Cerita Ramadhan – Suara paling keras

Rasa penasaran di balut keberanian memghasilkan pengalaman tak terduga, cekidot.

Hari keenam shaum terasa begitu menyenangkan. Karena waktu buat main banyak bingiit hehehehe. Maklum awal shaum itu sekolah libur trus ntar masuk sebentar… eh libur lagi sebelum lebaraaan sampe.. nanti lebaran usai. Jadi waktu bermain jauh lebih banyak.

Meskipun tetep urusan ibadah romadhon mah nggak ketinggalan. Ikutan sholat isya trus tarawih, shubuh berjamaah, pengajian bada shubuh sambil terkantuk-kantuk tapi jangan lupa tanda tangan penceramah di buku ringkasan ceramah yang dibagikan pihak sekolah.

Oh iya, aku sekarang kelas 5 sekolah dasar ya. Di sebuah SD Negeri Inpres di Barat Daya Kabupaten Bandung.

***

Selesai ceramah shubuh, saatnya lari pagi bersama teman-teman menuju perkebunan teh yang terletak tidak jauh dari rumah. Ya sekitar 1 km mengikuti jalan kecamatan yang beraspal plastik, itu lho yang aspalnya tipis dan langsung terkelupas kalo ujan gede. Meskipun tentu butuh energi dan berkeringat, tetapi bersama teman sejawat, berpeci dan sarung di selendang di badan menyongsong mata hari terbit adalah momen yang tidak terlupakan.

Apalagi menghirup udara segar di kebun teh yang menghijau, makin semangat dan bergairah bercanda gurau dengan teman-teman.

Meskipun godaan selalu ada dimana-mana, terutama kumpulan embun yang terjebak di dedaunan terasa menyegarkan jikalau diteguk… tapi ingat shaum lho hehehehe….

***

Di siang hari, ba’da shalat dhuhur di mesjid dan tadarusan, saatnya bermain……

Pilihan permainan siang menuju sore ini adalah main ‘lodong‘. Tau nggak lodong?…

Itu nama untuk permainan meriam bambu yang akan menghasilkan suara keras.. Bummm… bummm… buumm dan menggetarkan perasaan juga tanah di sekitar tekape.

Tapi jangan khawatir kawan, itu hanya suara aja kok. Peralatannya adalah sebuah bambu sepanjang 1 meter dan dipilih yang kuat serta kekar, biasanya jenis bambu awi gombong. Seperempat liter minyak tanah dan sebungkus karbit serta jangan lupa kain bekas plus bambu sebesar jari tangan dan korek api sebagai pemantik meriam agar menghasilkan suara yang membahana.

***

Dari 2 hari sebelum shaum rutinitas meriam bambu ini telah berlangsung. Betapa menyenangkannya mendengarkan suara …. Bummmm!!!! Mengarah ke bukit sebrang rumah dan dibalas dari sana suara.. Bumm!!.. bumm!! Juga. Menyenangkan pokoknya.

Tapi ada yang menggelitik hati karena merasa suaranya kurang kenceng…. padahal pa RT udah protes karena ngganggu tidur siangnya hehehehe…. harap maklum anak-anak.

Jadi komposisi minyak tanah dan bongkahan kecil karbit setiap saat terus ditambah, terasa powernya makin mantabs.. tapi tetep nggak puas… ini mungkin sifat dasar manusia yang selalu tidak puas… dan sifat seorang anak yang selalu penasaran, jadi…..

Sekarang sudah siap di tebing bukit di atas rumah. Meriam bambu siap, jerigen kecil minyak tanah dan 1 kg karbit sudah siap diracik. Karena ingin suara maksimal. Karbit yang berbentuk bongkahan segera masuk ke dalam bumbung meriam, disusul dengan cairan minyak tanah…… yang bereaksi membentuk seperti air mendidih…. wah kayaknya paten nich. Setelah dibiarkan 5 menit terjadi reaksi kimia. Sumbat kecilnya dibuka dan tanpa khawatir. Langsung disulut oleh penyulut berupa potongan bambu yang ujungnya berapi.

