KOPI Modern vs KOPI Jadul

Perbandingan yang menikmatkan.

YOGYAKARTA, akwnulis.com. Sejuknya pagi menambah kenyamanan kali ini. Setelah berjalan santai di taman yang rindang dan menghijau, tiba saatnya sarapan dengan beraneka sajian. Meskipun tetap, kopi menjadi catatan penting. Karena dengan kopi, tema tulisan tetap terjaga sekaligus marwah blog ini sesuai janji dan taglinenya NGOPAY & NGOJAY.

Makanan yang disajian beraneka pilihan, membuat sebuah catatan penting bahwa hotel Royal Ambarrukmo ini sebuah hotel recomended buat liburan keluarga dan atau suatu saat bisa berkesempatan mengajak orangtua.

Terkait tentang sajian kopi, ternyata para penginap begitu dimanjakan. Karena aneka macam kopi berbasis mesin hadir disini, dari mulai versi kohitalanya adalah Espresso dan Americano, ataupun cappucino dan cafelatte. Ditambah juga kopi asli yang diseduh manual tanpa brew, alias ditubruk langsung di gelas dan kocek dengan sendok dengan nama yang tak kalah menariknya yaitu Kopi Lawasan.

Maka dua sajian beda jaman ini melengkapi kopi pagi yang penuh arti. Versi mesin kopi diwakili oleh sajian secangkir americano, jelas tanpa gula. Lalu versi masa lalu, Kopi tubruk Lawasan menjadi wakilnya. Lengkap sudah.

Terkait rasa, jelas sajian americano lebih lembut tanpa ada ampas dibandingkan kopi lawasan. Namun kopi lawasan menang dari sisi rasa kenangan kejayaan kopi di masa silam. Sementara kesamaannya adalah tinggal sruput aja jangan bikin repot sendiri. Jikalau kohitala baik americano dan kopi lawas bisa berbicara, maka kalimat yang hadir adalah : “Biarkan kepahitanku memanisi hidupmu.”

Begitulah cerita kopi pagi di kota gudeg kali ini, tunggu tulisan berikutnya menyusuri ‘hidden gems’ dengan tetap bertema kopi. Sekarang berkeliling dulu untuk menyantap sajian sushi, nasi uduk, jamu, omelet, coklat fountain dan dimsum. Nikmaat, Wassalam (AKW).

HOAX yg NIKMAT

Ternyata Hoax ini mah beda euy.

JAKARTA, akwnulis.com.  Sebuah pertemuan yang mengantarkan raga bergerak ke ibukota. Secarik undangan menjadi dasar bahwa kehadiran adalah sebuah keharusan. Apalagi berkaitan dengan anggaran negara, semua harus hati-hati, teliti dan betul – betul mempelajari regulasi yang sering berubah dan  berganti.

Namun kembali, cerita tentang kerjaan maka tertuang dalam laporan. Kotretan resmi dan sesuai naskah dinas akan hadir sebagai nota dinas. Namun kesempatan hadir di pinggir pantai ibukota negara tepatnya di daerah ancol harus dioptimalkan dengan berbagai aktifitas.

Trus ngapain aja bro?”

Gampang jawabannya, yang pertama disaat sesi istirahat sore menjelang malam segera bergerak dengan skuter (suku muter) atau jalan kaki dan usahakan minimal 6.000 langkah.

Diitung perlangkah gan?”

Ya enggak atuh, khan ada teknologi. Cukup pake gelang smartfit dan ber-skuterlah. Maka hitungan akan berjalan. Lalu supaya skuternya full motivasi, search dulu cafe kopi seputar ancol yang menjadi srandar tujuan. Nyalain googlemap, lets go.

Langkah mantabs bergegas menyusuri pinggir pantai, masih berbaju kemeja dinas ‘smiling west java’ tapi sepatu slip on karena pasca operasi ternyata belum bisa pake sepatu biasa.

Setting tujuan diperkirakan 30 menit saja, biasanya cukup 6.000 langkah. Kalau kurang ya ditambah lagi aja. Gitu aja kok repot.

