Kopi Gununghalu – CoffeeRush

Ngopay kopi yang sesuai dengan tanah kelahiran.

“Makin bangga jadi orang Gununghalu.”

Pagi yang cerah membawa semangat kebersamaan untuk segera menuntaskan laporan tentang pelaksanaan Diklat yang memasuki putaran akhir ini.

Yang bikin mood booster di pagi hari ini adalah sebuah sajian ciamik dari salah satu kopi terbaik di tanah priangan, yaitu kopi arabica single origin Gununghalu dari CoffeeRush.

Terus terang aja, memang belum pernah ke tempat atau lokasi kebun kopi Gununghalu ini, tetapi karena sama dengan nama daerah yang tertera di Akta Kelahiran 40 tahun silam, makin bangga jadi urang Gununghalu eh (ralat) kelahiran Gununghalu, salah satu nama kecamatan di wilayah Kabupaten Bandung Barat.

***

Nge-grinder dulu 30 gram dengan ukuran kasar, khan moo di manual brew. Harum alami kopi mulai menyapa panca indra inti, menebar aroma segar di ruangan kerja Om Fajar.

Metode seduhnya pake V60 dengan komposisi 1 : 15, panas air untuk nyeduhnya 86 derajat celcius. Caranya tetep protap, proses blumming dulu lalu diseduh berputar perlahan searah jarum jam… aromanya nikmatt pisan.

Hasilnya… Tralalalala… sebuah sajian eksotis dari biji kopi pilihan. Nuhun Bu Nova.

Srupuuut…

Segera rasa nikmat menjejak di ujung lidah, meresap ke bawah lidah dan bermain dulu dalam kumuran istimewa. Setelah tuntas baru ditelan perlahan, hangat rasa menghangatkan jiwa, menambah semangat untuk segera tuntaskan tugas yang ada.

Body-nya medium, Acidity medium high dan taste yang muncul ada sedikit dark chocholate dan selarik kesegaran tamarin, kalau aroma udah jelas harum menyegarkan.

Yuk ngopay ah.. srupuut.

***

“Tambah lagi kopinya Pak?”
“Pasti dong!”

Segera berdiri dan menuju sudut ruangan yang disulap sekumplit cafe, baik persediaan kopi juga peralatan lengkap. Menyenangkan. Haturnuhun, Wassalam (AKW).

Ngopi Takengon Longberry dkk di Kota Padang

Akhirnya bisa menikmati manual brew di Kota Padang, yummy…

Akhirnya di hari ketiga yang merupakan hari terakhir bertugas di Kota Padang, sempet juga icip-icip kopi beneran.

“Lha coffee break tiap hari sama pas sarapan di hotel khan ready coffee mas bro, kagak bersyukur ini mah!!!” Suara geram menimpali keinginan ini.

“Maafkan jika pilihan kata-katanya kurang berkenan, euh.. belum minum kopi asli yang langsung di grinder trus seduh manual… itu maksutnyaah!”

“Ah dasar kau, maniak kopi!!”

Aku hanya tersenyum simpul, memang klo minum kopi dari hari pertama udah donk. Tapi kopi yang udah tersedia di hotel.. daan.. lumayanlah.

Photo : Segelas Espresso ala Gran Inna resto/dokpri

Trus nyoba segelas espresso buatan restoran hotel, rasanya nikmat.. tapi standar karena memang dibuat oleh mesin ‘yang tidak berperasaan’. Yang bikin menyenangkan adalah nyrupuut espressonya di pinggir kolam renang, suasana berbeda dan tenang….

***

Naah… giliran menikmati kopi beneraaan.. eh kopi manual brew… itulah cerita di hari terakhir.

Photo : Segelas Takengon Longberry hasil V60/dokpri.

Cafenya deket banget dengan Hotel tempat nginep, tapi karena jadwal yang padat nggak keburu mampir hingga akhirnya bisa terlaksana di hari terakhir. Namanya EL’ S Coffee, bangunan yang elegan dan suasana yang cozy. Disaat memasuki pintu depan, suasana keramahan terasa menyapa. Dan… ahaaa….. jejeran biji kopi yang disimpan dalam wadah kaca besar begitu menggoda… ini dia.

