Istiqomah & Kopi.

Mengembalikan makna Istiqomah, juga ngopi yang istiqomah.

Photo : Jalan Lurus di Cilamaya / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sebuah garis lurus terbentang diantara berbagai garis lain yang berbentuk variasi dengan segala maksud dan tujuan. Dalam istilah islam, sebuah sikap yang teguh dan lurus sesuai dengan pedoman keislaman dikenal dengan istilah ‘Istiqomah’.

“Wah jadi ceramah ginih bro?”

“Mumpung bulan ramadhan yaaa?”

Dua komentar yang langsung nyolot dikala mencoba menyampaikan pendapat tentang istilah ini.

Terlepas dianggap sebagai ceramah bulan ramadhan, sebenernya lebih ke ngingetin diri sendiri. Terus terang aja, klo denger kata ‘Istiqomah‘ yang connect di otak justru singkatannya yang memiliki arti jauh banget dari makna yang sebenernya.

“Istiqomah itu singkatan dari Ikatan Suami Takut Istri apalagi di rumah”….

Tuhhhh khan jauh pisaaaan….. ternyata maknawi yang begitu mendalam bisa terselubungi oleh makna berbeda dan terkesan main-main.

Maafkan kami Yaa Allah…

Nah makanya nulis ini, sebagai bagian dari perbaikan diri dan mengembalikan makna Istiqomah kepada arti yang sebenar-benarnya.

***

Kamu istiqomah nggak?” Pertanyaan dari temen agak bingung jawabnya. Ini maksudnya istiqomah yang mana?….

Inget sama istri di rumah, jadi senyum sendiri. Bukan takut istri aku mah, tapi segen heu heu heu…. trus klo makna istiqomah yang sebenernya, maka langsung tertunduk malu, “Apa bener diri ini sudah mengerjakan tuntunan agama secara sempurna dan lurus tanpa banyak cela dan goda?”

Istiqomah itu adalah seorang muslim yang senantiasa menegakkan, mengamalkan dan membela tegaknya agama islam secara konsisten dan berpendirian teguh (haq), sedikitpun tidak memiliki kecenderungan ke jalan yang menyimpang (bathil) tanpa mengenal situasi dan kondisi didasari keyakinan yang benar kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.*)

Itu dia makna istiqomah yang sesungguhnya, insyaalloh tidak akan terjebak pemikiran atau lebih mengutamakan singkatan plesetan dari sebuah istilah yang begitu baik dan memiliki arti yang penuh keberkahan.

***

Photo : Arabica DNA coffee versi Wine / dokpri.

Nah urusan nyeduh kopi juga harus istiqomah….. alias memegang teguh pada satu patokan garis lurus, yaitu Nikotala (nikmati kopi tanpa gula), belajar konsisten dengan petunjuk berpadu pada keyakinan yang ada. “Setuju?”

“Ih dasar ini mah, nulis istiqomah ternyata ujung-ujungnya kopi juga”

“Kalem mas bro, khan sesuai makna istiqomah, dari awal khan blog ini memang fokus dengan tema kopi serta sedikit berenang, ingaat… Ngopay & Ngojay, Inget nggak?”

“Ah kamu mah, alesannya adaa aja. Trus yang sekarang diseduh kopi apa?”

“Nahh….. gitu donk, malam ini giliran sebungkus kopi spesial yang dinikmati tetap menggunakan metode V60, merknya DNA Coffee, singkatan dari Dangiang Nur Alam”

“Woaaah nggak sabar pengen tahu gimana rasanya”

Photo : Ngasuh anak dan dombanya / dokpri.

Tapi mohon bersabar yaaa… cerita DNA coffeenya di tulisan besok yaa… soalnya malem ini khan masih hari minggu, agendanya ngasuh anak semata wayang yang lagi sibuk sama dombanya, katanya lagi sakit jadi harus diberikan perawatan intensif supaya cepat sembuh.. gitu katanya.

Sebagai teaser maka ditampilkan dulu yaa…. secangkir kopi dan bungkus kopi DNA coffee yang akan dibahas esok hari. Selamat berpuasa di hari ke-15, Wassalam (AKW).

***

*)Sumber : Ensiklopedia Pengetahuan Alqur’an & Hadits, Kamil Pustaka, 2017.

Kopi Bali Banyuatis.

Ngopay setelah berbuka shaum…

Photo : Sajian Kopi Arabica banyuatis / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Suara Adzan begitu menggetarkan kalbu, menjadi penggugah hati dan memberikan rasa bahagia tiada tara, karena berarti masa penantian di hari kedua bisa dilewati dengan sempurna.