Nah, perjalanan inilah yang menemukan sebuah nilai penting. Yaitu cerita tentang HOAX. Kita tahu semua bahwa Hoax ini sering menyengsarakan karena berupa berita bohong dan menyesatkan. Bisa membuat kegaduhan di keluarga, kedinasan, masyarakat juga bangsa dan negara.

Tapi Hoax kali ini berbeda, karena ternyata ini adalah HOAX yang nyata kawan. Ceritanya setelah perjalanan dari hotel mercure – putri duyung cottage – bunderan Symponi of the sea – danau ancol hingga Bandar Jakarta – Colombus cafe – Le Bridge – dan ada yang menarik yaitu sebauh Cafe dengan nama HOAX, cuma karena target langkah nelum terpenuhi  lanjutkan skuternya sampai ke Ereveld Ancol (Dutch War Cemetery Ancol)….. tapi pas mau naik jembatan yang membelah pantai, kok serasa nggak enak hati. Apalagi suasana agak temaram dan sepi.

Ya sudah balik kanan dech, lagian sudah 6.321 langkah. Mencari mushola lalu bergerak kembali ke arah tadi berangkat. Cafe HOAXlah yang menjadi tujuan.

Alhamdulillah, tempatnya nyaman dan pilihan menunya variatif, bukan hoax guys. Lalu yang paling penting adalah ada sajian kopi meskipun kopi berbasis mesin. Lumayanlah, cafelatte bisa menemani kesendirian pada malam hari ini.

Jadi sekali lagi, di daerah ancol inilah baru menemukan nama hoax yang bermanfaat. Srupuut gan. Wassalam (AKW).

Kopi Monju

Hayu ah kita Srupi… Sruput hepi.

BANDUNG, akwnulis.com. Jumat pagi adalah saatna menggerakkan kaki sambil menemani otot meregang bersama helaan nafas kesegaran. Tapi ingat, dengan catatan memang tidak ada kegiatan  dinas di pagi hari.

Tentu dilihat dulu penjadwalan kegiatan kali ini. Medio jam 07.30 sampai 09.00 wib relafif aman, nah selanjutnya jadwal padat merayap baik yang hadir online dan offline.. meluncuur.

Kamu mah meluncur aja, emangnya mau ski air atau ski di es ya?”

Aduh bestie ini mah hanya ungkapan, meluncur itu artinya berangkat cuy”

Ya udah capcus”

Langsung pasang posisi start dan aktifitas ber-skuter berlangsung. Kaki kanan lebih dahulu lalu kaki kiri dan mengayunlah bergantian dan bergerak semakin cepat sehingga jika dilihat secara kasat mata, kaki ini seperti berputar. Itulah makanya disebut skuter yang asal katanya sukuter alias suku muter (kaki berputar).

Jangan lupa niatkan olahraga dengan basmalah juga pake jam gelang penghitung langkah supaya ada ukuran dan bukti berskuter pagi ini. Melangkaah.

Menyusuri trotoar sepanjang jalan Riau atau LLRE martadinata, belok kanan ke jalan citarum, lewati sisi timur gedung sate hingga memasuki jalan diponegoro dan menyusuri pinggir gasibu. Akhirnya menyebrangi jalan raya paspati menuju area monumen perjuangan rakyat jawa barat. Lumayan skuter 40 menit dan dapat 3.882 langkah.

Tiba di area monumen perjuangan jawa barat atau MONJU atau MONPERA.. disambut dengan keramah tamahan teman – teman yang bertugas disana. Menemani berkeliling termasuk memberi suguhan segelas kopi panas yang nikmat.

Tring…
Muncul ide.

Segelas kopi yang disajikan langsung diboyong ke pelataran monumen perjuangan. Sambil berkeliling melihat hasil kerja pemeliharaan monumen sekaligus memilih spot poto yang tepat.

Tapi, Sebuah keindahan hadir dengan penelungkupan. Yup nangkuban atau telungkup di lantai hangat pelataran monumen langsung dijalani demi hasilkan angle photo yang tepat. Nangkub gan.

