Kopi Kelapa.

Sruput kopi dan air kelapa, nikmat tiada tara.

BULAKLAUT, akwnulis.com. Sebuah momentum penting dan nikmat dalam jalinan kisah kehidupan ini adalah disaat angin berhembus menembus dedaunan dan secangkir kopi hitam tanpa gula sedang menempel di ujung bibir. Tinggal sedikit bergerak, maka kenikmatan kopi melengkapi sejauh mata memandang deburan ombak pantai selatan.

Apalagi raga ini terasa segar dilindungi oleh keteduhan pepohonan yang rindang dan rapi berjajar sepanjang pantai. Ditemani secangkir kopi dan sebutir kelapa muda segar yang jatuh dari pohonnya… halaaah jangan ngarang, kelapa mudanya khan memang beli dari ibu-ibu tukang dagang.

Sruputan kopi hitam bergantian dengan air kelapa muda yang segar disertai selaput kelapa muda yang ‘lumèho’ atau seperti lendir maka kenikmatan semakin lengkap memanjakan lidah dan rasa dalam momen mengkopi eh mengopi kali ini.

Ah celoteh singkat ini tak berlanjut karena mulut dan lidah lebih memilih memaknai rasa air kelapa dan segelas kopi yang penuh arti. Srupuut…. Alhamdulillah. Wassalam (AKW).

KOPI & SORE di Km88

Catatan rehat sore.

SUKATANI, akwnulis.com. Menyore dalam sebuah perjalanan kehidupan tentu diperlukan sebuah rehat yang singkat tapi nikmat. Setelah berjibaku dengan tugas, kertas dan berkas maka perlu sesaat istirahat berkualitas tanpa hilangkan makna dari sebuah hakikat kualitas. Maka pilihan utamanya adalah mencari waktu dan tempat istirahat yang tepat.

Begitupun cerita menyore kali ini, atau mlipir sore setelah seharian mendengarkan arahan, paparan dan tanya jawab berhubungan dengan penggunaan uang negara yang berkutat di antara tiga besar yakni perjadin, honor narsum dan paket meeting. Maka sebuah komitmen kehati-hatian dan  hitam putih aturan menjadi hal utama yang menjadi pegangan. Review pengawas sebagai awalan menguatkan konsepsi perencanaan tahun depan agar lebih sempurna dalam ketepatan guna dan sasaran.

Maka rehat sore sejenak menjadi obat mujarab yang menenangkan. Tentu dengan pilihan menu yang tepat dengan harapan, harga dan pemandangan. Pilihannya sederhana, sebuah tempat yang bisa memenuhi hasrat nongkrong  dan lengkap dengan sajian kohitala meskipun dengan metode tubruk ala – ala, yang penting terhindari dari gula.

Sebuah kios kopi menjadi pilihan tepat, karena posisi penjuru dan berada di depan mesjid BSI yang bersih dan elegan. Tanpa basa-basi maka pilihan pertama untuk memesan kopi hitam tanpa gula menjadi prioritas, ya memang dapetnya kopi gunting tapi kelihatannya sedikit meyakinkan.

Lalu sebagai pelengkap tak lupa gorengannya yaitu gehu dan sejumput  cengek sebagai penggugah kepedasan yang menambah semangat dan kesegaran.

Maka sebagai sebuah kenangan, segelas kopi berlatar belakang mentari sore serta mesjid BSI menjadi catatan penting dalam menyore kali ini.

Oh ya posisi menyore kali ini berada di rest area Km88 Tol Cipularang arah Bamdung ya guys. Pokoknya klo berkesempatan menyore disini,  bisa dicoba spot kios ini. Karena selain kopi dan gorengan juga tersedia aneka minuman termasuk mie rebus dan mie goreng aneka varian plus leupeut dan lontong sebagai teman atau pengganti nasi.

Sruput dulu guys lalu mengunyah gehu dan memotret momentum sore yang menyenangkan. Lagian menyore nggak bisa lama-lama karena dibatasi mentari yang tenggelam di peraduan menuju malam untuk berganti peran dengan rembulan. Plus hadirnya panggilan shalat magrib via adzan yang berkumandang. Wassalam (AKW).

Asap Misteri & Kopi.

Penasaran itu penting, tapi hati-hati.

SUBANG, akwnulis.com. Selarik asap tipis hadir tanpa diundang, menemani kegalauan yang tetiba datang tanpa diundang. “Tapi apakah ini nyata atau sekedar halunisasi belaka?”