“Allohumma lakatsumtu Wabika amantu waala rizkika aftortu birohmatika yaa arhamarrohimin”

Segera segelas air hangat membasahi mulut dan menghangatkan lambung yang sedari pagi istirahat dari rutinitas mengolah makanan dan minuman… nikmat rasanya. Dilanjutkan dengan mengunyah potongan melon dan buah plum…

Kress kress… yummy.

***

Tuntas shalat magrib segera menggelar peralatan perang di atas meja makan sekaligus persiapan mencoba kiriman baru, coffee banyuasih Bali dari Ibu K. Agung. Coffee arabica yang diolah secara tradisional di daerah Singaraja Provinsi Bali, menggunakan biji kopi arabika pilihan dan disangrai dengan menggunakan kayu bakar sehingga akan menghasilkan rasa alami natural yang memikat.

“Jadi penasaran” Suara hati menambah semangat untuk membuka bungkusan kopi 200gr dengan gambar penari cantik legong bali yang senantiasa mengerling penuh arti.

Srett…. wuaah, bungkus kopinya sudah terbuka. Aroma sederhana menyeruah menyapa indera penciuman. Terlihat bubuk halus kopi yang siap dinikmati.

Air panas sudah siap, corong V60 sudah lengkap dengan kertas filternya. Tinggal seduh dengan perlahan… eh salah, bubuk kopinya di tuangkan dulu di kertas filternya. Barulah prosesi penyeduhan dimulai, currr… perlahan.

Photo : Baristi kecil sedang beraksi / dokpri.

“Ayah, aku aja yang ngucurinnyaah!” Tangan mungil sigap ambil alih, tapi belum ah, bahaya. Air panasnya bisa melukai kulit lembutnya.

Ternyata anak cantik ini pantang menyerah, tetap saja berusaha terlibat lebih jauh. Akhirnya dibimbing untuk mencoba mengucurkan air agar prosesi penyeduhannya ideal.

***

Jrennng…….. tersaji coffee arabica banyuatis versi manual brew v60. Selarik aroma harum melengkapi rasa alami yang muncul sendiri. Acidity medium less dan body bold memberi sensasi tersendiri. After taste-nya rasa pahit kakao ‘ninggal‘*) sesaat di belakang lidah, plus aroma asap kayu bakar memberi kesan berbeda.

Coffee ini adalah salah satu produk unggulan yang diproduksi oleh CV Pusaka Bali Persada, Singaraja Bali – Indonesia.

Akhirnya, 200ml coffee banyuatis ini berpindah ke lambung dan memberi kesegaran bagi raga serta ketenangan untuk jiwa. Segar bugar menjadi modal untuk menjalani shalat tarawih malam ini.

Selamat beribadah di bulan penuh berkah. Semangaat… Wassalam (AKW).

*)Ninggal : ungkapan penikmat kopi tanpa gula di kala rasa pahit dan asamnya kopi berdiam agak lama di lidah dan dinding mulut, red.

Gayo Pantan Mussara Japanesse iced.

Berkompromi dengan terik mentari bersama dinginnya sajian kopi.

Photo : Ice coffee latte / dokpri

CIMAHI, akwnulis.com. Siang yang terik makin mengukuhkan rasa dan mengganggu mood untuk keluar rumah. Pengennya santai bersama di rumah bersama anak istri bercanda dalam nuansa relax dan ceria. Tetapi… konsekuensi pekerjaan ibu negara yang tak kenal tanggal merah adalah juga komitmen yang harus dijalani dan… didukung tentunyah.

Lawan kemalasan, ambil konci mobil, nyalain.. Go.

***

Kembali ke suasana terik yang semakin mendera, badan jadi lemas itu biasa, tapi klo ditambah ngantuk bisa berabe karena posisi masih nyetir di jalan tol…. segera melawan dengan cara berdzikir… euh makin ngantuuk. Ganti cara…. bernyanyi lagu bathroom version…. Laaa… la.. laaaa… laaa.

“Akang teh kenapa teriak teriak nggak jelas?”

“Ini lagi nyanyiiii…. supaya nggak ngantuuk!!!”

“Oh lagi nyanyi?… Astagfirullohal adziim” Istri tertawa ditahan.

Alhamdulillah toll gate Barospun terlewati dan sebelum nyampe ke rumah nyempetin mampir di Cafe Kopi baruuu…. di deket rumaah. Namanya Cafe Otutu Cafe & Kitchen terletak di jalan Kerkof No. 72 leuwigajah.