Sebenernya banyak juga menu lainnya, tetapi tujuan utamanya adalah ngopi manual brew donk… untuk pelengkap pesan 1 porsi spaghetti Carbonara dan minumannya lemon-grass honey.

Photo : Spaghetti Carbonara ala El’s Cafe/dokpri.

Kesempatan pertama adalah Kopi Takengon Longberry. Sambil menunggu hadirnya sang kopi, pesen dulu Spagheti Carbonara… wuiih berlemak dan berkeju… nggak dibahas ah. Khan moo bahas kopi.

Akhirnya…. setelah menanti 15 menitan, datang juga bejana hario berisi hasil V60 Kopi Takengon Longberry dan segelas kosong sebagai alat menikmati, atuh nggak lucu kalau diminum langsung dari bejana harionya, ntar disangka kesurupan.

Glek…. slrup….. Wuiih cairan kopi memenuhi mulut menenggelamkan lidah yang sudah haus dengan rasa kopi beneran yang di seduh manual secara langsung. Aroma fruitynya tercium meski tidak terlalu harum, body medium dan acidity hampir medium tersisa sejumput rasa asam dibawah lidah dan bertahan beberapa menit setelah cairan kopi lewat menuju lambung dan perut. Untuk taste notenya rasa asam dan sedikit karamel serta ada sedikit atau selarik rasa berry.

Photo : Sajian hasil V60 Wamena coffee/dokpri.

Sebagai bagian dari evidence based bukan hoax maka photo atau video menjadi kewajiban. Meskipun akhirnya hanya photo-photo yang tersaji karena keterbatasan kuota dan kemalasan edit video yang butuh tenaga, waktu serta pemikiran ekstra.

Karena ini adalah saat-saat terakhir di Kota Padang maka ngopinya dilanjut. Pesen lagi manual brew V60 kopi Wamena… mungpung disini.

“Kenapa nggak nyoba kopi Padang?”

“Itu dia, ternyata yang disediakan hanya arabica solok saja dan itupun habis, Jadi… kopi yang ada ajaa…”

Tapi sayang Kopi Wamenanya agak sulit mendeskripsikannya, mungkin udah kekenyangan atau kesalip rasa kopi Takengon Longberry?… padahal udah minum dulu air mineral untuk menetralisirnya.

Jadi body-aciditynya dan tastenya nya bercampur, jadi rasa lumayan.. enak we lah.

Begitulah, segores pena digital tentang petualangan ber-kopi di Kota Padang. Wassalam (AKW).

Coffee Gayo Wine

Menikmati sensasi Coffee Gayo Wine dengan Manual brew V60… seduh olangan.

Photo : Biji yang cantik mengkilap / dokpri.

Nggak pake lama, sang gunting menunaikan tugasnya. Membuka lapisan alumunium foil yang berisi biji misterius dengan lempeng mata tajamnya. Meskipun sepintas sudah bisa merasakan aroma rasa luar biasa, tetapi belum tuntas jikalau tidak melakukan proses penyeduhan mandiri dengan peralatan yang ada.

Yup… Coffee Gayo Wine yang segera di eksekusi dengan manual brew V60, kemoooon….

“Peralatan siaap?”
“Siaaaap”

Grinder langsung menggerakkan sendok dengan pikiran telekinetiknya, meraih biji kopi yang begitu cantik mengkilap. Dimasukan ke atas wadah penggilingan, stel ukuran 6-7 agar cocok untuk bubuk kopi yang bersiap diseduh ala Barista lalala…

Sesaat terperangah karena selain harum, bijinya mengkilat seperti berminyak. Tapi pas diraba tidak ada yang menempel di jari, berarti memang mengkilat alami, entahlah. Yang pasti penampilan bijinya cantik.. jadi sayang untuk menggrindernya.

“Tapi apa daya… kecantikannya harus melalui proses penghancuran menjadi serpihan-serpihan kecil untuk memberi peluang rasa nikmat yang tiada taraaa!!”

“Ihh kamu mah lebay, sok puitis. Gancang di seduh, sudah nggak sabar nich!!!”

“Ahiiiy!!!”

***

Corong V60 udah memasang sendiri kertas filternya, air memanaskan diri hingga mencapai 92 derajat celcius. Filternya mengguyur diri agar bersih dari residu pabrikan…. dan segera memasangkan dirinya pada gelas kaca yang setia menanti tetesan ekstraksi yang penuh aksi.

