Transformer Americano

Bergerak bersama menyelamatkan bumi, dilanjutkan ngopi.

Photo : Siap bertarung bersama menyelamatkan bumi / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. lagi jalan menyusuri semak belantara pertokoan, melihat lalu lalang para pelancong dan petualang cuci mata sambil menggamit tangan mungil anak tercinta. Tiba-tiba mata tertumbuk sesosok besar, berdiri tegak dengan penuh kegarangan. Senjata di tangan kanan dan kiri serta penuh amunisi. Sesaat tersentak kaget dan menghentikan langkah.

“Ayaaah…. mau jadi tampomerr!” Tiba-tiba terdengar request dari anak kecil yang tadinya bengong melihat sesosok besar berada dihadapan.

“Tampomer?” Agak loading sedikit, maksudnya Transformer kali ya?. Robot canggih yang bisa salin rupa menjadi mobil-mobil mahal tergabung dalam pertikaian semesta antara Autobot dan Deception.

“Robot besar say?”
“Iyyyaa ayaaah, yang ituu!!” Telunjuknya lurus menuju jajaran robot besar yang berbaris menanti perintah untuk bergerak bersama manusia menyelamatkan bumi dari kehancuran.

***

“30 ribu kakak” itu jawaban dari penjaga robot penyelamat bumi. Transaksi terjadi, sementara calin customer kecil ini terus memilih dari beberapa robot yang tersedia.

“Ayah yang blue”

“Mangga geulis”

Darah pendukung persib ternyata menetes ke anak semata wayang ini, jajaran robot berwarna lain tidak mau dinaiki, pengen yang warna biru. Halik ku Aing heu heu heu.

Jadilah kami berkolaborasi menjadi bagian dari transformer selama hampir 10 menit. Menjelajahi dunia dengan gerakan kaku yang diatur konsol di tangan kanan dan kiri. Sabuk pengaman melindungi kam dan anak kecil yang awalnya tegangpun akhirnya bisa menikmati. Rentetan tembakan serta misil tempur yang meluncur menghancurkan musuh-musuh bebuyutan, memaksa pasukan deception hengkang dari muka bumi kembali ke planetnya di ujung luar sabuk milky way.

Dor dor dor dor… blaaar….. jegerrr!!!

Teretet… ter..ter.. dor dor dorr!!!

Pertarungan sengit yang menyenangkan, anaknya seneng, bapaknya seneng. Untung aja bapaknya masih punya jiwa kekanak-kanakan, jadinya main bareng.

“Seraaang musuhhh”
“Tembak ayaaah”

Istri tercinta memperhatikan keseruan ini sambil duduk di sofa pengunjung, tak lupa mengabadikan pertempuran ini dengan gadget canggihnya.

Akhirnya pertempuranpun usai.

Photo : Secangkir Americano Coffee Justus / dokpri.

Setelah lelah bertempur menyelamatkan bumi, maka kebutuhan jasmani harus segera dipenuhi. Kami bergegas melepas sabuk pengaman dan turun dari robot transformer yang melanjutkan petualangannya menjaga bumi dari musuh dan enemy.. ih sama aja ķamu mah.

Sambil menunggu sajian makanan yang dipesan, maka secangkir americano coffee ala kafe Justus Pascal 23 menjadi booster bagi diri agar segar kembali dan terus bersemangat mengasuh anak istri yang menjadi tanggung jawab abadi, lahir batin. Wassalam (AKW).

Kopi & Mutasi

Perubahan tugas bernama mutasi, harus dihadapi tanpa basa basi. urusan kopi terus dinikmati.

Photo : Sajian kopi hitam tanpa gula di cangkir hitam / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pahitnya kopi menjadi pemecah suasana yang cenderung formal berhias angka-angka akuntansi. Diawali dari basa basi, penuh janji dan ambisi ditutup dengan angka-angka target yang mengejar presisi. Meskipun yakin secara niat, semua yang hadir memiliki tujuan hakiki.

