TELPON & ASMARA

Matikan handphone disaat sholat, jika tidak, maka …….

Photo : Ini hape ‘cinitnit’ sebagai ilustrasi / dokpri.

JATINANGOR, akwnulis.com, Hampir minggu ketiga menjadi penghuni rumah dinas camat, sudah mulai terbiasa dengan berbagai keunikannya. Urusan sholat tiba-tiba ada yang makmum tapi tidak ada wujudnya, ya sudah dibiarkan saja. Yang penting tidak mengganggu apalagi menampakkan diri. Bisa berabe nanti.

Cerita yang makmum bisa di baca di MAKMUM SHOLAT.

Hari ini pekerjaan begitu banyak, berbagai aktifitas yang harus dilakukan dalam rangka persiapan lomba kinerja kecamatan tingkat kabupaten.
Berbagai rapat terus bergulir, pencarian sponsor, penyusunan dokumen administrasi termasuk pembenahan area kantor sehingga betul-betul bisa menampilkan sebuah kantor pelayanan masyarakat yang diharapkan oleh masyarakat selaku klien utama.

Salah satu yang harus sedikit terkorbankan adalah urusan pribadi, pacaran terpaksa banyak tertunda, pertemuan di-pending demi keberhasilan kantor kecamatan, ahaay.

Melepas rindu hanya via telepon saja, ataupun sms-an. Meskipun terkadang muncul ketegangan karena pas ditelepon pacar, sedang sibuk dengan pekerjaan, padahal waktu sudah malam. Akibatnya muncul rasa cemburu berbalut curiga, disangka tidak peduli padahal sedang berjuang demi suatu tugas hakiki.

Ditambah lagi dengan kejadian di rumah dinas, bikin meruncing hubungan asmara ini.

Begini kejadiannya, malam itu masih ramai di kantor kecamatan, kerja lembur barengan demi menuntaskan berbagai persiapan lomba kinerja kecamatan. Renovasi ruang pelayanan hampir tuntas dilakukan, pengecatan terakhirpun dilakukan gotong royong hingga tak terasa adzan isya berkumandang.

Diriku masih berkutat dengan pembuatan presentasi dan video pendek tentang profil kecamatan. 14 tahun lalu merupakan suatu perjuangan besar disaat mau mengedit hasil videocamera yang berbentuk mini kaset, dipindahkan ke dalam file digital lalu ditambah suara dan musik. Proses rendering yang membutuhkan waktu yang lama dan komputer yang mumpuni.

Klo sekarang mah tinggal nenteng smartphone, shoot objek video dan photo-photo, rekam suara pake smartphone yang sama, trus gabungin semuanya dengan aplikasi pembuat video yang bisa dengan mudah di download seperti : vivavideo, kinemaster, videoshop atau quick dll.

Tapi dulu…. nyari software adobe premiere aja udah susahnya minta ampun.

***

Jam 20.10 wib pamit dulu mau sholat isya di rumah dinas, sekaligus ‘hareudang (gerah)’ pengen mandi. Ntar balik lagi gabung dengan teman-teman yang lagi kerja lembur.

Nyampe di rumah dinas, jangan lupa baca doa-doa, termasuk doa ‘ayat kursi’, doa andalan. Segera masuk ke kamar depan, menyambar handuk dan mandi di kamar mandi dengan penerangan temaram.

Tuntas mandi, mencoba menghubungi nomor telepon pujaan hati. ‘Tuuut….. tuuut… tuut’ … ada nada sambung, tetapi tidak ada jawaban.

“Ya sudah, aku sholat isya dulu saja.” Suara hatiku diamini oleh raga, handphone disimpan di meja belajar dan diri ini bersiap menunaikan sholat isya.

“Allahu akbar….” Takbiratul ihram memulai shalat isya ini. Udah nggak terlalu khawatir dengan yang ‘Amiin tiba-tiba, mungkin karena sudah terbiasa hehehehe.

****

‘Beep… beeeep… beeep!!’ Suara telepon masuk sedikit mengganggu konsentrasi sholat di rakaat terakhir ini. Tapi setelah itu tidak ada bunyi lagi, sehingga hingga akhir shalat, konsentrasi bisa berpadu kembali. Entahlah jikalau nilai khusuk atau tidaknya, Wallahu alam bissowab.

Tuntas sholat dilanjut dzikir singkat, lalu bergegas ke kamar menuju handphone nokia 8210i, penasaran dengan orang yang menghubungi.

“Tidak ada tanda misscall” berbisik dalam hati. “Tapi tadi terdengar suara telepon masuk, ah mungkin tadi hanya godaan pas sholat aja kali”

Ya udah nggak dipikirin lagi, mending nelepon sang pujaan hati. Rindu tapi malu, karena memang hubungan agak merenggang akibat kesibukan ini.

‘Tutt… tuttt….tuut’ nada sambung menunggu diangkat.

“Assalamuala…” belum tuntas ucap salam, terdengar bentakan dari seberang sana, “SIAPA CEWEK YANG SAMA KAMU SEKARANG?”

Bingung…..

“AYO JAWAAAAB….. TADI DIA BILANG ‘Tunggu bentar, bapaknya lagi sholat’…..(terdengar isak perlahan..)

…… KITA PUTUS!!!!!!”

‘Tut.. tut… tut.. Sambungan terputus, sembari sebelumnya diantara bentakan terdengar nada kesedihan.

Aku terdiam, bingung.

Dicoba telepon ulang, … tidak bisa dihubungi… hiks hiks.

Terasa raga ini lunglai, bagaikan kapas disiram air. Ngeglosor ke lantai kamar.

