KOPI Ikhlas Cirebon

Bermain makna dalam kutipan rasa.

CIREBON, akwnulis.com. Menjelajahi sepi meresapi sederet arti dalam balutan fana ketidakpastian adalah sebuah fase kehidupan. Sebuah rencana yang sudah disusun dengan (mungkin) sempurna ternyata harus buyar karena sebuah kondisi dimana alam tidak mendukung. Maka beragam reaksi muncul dengan aneka varian, membuat analisa masing-masing baik berdasarkan (katanya) keilmuan ataupun asbunisasi (asal bunyi – sasi).

Disini terlihat kualitas pribadi seseorang dalam menyikapi suatu kejadian. Mayoritas sih mengungkapkan kekecewaan dengan semburan kata dan kalimat atau minimal memunculkan wajah tegang seolah terlipat, sebagian lagi menjadi sedih karena telah melakukan pengorbanan demi terwujudnya moment ini. Tapi ada juga yang menyikapi dengan biasa saja, karena memiliki keyakinan bahwa semua ini sudah ada maha kreator yang mengatur terjadi atau tidaknya suatu kejadian dalam dunia yang fana ini.

Nah ini yang menarik, yaitu respon perilaku dari suatu kejadian yang bertentangan dengan harapan dan keinginan, inilah hal sederhana yang bisa digunakan untuk melatih nilai hakiki, yaitu Keikhlasan.

Salah satu cara menjalani ketidaksesuaian antara rencana dengan kenyataan adalah menyeruput kopi hitam dimanapun anda atau saya berada.

Kenapa harus Kopi Hitam?

Karena segelas atau secangkir kopi hitam tanpa gula mewakili kepahitan kenyataan di dunia yang harus diterima. Manakala kita bisa menemukan rasa berbeda dari kepahitan sajian kopi, maka tidak sulit untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan yang sedang mendera tiada henti.

Apalagi jika mampu mendefinisikan rasa dari kopi hitam tanpa gula, yang ternyata menyimpan beratus rasa serta bersedia bersemayam sesaat di lidah segar yang kita punya, sebuah berkah kenikmatan tiada hingga.

Photo tentang kopi tubruk di 2 tempat di sekitar Kabupaten Cirebon ini hanya ilustrasi saja, tetapi mewakili sajian rasa manis dari kepahitan cairan kopi tanpa gula yang ada disela-sela tugas yang penuh dinamika.

Photo pertama berada di sebuah kantor dan sang kopi di gelas begitu nyaman karena keberadaanya ditemani oleh kawan-kawannya yang disebut lalawuh (b.sunda).

Photo kedua, sang gelas kopi nangkring di meja makan sebuah rumah makan dengan background-nya sajian pilihan makanan a la carte dan berakhir di kasir yang terus bersiaga.

Keduanya kopi hitam tanpa gula, tetapi sesudah diseruput maka terdapat serpihan rasa manis dan ketenangan yang membelai lidah serta memberi nyaman di dalam lambung.

Bagi yang belum bisa meraih nikmat dari kopi hitam atau kopi tanpa gula, tidak usah berkecil hati, tetaplah bersyukur karena sang lidah masih bisa menikmati rasa lainnya bukan hanya dari sajian kopi hitam saja.

Selamat mensyukuri hari, dan memaknai setiap kejadian yang dialami. Wassalam (AKW).

Rehat di Klapa manis.

Rehat sesaat yaaa….

Photo : Sajian teh poci / dokpri

CIREBON, akwnulis.com. Memeras otak dan mencurahkan perhatian dalam suatu forum pertemuan harus didukung oleh phisik yang prima dan suasana hati yang nyaman. Meskipun kenyataannya sering tidak sesuai, ada kalanya hati nyaman dan siap berfikir… eh tapi phisik lelah… jadi ajah lemot nggak bisa mikir.

Begitupun sebaliknya, disaat raga bugar sebugar-bugarnya tetapi hati sedang rapuh maka beresiko emosional atau baper (bawa perasaan) menghadapi perdebatan yang terkadang hadir dalam suasana tegang dan saling menyerang atau bertahan (dengan kata-kata yaa… bukan dengan jurus beladiri)… jikalau harus bersilat, cukuplah lidah yang bersilat… namanya silat lidah hehehe.

Trus gimana klo situasinya lagi baperan atau pusing dengan tekanan kerjaan sementara meeting tetap harus dilaksanakan?

Ini butuh treatment tertentu, ada penyeimbang dan pendamai perasaan yaitu dengan rehat sejenak dan tarik nafas panjang sambil sedikit memejamkan mata dan mengingat Allah Subhanawataala…. jangan lupa, cari tempat rehat yang nyaman dan tenang… seperti kali ini.