“Kenapa bicara pahitnya kopi?”
“Karena rasa kopi pahit bisa menetralisir pahitnya angka-angka rumit dalam perjalanan kehidupan”

‘Ahaay lebaay’

Tapi benar saja, setelah ungkapan ‘kopi pahit’ tadi mengemuka, suasana perbincangan dalam meeting perdana ini menjadi cair dan penuh keakraban. Angka-angka yang menjadi target tetap dibahas dalam kerangka keilmuan, tetapi suasana penuh kekeluargaan.

“Ngapain ngurusin angka-angka?”

Senyum dikulum menjadi jawaban sederhana. Dengan pendekatan telepati, jawaban tiba tanpa perlu berteriak lantang yang menggegerkan dunia.

Photo : Meeting perdana bertabur angka / dokpri.

“Ini efek mutasi, berpindah tugas baru beberapa hari, bersua kembali dengan angka-angka yang menari. Berbalas pantun membaca neraca akuntansi demi sebuah kemajuan lembaga keuangan di wilayah tasikmalaya yang loh jinawi”

Kata berima menjadi jawaban, nafas perlahan menandakan ketenangan. Secangkir kopi hitam di gelas yang hitam tidak menghitamkan pandangan, malah menyalakan secercah cahaya untuk menghapus kelam setelah lembaga ditinggal oleh sesepuh yang penuh dedikasi di dunia perbankan lokal di jabar selatan, selama-lamanya.

Secangkir kopi hitam tanpa gula, menjadi saksi diskusi yang berusaha menghasilkan keputusan penuh arti. Inilah meeting perdana pasca mutasi, hidup kopi, Wassalam (AKW).

Jalan Kaki & Kopi

Berjalan kaki rutin sambil mengejar kopi untuk diseruput itu adalah ‘sesuatu’

Photo : Trotoar di Jalan Banda / dokpri

BANDUNG, akwnulis.com, Berjalan dipagi hari di lapangan seperti Gasibu dan Saparua memang menyenangkan, tetapi semakin banyak orang yang sadar bahwa olahraga itu kebutuhan dan fasilitas lapangan yang ditata apik semakin baik maka berlari kecil, berjalan cepat atau jalan santai sekalipun jadi bejibun banyak orang.

Trus menyiasati berolahraga di hari kerja juga tentu agak sulit mengatur waktunya. Pernah berfiķir jam 06.00 wib udah di kantor jadi bisa berjalan-jalan keliling gasibu atau area gedung sate. Ternyata agak sulit dilakukan jikalau rutin tiap hari karena harus berangkat jam 05.00 wib dari rumah, maklum rumahnya berposisi di bandung coret.

Kecuali hari jumat, karena ada agenda rutin shubuh berjamaah dan pengajian di mesjid AlMuttaqien maka setelah itu bisa digunakan berjogging ringan sebelum memulai mengerjakan tugas-tugas yang ada.

Tapi…. seminggu sekali nggak cukup brow.

“Gimana kalau rutin tiap hari bergerak atau minimal berjalan 30 menit?”

“Hayuu… siapa takuut”

***

Maka pembiasaan dimulai, dicoba sambil menuju tempat makan siang. Jadi sebelum jam 12.00 wib, sudah prepare.

“Duh sholat berjamaah dhuhur gimana?”

Bisa kita coba di mesjid lain selain gedung sate saja. Tepat jam 12.00 wib, langkah dimulai, ‘Al awalu bin niat’… berjalan kaki keluar dari gerbang belakang gedung sate, menyusuri Jalan Banda. Berhenti sejenak menunggu traffic light menghijau di perempatan Riau-Banda. Lanjut lurusss… melewati Gedung Pos, kantor Satpol PP Jabar juga melihat aktifitas olahraga di area lintasan GOR Saparua.