Perlahan coba buka record panggilan di hape. Ternyata betul tadi pas sholat, pujaan hatiku nelpon.

Tapi tidak ada tanda miscall, karena sudah ada yang menerima teleponnya, dan….. menyampaikan bahwa diriku sedang sholat.

“Sialaaan!!” Geram menyergap rasa, sungguh tega semuanya.

Jelas-jelas handphone tergeletak di meja dan terlihat pada saat sholat, “Lha siapa yang nerima telepon?”

Langsung berdiri dengan amarah menggelegak, berbalik memandang ke ruang tamu yang temaram.

“Siapa tadi yang mengangkat telepon ini pas diriku sholat!!!, ayo ngaku, tampakkan wujudmuuu…… “ suara parauku memecahkan kesepian ruamh dinas. Kecewa, sedih dan dongkol menyatu dalam hati.

“SIAPAAA??”

Tidak ada respon, hanya desau angin malam yang bergerak, ikut merasakan kegalauan tingkat tinggi ini.

***

Diujung gorden sebelah luar, sebuah bibir tersenyum, lalu perlahan menghilang. (AKW).

RUMAH DINAS CAMAT

Cerita masa lalu di saat mengawali karier di kota leutik camperenik.

Photo : Kota Sumedang dilihat di puncak Toga / Dokpri.

Penugasan menjadi seorang Amtenaar*) muda di sebuah kecamatan dengan memegang jabatan perdana terasa begitu membanggakan.
Sebuah amanah jabatan dalam struktur yang pertama, dimana sebelumnya berkutat dengan jabatan fungsional pelayanan pimpinan.

Sebuah kebanggaan tiada tara, karena meskipun jabatan adalah sebuah tanggung jawab besar. Tetapi secara manusiawi tetap tergoda untuk merasa senang atau mungkin mendekati area kesombongan. Maafkan aku, karena jiwa muda yang masih bergejolak dan jam terbang kehidupan masih terbatas.

Hari kedua setelah dilantik oleh Bupati secara massal di sebuah Gedung olahraga, bergegas menuju kantor kecamatan yang dituju. Sebuah kecamatan yang berada di wilayah Kota Sumedang yaitu Kecamatan Sumedang Selatan.

***

“Selamat pagi pak, kalau Bapak Camatnya ada? Saya mau menghadap”

“Silahkan isi buku tamu dulu pak, ada keperluan apa?”

Sepenggal dialog dengan petugas depan berseragam Satpol PP menjadi pembuka cerita pagi itu, di kantor yang baru. Sembari memperhatikan suasana kerja di kecamatan, rasa senang kembali menyeruak di dada, “Ini pasti uforia jabatan.”

Ruang tunggunya adalah bangku panjang yang juga digunakan untuk masyarakat yang mengajukan berbagai keperluan administratif. Di depanku, para petugas terlihat serius mengerjakan tugasnya masing-masing, baik menulis di buku-buku besar ataupun tenggelam di depan monitor komputer yang dilengkapi printer dengan suara khasnya. Begitupun suara mesin tik yang menandakan suatu proses pelayanan sedang berjalan.

“Silahkan masuk pak, Bapak Camat sudah menunggu”

Sebuah sapaan sopan yang membuyarkan lamunan, segera beranjak mengikuti langkah anggota Satpol PP menuju ruang kerja Camat.

***

Selamat datang, selamat bergabung……. dst”

Penyambutan ramah dari Pak Camat membuat penyesuaian di tempat baru ini bisa lebih akseleratif. Diskusi ringan diselingi petunjuk kerja dan kebiasaan disini, menjadi pedoman langkah untuk memulai bekerja lebih giat.

Fasilitas kerja berupa ruang kerja dan motor dinas edisi sepuh juga ada, termasuk jika mau menggunakan rumah dinas camat sebagai tempat kost dipersilahkan, ini yang menarik, yang menjadi pangkal cerita dalam tulisan ini, cekidot.

–**–

RUMAH DINAS

Rumah dinas camat ini berada tepat disamping kiri kantor kecamatan, pasti begitu, dengan tujuan agar seorang camat bisa dengan cepat mememuhi tugas dalam memberikan pelayanan terbaik kepada warga atau rakyat yang ada di wilayahnya.

Nah khusus di Kecamatan Sumedang Selatan ini, Camatnya tidak menempati rumah dinas karena rumahnya memang deket ke kantor, bukan hanya camat yang sekarang tetapi juga camat-camat terdahulu.

Jadi rumah dinas ini lebih dimanfaatkan untuk ruang penunjang kegiatan kecamatan, seperti untuk rapat-rapat ataupun ‘botram’,

“Are you know botram?”

Itu tuh makan-makan barengan dengan menu tertentu atau terkadang alakadarnya. Masak bareng-bareng di sela kerja, trus dimakan bersama seperti nasi liwet, jengkol, pete, kerupuk dan jangan lupa sambel dadak terasi plus lalapan, juga tahu tempe plus asin, nggak lupa ayam goreng, gurame bakar pais lele, gepuk juga sayur lodeh…. halaah party atuh ini mah.

Kembali urusan rumah dinas, tentu gayung bersambut. Diriku butuh penghematan dengan gaji terbatas, sehingga dengan menggunakan rumah dinas ini maka biaya kost bisa dihapus. Di tahun 2005, uang 300 ribu itu sangat berharga. Biaya kost 1 bulan bisa ditabung demi masa depan, hahaay. Klo nggak salah gaji tuh 1,1jt atau 1,3juta. Pokoknya penawaran kost gratis di rumah dinas ini adalah kesempatan emas, titik.