Tempatnya luas, pemandangan yang tersaji adalah kerlap kerlip lampu kota udang cirebon serta pilihan menu makanan dan minuman yang bervariasi.

Karena judulnya rehat jadi tidak memilih makanan berat, cukup kudapan dan minuman yang cenderung sehat. Maka jatuhlah pilihan kepada sajian teh poci panas dan kelapa muda yang menjadi simbol dan nama restoran ini yaitu Kelapa manis.

Kudapannya terlihat tidak mengenyangkan yaitu stik tape, ternyata sajian segitu memang tidak mengenyangkan tetapi menenangkan.

Photo : Kelapa muda di Klapa manis / dokpri.

Urusan rasa dari minuman dan makanan yang disajikan cukup memuaskan, karena memang untuk makanan dan minuman hanya ada dua pilihan dari lidah ini, rasa enak dan enak bangeeet hehehe 😀😀😀.

Nyam… nyam.. nyam, mulut mengunyah sambil berbincang dengan teman-teman seperjalanan, menapaki menit demi menit rehat, memberi kesegaran baru yang berguna untuk menyeimbangkan rasa dan konsentrasi bekerja.

Semangaaaat, begitulah sebuah dinamika bekerja, Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
RM Klapa Manis, Jl. Gronggong, Patapan Kec. Beber Kabupaten Cirebon Jawa barat.

Kopi & Kawan Sejati.

Kopi dan Udud, apakah kawan sejati?

CIREBON, akwnulis.com. Sebuah persahabatan dan pertemanan memiliki kadar kekentalan variatif, banyak faktor yang melingkupi. Kawan menjadi lawan, musuh menjadi sekutu bukanlah hal yang baku. Tetapi pertemanan abadi juga bukan hal yang tidak pasti, malah inilah yang harus dijaga dengan sepenuh hati.

“Ngomongin apa sih kamu?.. lagi kecewa ya?”

“Nggak brow, aku mah lagi fine fine aja”

Sebuah jawaban singkat sambil menyusun puzzle kehidupan yang diwakili oleh sebungkus rokok dan panekernya, sebungkus kopi arabica cawene garut, kunci mobil plus remote dan sebuah tanda no smoking sekaligus penanda tempat dimana semua barang ini berada (pada saat diphoto maksudnya).

Dari photo tersebut adalah sebuah frame persahabatan yang kental antara kopi dan rokok atau disebut juga Udud (b. sunda). Betapa akrabnya kopi dan udud ini, dimana ada segelas udud maka akan hadir sebatang kopi… eh tibalik… yaa gitu deh maksudnya.

Betapa nikmatnya nyruput kopi sambil merokok… itulah gambaran umum yang terjadi.

Padahal tidak semua kopi berteman dengan udud. Kopi dinikmati sendiri dan tentu tanpa hadirnya rokok alias udud.

Bisa gitu?”

“Bisa pisan 😀😀😀 ”

Jadi yang tertarik menikmati kopi tidak perlu khawatir jadi musti merokok. Kopi dan rokok bukan sahabat sejati, tetapi kopi dan rokok sesekali bersua untuk silaturahmi, khususnya seperti yang tertera di photo awal tulisan ini.

Maka kembali kepada rumus kawan, berkawanlah biasa tanpa perlu berlebihan, apalagi terlalu menggantungkan harapan kepada mahluk yang fana… bersiaplah kecewa.

Selamat menambah kawan dalam setiap momentum yang ada, kawan sejati yang akrab di dunia tetapi juga merajut pahala untuk bekal di akherat sana. Wassalam (AKW).

***

Lokasi : Hotel Patra Cirebon.

Kopi Cerbon.

Sruput dulu…

CIREBON, akwnulis.com. Bukan dilihat dari hitamnya kopi, tapi ada faktor lain yang perlu menjadi dokumentasi. Itulah salah satu daya tarik menulis tentang kopi, banyak faktor yang melingkupi.

Kopi ini jelas jenis bean biasa, yang pasti robusta, pahitnya khas tanpa rasa lainnya. Tapi dibalik kepahitannya tersimpan pembeda, yaitu cangkir yang disajikannya. Cangkir keramik putih berlogo… eh lambang.

Pasti langsung di zoom, lambang apa?… ini lambang pemerintah Kabupaten Cirebon dengan ‘Rame Ing Gawe Sepi Ing Pamrih’ adalah motto ksatria yang giat bekerja keras dengan harapan yang suci.

Selamat menikmati secangkir kopi dinas, sambil menunggu saat yang tepat membahas sebuah perubahan kelembagaan yang penuh dinamika.

Sruputtt, Wassalam (AKW).

Kopi & Merger

Ngobrolin merger, lebih asyik sambil ngopay…

Photo : Sajian V60 Arabica Toraja / dokpri.