Photo : Trotoar di jalan Belitung-Bandung / dokpri

Belok kanan ke Jalan Aceh, lurus. Trus ke arah Jalan Sumbawa, belok kanan ke Jalan Belitung, lurus. Lalu belok kiri di jalan Sumatera. Ternyata lumayan, jalan santai sambil nengak-nengok pemandangan udah ngabisin waktu 25 menit guys, keringat perlahan muncul dan badan agak hareudang.

“Trus mana kopinya?… harus sesuai judul dong kalau bikin tulisan!!!”

“Kalem donk, khan judulnya juga -jalan kaki & kopi-, jadi dibahas dulu jalan kakinya baru ngopi. Itupun klo buka hehehehehe”

Tik

Tok

Tik

Tok

***

Setelah 25 menit berlalu maka untuk menambah 5 menit menuju terus aja jalan melewati SMP 2 Bandung hingga akhirnya kedai kopi yang dituju sudah terlihat di depan mata, Colony Coffee.

Posisinya hampir persis di seberang SMP 2 Bandung, dulu mah area Rumah Makan Praoe nah sekarang ganti jadi Cafe Colony dan di ujung kiri berbatasan dengan bangunan Kantor BTN, disitulah tujuan siang ini.

Photo : Kopi Bandung Utara / dokpri

Sajian yang dipesan tentunya single origin manual brew specialty coffee donk, dan pilihannya jatuh ke Kopi Bandung Utara.

Vidi Sang barista segera mengukir kreasi menyiapkan beraneka peralatan yang menjadi andalannya. Timbangan, filter, corong V60 hingga biji kopi sudah siap unjuk gigi. Dengan komposisi 15 : 15, panas air 85° celcius segera beraksi dengan awalan blooming dilanjut proses ekstraksi yang miliki banyak arti.

Aku mah nikmatin aja prosesnya dan tinggal nunggu hasilnya.

Ahh… haa.

Tersaji dalam botol kaca yang menjaga suhu tetap stabil selama dinikmati, tentu gelasnya menemani.

Srupuut….. aroma kopinya menyeruak. Body-nya lite, tapi acidity-nya medium high serasa ada sesuatu yang ‘ninggal’diujung bibir disaat kopinya sudah tandas direguk. Tastenya fruitty juga muncul selarik rasa segar teh (kayak yang bener aja ya?… jangan2 salah rasa.. ah sudahlah. Klo nggak percaya ya coba aja sendiri).

Gitu deh jalan kopi eh jalan siang hari ini.

“Trus makan siangnya gimana?”

“Itu dibahas lebih lanjut guys, sekarang mah ngobrolin jalan kaki terus ngopi”

Eiiy nggak puguh!!!

Senyum simpul menjadi jawaban hakiki, wilujeng ngopay bray, Wassalam (AKW).

Longblack ice Sejiwa

Menikmati dinginnya kopi hitam, disini.

Photo : Longblack coffee di Cafe Sejiwa / dokpri.

Sebuah momentum kehidupan akan menghasilkan kenangan. Beraneka peristiwa terjadi, dijalani dan akhirnya terkadang terlupakan, setelah ditinggalkan oleh waktu yang terus berjalan.

Di era digital saat ini, begitu mudah meng-capture peristiwa yang kemudian hanyalah kenangan. Photo dan video sebuah peristiwa dengan smartphone mudah sekali dilakukan, meskipun beberapa hari kemudian bikin pusing karena memori hpnya kepenuhan.

Trus karena males backup, ya dihapus aja sebagian….. eeh ternyata dikemudian hari photo dan video itu dibutuhin…. pusing jadinyaaa. “Kok curcol seeeh?”

Ngobrolin sebuah momen yang terperangkap dalam photo hasil jepretan hape, sekarang mah sudah ada penyimpanan diatas awan.. eh cloud memory maksutnya. Jangan khawatir dengan ‘kehilangan’ karena Firmanpun tetap bernyanyi meskipun ‘kehilangan.’