Nggak pake lama, segera beres-beres di kost yang lama dan kebetulan tinggal 3 hari lagi. Nggak terlalu banyak barang karena memang hanya seorang anak kost perantauan, cukup satu tas gendong besar dan 1 tas jinjing. Sama 2 dus buku-buku dan pernak-pernik. 2 kali balik pake motor juga selesai.

Dengan dibantu kawan-kawan baru di kecamatan, hari sabtu menjadi momen beberes rumah dinas agar layak digunakan. Kamar depan di setting sebagai kamar kostku, sementara 2 kamar lainnya difungsikan sebagai gudang tempat penyimpanan barang-barang inventaris kantor, meskipun untuk kamar darurat masih bisa difungsikan.

Lantai ruang tengah dibersihkan, di sikat dan dipel bersama-sama, lalu dipasang plastik dan terakhir karpet kantor. Sebagian dipasang satu set meja kursi dan diujung depan kamar dibuat menjadi mushola darurat, cukup buat 15 orang berjamaah.

Kamar mandi dalam diperbaiki, minimal ada air yang bisa digunakan mandi cuci kakus. Sementara kamar mandi belakang, dapur dan ruang gudang belakang praktis tidak digunakan karena kondisinya memprihatinkan.

Tapi itu nggak masalah, lha wong bujangan. Makan tinggal beli ke warung depan atau nebeng sama pegawai kecamatan klo makan siang. “Asyik khan?”

Esok harinya, aku mulai tinggal di rumah dinas camat itu. “Bismillahirrohmaniirohim…”

***

*)Amtenaar : pegawai negeri.

Cerita selanjutnya tentang rumah dinas ini segera dirilis. Wassalam (AKW).

Cerita Ramadhan – Pentakbir Misterius

Acara Takbiran di Mesjid yang berakibat fatal akibat adanya Pentakbir Misterius. (Cerita terakhir edisi Cerita Ramadhanku tahun ini)

Photo : Ilustrasi suasana di dalam mesjid/dokpri.

Selepas ikut jamaahan shalat isya, kami… berlima sudah prepare phisik dan mental untuk melaksanakan tugas sebagai petugas takbir cilik di Mesjid Besar Gununghalu…..

Yup… umur kami masih cilik-cilik.. aku 10 tahun sama dengan Dade dan Hendra sementara Yayan dan Deden lebih tua 1 tahun… kami sama di kelas 4 SDN Gununghalu I dan SDN Gununghalu IV sekaligus sepengajian di pengajian rutin ‘Mang Ikin’ Mesjid Besar Gununghalu.

Tahun lalu kami masih anak bawang dan belum diberi kepercayaan sebagai petugas takbir karena dianggap masih kecil…. padahal kami semua memang masih kecil heu heu heu…

Nah tahun ini amanah tugas ini diberikan kepada kami untuk memback-up para orangtua yang tentu sudah standbye dari tadi..

“Allaaaaaahu Akbar….Allaaaahuakbar… Allaaaahu Akbar… Laaaa ilaaa haillallaaaah huwawlaaa hu akbar, Alaaaaahuakbar Walillaaaa ilham…”

Kalimat takbir saling bersahutan dan memberi getar kerinduan serta kesedihan… betapa ramadhan sudah pergi.. dan semoga bisa berjumpa dengan ramadhan tahun depan…

Eh tapi seneng juga… baju baru, banyak makanan, banyak angpaw… libuuur lagi…. ahhh senang nyaa.

Ba’da isya kami sepakat pulang dulu ke rumah masing2. Persiapan bawa perlengkapan.

***

Pukul 10.15 menit kami semua sudah berkumpul di mesjid. Mengelilingi beraneka makanan yang tersaji diatas nampan. Ada papais, kolontong, ranginang, rangining, opak, saroja,kulub cau, kulub hui, cuhcur, wajit, angleng, dodol, bugis, nagasari, kulub taleus, kurupuk jengkol dan beraneka wafer serta kue warungan lainnya. Dua buah mikropon sudah siap, yang satu sedang dipegang Dade yang begitu antusias menyuarakan takbir. Pa Haji Uye dan Pa Haji Enus juga masih ada serta beberapa bapak-bapak lainnya… tapi udah terlihat terkantuk-kantuk…. saatnya bertugass nich.

Oh iya air minum yang tersedia, 2 teko besar yang berisi air tawar dan teh manis. Trus kopi satu termos besar ditambah berjejer gelas besar berisi air nira (lahang) plus rokok yang disimpan di gelas juga… tapi itu haram buat kami. Rokok mah buat orang2 dewasa dan orangtua.

Klo pas nggak pegang mikropon.. ya makan.. nyemil hidangan… minum air nira dan kopi… ketawa2.. main bedug atau ‘ngadulag‘ ….
‘Dug dulug dug dag…. dug dulug dug dag...’ diiringi shalawat…

Tapi klo udah bosen… jadinya lagu “Aaku punya anjing kecil… ku beri nama (nyebut nama temen yang ada)… ketawaa.. mukul bedug dan kentongan… juga sembungi2 nyalain petasan dan mercon.. atau malah kejar-kejaran dalam mesjid yang begitu luas.. pokonya senanggg dech.

***

Waktu tak terasa beranjak hampir mencapai tengah malam. Kami berlima tetap bertahan bertugas hingga nanti pukul 01.00 dini hari dan berganti dengan akang2 di pengajian yang ternyata sebagian sudah datang… mungkin takut ketiduran.

Orang tua tinggal Mang Osid dan guru ngaji kami, itupun terkantuk-kantuk…. hingga jam 23.12 wib. Beliau berdua pamit pulang dulu..

