Oleh – oleh Medan

Membawa buah tangan bagi rekan dan keluarga tersayang dari Kota Medan yang penuh kenangan kebersamaan.

Photo : Durian Sibolang siap santap / dokpri

Membeli oleh – oleh di luar kota untuk keluarga tercinta atau teman yang tidak ikut pergi bersama menjadi sebuah tindakan penuh makna.

Minimal berbagi perhatian dan merasakan sensasi makanan olahan atau minuman yang khas dari suatu daerah. Bisa juga bentuk barang yang melambangkan atau menunjukan keunikan wilayah tertentu.

Nah… di Kota Medan Sumatera Utara juga merupakan surga wisata kuliner dan juga wisata sejarah. Di sela-sela perjalanan dinas tentu bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk membeli sesuatu dan membawa buah tangan.

“Pilihannya?”

“Banyak bingiiit, yang sudah tidak asing lagi tentu Bolu Meranti, Bika Zulaikha, Manisan jambu, Lemang, Sop Sumsum, Mie Aceh Titi Bobrok, dan jangan lewatkan menyantap duren”

Photo : Toko Ucok Durian / dokpri.

Ngobrolin durian maka akan disebut ‘Durian Ucok’, itu sudah terkenal banget. Tetapi sekarang ada juga tempat makan duren kekinian yaitu Durian Sibolang yang terletak di jalan…. dengan tempatnya yang nyaman plus instagramable. Tinggal pilhan kita mau menyantap durian dimana, masalah sajian durian keduanya sama-sama menyajikan yang terbaik dan bisa diganti manakala yang dijanjikan tidak sesuai kenyataan.

Duren juga bisa dinikmati dalam bentuk pancake, jadi dagingnya sudah dipisahkan dan dibungkus denga lapisan lembut… siap makan pokoknya. Tapi harus hati-hati memilih karena mungkin saja sudah ditambah pemanis dan perasa duren (essence).. jadi yang aman… yaa belah dureeen.

Photo : Bolang durian / dokpri.

Untuk dibawa pulang, bisa juga dikemas menggunakan wadah plastik dan dibungkus rapat serta terakhir di-wrapping di bandara seharga 50Ribu per-barang baik kecil dan besar harganya sama.

***

Balik lagi ke oleh-oleh yang dibawa pulang maka selain Bolu Meranti dan Bika Zulaikha juga teri medan. Ikan teri mentah yang memiliki rasa khas lezat setelah diolah di rumah. Maka huntinglah ibu-ibu ke Pasar di Kota Medan sementara bapak-bapak termangu menunggu di dalam kendaraan Toyota Hiace yang menjadi saksi semangat belanja dari para emak-emak.

***

Ada yang lebih spesifik lagi buat penulis adalah… KOPi… yup yup.. kopi Sidikalang, Gayo, Mandailing, Lintong serta Ulee Krueng. Selain berburu biji kopinya juga mencari tempat kedai kopi atau cafe kopi yang menyajikan manual brew dengan V60 dan sebangsanya.

Kaitan kopi yang bikin asyik adalah tempat beli kopi yang berkualitas itu berdekatan dengan tempat beli oleh-oleh yang sudah terkenal… seneng khan. Coba nich :

Photo : Toko Kopi Sidikalang.com / dokpri.

1. Di Jalan Mojopahit Kota Medan adalah tempatnya belanja Bika Zulaikha, nah beberapa meter di seberangnya adalah Toko Kopi Sidikalang yang menyajikan aneka kopi dari berbagai belahan nusantara serta peralatan membuat kopi.

Photo : Mesin Roasting Probat OttenCoffee / dokpri.

2. Di Jalan Kruing Kota Medan adalah tempatnya beli Bolu Meranti. Lagi-lagi di seberangnya, agak maju beberapa ratus langkah adalah tempatnya Toko OttenCoffee. Sebuah onlineshop terkenal bagi pecinta kopi. Tempat membeli aneka barang-barang yang terkait kopi termasuk mesin kopi serta alat untuk me-roasting kopi… dan kelebihannya satu lagi adalah di Toko OttenCoffee ini bisa juga menikmati manual brew V60, Cemex, Shiffon dengan berbagai pilihan kopi dalam dan luar negeri.
Penulis mencoba Kopi Kerinci Natural Proses, rasanya…. ini dia V60 Kopi Kerinci Natural Proses Otten Coffee.