Keceng dan cetrek, cetrek, cetrek.

Motretnya pake hape aja, da ini mah cuman hiburan.  Jadi inget istilah baheula, ‘No Pain No Gain’… pengen gambar yang indah, maka telungkuplah hehehehe.

Selamat menikmati pemandangan dan dijaga oleh secangkir kopi. Wassalam (AKW).

1 Kopi 3 Hewan : Takdir.

Ngopi bersama aneka hewan, siapa takut… yu ah.

PANGANDARAN, akwnulis.com.  Pertemuan dengan seseorang ataupun sesuatu tidak lepas dari takdir yang ditentukan Illahi. Manusia hanya mahluk lemah yang sok perkasa dan mampu merencanakan sesuatu yang luar biasa. Padahal semua adalah berdasar kehendak-Nya. Tetapi nilai ihtiar dan kesungguhan hati dalam memikirkan, mengkonsepkan hingga melaksanakan sesuatu sampai terwujud dengan baik, itulah bagian dari ibadah seorang hamba.

“Weiits… mentang-mentang jumat pagi ya, jadi begitu agamis?”

Hehehe, tidak kawan. Ini adalah bagian penting dalam kehidupan sebagai mahluk tuhan, dimana kita wajib mengikuti jejak sikap Rasululloh yaitu Tablig, menyampaikan kebaikan.

Nah kalau Rasul mah dakwah, penulis mah begini aja. Nulis sesuatu yang mengingatkan diri sendiri sekaligus tulisannya di share ke kolega via WA. Siapa tahu ada yang baca dan tergerak hatinya. “Betul khan?”

Tulisan sekarangpun tidak jauh dari makna takdir tadi. Manusia berkehendak tetapi Allah yang menentukan.

Sebenernya spoilernya sudah ada di tulisan awal yaitu KOPI & TEMAN DI TENGAH MALAM. Temanya tetap yaitu perkopian namun kali ini berhubungan dengan kehadiran mahluk tuhan yang lain yaitu binatang.

Ulangi dikit ya, di tulisan sebelumnya itu adalah pertemuan dengan kumang. Kumang atau lebih dikenal dengan umang-umang atau kelimang darat (dardanus celidrus) serta dalam bahasa inggrisnya ‘terrestrial hermit crab” adalah jenis krustasea deapod dan masih merupakan bagian familia kepiting kelapa yang cenderung hidup sendiri.

Yang menariknya adalah kumang ini bisa lepas dari cangkangnya dan bisa pake cangkang siput laut, kerang, juga potongan pohon yang berongga. Kali ini dia pake cangkang kerang atau kewuk sebagai rumahnya.

Maka menyeduh manual brew V60 kopi garut dan dengan perbekalan yang ada termasuk gelas kaca, bisa bercengkerama dengan kumang sambil mengabadikannya perlahan bergerak keluar dari cangkang kerang adalah momentum yang wajib disyukuri. Disengajain tengah malam cari kumang dan kopi manual mah susah pisan guys.

Lanjut sambil nunggu shubuh ngedit video… eh bukannya shalar tahajud yaa… gpp ketang suka-suka. Hidup itu pilihan. Jadi inget kata pak Gubernur RK kemarin, “Cintai yang kamu kerjakan dan Kerjakan yang kamu cintai”... hayu ngedit ah…  eh wudhu dulu.

***

Pertemuan kedua antara kopi dan binatang itu terjadi dikala mengabadikan sajian segelas kopi racikan sendiri berlatar belakang mentari yang malu-malu terbit di ujung cakrawala pantai timur pangandaran. Alhamdulillah, begitu indahnya sunrise ciptaan Tuhan. Warna kuning keemasan berpadu padan dengan permukaan perak laut pangandaran bersama deburan ombak yang membuat raga dan hati bergetar. Luar biasa sekali kawan.

Disitulah seekor kucing liar datang dan mendekam di dekat gelas kopi yang sedang diabadikan.. ya sudah cetrek cetrek cetrek.