Cara yang lain, titip di medsos. Sekalian narsis juga dokumentasi gratis dapet bonus jempol dan komen. Bisa juga di blog pribadi, pokonya banyak cara menyimpan sejuta kenangan yang ada di era serba terbuka saat ini.

Nah ngomongin nitip gambar di blog, persis kejadian pagi ini.

Terjadi miskordinasi antara jempol dan otak. Ada ketidakpasan eh teu nyambung pokonya. Jadi otak sudah memerintahkan upload gambar di blog ini tapi jangan dulu dipublish karena akan dipaduserasikan dengan tulisan.

Ternyata sang jempol mendahului mengambil inisiatif, klik ‘oke‘…. dan photonya publish duluan tanpa ada cerita apapun. “Kasian khan?”

Padahal ceritanya adalah sajian kopi hitam tanpa gula dengan disajikan bersama ice batu yang diformat longblack. Tadinya moo pesen manual brew specialty coffee di Cafe Sejiwa, eh ternyata habis. Langsung banting setir pesen Longblack aja.

Sebelumnya disini menikmati Kopi Afrika Duromina bersama istri tercinta, disini di Cafe Sejiwa.

Masalah rasa ya lumayan, dari kopi home blended jadi nggak tau beannya apa. Diolah pake mesin, jadi pasrah aja. Disajikan, sruput sruput, nikmati aja. Abis dech, yang penting tetap bisa ngopi tanpa gula.

Gitu ceritanya. Makasih buat yang udah komen. Sekarang jadi jelas maksudnya gambar apa. Hatur nuhun. (AKW).

Ngopi di Braga 2

Ngopi Arabica Gayo nikmat pisan.

Photo : Sajian kopi Arabica Atjeh Gayo dg V60/dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Sebuah seruan menggetarkan suasana siang itu, “Coba kopi Arabica Gayonya di V60 om!”

“Siapp” jawaban lugas tapi sopan dari sang pelayan memberi keyakinan bahwa pilihan menu yang diminta tidak salah.

Cerita lanjutan dari Ngopi di Braga 1 dimulai… jeng jreeng.

Suasana jalan Braga Kota Bandung berangsur normal dari kondisi macet menjadi padat merayap. Maksudnya mobil yang lewat sudah bisa bergerak perlahan.

Hanya butuh waktu sekitar 10 menitan, kopi pilihan tersaji apik dengan menggunakan cangkir khas berwarna putih dengan gagang runcing melancip.

Photo : Cangkir lancip bikin sip / dokpri.

Tadinya pengen nyoba kopi Arabica Pangalengan diseduh pake V60, tapi pas lihat daftar harganya… agak mengkeret karena untuk 1 sajian itu harganya 96ribu. Trus klo metode Ibrik/tubruk/french press dibanderol 79ribu.

“Katanya orang kaya, harga segitu itungan” terdengar sang Gerutu berkoar kembali disamping bahu kanan. Aku tersenyum, kali ini tidak usah responsif dengan ledekan.

Keep calm.

Biarkan rasionalitas dan nurani serta isi dompet berkordinasi, sehingga kembali bisa menikmati sajian kopi yang sudah ada di depan mata dengan harga jauh lebih murah.

Entar klo pas ada waktu dan ada duitnya, diusahakan balik lagi dan menjajal rasa menyeruput suasana disini dengan sajian kopinya yang secara harga dijual paling aduhai selain kopi luwak.

“Lho kopi luwak ada, kok nggak pesen?”

Kembali senyumku mengembang, ada alasannya sehingga tidak terlalu menyukai kopi luwak. “Penasaran?… tunggu tulisan selanjuutnyaah”

***

Kopi Arabica Gayo tersaji dengan elegan, bercangkir putih dengan pegangan runcing dipadu dengan latar belakang biji kopinya dalam wadah kaca serta gelas server 0,25 liter yang elegan.

Photo : Alat Grinder kopi jadul / dokpri.