Inilah saatnya…..

Jreng… kami berlima berkuasa atas 2 mikropon di mesjid besar ini. Rebutan mix dan berlomba mengumandangkan Takbir semerdu mungkin. Suara cempreng kami membahana atas bantuan 4 Toa (Merk speaker jaman harita) yang terpasang di atas menara mesjid… bergema ke pelosok kampung dan menggetarkan yang mendengarkan… ahaay lebay.

Lewat tengah malam. Kami mulai kelelahan dan kekenyangan… tapi teriak di mikropon terus dikumandangkan..

“Allaaahu akbar… Allaaahuakbar… Allaaahh akbar… laaaila haillallah huwallahu Akbar… Allaaaahuakbar walillaa ilham.”.. meskipun dengan suara mulai serak.

***

Disaat kami berlima sedang ngariung di tengah mesjid, sudut mataku melihat gerakan sesuatu di luar samping kanan mesjid.. “Hei ada orang diluar, siapa ya?”... wajah kami berlima agak menegang.

Maklum karena menjelang akhir bulan ramadhan ini agak rawan pencurian.. termasuk kencleng mesjid disikat. Jadi kami langsung curiga pas liat ada seseorang mengendap-endap. Aku dan Yayan beringsut perlahan, berjingkat menuju ke kanan mesjid….

Deg.. deg.. deg… deg.

Ternyata… sosok yang sudah dikenal. Mang Yaya. Sedang mengendap-endap menuju tempat wudu… “Kirain siapa” “Iya euy, udah tegang gini” Kami berdua menarik nafas lega dan kembali beringsut menuju ruang tengah mesjid, mikrofon menunggu.

Berlomba melantunkan takbir di malam kemenangan.

***

Tengah malam baru saja terlewati, kami berlima sudah kelelahan dan hampir kehabisan suara. Orang dewasa dan orangtua sudah tidak ada di mesjid… kami berusaha melanjutkan tugas mengumandangkan takbir dengan sisa-sisa tenaga.

‘Tring!!!….’

Sebuah ide brilian muncul di otak ini.

Aku bergerak keluar lingkaran dan menuju halaman mesjid sebelah kiri. Benar saja Mang Yaya sedang lakukan gerakan sholat…. diluar.. di emper mesjid.

Perlahan didekati. Ditunggu hingga sholat sunatnya usai.

Setelah selesai sholatnya, Aku merapat, “Mang maaf, hayu kita di dalam mengumandangkan takbir”

“Uaah uuh uuh” Mang Yaya menganggu dengan mata berbinar. Segera masuk ke mesjid bersamaku. Teman-teman bingung dan tidak percaya.

“Dri kamu ngapain bawa Mang Yaya ?” Dade nanya dan wajahnya tegang.

“Kalem atuh, kita khan udah cape. Ini ada bala bantuan, yaa kita kasih kesempatan dong” Jawabku tenang, Dade terdiam.

Tap… mikropon dipegang Mang Yaya, ……

“Uaaaaa..uwaaaaaauuuu!!!! Uh oahuuuuuu… oahuuuuuuuii!!!
Auuuuuuh oihuuuuuu!!!”

Kami bersorak berlima dan tertawa terbahak-bahak menyaksikan ‘Pembaca Takbir Dadakan’ yang begitu kocak dan semangaat…. tapi lafalnya nggak jelas. Karena memang Mang Yaya ini nggak lancar ngomong alias tuna wicara atau ‘pireu‘…. gayanya selangit.. mirip rocker internasional.

Berlima terpingkal-pingkal hingga airmatapun berderai…

“Uaaaaa..uwaaaaaauuuu!!!! Uh oahuuuuuu… oahuuuuuuuii!!!
Auuuuuuh oihuuuuuu!!!”

“Hahaha hahaha…..”

“Xixixixi…..”

Sambil mulut penuh opak dan ranginang, mulut terbuka lebar lihat adegan Mang Yaya megang dua mikropon sekaligus… Ajibb dech…

Hampir 15 menit Mang Yaya teriak2 nggak jelas karena memang sulit berbicara. Seantero kampung heboh karena menyangka petugas takbir sedang main-main.

Bapak ketua DKM, guru ngaji kami dan beberapa tokoh masyarakat tiba-tiba sudah ada dihadapan kami, terdengar suara menggelegar, “Berhenti Takbirnya Mang!!!!”
Mang Yaya terdiam, trus bergeser tanpa ekspresi… ngloyor aja keluar mesjid.

Photo : Suasana shalat Ied/dokpri.

Kami berlima serasa menciut, karena tatapan para orang dewasa yang tiba-tiba ada di mesjid tertuju kepada kami, tatapan tajam yang mengancam, mencekam.

“Kalian…. keluar semua sekarang juga.!!! Berbaris di kolam depan!!” Guru ngaji kami bersuara lantang. Kami berdiri dan berjalan menuju kolam depan mesjid.

Ternyata di luar mesjid sudah banyak orang, termasuk ibu-ibu dan anak-anak, padahal ini jam 01.00 wib lho…

“Ada apa ini?” Aku berbisik ke Deden. Eh ternyata terdengar sama guru ngaji kami, “Ini gara-gara kalian, semua warga terbangun karena suara Takbir ngaco dari speaker mesjid!!!!”

Kami berpandang-pandangan, lalu menunduk sambil tersenyum kecut.