Photo : Hasil manual brew V60 Coffee Gayo Wine / dokpri.

Currrr…… pelan-pelan aliran air panas bersuhu 92 derajat celcius berpadu dengan biji kopi Gayo Wine hasil hunting di Kota Medan minggu lalu.

Tetes pertama dan tetes selanjutnya begitu memukau terlihat di gelas kaca. Prosesi ekstraksi biji kopi menjadi sebuah momen alami yang penuh sensasi. Harum semerbak kuan merebak, jadikan malam ini begitu semarak.

“Tuh kalah ka berpuisi lagi kamu teh!!!”

“Ih bawel pisan”

Diskusi monolog terus berlanjut, menjadi hiburan sambil menunggu ekstraksi kopi berkumpul sempurna.

***

..Surupuut… surupuut..

Deng…. agak terdiam. Kaget juga merasakan sensasi Acidity yang tinggi plus serasa ada rasa wine alami yang menstimulasi syaraf rasa semakin terbuka. Taste fruttynya muncul, rasa anggur kolesom… eh kok jadi kolesom…

Maksutttnya… rasa anggur yang berfermentasi terasa memanjakan lidah. Sensasi acidity berbeda yang ditampilkan oleh Kopi Gayo Wine ini. Kayaknya klo yang nggak biasa ngopi, musti pelan-pelan, takut kaget dan kenapa kenapa.

Trus setelah cairan kopinya masuk ke tenggorokan, eh masih nyisa rasa tebalnya di bibir bawah dan bertahan beberapa saat… yummy… hmmmm… enaaak brow.

Srupuut…. gleek.. glek.. glek.

Oke, itu dulu dech review versiku tentang Gayo Wine. Jangan komplen klo seakan berlebihan, tapi ini kenyataan.

Baca juga :

Kopi Kerinci

Kopi BTH

Kopi Manglayang Karlina

Jikalau beda pendapat juga dipersilahkan. Karena beda pendapat itu perlu, apalagi kita khan beda pendapatan…. upss naha kadinya (kesitu).

Udah ah, jadi ngelantur nulisnya, selamat menikmati, Wassalam” â—‡ (AKW).

Hikmah Kopi….

Kopi itu bikin asyik bukan jadi mengusik.

Menit ke 35 rasa penasaran memuncak, segera memanggil untuk ke 3x pelayan yang kebetulan ada di dekatku, “Bang, orderan manual brewku udah siap?” “Saya cek dulu kakak” segera badannya berbalik dan menjauh.

Tak sampai 1 menit, waitres muda itu kembali dengan wajah sedikit tegang, “Mohon maaf Kakak, ternyata orderan Kakak tadi belum masuk lits order. Kalau berkenan menunggu 15 menit lagi”

O.. ooow.. 35 menit terbuang percuma.

“Close aja, orderannya nggak jadi!!!” Agak emosi menguasai nada suara, waitres muda tertunduk. Segera beranjak menuju kasir untuk melakukan transaksi pembayaran ‘Picollo‘ istriku yang sudah tandas sedari tadi trus pamit ke Mushola duluan.

“Pantesan, kok meja depan baru datang, eh nggak berapa lama tersaji manual brewnya lengkap dengan notecardnya serta udah pasti aroma harumnya… Grrrr”

***

Tiba di depan kasir hanya menunjuk meja untuk memastikan minuman yang sudah di order… ternyataa.. print outnya tertera juga 1 orderan manual brew yang tidak pernah tiba… Yaa ampyuuun…. ingin rasanya teriak dan marahi semua.

Mulai dari waitress yang pertama menerima orderan, kasir, barista hingga manajernya… atau kalau perlu di viralkan di media sosial agar kekecewaan ini bisa mendunia…

Grrrrrr……

Photo Bungkus kopi yang nyaris dinikmati / dokpri.

Yang bikin gemes juga karena di otak sudah terkonstruksi sajian apa yang akan dinikmati. Kopi DUARTE Columbia yang memiliki taste spesifik, yaitu lemonade, black tea dan butterscotch…. yang tercantum di bungkusnya.