Satu… dua… tiga….

Blawwww…….. tak ada suara. Hanya seberkas cahaya silau dan kemerahan… sunyi. Tidak ada suara meriam yang membahana. Aslinya…. sepi… sunyi dan senyap.

Tiga detik saja kemudian gelap.

***

Disaat membuka mata terdengar isak tangis ibunda dan suara berat ayahku, “Alhamdulillah Jang, kamu nggak apa-apa”

Aku terdiam, “What happen?” (Gaya yach pake english. Wkwkwkwk).

Suara isak tangis dan nafas lega terdengar dari kanan kiriku, ternyata setelah kesadaran terkumpul sempurna, Aku berada di tengah rumah… dan banyak tetangga yang berkumpul disini, “Ada apa ya?” Agak bingung memikirkannya. Padahal tadi khan lagi main meriam bambu di kebun.

Tangan bergerak reflek dan pas dilihat kotor dengan bercak minyak tanah dan sisa karbit, begitupun wajah camerong eh cemong eh… pokonya item-item gitu kaya tentara yang lagi latihan perang. “Apa yang terjadi ayah?”

Ayah tersenyum dipaksakan, wajahnya membesi, “Syukur kamu selamat Jang. Mulai sekarang kamu stop main meriam bambu!!!!” Aku hanya mengangguk mendengar suara tegas ayahku.

Ternyata meriam bambu yang dinyalakan tadi menghasilkan suara yang super membahana dan mengguncang sekampung Pasanggrahan saking kencengnya. Sekaligus si meriam bambu telah hancur berantakan menjadi serpihan kecil dan cairan minyak tanah serta karbitpun mancawura (amburadul), menyisakan seorang anak yang terkapar bermandikan minyak tanah serta sisa karbit plusserpihan kayu.

Anak itu pingsan.
Anak itu Aku.

***

Kesimpulan yang kudapat ada dua, pertama Makasih Yaa Allah masih diberi perlindungan sehingga tidak terluka ataupun gendang telinga alami kerusakan.

Kedua, sekarang baru tahu bahwa bisa mendengar sendiri suara paling keras selama hidup ini, bahwa “suara paling keras itu adalah SUNYI.”

Wassalam (AKW).

Nyingkahkeun Bangbaluh

Ulah pasrah sumerah tapi dilawan sakuat tanaga, insyaalloh pinanggih bagja

#FiksiminiBasaSunda

Leumpang ngagandeuang bari héhéotan. Haté bungangang sabab geus kacumponan kahayang. Dunya béngras titingalian cékas. Karasa bangbaluh écag tina taktak, leungit sanggeus bieu kabawa palid ku cai leuwi nu ngagulidag.

Lagu Piapalén karék 2 kali di héotkeun, ujug karasa deui bangbaluh hirup ngorowotan awak. Teu puguh datang ti beulah mana, langsung ningker raga ngabeulit rasa. Sirah jeung suku dibetot, atuh tikusruk di galengan. Teterejelan. Beungeut lamokot ku leutak.

Karasa deui aya nu meulit kana ati, meureut beuteung. Adug lajer teu cukup ku pasrah sumerah, tapi kudu di lawan sakuat tanaga. Bari titingkuheun maksakeun hudang, apay-apayan turun deui ka sisi leuwi bari mapatkeun jampé pamaké.

Nepi ka sisi walungan, néangan batu lampar paranti semedi. Suku ngajégang panon bolotot bari ngagorowok, “Nyingkah siaaah!!!”

Bummmmm!!!!

Tarik naker sora bangbaluh nu teu rido dilepaskeun tina raga manusa. Ngangkleung ngaléngléong, ninggalkeun uing nu teu walakaya. Nyangsaya dina batu sisi sungapan. Bagja. (Akw).