Eh satu hewan lagi nggak mau ketinggalan untuk diabadikan bersama mentari yang semakin menghangat. Berarti ini hewan ketiga. Yaitu seekor ayam jago. Perlahan datang dan langsung berpose bersama kehangatan sang mentari serta secangkir kopi racikan pribadi.

Sungguh menyenangkan sruputan kopi kali ini, ditemani berbagai mahluk tuhan yang hadir tanpa direncanakan.  Di mulai dari seekor Kumang, lalu seekor kucing dan akhirnya seekor ayam jago. Sebuah sensasi menikmati kopi yang penuh arti. Selamat berkreasi dan mensyukuri hari ini. Wassalam (AKW).

2-Ngo Tibra Cafe.

Kembali ke tema utama, 2ngo.

CISARUA, akwnulis.com. Ternyata pemilihan tema dan konsistensi dalam menjaganya terasa semakin dimudahkan dengan setiap momentum yang ada. Tema blog ini dalam tulisannya memang fokus di dua kata, yaitu Ngopay & Ngojay. Dalam pengertian bebasnya yaitu tulisan santai tentang seputar kopi, pokoknya yang terkait atau bisa dikait-kaitkan dengan kopi, ngopi atau ngopay. Lalu tema ngojay adalah sagala we yang urusannya ngojay, berenang kolam renang, laut, balong eh kolam dan urusan air.

Yang termudah adalah ngopilah di sisi kolam renang. Lengkap sudah Ngopay & Ngojay.

Tapi kesempatan itu tidak bisa setiap saat, maka momentum seperti ini segera diabadikan dan selanjutnya tentu dipublikasikan.

Klo di cafe kopi, bisa pesan kopi tapi belum tentu ada kolam renang. Sementara kalau sengaja ke kolam renang untuk berenang, belum tentu dapet kopi nikmat sesuai harapan. Apalagi jika sambil berenang minum kopi, dijamin bakal ditegur oleh pengelola karena jelas menyalahi aturan dan akan mewarnai sedikit kolam renang hehehe.

Maka disinilah momentum takdir memainkan peran dan capture the moment perlu insting yang terasah serta smartphone stanby untuk segera menjepret kenyataan.

Nah kali ini akan berbagi dengan salah satu memontum 2-Ngo ini…. sebuah tempat eksotis di cimahi utara bisa mempertemukan keduanya. Secangkir kopi tanpa gula dengan nuansa biru dari kolam renang yang ada. Tidak lupa tulisan di gelas kertas kopinya adalah ‘Anti pahit pahit club’.

Kopinya memilih cafelatte karena semua berbasis kopi mesin, manual brew V60nya nggak ready hiks hiks hiks. Tapi gpp, segelas latt tanpa gula bisa menjadi pilihan menikmati kopi sambil bersantai di pinggir kolam renang. Lumayan atuh ah.

Jangan dibahas besar dan kecilnya kolam renang, tapi mari nikmati kebersamaan secangkir kopay dengan tempat ngojay.. ay ay ay.

Sruputlah segera karena desir angin di dataran tinggi cimahi utara eh Bandung Barat ini cepat sekali mendinginkan suhu kopi. Sruput.. dan sruputt… habiis.

Lokasi :
TIBRA Cafe & Coffee, Jl. Kolonel Masturi 508A Cisarua KBB.

PAKUANLATTE & Eril.

Secangkir kopi & kehilangan.

GEDUNG PAKUAN, akwnulis.com. Tak banyak kata yang bisa terucap, mulut serasa kelu dan cenderung terdiam. Hanya senyum kecil tertahan dan sebuah kata lirih yang menandakan terima kasih, dengan sajian cafelatte di dapur gedung pakuan ini.

Baristanyapun menjawab sama-sama, dengan tatapan tetap menerawang. Menghadapi sebuah kenyataan yang diluar dugaan. Harus melihat kembalinya Bapak Gubernur Jabar dan Bu Atalia serta ananda Zahra yang disambut oleh keluarga besar dengan uraian air mata serta isak tangis tertahan yang mewakili campur aduknya perasaan.