Tapiii…….. ternyata takdir bicara lain. Harapan ternyata tak sesuai kenyataaan. Disaat pesanan meja depan dan samping kanan berdatangan sajian manual brewnya… “Pasti ada yang tidak beres”

***

Terpaksa meninggalkan area cafe dengan rasa dongkol yang menyesakkan jiwa… Sialaaan!!!

***

Berjalan cepat meninggalkan cafe dengan hati masih terasa panas gara-gara segelas kopi…..

“Eiits… kok jadi bete?.. khan kopi itu bikin hidup lebih cerah… ayoo berfikir positifff!!!”

Suara hati memberi sinyal imani, jangan terjebak dengan suasana hati yang diliputi api amarah karena nggak dapet kopi. Tapi mungkin ada suatu hikmah yang bisa diambil dari semua kejadian ini.

Nggak pake lama, segera bersandar di tembok mall, menghela nafas panjang… biarkan dada yang sesak ini jadi teratur dan tidak lupa ber-Istigfar, “Astagfirullohal adzim”

Bersambung….. *)

Ini lanjutannya Hikmah Kopi 2.

Pejuang Kopi – Parakan Muncang

‘Biarkan kopi mengeluarkan rasanya sendiri’

Sebungkus Pejuang Kopi / dokpri.

Yuk kita unboxing kopi lagi… segera liat di tempat penyimpanan. Well… congratulation.. masih adaaa… bungkus coklat 200 gram.. tadaa..

Nggak pake lama, cari gunting dan di buka… aroma acidity dan fruity menyeruak segar… langsung colokun kabel grinder ke stopkontak. Beannya masuk ke wadah grinder… trek!!.. nyalakan…..
zrrrrrrrrrrr…..zzrrrrrtr..zrrrrr

Grinder bekerja di ukuran 7-8 supaya hasil grindernya jadi bubuk kasar yang cuuucok buat di manual brew pake V60.

***

Jangan bosen baca tahap persiapannya kawan… memang begitulah yang sebaiknya dilakukan untuk dapetin secangkir kopi asli dengan pola seduh manual. Termometer, corong V60, filter, bejana, gelas ukur, timbangan digital, teko gosseeneck, air panas dan jangan lups kopinya hehehe.

“Are you ready?”

Currr!!!!…. penyeduhan dimulai dengan komposisi 1 : 20 ah…. air panas menari sambil mengucur searah jarum jam mengelilingi bubuk kopi yang ikhlas untuk berekstraksi, menghasilkan rasa original yang diproses oleh seorang pemula tapi bergaya barista profesional heu heu heu.

***

Ini hasilnya segelas pejuang kopi / dokpri.

Hasilnya……. wooow… nendang mas brooow!!!! (Sesuai dengan tagline di bungkusnyaaah : ‘Biarkan kopi mengeluarkan rasanya sendiri’)

Aromanya kuat dan fruittynya tajam, body bold bikin sedikit terdiam karena pahitnya terdiam agak lama di ringga mulut plus aciditynya yang tinggi mendekati rasa winey yang setengah mateng berfermentasi serta taste fruitty yang berlimpah ruah, ada selarik rasa anggur juga jeruk trus… muncul asamnya kedongdong dan tomat.. pokoknya over all… sebuah sajian pahit menyegarkan bikin sore ini penuh keceriaan. Wassalam (AKW).

***
Catatan :
Tulisan di blog ini adalah hasil panca indera pribadi yang masih awam dengan kopi tapi belajar menjadi ‘Penikmat’ cairan hitam penuh misteri.

Kopinya :
Pejuang Kopi Warung Bako
Parakan Muncang
Tagline ‘Biarkan kopi mengeluarkan rasanya sendiri’
WA 0817627262 / 082115545437
IG @waroengbakocofee / @
Waroengbakogarut
________________________

Nyeduh Kopikir Bogor

Nyeduh kopi sambil mikir, kopi apa ini, misterius, tapi ah.. kok dipikir, nikmati aja Kopikir.

Senin pagi setelah tuntas mengaji, segera menggerakkan kaki untuk bersiap apel pagi. Tetapi karena waktu masih banyak maka dilanjutkan dengan diskusi bersama membahas banyak hal bersama para pejabat eselon dua, dari topik sederhana hingga yang agak serius , pembicaraan mengalir terbangun alami.

