Kopi Panon Hideung Ubud

Bersua dengan Kopi Panon Hideung…

Photo : Kopi Bali Kintamani V60 / dokpri.

UBUD, akwnulis.com. Siang yang cerah menyambut raga dalam gairah keingintahuan, di sebuah tempat yang cukup jauh bila dilakukan dengan berjalan kaki selangkah demi selangkah.

Tetapi ternyata perjalanan jarak jauh dengan pesawat dari Bandara baru di Kertajati di tambah dengan perjalanan darat,… eh berjumpa lagi dengan suatu tempat yang cukup kental dengan keseharian dan sering didengar nada suara dari lagu sunda yaitu lagu ‘panon hideung‘.

Panon hideung
Pipi Koneng
Irung mancung
Putri baandung…. 🎼🎵🎶… dst’

Wahh itu khan lagu sunda dan sering didendangkan sambil memandang mata indah cureuleuk neng cantik hehehehe…. “Tapi ini mah jauh lho, di Pulo Bali, tepatnya di daerah Ubud”

“Euleuh jauh amattt, ngapain ke situ?”

Photo : Wayan Adi sang Barista Black Eye Ubud / dokpri.

Pertanyaan kepo yang kadang dirindukan, pertanyaan penasaran yang ternyata sering sengaja dipancing dengan posting gambar, photo, video di medsos masing-masing dan berharap puluhan jempol like serta komen akan membanjiri wall or status medsos… maka terbitlah bahagia…. jaman yang aneh.

Tapi tidak perlu menjadi bingung, itulah jaman sekarang, jaman narsis dan jaman rasa bahagia bahagia hanya dengan jempol dan komen yang mungkin tidak muncul dari hati yang tulus tapi setengah tulus plus kasihan… hihihi suudzon dech.. maaf.

Back to ‘panon hideung’, “Emang nemuin apa di Ubud?”

Inilah yang menyambutku di sini, sajian kopi arabica bali kintamani yang disajikan Barista Wayan Adi di cafe yang bernama Panon Hideung.

“Aslinya itu Cafe panon hideung?”

Ihh… bener, tapi pake bahasa inggris, jadi namanya Cafe Black Eye, kepoin aja IGnya blackeye.ID, “Bener khan artinya panon hideung?”

Gubraak!!!!…..

Bener ternyata (Setelah 2 kali buka google translate, English-Indonesia-sunda).

Ada-ada aja, trus rasanya gimana?”

Photo : Cafe ‘Panon Hideung’ di Ubud / dokpri.

Rasa yang tersaji tentu dipengaruhi berbagai faktor (sok serius lagi…), mulai dari beannya, proses roastingnya, hingga proses penyajiannya.

Kopi yang ada dihadapan ini disajikan dengan perbandingan 1 : 10 dengan temperatur air 80° celcius (hasil interogasi sama sang barista), …. dan menghasilnya sajian kopi manual brew V60 dengan metode puter kiri (maksuttnya pas ngucurin air panas dari goosenecknya itu melawan arah jarum jam…..)

Muncullah sajian yang beraroma harum, dengan body low (pahitnya minim), acidity medium (agak asem gitcuuu…) dengan after tastenya ada selarik citrun yang ninggal di ujung bawah lidah….. srupuuut…. nikmattt, oh ya harga persajian 40,5K.. mihill… tapi ya sudah da nggak setahun sekali kesinihnya juga.. 🙄🙄🙄..

Sambil memandang suasana cafe Black eye ini kembali terngiang lagunya ‘panon hideung‘, ……. ahh rasa ingin segera pulang semakin menggebu, kembali berkumpul dengan anak istri di tanah sunda yang mengharu biru, selamat ngopay bray. Wassalam (AKW).

***

Lokasi :
Black Eye Coffee & Roastery
Ubud, Gianyar Bali 80571