Perlahan mendekati sumber hadirnya asal tipis tadi, ternyata berasal dari pinggir kolam renang yang sedikit temaram. Wah menjadi menarik nich, perlu di eksplore lebih mendalam.

Langkah kaki berjingkat untuk menghindari hadirnya suara sepelan mungkin, mendekat setapak demi setapak. Ternyata asap tipisnya banyak dan tidak hanya dari pinggir kolam, namun dari tengah air kolampun muncul. Penasaran, kolam didekati dan jemari menjulur menyentuh air kolam yang ternyata terasa hangat dan menenangkan.

Met malem pak” Suara agak berat mengagetkanku.

Astagfirullohal adzim” Kaget setengah mati, tiba – tiba ada suara disamping kiri. Seorang pegawai yang mungkun piket menjaga lokasi ini.

Ini airnya hangat ya, tapi nggak sembarang bisa dimasuki?”

Iya pak, tapi memang bisa diakses kalau ada kegiatan”  petugas memberi penjelasan tambahan.

Tring, tiba-tiba ada ide. “Pak, klo buat survey boleh?. Rencana memang kami akan ada kegiatan disini.”

Boleh pak, silahkan. Sebentar saya nyalakan dulu lampu-lampunya”

Wah senangnya, secepat kilat kembali ke villa yang relatif dekat dengan kolam rendam ini. Bawa kopi hasil seduhan manual yang baru tadi dibuat.

Kembali ke tempat tadi, sebuah kolam renang air hangat alami telah tersaji, diterangi lampu sorot yang menjelaskan fenomena asap tipis tadi. Itu berasal dari kolam renang air hangat yang bersumber dari panas bumi Gunung Tangkuban perahu.

Maka bersandinglah segelas kopi hitam tanpa gula dengan kehangatan alami dari air kolam renang dan rendam ini menghasilkan suasana ketenangan alami yang menyentuh hingga ke hati. Apalagi pada saat sruputan kopi arabica natural ini membasahi lidah dan tenggorokan sementara kedua kaki telah otomatis terendam kehangatan malam ditemani asap tipis yang sekarang menjadi teman, bukan misteri seperti awal perjumpaan tadi.

Kegalauan perlahan sirna digantikan kenikmatan dan kesegaran yang berbeda. Momentum keberuntungan ini tercipta dari kesiapan kopi hasil seduh manual yang dimasukan ke tumbler dan kesempatan bersua dengan asap tipis penuh misteri yang berasal dari kolam renang rendam air panas alami. Srupuut.. gujubaar. Wassalam (AKW).

Arabica V60 di Teras Kiara.

Kopi, tugas dan kesempatan.

KIRPAY, akwnulis.com. Semilir angin pegunungan dan suasana damai menyeruak di tempat ini. Bersama selembar kertas menu laminating, menanti untuk dibaca secara rinci dan sesingkat-singkatnya untuk segera dipesan karena menunya memang sesuai dengan harapan.

Menu apa itu kaka?”

Seperti biasa, aneka menu makanan dan minuman khususnya kopi manual brew dengan metode V60 yang ternyata begitu menarik hati. Apalagi yang hadir kali ini bukan orang-orang sembarangan, beberapa orang kedua di OPD provinsi menyempatkan hadir di waktu maksi pada sela-sela rangkaian rapat yang datang silih berganti.

Kebetulan tempat untuk menikmati kohitala dan berbagai menu lainnya ini cukup menarik meskipun posisinya cukup jauh menanjak dari jatinangor, berada di wilayah Sukasari.

Patokannya gampang, ada Kampus LAN RI, lewati dikit dan terlihatlah cafe Teras Kiara. Sekarang dengan tuntasnya jalan tol cisumdawu trase awal, terasa lebih dekat. Karena dari tol gate hanya 900 meter saja. Jadi beres maksi dan sruput kohitala bisa langsung masuk tol an ngabretlah ke kantor untuk menyambut dokumen yang bejibun serta agenda lain yang sudah tersusun.

Tempatnya di lantai atas memberi kita kesempatan melihat kehijauan dan juga kampus LAN RI dimana pernah menjadi tempat ditempa di tahun 2018 dalam kerangka Reform Leader Academy. Suasana cafe yang ditata apik memberi pilihan suasana berbeda. Ada yang lesehan dengan bean bag warna warni, ataupun dengan meja kursi. Juga sofa untuk bersantai sambil sruput cikopay.