***

Dini hari menjelang, dan kami berlima dihukum direndam di air kolam yang dingin menusuk kulit. Tidak lama sih, cuman 20 menitan…. cukup bikin badan menggigil dan otak membeku. Tapi yang berat itu denger ceramah, omelan dan doktrin dari guru ngaji kami serta bapak ketua DKM, katanya perilaku kami berlima itu salah besar.

Aku terdiam sambil bicara dalam hati, “Padahal niat kami baik lho…. memberi kesempatan kepada seseorang untuk ikut bertakbir… sekaligus penasaran klo yang nggak lancar bicara itu takbirannya gimana….”

Setelah kena hukuman, kami disuruh pulang ke rumah masing-masing dan besok pagi sudah siap di mesjid lagi untuk membantu panitia sholat Iedul fitri.

***

Hari lebaran sudah usai, dan di hari ketiga setelah itu, kami berlima kompak nggak ada suara.. alias peuyeuh bin peura.. serta badan panas dingin.. “Mungkin kualat kali yaaa?”

***

Beberapa kali berjumpa dengan Mang Yaya, orang yang baik dan mau bantu-bantu apapun tanpa minta imbalan. Memang tuna wicara tetapi Orangnya jujur dan polos serta sabar.
Beliau pasti langsung acungin jempol tanda ‘mantapppp‘.. plus gerakan tangan seolah sedang takbiran pake mikropon.

Lalu teriak…..

“Uaaaaa..uwaaaaaauuuu!!!! Uh oahuuuuuu… oahuuuuuuuii!!!
Auuuuuuh oihuuuuuu!!!”

“Maafkan Kami ya Mangg….”

Wassalam (AKW).

***

Catatan : Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung saudara kita yang difabel tapi hanya sekedar berbagi kisah kenakalan masa kecil. Hatur nuhun.

Cerita Ramadhan – Ngendok*)

Ini ceritaku disaat ramadhan tiba, cerianya masa kecil dalam lingkungan keluarga kecil bahagia. penasaran?… monggo nikmati ceritanyaa.

Sore itu aku udah bergerak belajar melangkah dan merangkak mondar mandir kesana kemari, mulai dari dapur tempat ibuku masak untuk sajian berbuka puasa hingga ruang tamu.. eh sebelumnya ruang tengah juga diubek. Abis aku senengnya bergerak kesana kemari, gatal kaki dan tangan ini kalau hanya berdiam diri.

Setelah tadi ba’da dhuhur nenen trus disuapin sama ibunda, abis 2 buah pisang ambon trus barusan susu pake dot, kuenyaaang. Tapi nggak ngantuk, bawaan pengen beredar terus.. gerak… geraak.

Ayah dan ibunda begitu sabar menjaga, menemani dan mengejar diriku yang beredar kesana kemari. Sering terdengar ayah dan ibunda berucap, “Astagfirullohal adzim…” begitu nyaman terdengar di telinga mungilku,……. ternyata itu ucapan doa.

Aku jarang tidur siang, entah kenapa. Tapi alangkah ruginya waktu yang ada dipake tidur. Mending buat bergerak kesana kemari melatih otot dan sendi serta aku bisa tahu semua wilayah di dalam rumah termasuk di kolong tempat tidur dan dibawah meja makan keluarga. Bisa juga di dalam lemari baju ayah ibuku. Semua tempat miliki sensasi dan karakteristik tersendiri.

“Ayah…”
“ibb..buu”
Suara mungilku memberikan rona bahagia dan mata berbinar dari kedua orangtuaku. Ibundaku suka langsung menunduk sambil mulutnya bergumam.. akupun ikutan, dan mereka tertawa bahagia bersama.

***

Hari ini beberapa kosakata baru hinggap di otakku dan langsung menempel, yang pertama ‘pipis’ dan kedua ‘Endok‘ atau endog… bahasa sundanya untuk telur. Itu istilah jikalau aku udah pengen pipis dan ee. Sehingga ayah dan ibunda bersiap dengan popok yang baru dan kering, maklum belum jaman pampers jadi kebayang repotnya klo pipis sembarangan dan nembus popok.

Alhamdulillah aku mah gampang hafal meskipun terkadang lupa bilang pas kejadian… tapi jangan lupa ada rumus pamungkas… apa itu?.. tinggal nangis aja sekencang-kencangnya… beress.. bantuan akan dataaaang.

***

Menjelang berbuka puasa, ayah ibu sibuk bekerjasama menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka. Akupun ikutan nimbrung, sok sibuk, pegang itu pegang ini, seru kawaaan. Ibunda beberapa kali mengambil gelas kaca dari tanganku juga piring beling yang dibawa berlari olehku, kenapa sewot ya?… padahal aku hati-hati lho bawanya.

Tiba-tiba…. terasa perut melilit… oh pengen ee. Inget kata-kata yang dilatih ibunda. Tapi ibunda sedang sibuk di dapur, ada ayah ding..

“Endok.. endok!!” Aku teriak sambil narik-narik sarung ayah. Ayah tersenyum, berjongkok dan bertanya, “Ada apa anak cakep ayah?”

“Endok… endook” Aku setengah berteriak, terlihat wajah sumringah ayahku mendengar kosakata baru.

“Anak pintar ayah, sini klo mau endok” badanku diangkat, senangnya. Tapi…. kok aku didudukin di meja makan?… ah nggak banyak tanya, aku harus tuntaskan tugas dari perut ini dimanapun berada… Procooot.

***

‘Duk… duk.duuuk!!…
“Allahu Akbar.. Allahuakbar…”
Adzan magrib berkumandang bertepatan dengan tuntasnya aku menyelesaikan tugas…. di meja makan.

“Astagfirullohhhal adzimmm…. Ayaaah…!!!!” teriak ibunda yang berada didekatku.