CIREBON, akwnulis.com. Tulisan kali ini diawali oleh sebuah kalimat tanya, “Kenapa BPR harus merger?”

“Weits nggak bahas kuuupi bos?”
“Nggak atuh, jangan kopi melulu, supaya variatif dan berwarna”

“Oke, kopi khan mewakili warna hitam atau coklat, lha BPR entar nampilin warna apa kang”

“Yaaa… entar aja liat sendiri”

Balik lagi ke pokok pertanyaan diatas, yang dimaksud disini BPR adalah Bank Perkreditan Rakyat.

“Bentar.. bentar, apa bedanya dengan Bank Umum?”

“Ya jelas beda donk, dari tulisannya aja beda, trus klo disingkat, BPR dan BU, jelaaaaas beda!!!”

Jawaban yang tegas tapi maksa, memaksakan kehendak itu namanya.

Photo : Tampak depan cafe Keboen nDalem / dokpri.

Nggak usah jadi perdebatan, kita balikin aja pada aturan, dimana semua urusan bank ini berkiblat sama UU No.10/1998 Tentang Perbankan. Di UU ini dijelaskan pengertian bank dan pembagian istilah atau pengertiannya.

Nih klik aja, Perbedaan Bank Umum dan BPR.

Terkait pertanyaan awal tentang merger, maka perlu dijelasin dulu tentang makna dari kata ‘merger’.

Merger adalah……

Kata Mbah Van the Grinten, Merger atau fusi adalah berleburnya/bersatunya beberapa perusahaan sehingga dari sudut pandang ekonomi menjadi satu kesatuan… gitu pren.. trus…

Nich klo pengertian versi UU 40/2007 Tentang Perseroan Terbatas pasal 1 angka 9, merger atau dikenal dengan istilah penggabungan adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh satu perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva perseroan yang menggabungkan diri beralih kepada perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum.

Intinya adalah penggabungan perusahaan dan salah satu dari perusahaan penggabungan itu menjadi perusahaan baru dengan menanggung hak dan kewajiban dari seluruh perusahaan yang bergabung tadi.

“Walahh serius pisaaan… ngopaynya mana?”

Klo urusan ngopay maka segera…. cusssss…….. bergerak di daerah Kota Cirebon ke arah pelabuhan, tepatnya di Keboen nDalem Cafe & Roastery, Jalan Kesambi No 65 Cirebon.

Photo : Sang Baristi Keboen nDalem cafe / dokpri.

Sang Barista, Mas Uyun langsung meracik Arabica Toraja dengan komposisi 1 : 20 (by request) dengan panas 89° celcius menggunakan V60 dalam prosesi manual brew-nya. Tidak lupa sang Baristi hadir juga menemani dan membuat sajian kopi lainnya.

Srupuut…. nikmaaat, rasa murni kopi asli menyecap di hati. Mengubah cuaca panas Kota Udang Cirebon menjadi adem…

Ya iya khan ini pake AC dalam ruangan… Hehehehe iya juga.

“Eh… Jadi lanjutan penjelasan BPR harus merger itu gimana?”

“Kalem ah… yuk ngopay dulu….”

Srupuut, …… sabar yaa, tunggu tulisan berikutnya. Wassalam (AKW)

***

Kopi Cirkunsum

Beredar di 3 wilayah dan dapat 3 kopi.

Photo : kopi tahu / dokpri

CIMAHI, akwnulis.com. Nulis tentang kopi memang membuat inspirasi tidak pernah berhenti. Meskipun bukan kopi dalam arti sebuah sajian kopi, tetapi tetap unsur kopinya menjadi bagian utama dalam drama kehidupan ini.

Minggu lalu, perjalanan raga ini beredar di wilayah Ciayumajakuning.. eh minus indramayu tapi ditambah sumedang. Berarti ke wilayah Cirkunsum… ah kamu mah bikin singkatan seenaknya banget.

“Lha… knapa ada yang sewot?”

Sebuah singkatan bertujuan mempermudah mengucapkan serta membuat menempel di memori lebih lekat. Meskipun terkesan lebay. Contohnya : GoimJekisam (Goreng Ikan Mas Jeruk Sunkist sambel)… itu khan seena’e dhewe… tapi khan jadi unik. Bener nggak?

Lupakan dulu singkatan-singkatan, sekarang kita bahas perjalanan ke wilayah Cirkunsum.

Pertama, Kopi Tahu (Tofu coffee)
Nah apa itu?… nggak usah pake mikir, ini hanya sajian kopi hitam tanpa gula ditemani tahu sumedang sepiring lengkap dengan cabe rawit (cengek) yang digoreng sebentar. Rasanya nikmat, sruput kopi, am tahu sumedang yang masih hangat dan empuk… nikmaat.