Kami memilih meja kursi kayu di area outdoor dan memesan bermacam-macam cemilan plus makanan berat karena judulnya khan makan siang. Tapi tetap menu utamanya adalah sajian manual brew V60 dengan pilihan kopinya adalah arabica halu honey. Sebuah pilihan tepat karena dengan acidity plus body seimbang dilengkapi sejumput rasa manis alami yang menenangkan hati.

Srupuut…. enak. Juga rasa nikmat mengunyah menu makanan dari panggang pisang madu, tahu cabe garam hingga nasi bakar dan sop buntut kekinian.

Semilir angin kiara payung memberi kedamaian. Menemani bincang santai dan makan siang yang bernilai. Karena jarang sekali kami berkumpul dalam suasana ceria seperti ini. Biasanya bersua pada rapat serius yang padat dan perlu tindaklanjut.

Akhirnya tugas juga yang membuat kami bubar tergesa. Bergerak menuju kantor masing-masing demi tugas negara. Wassalam (AKW).

Kopi Kompak

Kompak itu tak selalu baik.

CIMAHI, akwnulis.com. Pagi yang cerah ternyata tidak semua perjalanan menjadi mudah. Perjalanan yang biasanya cukup 30 menit untuk tiba di kantor, sekarang berlipat menjadi tiga dengan 60 menitnya terdiam dan atau bergeser perlahan seolah tanpa harapan.

Jika bicara agenda kegiatan maka jelas sudah berantakan, jadwal meeting pagi terpaksa delay, anak sekolahpun sudah jelas kesiangan. Suara hardikan dan klakson silih berganti tanpa menghasilkan solusi?

Ada apa ini?….

Kalau nafsu sih akan bicara bahwa ini salah aparat ….. eh tapi khan diriku juga bagian dari aparatur sipil negara hehehehe…. ga jadi ah, atuh nyalahin diri sendiri. Meskipun suasana kali ini macet dimana-mana nggak ketulungan, bikin stres.

Jadi karena apa?…. coba dirunut lagi lebih makro, apakah ini terkait dengan ketidakseimbangan pertumbuhan kesediaan jalan dengan peningkatan jumlah kendaraan yang beredar di masyarakat?.. atau karena memang pergerakan rutin manusia dari rumah di pinggiran kota ke kota untuk bekerja adalah penyebabnya?…

Udah jangan pusing ah, daripada mikirin kemacetan mending menikmati kopi hitam. Caranya gampang, buka termosnya … eh salah, siapkan dulu mejanya, pasang gelas kaca mini kesayangannya baru buka termos dan tuangkan… cuuur.

Sajian kopi hitam tanpa gula arabica natural sylvasari gununghalu yang harum mengubah suasana kemacetan menjadi tetap macet tapi suasana hati lebih damai. Ya iya atuh macet mah tetep aja, tapi suasana hati lebih tenang dan bisa menerima kenyataan.

Srupuuut…..
Nikmaat.

Ternyata kalau melihat samping kanan kiri depan belakang dalam suasana macet ini, terdapat satu hal yang mendasar dan membuat kemacetan ini terjadi. Jika dibuat kalimat adalah, “Tidak semua kekompakan itu baik hehehehe”…

Pagi ini semua kompak lho, padahal mayoritas tidak kenal satu sama lain. Kompak hadir bersama-sama dengan motor dan mobil kesayangan pada waktu yang sama meskipun tujuannya berbeda tetapi harus bersua di tempat yang sama.

Kompak banget semuanya, padahal nggak ada broadcast all dan woro-woro untuk berada di jalan ini. Semuanya berkumpul dari utara jalur Baros, selatan dari Margaasih dan Cibogo dari barat adalah Cangkorah dan Batu jajar serta dari timur Cimindi semua berlomba memenuhi ruas jalan Leuwigajah yang segitu-gitunya.

Sudah ah, dipikirin juga tetep aja macet. Ya sudah sruput lagi kohitala manual brew arabica natural yang diseduh tadi pagi di rumah. Srupuut.. Alhamdulillah, kemacetan karena kompak ini ternyata bertahan lama. Sabar sabar dan sabar, Wassalam. (AKW).

Warung Bu Ageng & Kohitala

Cari maksi sekaligus kopi.

JOGJA, akwnulis.com. Jam makan siang sudah mendekati, alarm alami di perutpun mulai berbunyi dengan nada khusus yang menambah lapar plus dahaga. Melewati area alun-alun selatan keraton Jogjakarta dan menuju tempat makan utama yaitu Restoran Bale Raos, sebuah resto yang menyajikan menu khas masa silam kearifan kuliner kraton jogja dalam setiap sajiannya.