Ayah datang tergopoh-gopoh… dan terdiam. Melihat seonggok ‘endog‘ karyaku disamping rendang telur hasil olahan ibunda.
Mereka berpandang-pandangan dan tersenyum simpul.

Dengan cekatan ayah mengangkat tubuh aku dan membawa ke kamar mandi untuk cebok, ibunda yang membereskan ‘endok’ku.

Terdengar suara pelan ayah ke ibunda, “Maafkan ayah, tadi dikirain pengen endok/telur yang ibu masak.. eh ternyata pengen ‘ngendok‘.” Ibunda senyum lalu terkekeh.

Aku tersenyum karena pantat sudah bersih dan perut longsong… plus udah bisa menghafal kosakata baru. Makasih, met berbuka puasa ya semuahnyaaah.

Jangan lupa yang masak aneka telur… dihabiskan yaa… Wassalam (AKW).

***

Catatan :

*)Ngendok = istilah dalam bahasa sunda yang artinya BAB/ee/buang air besar... atau bahasa sunda lainnya disebut juga ‘modol’.

Cerita Ramadhan – Mancing yuk.

Menunggu waktu berbuka puasa dengan berbagai aktifitas yang menyenangkan, salah satunya mancing lho… mancing sesuatu.

Photo : Kolam pemancingan dilihat dari tempat persembunyian/dokpri.

Menanti berbuka puasa setelah shalat asyar dikenal dengan istilah ngabuburit… malah dipanjangin kata kitu menjadi ‘Ngabubur beurit’ (membuat bubur tikus), nggak ada korelasinya bukan?… tapi sebagian besar aku dan teman2 di kampung ini meng-amini kepanjangan kata tersebut. Pemahaman kolektif tentang arti nggak nyambung tapi sepakat…

Ngabuburit ini beragam aktifitas beraneka kegiatan, yang ideal ya.. Tadarus, pengajian, ngikutin taklim, pesantren kilat dan kegiatan keagamaan lainnya. Tetapi bagi aku yang menyenangkan adalah main… main dan main…. bisa petak umpet, kucing-kucingan, sondah, sorodot gaplok, rerebonan, gatrik, perepet jengkol jajahean hingga main lodong sang meriam bambu… eh nggak lupa juga main layangan, nyalain petasan dengan berbagai varian seperti petasan cecengekan, petasan banting, mercon, petasan buntut beurit (ekor tikus) hingga petasan segeda kepalan tangan anak-anak. Terkadang juga ikutan mancing serta berenang di sungai… pokoknya menyenangkan dech.

Oh iya kadang juga terinspirasi oleh buku Enid blyton ‘5 Sekawan’ dan acara Pramuka, maka kami berlima menjadi detektif cilik yang melakukan acara ‘mencari jejak’ menelusuri perkampungan, sawah, sungai dan kebun hingga pinggir hutan sekitar rumah… sambil tidak lupa mengumpulkan tambahan buat berbuka puasa seperti tomat, bonteng eh mentimun, jambu air, jambu batu, pepaya serta terkadang dapet belut ataupun ikan kehkel.

Ada yang menjadi George, Julian, Dick & Anne serta yang apes berperan jadi Timmy si anjing setia. Berjalan bersama dengan mengendap dan waspada, mata fokus untuk mengamati hal yang mencurigakan ataupun buah-buahan ranum nan masak yang siap petik. Pemeran Timmy yang bawa tas untuk menampung hasil para detektif cilik.

Bukan mencuri lho, karena ngambil buahnya di kebun paman dan ua ataupun kebun sendiri. Klo belut biasanya sambil bawa alat pancing khusus dan aktifitasnya disebut ‘ngurek.’

***

Hari ini off dulu jadi detektif karena kawan-kawan banyak yang berhalangan. Agus dan yayan lagi bantuin ortunya di warung, opik ngejar target ngarit (menyabit rumput) untuk domba kesayangan, dan Deni Adut serta Cacan kayaknya nggak enak body… akhirnya mondar mandir sendiri sambil berpikir keras, “Ngapain ya?”

Berjalan di halaman rumah, trus keluar menuju kebun diatas bukit. Naik ke dahan jambu klutuk sambil melihat suasana. Tadaaa…. disebelah selatan berjajar kolam ikan besar dan tepat di dekat rumah Pa Hamzah, orang-orang sedang asyik ‘kongkur‘… itu sebutan untuk mancing bareng2 di satu kolam. Terlihat wajah-wajah serius yang memandang lurus ke arah kolam, melihat ‘Kukumbul‘ (apa ya bahasa indonesianya??)… penanda bahwa alat pancing itu disambar ikan atau tidak… heningg dan tegaang.

Tring…… aku ada ide.

***

Segera ke kamar dan membuka laci meja belajar… ahaa masih ada stok petasan sebesar ibu jari. Trus ke warung beli kertas pahpir atau papir yang buat linting tembakau dan dinyalakan jadi rokok kretek dadakan. Nggak lupa juga korek apa gas. Trus ambil kertas bekas kalender untuk dibentuk jadi sesuatu.

Berjalan riang menuju lokasi pemancingan. Sambil membawa perahu kertas yang telah dipasang petasan dengan sumbunya yang dibungkus kertas pahpir… tujuannya untuk memperlambat sumbu petasannya terbakar.

Tiba di pinggir kolam.. pelan-pelan mencari tepian yang tidak ada pemancing. Sehingga tidak mengganggu para pemancing yang sedang konsentrasi dengan ‘kukumbul‘ masing-masing. Lagian mereka nggal ngerasa keganggu kok, lha wong cuman anak kecil yang ikutan nimbrung sambil main kapal kertas di pinggir kolam.