Tempatnya tepat pinggir jalan dan juga bersatu dengan tempat cuci mobil motor… kayaknya ownernya sama dech.

Yang bikin seneng adalah sedia coffee manual brew… mantaaabs. Meskipun masih terbatas varian single origin coffee-nya tetapi terlihat kopi yang disajikan memiliki kualitas mumpuni. Ada arabica Manglayang Karlina, ada robustanya dan beberapa jenis kopi, cuman belum di cupping jadi belum berani menyajikan.

Karena stok manglayang karlina masih ada di rumah, jadi pilih yang lain… pilihannya jatuh pada kopi Arabica Gayo Pantan Mussara dengan metode manual brew V60 Japanesse Iced, tujuannya jelas untuk merebut kembali semangat dan kesegaran yang telah direnggut oleh panas teriknya siang hari ini. Istri tercinta pesan latte buat hindari bete, sehingga kembali ceria tanpa lungse.

***

Sajian pertama yang hadir adalah segelas coffee latte penghilang bete. Hadir ciamik dengan gelas tinggi dan cairan susu warna putih masih mendominasi… khan blum dikocok… eh dikudek. Ditambah secangkir kecil gula aren cair untuk memberi rasa manis.

Setelah diputar sendoknya dan dikudek, warna susu dan kopi bercampur dengan hasil akhirnya berwarna cokelat kopi sushuuu….
Kata istriku, kopinya enaak.

Tiba lah pesananku Arabica Gayo Pantan Mussara Japanesse iced, tersaji dengan botol templer dan gelas kaca sekaligus berfungsi sebagai penutup botol untuk menjaga suhu sajian kopi tetap sesuai harapan.

Tuangkan di gelas kecilnya… srupppuuut… wuiiih suegeeer.

Acidity khasnya yang sedikit menyengat bikin cenghar, tapi tidak terlalu lama nempel di ujung lidah jadi bisa meneguk lagiii….. bodynya agak ringan dan aroma lumayan. Oh iyyaa… after taste berrynya masih bisa dinikmati meskipun hanya sekilas tapi berbekas.

Photo : Gayo pantan mussara japanesse iced.

Srupuut lagiii….. Nikmaat, Alhamdulillah. Kesegaran dan mood kembali bergabung, suasana siang menjelang sore terasa lebih hangat. Ya iya atuh… kesempatan super berharga bisa kongkow ngopi bersama ibu negaraku (baca istriku). Eiit tapi nggak boleh lama-lama, anak cantik nungguin di rumah.

Harga coffee latte 20ribu dan Japanesse iced 25ribu rupiah.

Jadi yang pengen ngopi di sekitar leuwigajah bisa sempetin mampir disini. Nikmati kopi dan sekalian mencuci diri… eh mencuci mobil. Wassalam (AKW).

Gayo Wine Japanesse.

Sruput kopay dingin duyuuu bray…. di sini.

Photo : Spider nyaaah nemplok / dokpri.

KUNINGAN, akwnulis.com. Pas milih kursi di ruangan bagian dalam, agak terdiam sejenak karena disambut laba-laba raksasa yang nemplok di dinding hitam. “Takuuuut… spiderrrr!” teriakan anak secara spontan bikin pengunjung lain menoleh, lalu tersenyum karena paham bahwa kekagetan itu beralasan.

Di dinding tembok berwarna hitam, nemplok hiasan kayu berbentuk laba-laba. Andaikan itu laba-laba hidup, pasti segera beranjak menghindari, pergi untuk tak datang lagi.

“Sayanggg…. itu cuman hiasan, nich ayah pegang” sambil tangan mencoba menggapai laba-laba kayu tersebut. Anak kecilku tersenyum, “Oh hiasan ya, oke deh” dua detik kemudian berlari mengitari meja lainnya dan sudah lupa dengan kekagetan melihat hiasan laba-laba raksasa.

Photo : Interior jadul / dokpri.

Interior cafe yang menyajikan beraneka makanan minuman dan tentunya manual brew coffee ini homy banget, enak buat nyantai dengan mayoritas nuansa kayu berpadu dengan warna-warni menyegarkan. Namanya cafe dua4 kopi berlokasi di daerah Ancaran Kota Kuningan, dari Alun-alun kuningan ke arah barat dan di perempatan setelah LP belok kanan ke arac Cijoho, terus lurus Ciporang dan setelah itu daerah ancaran. Ada beberafa.. eh beberapa cafe kopi disitu, tapi sekarang kesempatannya ke sini duluuuu…..