Mana lontongnya?….” Demi alasan pencitraan, maka lontongnya tidak tersaji pada gambar hehehehehe. Sajian ini hadir di daerah Ujungjaya Kabupaten Sumedang.

Photo : Kopi buah / dokpri.

Kedua, Kopi Buah (fruit coffee)
Kalau ini tersaji di daerah Beber Kabupaten Cirebon. Kopinya tetap kopi hitam tanpa gula, yaa kopi kapal api juga nggak apa-apa. Lagian sebagai tamu nggak sopan dong kalau minta pribumi nyiapin kopinya manual brew dengan metode V60 dan beannya arabica wine.

Nggak lucu atuh.

Maka cara terbaik adalah nikmati dan syukuri, terus buat kombinasi, photo dan jangan lupa bikin singkatan. Ini namanya Kopi Burusak (ramBUtan jeRuk SAlaK)…. kerasa khan maksanya?…. tapi jikalau ada komplen, saya terima. Tinggal edit dikit dan berubah, khan ini blog pribadi… lagian daripada share berita hoax mendingan bikun tulisan di blog pribadi dan… share. Bener nggak?

Photo : Kopi Luwak lieuk / dokpri.

Ketiga adalah Kopi Luwak lieuk (coffee alone).
Apa itu?…
Kopi ini tersaji di Wilayah Kuningan. Kopi luwak sachet… di klaimnya kopi luwak asli. Ya gpp… sruput aja. Urusan kualitas rasa.. ya pasti beda dengan hasil metode manual brew yang bersih tanpa ampas. Nah untuk namanya ‘Luwak lieuk‘ itu merujuk ke bahasa sunda ‘Luak lieuk’ atau culang cileung… eh masih sundanesse… artinya nengok kanan kiri dan ke segala arah karena merasa sendirian.

Naah… kopi luwak ini merasa sendirian karena tidak ditemani sajian lainnya hehehehehe.

Begitulah muhibah kopi ke 3 kabupaten di Jawa barat ini.

“Jadi kamu jalan-jalan itu cuman buat nulis kopi?”

Jawabannya jelas : BUKAN. Saya beredar dan berjalan-jalan ini karena tugas pekerjaan yang harus dikerjakan seiring peralihan tugas yang baru. Nah tulisan kopi ini sebagai bumbu penyemangat bahwa ada sisi lain perjalanan dinas yang bisa di eksplorasi.

Jalani, rasakan, tulis, dan nikmati…. secara keseluruhan.. jangan lupa Menikmati.

Dont forget, my blog principle is Simple Story With Simple Language (SSWSL). Wassalam (AKW).

Teh Batik

Minum teh poci bermotif batik, mau?

Photo : Teh motif batik / dokpri

CISARUA, akwnulis.com. Imajinasi dan kesempatan jika bertemu disaat yang tepat, maka akan menghasilkan suatu gambaran yang indah. Meskipun dalam penilaian subjektif, hasil karya itu bisa dimaknai dengan berbagai sudut pandang.

Nah, diriku tidak pernah ambil pusing dengan itu. Biarkan mengalir saja dan terus berkarya. Menulis secara rutin dan dipadukan dengan pengambilan photo yang tepat, maka kepuasan pribadi akan didapat.

Bukan apa-apa, setelah berlalu satu tahun lebih. Blog ini bisa dipertahankan dengan mengusung prinsip ‘originalitas’ yakni photo jepretan sendiri dan tentu tulisan sendiri. Yaaa.. mungkin 5-7% ada juga photo orang lain, atau tulisan dari sumber lain, secara etika maka dicantumkan sumbernya. Meskipun itu sangat diminimalkan.

Pegang prinsip adalah sebuah kepuasan. Itulah yang memberi warna dan membangun asa, dalam dinamika kehidupan yang penuh suka dan duka.

Meskipun tidak hanya bicara keterpaduan, ada juga istilah keberuntungan. Niat kita photo suatu objek, ternyata memiliki makna ganda karena efek pantulan, sudut cahaya atau gerakan tak sengaja yang memunculkan beda suasana.

Gambar yang ditampilkan diatas berjudul ‘Teh Batik’, mungkin akan memancing penasaran atau mungkin tidak sama sekali. Tapi jikalau tertarik, lihatlah permukaan gelas tanah yang berisi teh tersebut, terlihat motif batik yang sangat jelas.

Coba lihat.

“Ada?”

“Iya ada, bisaan”

“Alhamdulillah, lucky shot”

Keberuntungan disini adalah, efek dari gordin batik yang tidak sengaja memantul di permukaan air teh, coba lihat dengan seksama.

Asli lho, itu tidak disengaja. Tapi terserah percaya atau tidak. Itu khan pilihan. Monggo bae.

Udah ah, itu dulu untuk hari ini. Selamat mensyukuri hari wiken bersama keluarga tercinta. Wassalam (AKW).