Setelah puas bermain kapal kertas, misi dimulai. Dengan gerakan rapih tersembunyi, ujung kertas papir dinyalain pake korek gas. Trus perahu kertas di simpan ke air kolam dan dibuat ombak dengan tangan sehingga pelan tapi pasti perahu kertas bergerak ke tengah kolam…..

Jengjreng…..

Aku beringsut perlahan seolah sudah bosan bermain di pinggir kolam yang sunyi padahal banyak orang. Maklum memancing di bulan ramadhan khan nggak bisa sambil merokok dan cemal cemil hehehe….

Mundur perlahan.. mundur… mundur dan pergi meninggalkan area kolam seolah bosan dengan permainan… menuju bukit kecil dekat kebun yang lokasinya lebih tinggi dari kolam, padahal perasaan tegang takut petasan yang tersembunyi di tengah perahu kertas keburu meledak.

Seperti yang diperkirakan… para pemancing cuek bebek dengan kehadiran dan kepergianku… betul2 konsentrasi. Sesekali terdengar umpatan karena umpannya habis ikannya nggak ada. Tapi di seberangnya tersenyum karena kailnya disantap ikan mas atau gurame…. ditarik seeeeeet pancingannya dan diangkat ikan yang meronta di atas air tersangkut kail, ada juga yang baru nglempar mata pancing ehhh… langsung disambar ikan…. istilah singkatnya ‘Clom Giriwil’.

Ikan yang didapat, dilepas dari mata kail dan akhirnya berpindah ke korang (tempat ikan) yang dibawa masing-masing.

***

Tepat 4 menit setelah itu…. Duaarrrrrrrrrrrrrr!!!!!……… Suara petasan ditengah kolam membuyarkan konsentrasi.

“Wadaaaw….”
“Naon etaa?”

“Koplxxxk….!!!@#$%!!….”

Gujubar…!!!!

Ada yang melompat ke belakang ada juga yang harus terjatuh ke kolam karena reaksi kekagetannya.

Aku terdiam di ketinggian, sambil senyum dikulum, “Proyek tuntas tas tas….” dengan badan tetap merunduk terhalang semak, hawatir membuat para pemancing sadar bahwa aku adalah pembuat keonaran.

Lembayung sore menemani para pemancing yang mulai berkemas dan tak sedikit yang masih menggerutu. Akupun pulang dengan cerita ngabuburit yang menegangkan dalam proyek perahu kertas kesayangan… met berbuka puasa kawaan.

Wassalam (AKW).

Cerita Ramadhan – Suara paling keras

Rasa penasaran di balut keberanian memghasilkan pengalaman tak terduga, cekidot.

Hari keenam shaum terasa begitu menyenangkan. Karena waktu buat main banyak bingiit hehehehe. Maklum awal shaum itu sekolah libur trus ntar masuk sebentar… eh libur lagi sebelum lebaraaan sampe.. nanti lebaran usai. Jadi waktu bermain jauh lebih banyak.

Meskipun tetep urusan ibadah romadhon mah nggak ketinggalan. Ikutan sholat isya trus tarawih, shubuh berjamaah, pengajian bada shubuh sambil terkantuk-kantuk tapi jangan lupa tanda tangan penceramah di buku ringkasan ceramah yang dibagikan pihak sekolah.

Oh iya, aku sekarang kelas 5 sekolah dasar ya. Di sebuah SD Negeri Inpres di Barat Daya Kabupaten Bandung.

***

Selesai ceramah shubuh, saatnya lari pagi bersama teman-teman menuju perkebunan teh yang terletak tidak jauh dari rumah. Ya sekitar 1 km mengikuti jalan kecamatan yang beraspal plastik, itu lho yang aspalnya tipis dan langsung terkelupas kalo ujan gede. Meskipun tentu butuh energi dan berkeringat, tetapi bersama teman sejawat, berpeci dan sarung di selendang di badan menyongsong mata hari terbit adalah momen yang tidak terlupakan.

Apalagi menghirup udara segar di kebun teh yang menghijau, makin semangat dan bergairah bercanda gurau dengan teman-teman.

Meskipun godaan selalu ada dimana-mana, terutama kumpulan embun yang terjebak di dedaunan terasa menyegarkan jikalau diteguk… tapi ingat shaum lho hehehehe….

***

Di siang hari, ba’da shalat dhuhur di mesjid dan tadarusan, saatnya bermain……

Pilihan permainan siang menuju sore ini adalah main ‘lodong‘. Tau nggak lodong?…

Itu nama untuk permainan meriam bambu yang akan menghasilkan suara keras.. Bummm… bummm… buumm dan menggetarkan perasaan juga tanah di sekitar tekape.

Tapi jangan khawatir kawan, itu hanya suara aja kok. Peralatannya adalah sebuah bambu sepanjang 1 meter dan dipilih yang kuat serta kekar, biasanya jenis bambu awi gombong. Seperempat liter minyak tanah dan sebungkus karbit serta jangan lupa kain bekas plus bambu sebesar jari tangan dan korek api sebagai pemantik meriam agar menghasilkan suara yang membahana.

***

Dari 2 hari sebelum shaum rutinitas meriam bambu ini telah berlangsung. Betapa menyenangkannya mendengarkan suara …. Bummmm!!!! Mengarah ke bukit sebrang rumah dan dibalas dari sana suara.. Bumm!!.. bumm!! Juga. Menyenangkan pokoknya.