Tapi….. ada yang terlupa, ini musim liburan anak sekolah kawan. Pas dengan pedenya masuk dan mencari tempat duduk, langsung tertegun. Karena meja meja yang biasanya relatif lengang telah terisi oleh para penikmat rasa. Juga beberapa orang masih antri untuk menunggu giliran mendapatkan meja. Lalu perlahan ada pegawai restoran mendekat, “Maaf bapak, apakah sudah reservasi?”

Jeddang… saya dan istri beradu pandang, lalu menjawab pelan, “Belum mbak, biasanya bisa langsung”

Maaf bapak, harus reservasi dulu. Ini yang antri yang sudah reservasi”

Wah gawat, keburu lewat lapernya nich. Akhirnya kompromi dan tahu diri saja. Senyuman dan ucapan terima kasih atas penolakan halusnya sang pegawai resto. Kami balik kanan menuju mobil dan langsung memutar ingatan tentang tempat makan siang yang memungkinkan.

Istriku berseru, “Yah, kita coba ke RM warung Bu Ageng.”

Siyaaap

Maka kedua jempol langsung berselancar di layar gawai. Mencari informasi tentang rumah makan ini. Tring, teknologi memang dalam genggaman… lokasi RM Bu Ageng ditemukan dan sang pemgemudi bertolak menuju titik sasaran. Agar tidak zonk kedua kali, maka coba ditelepon dulu sesuai yang tertera di google search.

Monggo pinara mas, nggak perlu reservasi, bisa langsung”

Wuihh adem tuh suara, bikin perut lapar makin lapar tetapi jelas ada kepastian. Ternyata jarak dari area keraton tidak terlalu jauh. Berarti sebentar lagi tiba, Alhamdulillah.

Tempatnya terlihat nyaman dengan ornamen bangunan kayu begitu estetik. Segera masuk ke dalam dan ternyata benar saja, masih ada beberapa meja yang tersedia dan langsung mendudukinya dengan gembira.

Pilihan makanan sudah tersaji di pintu masuk, tetapi kami lebih cenderung berburu meja dulu, takut keburu penuh hehehehe. Buku menu segera dibuka dan berbagai pilihan makanan khas jogja hadir disana. Tetapi pilihan kami praktis saja, pertama yang lengkap dan kedua tentu recomended. Pilihannya adalah nasi campur lidah dan nasi campur suwir ayam.

Rumah makan yang diberi nama warung ini adalah milik keluarga Butet Kertaredjasa dan penamaan Bu Ageng ini adalah sebutan anak cucu dan keluarga kepada istrinya, bu Rulyani Isfihana. Bangunan berbentuk joglo dan full ornamen kayu memberi suasana di rumah yang ngangenin ditambah dengan.

Tadinya mau pesen lagi pecel agar lengkap sayurannya. Tapi ternyata menu nasi campurnya begitu kumplit, tidak hanya lidah dan suwir ayam tetapi juga ada abon tuna, kripik kentang, tempe potong, juga kuah kental seperti rendang plus krupuk gendar. Disaat lidah menyecap, kental masakan jogjanya tetapi juga hadir rasa berbeda yang membuat penasaran.

Pada kesempatan yang tepat, salah satu pelayannya diinterogasi halus dan didapati cerita bahwa makanan khas warung ini adalah masakan khas jogja dan dilengkapi sentuhan masakan kutai, kalimantan timur. Wow pantesan….

Tak lupa juga memesan kopi hitam ala warung bu ageng. Sebuah kesempatan langka menikmati sajian kopi di tempat yang berbeda. Kopi yang tersaji adalah kopi bubuk biasa yang diseduh atau ditubruk air panas yang tersedia. Tentu gula dihindari, karena ini adalah kohitala.


Itulah catatan kecil tentang kuliner siang di Warung Bu ageng Jogjakarta plus kopi tubruknya. Wassalam (AKW).

TEKOFF coffee & Roastery

Tetap bersama sambil menikmati sajian kopi dan segala suasananya.

JOGJA, akwnulis.com. Sebuah kebersamaan dengan keluarga tidak hanya dijalani tetapi harus juga diciptakan ataupun sedikit dipaksakan. Karena dengan kesibukan rutinitas yang mendera setiap hari baik di hari kerja ataupun (sesekali) disaat weekend memang perlu di manage dengan baik.