Tapi hal terpenting dari kehilangan ananda Eril ini adalah nilai ketegaran, keikhlasan, kesabaran dari seorang Ridwan Kamil. Sebagai sosok pimpinan provinsi jabar sekaligus seorang ayah yang harus kehilangan anak sulungnya yang dinyatakan meninggal tenggelam di sungai aare Switzerland. Juga ibu Atalia dan ananda Zahra, betapa kehilangan ini begitu menyentak dan diluar bayangan semuanya. Tetapi kekompakan Pak Gubernur, Ibu dan Keluarga memberikan nilai penting bagi penulis akan artinya kebersamaan, kekompakan serta kekuatan keimanan baik sebagai individu juga sebagai satu keluarga dalam menerima takdir kehidupan.

Penulis yakin, cobaan ini adalah skenario Tuhan, Allah Sang Maha Bisa Maha Penguasa. Insyaalloh dibalik kejadian ini, berkah dan hikmah yang lebih baik untuk pak RK, ibu dan keluarga telah menanti. Begitupun ananda Eril, insyaalloh mendapat surga Allah Yang Maha Pengasih.

Sruputan Pakuanlatte inipun terasa hambar, ikut merasa bersedih sebagai seorang ayah yang sedang kehilangan putranya menguasai seluruh indra di raga ini. Jadi maafkan jikalau tidak ada review sruputan yang ngabibita (bikin pengen) kali ini.

Betapa ujian kehidupan dunia yang luar biasa yang sedang dirasakan pimpinan kita. Doa terbaik untuk ananda Eril juga doa dukungan kesabaran dan ketawakalan untuk pak RK, ibu dan keluarga. Wassalam (AKW).

Alfatihah….

Yogya, Kopi & Mati

yogya dan kopi, bersabarlah.

SOSROWIJAN, akwnulis.com. Perjalanan kali ini adalah kembali ke kota kenangan, Yogyakarta. Tentu berbalut penugasan kedinasan, tetapi di sela padatnya jadwal harus bisa mlipir sedikit untuk menikmati si kopi hitam. Maka skenario dirancang meskipun eksekusinya menyesuaikan, ada plan A, plan B dan no plan alias spontan lihat situasi.

Ternyata yang kepake adalah No plan euy, karena keberangkatannya begitu mendadak acaranya cukup padat. Jadi harus pinter – pinter baca, yakni baca situasi.

Perintah datang di rapim dan tak banyak waktu berkemas. Langsung pesan tiket kereta untuk keberangkatan di malam hari. Tentu stasiun Bandung menjadi saksi, berangkat sendiri karena yang lain agak kesulitan kalau didadak untuk berangkat. Ya sudah, Bismillah.

Dengan perkembangan teknologi maka pemesanan tiket kereta dan hotel bisa dilakukan segera. Apalagi setelah vaksin 3 kali, sudah tidak lagi harus rapid tes antigen.

Nah kesempatan pertama menikmati kopi adalah cafelatte di stasiun bandung, akan tetapi harapan tinggal harapan. Waktu yang tersedia begitu terbatas sehingga pilihannya adalah bersegera memasuki stasiun dan mencari gerbong KA Mutiara Selatan yang akan menjadi tempat bermalam sambil bergerak menuju stasiun tugu yogya.

Kesempatan kedua adalah menikmati kohitala di restoKA atau menunggu petugas restoKA yang bergerak mendatangi penumpang secara berkala. Baiklah ditunggu di kursi saja sambil sedikit rebahan meluruskan badan dan pikiran karena akan menghadapi perjalanan dengan estimasi selama 8 jam.

Tapi lagi – lagi harus bersabar karena menu kopi hitam sudah keburu habis di gerbong lainnya. Hehehe gagal ngopay kedua kali. Maka pilihan terbaik adalah mencoba kontak istri dan anak dan ngobrol ngaler ngidul di telepon. Sudahlah malam ini dipastikan untuk beristirahat dulu.