Tapi ada yang menggelitik hati karena merasa suaranya kurang kenceng…. padahal pa RT udah protes karena ngganggu tidur siangnya hehehehe…. harap maklum anak-anak.

Jadi komposisi minyak tanah dan bongkahan kecil karbit setiap saat terus ditambah, terasa powernya makin mantabs.. tapi tetep nggak puas… ini mungkin sifat dasar manusia yang selalu tidak puas… dan sifat seorang anak yang selalu penasaran, jadi…..

Sekarang sudah siap di tebing bukit di atas rumah. Meriam bambu siap, jerigen kecil minyak tanah dan 1 kg karbit sudah siap diracik. Karena ingin suara maksimal. Karbit yang berbentuk bongkahan segera masuk ke dalam bumbung meriam, disusul dengan cairan minyak tanah…… yang bereaksi membentuk seperti air mendidih…. wah kayaknya paten nich. Setelah dibiarkan 5 menit terjadi reaksi kimia. Sumbat kecilnya dibuka dan tanpa khawatir. Langsung disulut oleh penyulut berupa potongan bambu yang ujungnya berapi.

Satu… dua… tiga….

Blawwww…….. tak ada suara. Hanya seberkas cahaya silau dan kemerahan… sunyi. Tidak ada suara meriam yang membahana. Aslinya…. sepi… sunyi dan senyap.

Tiga detik saja kemudian gelap.

***

Disaat membuka mata terdengar isak tangis ibunda dan suara berat ayahku, “Alhamdulillah Jang, kamu nggak apa-apa”

Aku terdiam, “What happen?” (Gaya yach pake english. Wkwkwkwk).

Suara isak tangis dan nafas lega terdengar dari kanan kiriku, ternyata setelah kesadaran terkumpul sempurna, Aku berada di tengah rumah… dan banyak tetangga yang berkumpul disini, “Ada apa ya?” Agak bingung memikirkannya. Padahal tadi khan lagi main meriam bambu di kebun.

Tangan bergerak reflek dan pas dilihat kotor dengan bercak minyak tanah dan sisa karbit, begitupun wajah camerong eh cemong eh… pokonya item-item gitu kaya tentara yang lagi latihan perang. “Apa yang terjadi ayah?”

Ayah tersenyum dipaksakan, wajahnya membesi, “Syukur kamu selamat Jang. Mulai sekarang kamu stop main meriam bambu!!!!” Aku hanya mengangguk mendengar suara tegas ayahku.

Ternyata meriam bambu yang dinyalakan tadi menghasilkan suara yang super membahana dan mengguncang sekampung Pasanggrahan saking kencengnya. Sekaligus si meriam bambu telah hancur berantakan menjadi serpihan kecil dan cairan minyak tanah serta karbitpun mancawura (amburadul), menyisakan seorang anak yang terkapar bermandikan minyak tanah serta sisa karbit plusserpihan kayu.

Anak itu pingsan.
Anak itu Aku.

***

Kesimpulan yang kudapat ada dua, pertama Makasih Yaa Allah masih diberi perlindungan sehingga tidak terluka ataupun gendang telinga alami kerusakan.

Kedua, sekarang baru tahu bahwa bisa mendengar sendiri suara paling keras selama hidup ini, bahwa “suara paling keras itu adalah SUNYI.”

Wassalam (AKW).

Cerita Ramadhan – CENSi

Cerita Ramadhanku, nostalgia masa yang menyenangkan.

Sahur hari ketiga baru saja tuntas, aku masih bersandar di kursi tuang makan sambil meringis. Apa pasal?… karena terlalu semangat makan minum di kala sahur? Akibatnya kekenyangan. Perut kembung karena kepenuhan hingga terasa air minum yang masuk masih ada di tenggorokan.

Padahal makan sahurnya tidak banyak, hanya nasi, indomie goreng, perkedel kentang, daging rendang, tumis buncis, tahu goreng ditutup sama popmie dan segelas susu murni serta dua gelas air putih… eh lupa kurma 7 butir.

“Klo kekenyangan pas buka puasa sih wajar anak-anak, tapi klo kekenyangan sahur mah, teungteuingeun” Ujar ibunda sambil tersenyum penuh arti.

Aku mah diem aja sambil nahan rasa bunghak dan agak pengen muntah. Soalnya takut nggak kuat sampai magrib, padahal khan target tahun ini harus tuntas hingga 30 hari shaumnya, atau disebutnya cacap (b.sunda)

Obat kamerkaan (kekenyangan) ternyata sederhana yaitu terapi CENSi alias Centong Nasi. Caranya, aku tidur telentang dengan kepala diganjal bantal. Baju bagian atas dibuka, trus ayah ngurut dari mulai dada hingga ke perut dengan menggunakan centong nasi sambil baca doa…. juga agak neken tuh centong nasi ke perut.

Tring!…

Tak pakai hitungan menit, perut terasa enakan, nafas tidak tersengal dan rasa ingin muntahpun hilang.. alhamdulillah, terapi centong nasi berhasiiiil..

“Makasih ayaah”, Aku peluk ayahku lalu menyambar peci dan sarung serta sajadah. Bergegas menuju mesjid yang baru saja tuntas mengumandangkan adzan shubuh.

Sambil berjalan menuju mesjid, terang bintang dan rembulan masih setia menemani. Bintangpun berterima kasih kepada kegelapan, karena dengan adanya gelap maka sinarnya semakin cemerlang.(AKW).

***

Catetan : Ilustrasi photo diatas adalah centong nasi plastik, sebenernya pas baheula kejadian yang digunakannya centong kayu. Berhubung belum pulang kampung jadi ilustrasi centongnya seadanya. Maaf yaa.