Apalagi umur anak yang beranjak menuju 7 tahun, sebuah momentum kebersamaan yang harus dirutinkan. Karena seiring bertambah usia anak, mereka akan punya dunia sendiri dan cenderung malas jika berkegiatan bersama orangtua (kata para senior eh teman, saudara dan kolega yang rata-rata anaknya sudah beranjak masuk bangku kuliah atau sekolah menengah atas).

Maka jika ada sempat dan waktu yang tepat, manfaatkanlah berkegiatan bersama. Ayah ibu dan anak dalam suasana yang berbeda dari rutinitas yang ada. Salah satunya adalah membuat sebuah bentuk sasaran bersama atau tema yang sama.

Apa kira-kira yang menyatukan kami?”

Jawabannya adalah jalan bersama, dalam suasana berbeda dan menikmati sajian makanan atau minuman yang disukai bersama. Kalau bapaknya jelas kohitala, berarti pilihannya manual brew coffee dengan metode pour over, V60, plat bottom atau kalau ada dengan shyphon dan ini adalah golongan sajian kopi tanpa gula.

Istri jelas memilih kopi juga tetapi ditemani fresh milk atau steamed milk, maka cafelatte, capucino, picollo atau affogato yang menjadi pilihannya. Sementara anak semata wayang juga sudah punya pilihan menu minuman lho, yaitu babycino dan hot chocolatte, lengkap khan… berarti tempatnya sama yaitu kedai kopi atau cafe kopi…. cusss berangkaaat.

Supaya lebih bermakna dan menantang, maka bingkai pencarian kopi ini ngikutin gaya generasi z dan millenial yaitu dengan kata kunci ‘hidden gems‘.

Jadi mari kita hunting tempat kopi yang tersembunyi, tentu versi kami. Berarti tidak perlu jauh tetapi memang relatif tersembunyi. Kebetulan kali ini, kami bertiga sedang beredar di Kota Jogjakarta.

Tempat pertama di sekitar daerah Sagan, dengan mengandalkan info dari Intagram lalu ditindaklanjuti dengan searching di google map plus didampingi sopir yang cukup hafal jalan ninja, maka tempat menikmati kopipun dapat ditemukan.

Namanya TEKOFF coffee & roastery, sebuah tempat ngopi yang homy. Jauh dari kebisingan jalan raya dan sepintas jika melewatinya tidak terlihat keramaian penikmat kopi. Hanya banyak motor parkir saja. Satu dua mobil yang parkir pinggir jalan. Pas melangkah masuk awalnya agak ragu karena ternyata banyak sekali yang lagi kongkow dan anak muda semua. Tapi cuek aja dan mencoba masuk menuju sang barista yang sedang beraksi.

Ternyata di dalam terdapat ruangan lagi yang ber-AC dan relatif kosong karena mayoritas pengunjung menggunakan tempat diluar untuk ngopi sambil merokok serta memang spacenya lebih luas. Nama IGnya @tekoffyk.

Kami bertiga leluasa ngobrol dengan mas Kiki, baristanya. Jelas pesanan kopinya kohitala, manual brew V60 dengan biji terbaiknya… eh ternyata arabika puntang… mantabbs. Istriku memilih cafelatte dan anak tersayang menunjuk hot coklat. Berhubung anak kecil ini cerewet dan nanya terus tentang kafe ini, ternyata dikasih bonus, segelas babycino, Alhamdulillah. Tidak lupa sopir juga pesan kopi susu gula aren dan menikmatinya di area luar karena sambil merokok.

Sebuah kebersamaan yang dapat dinikmati sesuai keinginan hati. Kopinya dapet, kumpul keluarga kecilnya juga. Sebuah kesempatan berharga yang akan menjadi kenangan indah disaat anak kesayangan ini beranjak dewasa.

Hidden gems tentang kopi yang kedua dan seterusnya adalah… tunggu ditulisan selanjutnya hehehe. Pantengin aja blog ini. Hatur nuhun. Wassalam (AKW).

****

TEKOFF Coffee & Roastery
GK 5 1053B Jl. Sagan Tim, Terban. Kec Gondokusuman Kota Yogyakarta.

NGASUH & KOPI

Libur tiba, kopi tetap ada. sruput & bermain bersama.

CIMAHI, akwnulis.com. Coretan kapur oleh tangan mungilnya menciptakan beraneka rupa dan bentuk yang miliki makna. Sebuah prosesi menyenangkan di kala kesempatan hari libur tiba. Awalnya memang tidak disengaja, tetapi nilai kebersamaanlah yang lebih penting sehingga hadirkan ide segar untuk bermain bersama.