***

Tepat jam menunjukan pukul 03.30 wib waktu yogyakarta. Raga ini harus turun dari gerbong dan bergegas keluar. Karena kalau tidak segera turun, akan terbawa pergerakan kereta selanjutnya, menuju pemberhentian akhir di stasiun gubeng Surabaya.

Maka setelah keluar area stasiun tugu bergegas menyebrang jalan dan memasuki jalan gang menuju jalan sosrowijan. Pede saja seperti yang sudah biasa di yogya, padahal bermodal petunjuk googlemap di smartphone. Tujuannya jelas sebuah hotel kapsul yang bernama The Capsule Hotel Malioboro.

Kok milih hotel kapsul sih?”

Ada beberapa pertanyaan senada dan jawabannya simpel saja. Itulah gayaku, menikmati menjadi backpackeran beberapa jam adalah kebahagiaan tersendiri. Sekaligus mengingatkan diri pada ujung kehidupan bahwa segala keindahan, kemudahan hidup ini akan berakhir pada kotak tanah nan sempit, gelap dan lembab dikala nyawa sudah tidak dikandung badan. Nah kotak hotel capsule ini bisa mengingatkan lagi itu semua.

Terkait sruput kopi masih harus menanti kesempatan dengan sabar. Sekarang saatnya meluruskan badan dan terlelap sejenak. Wassalam ( AKW).

SAKAW bin Kangen

Kangen boleh, tapi sabar juga sangat penting.

PASTEUR, akwnulis.com. Baru empat hari saja tidak berjumpa, ternyata rindu menggebu begitu menggelora. Apa mau dikata namun itulah kenyataan yang ada. Apalagi yang lebih tersiksa adalah kehadiranmu didepan mata namun hanya boleh disentuh tanpa bisa menikmatinya.

Padahal 8 tahun lalu, raga ini tidak begini. Bertemu denganmu biasa saja. Seperlunya saja tanpa dikuasai gelora rasa membuncah yang berbeda. Berbagai pilihan gayamupun tidak menjadi ketertarikan berlebihan, ya secukupnya saja.

Tapi seiring waktu berjalan, ternyata sekarang berbeda. Kehadiranmu berbeda, selalu bisa memberi inspirasi dalam menghias kata. Juga memberi nafas hadirnya ide dalam berkarya. Meskipun hasil karya sederhana atau mungkin masih sangat amatir dari segala sisinya, tapi itulah sebuah karya dari ide yang ada.

Kenapa harus bangga?” Harus itu, karena sesederhana sebuah karya yang tercipta lebih bermakna dibandingkan ide brilian yang hanya menari diatas angan tanpa berbuah hasil dan kejelasan.

Apalagi berbicara bentuk dan jenis makin menguatkan diri untuk selalu dekat dan tidak terpisahkan.

Namun itulah kehidupan, ada saatnya kita diingatkan sama Tuhan bahwa ini adalah dunia fana. Ada batasan dalam semua hal, meskipun hanya sementara.

Begitupun dengan dirimu. Sekarang harus berbeda. Hubungan kita dijeda karena keadaan yang berbeda.

Maksudnya apa ini?”

Lha malah nanya, ini khan lagi curhat. Kalau bahasa kerennya mah sakaw… sakit karna kaw, heu heu heu. Eh salah kebalik, karena sakit sehingga tidak bisa sementara bersama kaw :).

Jadi sudah 4 hari ini, libur dulu bercengkerama menikmati kenikmatan pahitmu, hai Kohitala kesayangan. Kopi hitam tanpa gula. Sebuah konsekuensi akibat kelelahan dilengkapi dengan keteledoran sehingga terjadi kompilasi kesakitan.. yakni gangguan di lambung sehingga perut kembung dan tidak bisa BAB juga secuil kentut sekalipun dilengkapi dengan otot punggung menegang (urat ngajepret) karena kelamaan duduk dibelakang kemudi dengan judul mudik dan balik.

Akibatnya depan kembung belakang bingung, tak bisa tidur 2 hari bikin limbung. Salah satunya yang dilarang ya itu tadi bercengkerama dan sruput kohitala harus ditunda, sambil menunggu asam lambung mereda.