Pilihannya tetep #tidakadaguladiantarakita dan jatuh pada manual brew arabica gayo wine. “Kok nggak pesen kopi arabica jabar mas?”
“Tadinya moo gitu, eh readynya cuman arabica gayo wine dan solok, ya sudah pilih salah satu dech”

Photo : Gayo wine japanesse / dokpri.

Anak kecilku milih minuman coklat dan ibu negara dengan creme bruelle-nya. Nah aku mah penasaran dengan metode seduh ‘japanesse‘, langsung tanya dech sama sang baristanya, Kang Agus, yang moo kepo-in IGnya cari aja @ch33monk.

Model seduh manual japanesse ini basisnya tetep seduh pake V60 tetapi berbeda pada sentuhan akhir. Klo komposisinya sih standar, Kang Agus ini pake 1 : 15 dengan suhu 85° celcius. Bedanya adalah pada gelas server susah ready es batu yang menangkap tetesan cairan ekstraksi kopi gayo wine ini dan mengubah cairan panas menjadi dingin.

“Hasilnya?”

Segelas kopi dingin yang begitu kuat level aciditynya… nendang banget. Aroma harum standar, tetapi aciditynya tampil banget dan bikin segeer. Menyeruak fruity berry dan sesaat ninggal di ujung lidah, body medium bikin tersenyum.

Photo : Kang Agus sang Barista 24kopi / dokpri.

Memberi rasa segar di siang terang yang periang, sambil mengamati anak kecilku yang cilingcingcat (nggak mau diem barang sedetik), begitu exited dengan suasana baru dan beberapa barang jadul yang menjadi pelengkap interior cafe ini.

Yang kepo bin penasaran, tinggal search ada di gugel, cafe 24kopi..
Tring… langsung aja klik direction… eh tapi syaratnya klo lagi di kuningan… maksudnya Kabupaten Kuningan Jawa Barat, bukan area Kuningan Jakarta ya guys….. kejauhaaan.

Trus urusan harga yang bikin hepi, manual brew gayo wine ala japanesse ini di hargai 17ribu donk… worthed khan?… pokoknya harga-harganya bersahabat dech…

Yuk ah.. srupuuut… suegerrrr. Wassalam (AKW).

Kopi Trizara Resort

Ngopay di dataran tinggi Bandung Utara sambil kemping, nikmat pisan, yukk ah…

Photo : Kopi di gerbang Trizara Resort / dokpri.

LEMBANG, akwnulis.com. Terdiam sambil mengatur nafas agar selaras dengan suara rintik hujan yang jatuh menimpa tenda di tengah malam terasa begitu menenangkan. Sepinya malam di daerah Pagerwangi Lembang memberi kesempatan pikiran untuk berkreasi, memilih jalinan kata agar bisa bersua dengan kata lain sehingga miliki makna.
Sesekali terdengar anjing ‘babaung‘ eh menggonggong memecahkan kesepian malam, menemani kesendirian di tenda mewah atau yang sering disebut sebagai glamour camping (glamping) setelah seharian mengikuti sesi pelatihan tentang dasar-dasar penjaminan dan sejumput informasi tentang pengadaan barang dan jasa.

Suasana tenda tipe Nasika ini sepi dan tenang, karena tidak ada Televisi dan radio. Pengelola resort ini memiliki salah satu tagline yaitu : ‘Tanpa elektronik, hidup kita bisa bahagia‘,

Kereen nggak?… 2 hari puasa televisi… ternyata bisa dan biasa aja. Lagian di rumah juga jarang nonton tv. Seringnya malah ditonton tv, kitanya merem depan tv dan tvnya nyala terus sambil nontonin kita yang mereeem hehehehe.

Balik lagi kesinih, sebuah tempat spesial yang memberikan pengalaman berbeda. Camping mewah yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Untuk cerita lengkapnya Trizara Resort versi AKW silahkan klik disini : Menikmati Glamping di Trizara Resort.

Sekarang mah mau cerita tentang kopinya dulu ah.

Selama 2 hari di Trizara Resort ini, bisa menikmati beragam kopi tanpa gula. Yuk kita runut satu-satu :

Photo : Kopi di kelas / dokpri.