Nggak pake lama, segera dieksekusi, srupuuut……

Aroma kopi arabica memanjakan cuping hidung dengan keharumannya. Bodi medium menyisakan ketebalan rasa pahit diujung bibir bawah setelah cairan pergi meninggalkan lidah. Acidity medium menuju strong dengan taste fruittynya memberikan sensasi rilex sesaat dan betapa nikmatnya hidup di dunia ini.

“Jadi, jangan lupa bersyukur bray!!”

***

Sruputan terakhir menutup sesi relaksasi fikir serta raga yang haus atas sensasi rasa dari sajian kopi yang ada. Segera menghambur keluar restoran dan kembali ke dunia nyata.

Mobil tersenyum menanti dengan setia di pinggir jalan, hingga akhirnya kembali bersama menapaki kehidupan fana, Wassalam (AKW).

Ngopi di Braga 1.

Hikmah macet berbuah ngopi.

BANDUNG, akwnulis.com. Disaat melewati jalan legendaris di Kota Bandung, kemacetan mendera. Sehingga mobil yang ditumpangi tidak bergerak sama sekali, eh bergerak kok, tapi per sentimeter.

“Salah sendiri, udah tau lewat sini pasti macet. Mbok yaa cari alternatif lain atuh!!” Gerutu hati memarahi diri sendiri. Aku terdiam, nggak nyaman sekali diomeli.

Ternyata sang Gerutu terus aja manas-manasin hati ditengah kemacetan yang menggila. Bikin panas bukan hanya hati, tapi sampai ke ubun-ubun hingga otak nggak bisa mikir lagi.

“Tunggu kamu disini!!!” Teriakanku membuncah menghempaskan sang Gerutu dari sisi pikiran ini, seiring dengan mobil yang digunakan langsung parkir di kanan jalan, mereka ternganga terdiam.

Segera kaki menjejak batu granit lalu trotoar, menyesap nikmatnya menjalani sejarah di pinggir jalan Braga yang legendaris. Bersiul dan bergerak disambut jajaran lukisan kehidupan aneka bentuk yang tertata nyeni di pinggir jalan, juga di dalam bangunan yang berubah menjadi sanggar.

Segera insting alami bekerja di jalan yang penuh cerita ini, culang cileung sambil jalan, nyari kedai atau kafe kopi. Teteeeep kopaay.

Sambil berjalan melewati Toko Roti French, terlihat roti garlic dan bagelen tersenyum juga roti granat berpose gagah. Hotel Gino ferucci terlewati dan berharap di Sugar rush ada kopi, ternyata Closed. Pas nengok ke sebelah kanan, ada rumah makan sekaligus cafe legendaris di Braga yaitu Restoran Braga Permai. “Sugan aya di dieu (siapa tau ada disini)”

Ya harap maklum karena jarang nongkrong dan beredar jadi agak kuper tentang kedai atau resto yang nyediain meno kopi manual. Jadi prinsip ‘Malu bertanya, sesat di kopi’ segera dilancarkan.

Sebelum duduk, tentu tanya-tanya dulu, “Om, menu kopi seduh manual ada?”
“Ada de, monggo duduk dulu. Ini menunya….” segera tersaji menu kopi manual brew dengan 4 pilihan kopi : arabica Gayo, Peaberry bean, robusta Curup Bengkulu, arabica Pangalengan dan kopi luwak. “Wuasyiiik”

“Pilihan manual brewnya juga empat, V60, tubruk, ibrik blooming dan french press.” lanjut pelayan. Mantaabs.

Nggak pake mikir lagi, cari tempat duduk strategis dan bersiap menikmati sensasi kopi disini sambil menunggu kemacetan melengang.

…….

(Bersambung ke Ngopi di Braga 2 yach, anak cantik ngajak main dulu, AKW).

Coffee Gayo Wine

Menikmati sensasi Coffee Gayo Wine dengan Manual brew V60… seduh olangan.