Ayah aku bosen, ngapain ya?” Rengekan anak semata wayang ini mengingatkan bahwa sekarang waktunya untuk bercengkerama dan melepas smartphone serta tablet yang memiliki lem super kuat sehingga selalu senantiasa nempel di tangan nggak kenal waktu, luar biasa kekuatan lem perekat ini.

Kita main diluar
Yeaay lets go

Nah beranjak ke halaman belakang, baru ingat bahwa ada bagian halaman yang beberapa hari lalu diberi acian adukan supaya rata dan tidak becek dikala hujan menggenang. Sedikit sih, tapi lumayan bisa digunakan untuk bermain bersama.

Lalu, tangan dan jari jemari mencari kapur untuk sarana menulisnya. Oh iya ada kapur buat mengusir semut atau kecoa tuh di dapur, bisa dipake sementara sebelum nemu kapur tulis beneraan… tadaaaa.

Maka asyiklah si kecil dengan imajinasinya, menggambar segala macam yang dia bisa dan dia sukai, terutama terkait kucing, saat ini sedang sangat menyukainya.

Nah melengkapi kesenangan masing-masing, tidak lupa segera menggiling biji kopi dan lakukan seduh manual menggunakan filter V60. Dibuat dengan perbandingan berbeda, lebih banyak air panasnya agar hasil seduhannya lite bin ringan saja. Kebetulan lagi pengen yang ringan-ringan saja.

Tampilan kohitala kali ini lebih mirip teh, sedikit coklat dan agak bening. Tapi jangan salah untuk rasanya tetap mewakili kenikmatan kopi si hitam misteri yang kali ini ngabisin stok arabika wine sylvasari gununghalu…. seep gan.

Karena memang di setting lite, maka bodynya medium dan aciditynya ramah di lidah meskipun after taste berry dan tamarinnya tetap hadir meskipun tidak ninggal di ujung lidah.

Srupuut…. hmmmm nikmaat brow.

Ayah jangan ngopi terus, gambar yuk!”

Sebuah perintah sopan hadir untuk ditindaklanjuti segera. Maka simpan gelas kaca dan bejana lalu berganti pegang kapur pengusir tikus untuk menulis dan menggambar sesuatu. Maka tulisan pertama adalah ‘coffee.’ Dilanjutkan dengan sketsa wajah kucing yang ternyata jauh dari mirip… ya sudah biarkan saja apa adanya, minimal sudah ada niat menggambar hehehehe.

Itulah sejumput kebersamaan bersama anak tercinta di kala waktu libur tiba. Sebuah pesan terpatri dalam hati bahwa waktu sang anak tidak lama sebagai anak kecil yang butuh kebersamaan dengan orangtua. Beranjak remaja, maka dunia mereka berbeda. Inilah waktu yang tepat merajut kedekatan dan kebersamaan, terutama anak perempuan dan ayahnya. Hatur nuhun.

Selamat pagi dan selamat berkarya. Wassalam (AKW).

KOPI KANTOR KOPI DINAS

Urusan dinas, rapat offline dan Zoom meeting berjalan, hadirnya kohitala tetap menyertai.

BANDUNG, akwnulis.com. Pekerjaan bejibun dan tugas bertumpuk menjadi tantangan tersendiri minggu-minggu ini. Bagi tugas dan saling mengisi antar divisi menjadi sebuah kolaborasi yang begitu menguras energi. Tetapi itulah dinamika pekerjaan yang harus dihadapi sekaligus disyukuri. Karena diluar sana banyak saudara kita yang bingung mau mengerjakan apa, sementara disini begitu banyak tugas, alhamdulillah, mari berbagi pekerjaan.

Meskipun ada tugas – tugas yang memang tidak bisa diwakilkan, karena memang kita yang musti mewakili pak bos. Itu mah resiko, atur jadwal dan hadiri. Titik.

Nah bagaimana nasibnya ngopi, ditengah kesibukan ini?”

Ya nggak gimana-gimana, ngopi mah harus tetep jalan. Khan tinggal bikin atau dibikinin aja. Yang penting syarat utamanya satu. Metodenya manual brew dan jelas tanpa gula. Selesai.