Hari pertama, diawali dengan kopi standar Trizara yang tersedia disaat coffeebreak, tinggal geser ke belakang, ambil teko berisi kopi diatas kompor pemanas… currr. Dilanjutkan dengan pasca makan siang, maka pilihannya adalah secangkir americano versi resto yang juga dibawa ke kelas karena sesi materi selanjutnya sudah dimulai, tetapi sebelumnya diabadikan disamping patung gajah kecil dengan background benteng pintu masuk ke Trizara ini.

Photo : Double espresso di resto / dokpri.

Hari kedua, pagi hari langsung dihajar dengan double espresso di resto sekaligus dilengkapi segelas americano… nikmat pisannn. Serta sebelum sesi penutupan, kopi coffeebreak di kelas menjadi pelengkap hari terakhir sebelum semuanya bubar kembali ke kediaman.

Sebenernya di tas sudah tersedia peralatan, jikalau harus menyeduh kopi sendiri dengan kopinya dari Pak Ali – Lembang. Tetapi dengan bejibun agenda pelatihan, akhirnya dibawa kembali utuh karena tidak sempat tersentuh.

Malam inipun tidak berani menyeduh di tengah malam. Khawatir sulit tidur dan juga takutnya lagi asyik nge-manual brew, eh tiba-tiba ada suara dari balik gerumbulan pepohonan di belakang tenda, “Bholeeh mintzaa nggakz?”… khan berabe guys.

Akhirnya, lebih baik telentang di kasur yang empuk ditemani bantal bulu angsa yang memanjakan kepala. Memandang kembali langit-langit tenda yang masih setia menemani diri bersama musik ritmis dari rintik hujan sambil melewati pertengahan malam menuju dini hari yang dingin menusuk kulit ari-ari hingga tulang di dalam diri. Selamat tengah malam kawanku, Wassalam (AKW).

Memilih & Kopi Halu Pink Banana.

Menikmati Kopi Arabica Halu Pink Banana…

Photo : Sajian Kopi Halu Pink Banana / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari ini, eh sudah beberapa minggu deng… kata ‘Memilih‘ menjadi frasa yang begitu trending topik, menghiasi linimasa dan berbagai platform dan level kehidupan.

Jadi, hayu kita memilih…

“Memilih naon?”

“Yang pasti memilih sesuatu yang dua-duanya bikin kita nikmat dan nyaman”

“Ada pilihan yang dua-duanya enak?”

“Adaaaa…… memilih cara untuk nyeduh kopiiiii”

“…… beuh kopi lagiii.. kopi lagiii”

***

Menikmati sebuah sajian kopi bisa dengan berbagai macam cara. Tetapi secara garis besarnya ada 2 cara lho. Cara pertama nyeduh manual brew sendiri dan cara kedua dibuatin orang laiiin… bener khan?

Masing-masing tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Yuk kita bahas satu-satu. Pertama, ngebuat kopi dengan seduh manual yang dikerjakan sendiri. Kelebihannya adalah :

a) bisa kapan aja yang penting ada kopinya, ada peralatannya, ada air panasnya… tinggal curr.
b) bisa foya-foya, maksudnya komposisi kopi bisa lebih dari standar 1 : 12, bisa ditambah jadi 1 : 20 klo pengen rasanya makin nendang atau sekalian bisa bikin ‘teh kopi’ dengan cara seduh kedua kali tanpa ganti kopinya…. ntar dapet kayak teh, rasa kopinya hilang tapi tetep haruuum kopi.

c) edukasi kopi, bisa jadi momen mengenalkan kopi kepada saudara, rekan, kenalan dengan magic wordnya kayak open boxing di channel yutub, “Hai guys.. dst”

Photo : Tampak belakang dus Kopi Halu Pink Banana / dokpri.

Kelemahannya adalah :

a) Wajib punya kopi…. Ya iyaa donk. Trus apa yang mau digrinder?…

b) Musti punya alat-alatnya : ini juga pengorbanannya, minimal mesin grinder kecil, pemanas air, teko goose neck, timbangan digital kecil, termometer, temper glass, coring V60, kertas filter V60, ember…. lha ember buat apa?… pokoknya penting dech. Ntar dijelasin.

Padahal fungsi ember adalah…. menampung air sisa dari kertas filter v60, terus sampah dari serbuk kopi yang sudah diseduh dan sekaligus menyimpan sampah sementara….

Kenapa nggak pake tempat sampah?”

“Ih rewel banget, kata aku ember ya.. ember”

c) Musti tahu cara manual brewnya…

Ribet ya?….