Tapi akhirnya segera undur diri karena ada tugas mandiri yang harus segera dimulai, apa itu?…. nyeduh kopiiiiii.

“Kenapa jadi penting?”

Pertanyaan yang standar, tapi selalu ada hal yang bisa dijadikan alasan. Pertama karena memang suka banget kopi dan kedua ini kopi gratis tis tis, dikirim via paket dari Bu Dewi yang bekerja di Pemerintah Kota Bogor. Ketiga, ini kopi lokal nusantara. Karena beberapa minggu belakangan hampir semua kopi yang tersaji adalah kopi luar negeri. Padahal kopi Nusantara is the best lho.

Hatur nuhun ya Bu Dewi.

Sudah 2 minggu lebih sang kopi ini dibawa kesana kemari. Tetapi belum ada kesempatan untuk menyeduh sendiri. Maklum lagi sok sibuuk hehehehe. Jadi menikmati kopi tanpa gulanya lebih banyak yang disajikan manual brew oleh orang lain.

Nah pagi ini… saat yang tepat sebelum apel pagi untuk menyeduh si hitam bubuk harum dari bogor ini.

Bungkusnya menarik, alumunium foilnya berlapis warna putih dengan gambar depan yang minimalis bertuliskanKopikir‘... maksutnyaa?… kopi + kir atau ‘kau pikir’ kali yaa?… atau kok pikir pikir?… entah lah, yang pasti dibawahnya ada tulisan kopi bogor.

Nggak pake lama, stalking dulu via gugel dan medsos, Instagramnya lucu… dan disebut berbagai varietas kopi di Nusantara, ada Gayo hingga Toraja juga Balinese and Javanesse… yang ini dari mana ya?… bungkusnya di bolak balik. Ada gambar kijang dan dibawahnya gambar karikatur yang menggambarkan suasana kota Bogor… jadi penasaran. Misterius yeuh.

***

Alat tempur segera disiapkan, kertas filter, V60, termometer, timbangan, gelas ukur dan tentunya air panas sesuai harapan. Nggak lupa basahin dulu kertas filternya dengan kucuran air panas sebelum bubuk kopi diseduh dengan sepenuh hati.

Setelah semua siap, 48 gram bubuk kopi segera disentuh perlahan oleh kucuran mesra 400 ml air panas temperatur 90 derajat celcius…
Hmmm…. aroma harum kopi memenuhi ruang harap, bikin senin pagi semakin semangat setelah tadi pagi jam 03.00 wib sudah mandi karena jadwal shubuh berjamaah sudah menanti.

Tes….

Tes….

Tes…. tetesan cairan hitam kopi berkumpul di bejana kaca transparan.. ah nggak sabar nich untuk segera menikmati.

Tuntas di bejana segera dituangkan pada cangkir kecil kesayangankuu….

Daan…. srupuuut…. kumur dikitttt…. glek….

Dessss…… sebuah rasa menyeruak di pagi ceria. Aroma harum dengan kepahitan merata dan tertahan lama dibawah lidah (body bold… kayaknya blended arabica dan robusta… atau roastingnya maksimal.. dark roast.) Aciditynya rendah, taste yang muncul rasa dark coklat dan selarik rasa kacang tanah… yakin ini bukan javanesse coffee…. apa yaa?

Ah tapi nggak perlu banyak tanya, tapi nikmati aja.

Ntar klo ketemu bu Dewi, baru tanya-tanya lagi. Yang pasti kopikir yang sudah dikirim ini begitu nikmat. Malah 400 ml hasil manual brew hanya bertahan sesaat di bejana karena segera habis di nikmati bersama.

Hatur nuhun bu Dewi, Wassalam (AKW).

Manual Brew di Negeri Singa

Menikmati nge-manual brew di negeri orang…

Waktu menunjukan jam 23.30 WS (waktu singapura) disaat bubaran diskusi kelompok di Lobby Hotel Boss. Phisik yang mulai lelah karena terforsir agenda kegiatan yang padat tetap terhibur dengan celoteh jenaka rekan-rekan disaat diskusi dinamisasi persepsi tentang makna dari konsep kepemimpinan kolaborasi…. halaah serius pisan nyak?.. kalem ini mah tetep blog yang bertema sederhana kok.

Jadi moo bahas apaan?…

Bahas kopi..