Tapi ingat ya guys, belanja juga harus konsentrasi. Jangan serakah dan gelap mata, ternyata duit habis barangnya nggak guna.

Konsentrasiii… Wassalam (AKW).

Nyeduh Kopikir Bogor

Nyeduh kopi sambil mikir, kopi apa ini, misterius, tapi ah.. kok dipikir, nikmati aja Kopikir.

Senin pagi setelah tuntas mengaji, segera menggerakkan kaki untuk bersiap apel pagi. Tetapi karena waktu masih banyak maka dilanjutkan dengan diskusi bersama membahas banyak hal bersama para pejabat eselon dua, dari topik sederhana hingga yang agak serius , pembicaraan mengalir terbangun alami.

Tapi akhirnya segera undur diri karena ada tugas mandiri yang harus segera dimulai, apa itu?…. nyeduh kopiiiiii.

“Kenapa jadi penting?”

Pertanyaan yang standar, tapi selalu ada hal yang bisa dijadikan alasan. Pertama karena memang suka banget kopi dan kedua ini kopi gratis tis tis, dikirim via paket dari Bu Dewi yang bekerja di Pemerintah Kota Bogor. Ketiga, ini kopi lokal nusantara. Karena beberapa minggu belakangan hampir semua kopi yang tersaji adalah kopi luar negeri. Padahal kopi Nusantara is the best lho.

Hatur nuhun ya Bu Dewi.

Sudah 2 minggu lebih sang kopi ini dibawa kesana kemari. Tetapi belum ada kesempatan untuk menyeduh sendiri. Maklum lagi sok sibuuk hehehehe. Jadi menikmati kopi tanpa gulanya lebih banyak yang disajikan manual brew oleh orang lain.

Nah pagi ini… saat yang tepat sebelum apel pagi untuk menyeduh si hitam bubuk harum dari bogor ini.

Bungkusnya menarik, alumunium foilnya berlapis warna putih dengan gambar depan yang minimalis bertuliskanKopikir‘... maksutnyaa?… kopi + kir atau ‘kau pikir’ kali yaa?… atau kok pikir pikir?… entah lah, yang pasti dibawahnya ada tulisan kopi bogor.

Nggak pake lama, stalking dulu via gugel dan medsos, Instagramnya lucu… dan disebut berbagai varietas kopi di Nusantara, ada Gayo hingga Toraja juga Balinese and Javanesse… yang ini dari mana ya?… bungkusnya di bolak balik. Ada gambar kijang dan dibawahnya gambar karikatur yang menggambarkan suasana kota Bogor… jadi penasaran. Misterius yeuh.

***

Alat tempur segera disiapkan, kertas filter, V60, termometer, timbangan, gelas ukur dan tentunya air panas sesuai harapan. Nggak lupa basahin dulu kertas filternya dengan kucuran air panas sebelum bubuk kopi diseduh dengan sepenuh hati.

Setelah semua siap, 48 gram bubuk kopi segera disentuh perlahan oleh kucuran mesra 400 ml air panas temperatur 90 derajat celcius…
Hmmm…. aroma harum kopi memenuhi ruang harap, bikin senin pagi semakin semangat setelah tadi pagi jam 03.00 wib sudah mandi karena jadwal shubuh berjamaah sudah menanti.

Tes….

Tes….

Tes…. tetesan cairan hitam kopi berkumpul di bejana kaca transparan.. ah nggak sabar nich untuk segera menikmati.

Tuntas di bejana segera dituangkan pada cangkir kecil kesayangankuu….

Daan…. srupuuut…. kumur dikitttt…. glek….

Dessss…… sebuah rasa menyeruak di pagi ceria. Aroma harum dengan kepahitan merata dan tertahan lama dibawah lidah (body bold… kayaknya blended arabica dan robusta… atau roastingnya maksimal.. dark roast.) Aciditynya rendah, taste yang muncul rasa dark coklat dan selarik rasa kacang tanah… yakin ini bukan javanesse coffee…. apa yaa?

Ah tapi nggak perlu banyak tanya, tapi nikmati aja.

Ntar klo ketemu bu Dewi, baru tanya-tanya lagi. Yang pasti kopikir yang sudah dikirim ini begitu nikmat. Malah 400 ml hasil manual brew hanya bertahan sesaat di bejana karena segera habis di nikmati bersama.

Hatur nuhun bu Dewi, Wassalam (AKW).