Oh iya, supaya kualitas kopinya sesuai selera kita. Ya bekel sendiri, baru seduh di dapur kantor dengan peralatan manual brew V60 yang ready setiap waktu. Apalagi Bu Santi, TU kantor juga punya keahlian menyeduh kopi secara manual, cocok dah. Tambah lagi di lantai 2 ada juga sang barista, Ojan namanya. Pasti seneng dia bikinin manual brew setiap diminta, kecuali kalau pas beannya habis heuheuheu… kasiaan deh.

Kopi manual yang pertama, dibuat dengan hati-hato oleh Bu Santi menggunakan filter phisixti (V60) dengan panas 92° celcius dan gramasi 14gram membuat sajian kohitala yang nendang. Karena dimodali  bijinya adalah arabica wine sylvasari gununghalu tea geuning.

Para penikmat kopi terhenyak dengan sentuhan awalnya yang ‘menggigit’ dengan acidity poool… lalu bodynya pun medium high hingga aftertaste tamarind, citrun dan berrynya begitu menyayat hati… eh begitu paten menguasai rongga lidah serta memberi efek ninggal yang lumayan (moo bilang rasanya luar biasa, ntar pada komplen karena cuman cerita dan ngabibita sementara biji kopinya nggak pernah ngirim), harap maklum stok disetting limited supaya bisa memaknai kenikmatan dalam keterbatasan kawan.

Pak Galih, Rivaldi, Ojan dan Bu Santipun ikut menikmati sajian kohitala ini dengan gelas kaca tipis yang rentan pecah jikalau terbentur dengan benda keras, seperti kepercayaan yang terhianati maka hancur berantakan dan sulit dipulihkan. Tapi itulah kenyataan, maka kehati-hatian adalah kunci segalanya. Maksudnya hati-hati nyimpen gelas kacanya guys, bukan nyimpen rahasia.

Jadi sambil diksui… eh diskusi, juga rapat koordinasi via zoom. Bisa sambil ngopay bersama. Atau di kesempatan lain, nyuguhin tamupun bisa sambil ngopay kopi hitam tanpa gula dengan metode V60.

Nah gimana ngopinya kalau pas rapat diluar kantor?”

Ini mah rumusnya ‘mimilikan‘ atau sesuai rejekinya. Jadi kalau pas kebetulan rapatnya diluar kantor, semoga ada sajian kohitala meskipun berbasis mesin kopi.

Kalau yang pengen liat versi videonya, monggo klik aja link youtubenya : KOPI KANTOR | menyeruput kopinya di kantor ya guys.

Ternyata memang milik rejekinya, rapat di Resto Teras Akasya bahas urusan penting, ternyata ada sajian kopi. Cocok pisan gan, pekerjaan kelar dan ngopay pun jalan.

Pertama adalah kopi tubruk dengan biji kopi dari malabar jawa barat, alhamdulillah rasanya cukup lembut karena memang ditubruknya pelan-pelan. Kebayang kalau ditubruknya dengan keras, pasti tikusruk (terjerembab).

Kopi kedua lebih kepada kompromi dari sajian yang ada, karena seduh manual pake filter V60 tidak tersedia, maka berdamai dengan kohitala versi mesin kopi. Hadirlah segelas kecil espresso dan secangkir americano, tanpa gula. Sruput gan.

Itulah cerita kopi sambil berdinas sehari-hari. Jadi ngopi hitam tanpa gula adalah bagian dari keseharian, baik di dalam keseharian ataupun jika kebetulan hunting di luar kota baik itu karena dinas ataupun memang sedang beredar bersama keluarga.

Selamat nyruput si hitam tanpa gula, Happy weekend. Wassalam (AKW).

HEHA Sky view (Dragon Smoke vs Americano)

Nikmati pemandangan dan sruput selalu kopay.

JOGJA, akwnulis.com. Pergerakan raga dan rasa dalam mencicipi kopi beserta kelengkapannya terus tak terbendung. Disaat kohitala perdana di kunjungan ke Jogjakarta kali ini diawali oleh hadirnya KOPI V60 MANGLUNG. Maka petualangan harus berlanjut, sayang atuh udah jauh-jauh bergerak ternyata cuman meeting trus tiduran di kamar saja. Tapi beredarlah sebelum beredar itu dilarang hehehehe.

Maka insting pencarian kopi terus berlanjut, meskipun tentu tetap saja harus menyesuaikan dengan jadwal dan keinginan untuk mengacu kepada tempat wisata yang katanya ‘happening bingit.’ Yaitu HEHA sky view. Awalnya ingin mencoba menjajal HEHA ocean view, namun dengan berbagai pertimbangan dan juga saran masukan dari sopir selaku GPS. Maka dipending karena terlalu jauh dan lama sementara banyak anak-anak yang kecapaian setelah 6 jam perjalanan dengan KA Argowilis dari stasiun Bandung.