#clingak
#clinguk

Amaan….. yuk nulis lagiiie.

***

Sebelum tiba di kamar, nyempetin dulu survey kolam renang fasilitas hotel yang berada di lantai 4…… keluar lift ambil arah kanan dan kiri sama saja bisa aksee ke kolam renang dan ruang terbuka serta area merokok yang bebas… (maklum di singapur khan nggak boleh merokok sembarangan)… air kolam renang membiru mengajak segera bergabung bercengkerama dalam gerahnya malam…

Sungguh menyenangkan andaikan bisa menceburkan diri di malam hari dengan background gedung tinggi terang benderang buricak burinong… nikmat sekali. Tapi harapan harus ditepis karena waktu untuk nyebur sudah habis……yaach… nggak sempet berenanggg….

Setiba di kamar tak lupa membersihkan diri dan shalat magrib-isya jama qashar (manfaatkan kemudahan fasilitas Allah).

Setelah semua tuntas baru nyiapin ritual kopi yang membahagiakan. Sebungkus kopi gayo aceh yang dibawa dari Jatinangor tersenyum ceria setelah seharian berhimpitan dalam koper hitam kesayangan. Corong V60 pinky, kertas filter segera tersaji sementara untuk air panasnya sengaja membeli cadangan air destilasi 1500 ml seharga 2 dolar singapura khawatir yang dua botol kecil fasilitas hotel nggak mencukupi.

Pemanasnya udah ready, fasilitas hotel… nggak pake lama, segera proses pembuatan air panas dimulai. Sambil menunggu mendidih, beresin dulu peralatannya di keramik hitam yang menjadi meja di kamar hotel….

Trekk!!!... suara katup mematikan sambungan listrik di ketel.. berarti udah mendidih nich. Diamkan dulu ahh…. teorinya supaya suhu turun dibawah 100 derajat celcius… karena manual brew itu aku mah yach ikutan di range 85 – 93 derajat celcius… supaya dapet originalitas ektraksi dari kopi yang akan tersaji.

***

Jangan lupa kertas filter di corong V60 di basahi air panas dulu… buang airnya. Lalu tuangkan bubuk kopinya kira-kira 4 sendok makan… siap-siap membebaskan oksigen melalui proses bloomin.. caranya tinggal seduh perlahan air panas di tengah2 bubuk kopi… sedikit saja… dan biarkan berbusa… itu klo berbusa.

Klo udah beres…. proses manual brew dengan kucuran air perlahan berputar dari luar searah jarum jam… biarkan bubuk kopi bersentuhan dengan panasnya air dan berekstraksi sempurna menghasilkan cairan kopi yang penuh citarasa.

Tunggu hingga tetes terakhir yang jatuh dari ujung V60 ke gelas yang ada.. gelas hotel. Soalnya klo bawa labu kaca buat nampungnya berabe.. takut pecah diperjalanan khususnya bagasi di bandara.

selamat menunggu.

***

Hasilnya…. Body medium cenderung bold.. kepahitannya agak getir heuheuheu. Acidity terasa tetapi stabil (medium), aroma biasa… tapi untuk rasa kebathinan begitu menggelora karena di negeri orang masih bisa menikmati kopi asli Indonesia dengan racikan V60 darurat versi peralatan ala kadarnya.

Srupuuut nikmat….. ingat ya untuk menikmati rasa original kopi wajib hindari gula dan pemanis lainnya. Gunakan temperatur yang cocok dan komposisi takaran kira-kira tetapi mendekati yang dikehendaki.

Trus jangan lupa mainkan imajinasi juga senantiasa berfikir yang positif, supaya ada keselarasan rasa dengan kopi yang dibuat dan dinikmati… jangan2 klo pas nyeduhnya sambil mikirin hutang piutang…. hasil kopinya bakalan pahiiiiiit bangeeeeddd…. silahkan cubbbbaa.

Oke itu saja sekelumit cerita tentang aktifitas singkat daaan…… nyeduh kopi di negeri singa, semoga besok lusa bisa hunting kopi di sini dan tentu menikmatinya disela-sela agenda kunjungan yang super duperr paddat merayap.

Balik ke meja dimana proses seduhan berada disini.

Wilujeng ngopi lur. Terima kasih, Wassalam (AKW).