon ampun, menempelkan raga di lantai rumah-Mu. Bersujud untuk bersinergi dengan bumi demi meraih petunjuk langit. Allahu Akbar. Wassalam (AKW).