Isi perut dan kopi awal sudah aman di Manglung Resto & View. Jadi ke HEHA tinggal menikmati suasana. Dari Manglung resto ke HEHA ternyata cukup 8 menit saja. Nggak percaya?… ya entar coba aja.

Tangga HEHA resto / dokpri.

Ternyata, HEHA memang besar dan megah. Namun seperti pasar kaget karena pengunjung begitu membludak. Untuk pengelola tentu ini yang dicari, tapi bagi kami penikmat suasana, terasa hiruk pikuk ini agak mengurangi kenyamanan.

Masuk ke HEHA sky view membayar Rp 20.000 per orang dan didalamnya bisa berjalan-jalan mencari posisi dan spot menarik sesuai keinginan terutama pemandangan sunset yang katanya begitu spektakuler. Tapi karena terlalu banyak orang, sulit mengabadikannya. Ya sudah apa adanya saja.

Meskipun kemalasan mengabadikan sedikit terobati dikala melihat seorang ibu berbaju kuning rebahan dengan santai, menikmati suasana sekaligus ketiduran. Sebuah ilmu tingkat tinggi dimana bisa menemukan kesunyian ditengah hinggar bingar dan kegaduhan. Eh atau memang udah kelelahan ya?… jadi cape ngantuk nggak nahan, entahlah.

Untuk menjaga mood tetap di level yang baik, maka saatnya hunting kopi guys. Tapi sebelumnya tetep ngikutin keinginan anak untuk mejajak jajanan yang katanya happening di HEHA ini, yaitu Dragon Smoke. Harganya 25rb perporsi.

Kirain apaan, ternyata chiki bentuk kotak yang diberi nitrogen cair. Nah makannya ditusuk pagi tusukan dari bambu, lalu berasap deh dari mulut kita, atau kalau mulutnya ditutup bisa keluar asap dari hidung…. ohhh pantesan namanya naga merokok (dragon smoke) hehehe… ada – ada aja. Pasti ketawa – ketawa pas makannya, apalagi sambil mengepul asapnya.

Tapi hati-hati, kalau tidak terbiasa bikin tenggorokan gatal, kering dan batuk lho. Jadi saran kalau beli satu porsi, makan bareng-bareng aja. Bukan masalah ‘iritisasi‘ tapi khawatir menimbulkan iritasi di rongga mulut.

Pilihan makanan lain masih banyak namun tak berani lagi beli karena bejubel dan banyak orang. Maka mlipirlah menuju restoran sambil berharap bisa mendapatkan view sunset terbaik dan ditemani sajian makanan terbaik.

Ternyata, di restoranpun sudah penuh hehehehe, ada beberapa meja tersisa tetapi bukan di posisi strategis samping kaca. Ya sudah duduklah dan pesan cemilan plus kopinya americano.

Khusus yang males baca tapi pengen liat video youtubenya, ini dia linknya : KOPI DI JOGJA VOL 1.

Rebutan sunset / dokpri

Hehehehe, ternyata lama juga. Akhirnya mendokumentasikan suasana yang ada dan menikmati minuman yang disajikan. Americano ya rasanya begitu, agak sulit bahas body, acidity dan aftetastenya. Yang pasti kepahitannya tetap memberi nuansa berbeda, apalagi jaraknya jauh dari rumah, ya sudah kita nikmati saja.

Eh ternyata anak – anak mulai cranky dan nggak sabar menanti pesanan cemilan, tetapi tak kunjung tiba, mungkin karena banyak sekali pesanan. Maka kami menyerah, akhirnya diputuskan bungkus saja. Masih menunggu beberapa saat waktunya.

Tepat sruputan terakhir secangkir americano, pelayan datang dan mengabarkan pesanan sudah dibungkus dan siap bayar. Yuk ah bayar dulu. Eh sruputtt habiskan dulu americanonya brow.

Americano at HEHA resto sky view / dokpri.

Itulah cerita singkat perjalanan ngopay di kota Jogja edisi 2, edisi satunya khan KOPI MANgLUNg. Akhirnya raga bergerak menuruni dataran tinggi ini, dan menuju tempat hotel yang akan diinapi dengan estimasi perjalanan 46 menit dari sini. Wassalam (AKW).