Beda dengan pilihan kedua, yang dibuatin orang lain. Tinggal datang ke suatu tempat, pilih-pilih, pesan dan tunggu…

cuman itu tadi, kita sulit untuk berkreasi.

Trus perlu modal duiiit dan nggak bisa foya-foya kopi, karena pasti di kedai dan cafe sudah ada ukuran, supaya dapet untung….

Yang lebih penting, sensasi prosesi manual brewnya yang nggak dapet, itu yang tidak ternilai… really?…. yeaah pengalaman memproses manual brewnya hingga bisa tersaji rasa kopi yang enak itu adalah ‘sesuattu bangeedd’.

Jadi… tinggal milih dech.

dan…

Sore ini pilihannya adalah pilihan dibuatin orang lainn aah….

Kopi yang dinikmati adalah Kopi Arabica Halu Pink Banana, tempat nongkrongnya di Kurokofee, Jl. Ciumbuleuit.

Rasanya cocok pisan dengan suasana sore berhujan deras. Dengan suhu 90° celcius, manual brew V60. Menghasilkan kopi beracidity tinggi dengan body eh kepahitan yang mempesona khas kopi java preanger. Harumnya mah keren pisan dan after taste fruity terasa banget…

Nanti di rumah, baru nyeduh manual dengan peralatan yang ada dan tentu sesuai dengan stok kopi yang tersedia. Wilujeng memilih.. eh ngopay bray. Wassalam (AKW).

Kopi Adrenalin

Menikmati kopi sambil deg-degan… mau?

Photo : Kopi Adrenalin / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Beranjak siang terasa perlu penyegaran sementara meeting terus berlanjut seolah semua masalah diharuskan tuntas segera. Padahal semua masalah ada jamannya dan kekompakanlah yang akan mengakselerasi penyelesaiannya.

Tetapi tetap, secangkir kopi berharap bisa melengkapi. Menghadirkan nuansa ke-mood-an yang bisa menggugah cipta karya dan karsa menghasilkan pemikiran penuh makna.

Bukan berarti kopi adalah segalanya, tapi segala aktivitas ternyata selalu hadir kopi dengan aneka varian bentuk meskipun tetap fatsun bahwa #tanpagula adalah keharusan, wajibbbb hukumnya.

Nah…. sekarang bersua dengan sebuah kopi yang bernama ‘adrenalin coffee’….. woaaaah apa ituuuu?

Nich gambarnya….

***

“Ah itu mah kopi biasa”

Coba perhatikan lebih dekat…..

“Woaaah itu dibawah jalanan yaa?.. mobil2 dan orang?… tinggi banget coy”

Kawan sebelahnya menimpali, “Ah biasa yang gitu mah.. hati2 hoax”

Hanya senyum simpul yang menjadi jawaban awal. Lalu diberikan penawaran untuk ngopi bersama di tempat itu dengan tema kopi Adrenalin.

“Ayo kita lihat, saya masih nggak percaya!!!!”

“Ayo”

Maka berenam kami bergerak menuju lift hotel dan memijit lantai tertinggi, lantai 18.

***

Tatkala pintu lift terbuka, sentuhan angin belum terasa. Tetapi sesaat belok kiri dan memasuki ruangan lounge lantai 18 maka terpampang hamparan rumah dan gunung-gunung yang mengelilingi danau purba cekungan bandung.

Terlihat keempat rekan agak terdiam, tapi didorong untuk terus maju dan melewati jajaran sofa empuk yang menghadap ke arah datangnya angin kehidupan.

Tibalah pada hamparan lantai kaca yang memberi sensasi adrenalin bagi yang takut ketinggian. Menjejak lantai kaca di lantai 18 adalah sesuatu yang berbeda.

Photo : Berpose sambil nyorodcod / dokpri.

Sehingga hal yang wajar jikalau kopi yang diphoto pada tulisan ini memang diberi label ‘Kopi Adrenalin’, meskipun sebenarnya adalah sajian Americano coffee ala Lounge lantai 18 Trans luxury hotel di daerah Gatot subroto Bandung.

Jangan lupa, jauhkan gula dekatkan rasa. Sambil menikmati sensasi melayang di udara.

“Iya euy, butuh adrenalin dan keberanian untuk berdiri di lantai kaca ini, mungkin harus sambil ngopi…” bergetar suara kawanku sambil terlihat lututnya ‘nyorodcod‘… eh gemeteraaan maksutnyaa….. ditimpali tertawa segar dari kawan-kawan lain yang sudah lulus uji adrenalin ini. Kemon Ngopaay, Wassalam (AKW).