Alhamdulillah, Allah Maha Penyembuh. Setelah ihtiar menggayem kunyit, jambu klutuk dan berkenalan dengan antangin JRG, norit, mylanta, lansoprazol, hingga mevinal plus terakhir donperidom & symbio juga tak henti berdoa kepada Illahi Robbi. Maka rasa sakit depan belakang ini telah berangsur pulih dan kembali membaik seperti sediakala. Meskipun menyentuhmu eh menyeduhmu masih belum berani karena khawatir berakibat sesuatu, maafkan aku. Wassalam (AKW).

Arabica Giri Senang – sruput brow

Saatnya ‘me time’..

CIMAHI, akwnulis.com. Pasca shalat witir saatnya memanjakan diri dengan format ‘me time’ yang sederhana. Yaitu prosesi nyeduh kopi ala – ala menggunakan manual brew V60 dan peralatan seduh yang tersedia. Apalagi pesanan dari kang Yuda – CoffeeRush sudah hadir dihadapan mata. Tidak ada lagi alasan untuk membiarkannya. Mari kita mulai… jeng jreeeng.

Nama beannya arabica giri senang dengan proses natural. Berasal dari varietas sigararuntang & typica dari bukit palasari dengan ketinggian tempat tumbuh sang kopi adalah 1250 – 1350 mdpl.

Yup sesi ‘me time’ yang singkat tapi berarti. Karena waktunya singkat dan tetap masih bisa bersama keluarga dalam momentum persiapan menyambut idul fitri 1443 Hijriyah yang semarak dan berbeda, setelah 2 tahun didera pandemi sehingga mudik dan balik menjadi terlarang. Sekadang semuanya bisa, maka menyeduh kopinyapun sambil memantau laporan situasi arus mudik dari media televisi dan IGlive. Semoga para pemudik diberi kelancaran serta keselamatan.

Prosesi penyeduhan arabica Giri senangpun berlangsung lancar. Setelah di grinder agar menjadi serpihan kasar maka dilanjutkan dengan sentuhan air panas 92° celcius menggunakan putaran searah jarum jam… hmmm harum kawan.

Maka pelahan tapi pasti, tetesan cairan hitam segar dengan keharuman yang memanjakan cuping hidung ini begitu menggoda. Tak sabar untuk segera menikmatinya. Bejana server kaca kesayangan dan corong V60 pink dengan setia menemani prosesi ini termasuk gelas kaca kecil duralex yang sudah 3 tahun setia mengantarkan hasil seduhan kopi agar tiba di bibir ini untuk diseruput perlahan dan diteguk penuh perasaan.

Maka, setelah prosesi penyeduhan berakhir. Inilah saat yang dinantikan. Tuangkan kopinya ke gelas kaca duralex, angkat dengan tangan… dan… tempelkan ke bibir yang sudah tidak tahan.. srupuuut…. hmmmmm… rasa segar menyeruak menjadi sensasi dasar.

Dari sisi bodinya medium lite, tetapi aciditynya menarik rasa asam yang berbeda, tipis tapi ninggal dibawah bibir dengan rasa lemon yang kuat. Sementara setelah diteguk, hadir after taste rasa manis yang menyenangkan, mirip manis strawberry, tapi selarik saja hadir lalu perlahan pergi meninggalkan kenangan manis seperti cerita romantisme masa lalu… apa siiiih.

Alhamdulillahirobbil alamin, badan terasa segar dan menghadirkan setetes dua tetes keringat di kening sebagai tanda tubuh menghangat serta raga menguat karena sentuhan cairan kopi panas dan tentu kandungan kafein yang bergulat dengan kenyataan.

Selamat beribadah di minggu – minggu terakhir bulan ramadhan dengan segala keindahan dan keberkahan pahala yang berlipat ganda. Wassalam. (AKW).

***

Kopi Luwak Liar Java Preanger – Cipanas Garut

Merasakan citarasa liar dari kohitala.

