Ngopi di Braga 2

Ngopi Arabica Gayo nikmat pisan.

Photo : Sajian kopi Arabica Atjeh Gayo dg V60/dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Sebuah seruan menggetarkan suasana siang itu, “Coba kopi Arabica Gayonya di V60 om!”

“Siapp” jawaban lugas tapi sopan dari sang pelayan memberi keyakinan bahwa pilihan menu yang diminta tidak salah.

Cerita lanjutan dari Ngopi di Braga 1 dimulai… jeng jreeng.

Suasana jalan Braga Kota Bandung berangsur normal dari kondisi macet menjadi padat merayap. Maksudnya mobil yang lewat sudah bisa bergerak perlahan.

Hanya butuh waktu sekitar 10 menitan, kopi pilihan tersaji apik dengan menggunakan cangkir khas berwarna putih dengan gagang runcing melancip.

Photo : Cangkir lancip bikin sip / dokpri.

Tadinya pengen nyoba kopi Arabica Pangalengan diseduh pake V60, tapi pas lihat daftar harganya… agak mengkeret karena untuk 1 sajian itu harganya 96ribu. Trus klo metode Ibrik/tubruk/french press dibanderol 79ribu.

“Katanya orang kaya, harga segitu itungan” terdengar sang Gerutu berkoar kembali disamping bahu kanan. Aku tersenyum, kali ini tidak usah responsif dengan ledekan.

Keep calm.

Biarkan rasionalitas dan nurani serta isi dompet berkordinasi, sehingga kembali bisa menikmati sajian kopi yang sudah ada di depan mata dengan harga jauh lebih murah.

Entar klo pas ada waktu dan ada duitnya, diusahakan balik lagi dan menjajal rasa menyeruput suasana disini dengan sajian kopinya yang secara harga dijual paling aduhai selain kopi luwak.

“Lho kopi luwak ada, kok nggak pesen?”

Kembali senyumku mengembang, ada alasannya sehingga tidak terlalu menyukai kopi luwak. “Penasaran?… tunggu tulisan selanjuutnyaah”

***

Kopi Arabica Gayo tersaji dengan elegan, bercangkir putih dengan pegangan runcing dipadu dengan latar belakang biji kopinya dalam wadah kaca serta gelas server 0,25 liter yang elegan.

Photo : Alat Grinder kopi jadul / dokpri.

Nggak pake lama, segera dieksekusi, srupuuut……

Aroma kopi arabica memanjakan cuping hidung dengan keharumannya. Bodi medium menyisakan ketebalan rasa pahit diujung bibir bawah setelah cairan pergi meninggalkan lidah. Acidity medium menuju strong dengan taste fruittynya memberikan sensasi rilex sesaat dan betapa nikmatnya hidup di dunia ini.

“Jadi, jangan lupa bersyukur bray!!”

***

Sruputan terakhir menutup sesi relaksasi fikir serta raga yang haus atas sensasi rasa dari sajian kopi yang ada. Segera menghambur keluar restoran dan kembali ke dunia nyata.

Mobil tersenyum menanti dengan setia di pinggir jalan, hingga akhirnya kembali bersama menapaki kehidupan fana, Wassalam (AKW).

Memaknai kelengangan

Hanya mencoba memaknai sebuah moment ‘Lengang’

Photo : Jalan Braga Kota Bandung/Dokpri.

Ternyata kelengangan itu bisa muncul tiba-tiba. Ada yang memang menskenario untuk dijadikan latar #kehidupan , Tetapi ada juga yang ditakdirkan terdiam karena pembatas #putih #merah yang terkesan #rapuh tapi hampir semua pihak mematuhinya.

Itulah gambar dan tulisan yang diunggah di medsos pagi ini.

***

Trus?…. nah itu pertanyaan yang ditunggu.

Jadi….

…….. Sebenarnya ini adalah sebuah kejadian yang buat manusia seolah kebetulan, padahal ini adalah takdir yang sudah jelas ketentuannya.

Siapa sangka dari tadi beredar keliling bandung… eh keliling sekitaran daerah ciroyom-pasar baru-gasibu-taman lansia hingga ke balaikota. Harus berhenti tepat di jalan braga sebelum perlintasan kereta api sebidang.

Klo di sengaja belum tentu dapat, tapi itulah takdir. Tepat berhenti di lintasan terhalang oleh palang penutup yang di cat putih merah selang seling. Terlihat rapuh dan akan mudah diterjang oleh moncong mobil… tapi ternyata tidak ada yang berani menabraknya meskipun se buru-buru apapun.

Kenapa?….

Dibalik penutup lintasan itu tersimpan resiko yang sangat besar jikalau nekad dilewati…. Kecium idung lokomotif yang melaju itu… ya cilaka pokoknya mah.

***

Semua berhenti dengan tertib, menunggu sang kereta api lewat. Biasanya mudah sekali iseng tebak-tebakan, “Dari arah kiri atau kanan?” Hati-hati dengan undian, jangan sampai terjebak apalagi dengan tumpangan sejumlah uang. Klo yang kalah jitak gimana?….

Gimana ya?…. eh malah nglantur.

Diseberang lintasan otomatis jalan lengang karena jalan braga ini satu arah. Seketika ada ruang kosong dan lengang terhampar di hadapan.

Ternyata momen itu dinantikan sekelompok anak muda ya g terlihat sudah merencanakan sesuatu. Satu orang bawa kamera, satunya papan refleksion, dan satu orang pengarah gaya.. total 3 orang cowok dan satu lagi remaja putri menenteng tas bersiap berpose dengan background kereta yang akan lewat….

“Itu pasti buat iklan tas” celoteh istriku sambil terus asyik memperhatikan aktifitas mereka. Benar saja beberapa tas di pakai bergantian oleh remaja putri itu dan kameramen plus kru serta pengaeah gaya sudah sibuk dengan peran masing-masing.

Suasana hening, lengang tapi tegang.

Diawali suara dan getaran derrrrr…… tuiiiiit… deerrrr…. ttiitt tuuut tiiit tuuut, kereta api ekspres melewati kami dari arah kiri, memusnahkan lengang dan mengembalikan keadaan seperti biasa.

Kereta api lewat, 4 remaja di seberang sudah menghilang dan kendaraan berlomba merangsek maju mengisi ruang kosong di jalanan.

Terima kasih atas momentum kelengangan yang tak sampai 5 menit, tetapi memberi kesan harapan bagi beberapa orang meskipun masing-masing memiliki perspektif berbeda. Itulah hidup, yang pasti memaknai syukur setiap saat yang terkadang begitu sulit.

Yu ah… cussss… beredar keliling kota lagi. Minggu-290418 (AKW)