Photo : Biji yang cantik mengkilap / dokpri.

Nggak pake lama, sang gunting menunaikan tugasnya. Membuka lapisan alumunium foil yang berisi biji misterius dengan lempeng mata tajamnya. Meskipun sepintas sudah bisa merasakan aroma rasa luar biasa, tetapi belum tuntas jikalau tidak melakukan proses penyeduhan mandiri dengan peralatan yang ada.

Yup… Coffee Gayo Wine yang segera di eksekusi dengan manual brew V60, kemoooon….

“Peralatan siaap?”
“Siaaaap”

Grinder langsung menggerakkan sendok dengan pikiran telekinetiknya, meraih biji kopi yang begitu cantik mengkilap. Dimasukan ke atas wadah penggilingan, stel ukuran 6-7 agar cocok untuk bubuk kopi yang bersiap diseduh ala Barista lalala…

Sesaat terperangah karena selain harum, bijinya mengkilat seperti berminyak. Tapi pas diraba tidak ada yang menempel di jari, berarti memang mengkilat alami, entahlah. Yang pasti penampilan bijinya cantik.. jadi sayang untuk menggrindernya.

“Tapi apa daya… kecantikannya harus melalui proses penghancuran menjadi serpihan-serpihan kecil untuk memberi peluang rasa nikmat yang tiada taraaa!!”

“Ihh kamu mah lebay, sok puitis. Gancang di seduh, sudah nggak sabar nich!!!”

“Ahiiiy!!!”

***

Corong V60 udah memasang sendiri kertas filternya, air memanaskan diri hingga mencapai 92 derajat celcius. Filternya mengguyur diri agar bersih dari residu pabrikan…. dan segera memasangkan dirinya pada gelas kaca yang setia menanti tetesan ekstraksi yang penuh aksi.

Photo : Hasil manual brew V60 Coffee Gayo Wine / dokpri.

Currrr…… pelan-pelan aliran air panas bersuhu 92 derajat celcius berpadu dengan biji kopi Gayo Wine hasil hunting di Kota Medan minggu lalu.

Tetes pertama dan tetes selanjutnya begitu memukau terlihat di gelas kaca. Prosesi ekstraksi biji kopi menjadi sebuah momen alami yang penuh sensasi. Harum semerbak kuan merebak, jadikan malam ini begitu semarak.

“Tuh kalah ka berpuisi lagi kamu teh!!!”

“Ih bawel pisan”

Diskusi monolog terus berlanjut, menjadi hiburan sambil menunggu ekstraksi kopi berkumpul sempurna.

***

..Surupuut… surupuut..

Deng…. agak terdiam. Kaget juga merasakan sensasi Acidity yang tinggi plus serasa ada rasa wine alami yang menstimulasi syaraf rasa semakin terbuka. Taste fruttynya muncul, rasa anggur kolesom… eh kok jadi kolesom…

Maksutttnya… rasa anggur yang berfermentasi terasa memanjakan lidah. Sensasi acidity berbeda yang ditampilkan oleh Kopi Gayo Wine ini. Kayaknya klo yang nggak biasa ngopi, musti pelan-pelan, takut kaget dan kenapa kenapa.

Trus setelah cairan kopinya masuk ke tenggorokan, eh masih nyisa rasa tebalnya di bibir bawah dan bertahan beberapa saat… yummy… hmmmm… enaaak brow.

Srupuut…. gleek.. glek.. glek.

Oke, itu dulu dech review versiku tentang Gayo Wine. Jangan komplen klo seakan berlebihan, tapi ini kenyataan.

Baca juga :

Kopi Kerinci

Kopi BTH

Kopi Manglayang Karlina

Jikalau beda pendapat juga dipersilahkan. Karena beda pendapat itu perlu, apalagi kita khan beda pendapatan…. upss naha kadinya (kesitu).

Udah ah, jadi ngelantur nulisnya, selamat menikmati, Wassalam”(AKW).