GARUT, akwnulis.com. Catatanku kali ini tetap berkutat di seputar pengalaman ngopay (ngopi) yang dilakukan di bulan ramadhan 1443 hijriyah ini, tentu dilakukan pasca kumandang adzan magrib menggema dan prosesi pembatalan puasa terlaksana di meeting area Hotel Harmoni. Nah berbuka puasa tetap dengan air putih dan potongan buah-buahan yang ada dilengkapi sedikit cemilan siomay dan burayot yang menjadi kue khas di garut ini.

Setelah tuntas pembatalan puasa, shalat magrib dan akhirnya memastikan acara resmi tuntas. Saatnya berburu kenikmatan ngopay di garut ini, tepatnya di kawasan Cipanas.

Tadinya ada ide untuk berendam, khan cipanas adalah daerah yang kaya air panas alami yang berasal dari gunung….  Tetapi dengan waktu yang terbatas dan harus kembali ke bandung untuk dan atas nama keluarga serta bejibunnya tugas dinas, maka aktifitas berendam air panas di tunda menunggu saat yang pas.

Meluncurlah ke sebuah tempat ngopay yang difasilitasi bos Yudi dan rengrengan, nuhun pisan. Nama tempatnya RM Saung Pananjung Cipanas Garut.

Menu makanannya bervariasi dan tempatnya nyaman, tetapi konsentrasinya adalah ke ujung kiri pas pintu masuk, dimana pojokan ini adalah markas sang barista meracik kopi dan ditemani peralatan manual brew plus mesin dilengkapi jajaran bean siap diproses. Beannya cukup lengkap dari wine, natural, honey gunung papandayan serta kopi luwak dengan pilihan luwak liar dan luwak penangkaran.

Pesan V60 bean luwak liar ya kang”
Mangga kang”

Maka tanpa berlama-lama, sajian V60 manual brew berproses dan tersaji. Disajikan langsung oleh sang barista, kang Rasid.

Sebuah sajian kopi manual brew dengan beannya yang spesial dihargai 45 ribu rupiah, lebih mahal 5 ribu rupiah dari kopi luwak penangkaran. Tepatnya beannya adalah Kopi Luwak Liar Java Preanger (KLLJV)

Sebuah cerita dari sang Barista, membahas tentang asal muasal kopi yang baru saja dinikmati yaitu kopi luwak liar dari hutan sekitar gunung papandayan.

Katanya proses pengumpulan bean kopi ini dikumpulkan oleh petani dari ceceran kotoran luwak liar yang berada di sekitar hutan di gunung papandayan. Nggak kebayang bagaimana mulungannya (mengumpulkannya)… tapi penulis berusaha percayai bahwa proses itu terjadi, mungkin besok lusa pengen juga ikutan kukurusukan ke hutan merasakan betapa sulitnya melakukan pengumpulan kopi dari (maaf)… keluar dari pantat binatang luwak ini.

Udah ah, sekarang saatnya menikmati sajian kohitala spesial ini, bismillah.

Rasanya enak dan berbeda, ada kepahitan diujung lidah yang meyertai sebuah body medium dan acidity menengah yang mudah dirasakan tanpa perlu terkaget oleh rasa asam yang berat. After tastenya agak sulit didefinisikan karena terasa banyak campurannya, tetapi yang cukup menarik adalah selarik rasa manis hadir ditengah kepahitan yang mendera.

Itulah salah satu cerita singkat ngopay di ramadhan tahun 2022 ini, pertemuan singkat namun bermakna. Tidak bisa berlama-lama karena tarawih dan witir sudah menunggu untuk segera terlaksana. Oh ya disini juga tersaji steak domba dan domba bakar yang juga miliki kenikmatan sensasi rasa berbeda.

Sekali lagi hatur nuhun fasilitasinya Bos Yudi serta ditemeni Ezi, jangan bosen ya. Srupuut.. Wassalam. (AKW).

***

Lokasi : RM Saung Pananjung, No 509 Tanjung, Jl. Raya Cipanas Pananjung Kabupaten Garut. Provinsi Jawa Barat 44151.