Kopi Manglayang & Gayo Wine di Jandela Kopi.

Menikmati kopi di Kota Ciamis.

Photo : Sajian Manglayang Natural / dokpri.

CIAMIS, akwnulis.com. Sentuhan embun pagi menemani hadirnya mentari, yang setia mendampingi perjalanan hidup hari ini. Kesibukan lalulintas menjadi alunan nada denyut pagi yang membentuk rutinitas. Salah satu harmoni kehidupan yang harus disyukuri.

Begitupun kami yang sedang bergerak membelah jalanan menuju wilayah kabupaten Ciamis, menemui wajah-wajah tergesa dan serius di jalanan, demi target waktu masuk ke tempat pekerjaan masing-masing. Terkadang terdengar sahut menyahut suara klakson karena bermacet ria di perempatan… ditambah sejumput sumpah serapah sampah… ah dinamika pagi yang resah.

Perjalanan memakan waktu 5 jam lebih 17 menit, dikala kami tiba di tempat tujuan meskipun sedikit insiden keterlewatan eh kebablasan akibat terlalu nurut sama gugelmap hehehehe….

Photo : Sajian mie goreng / dokpri.

Padahal sebenernya, tinggal berhenti sejenak lalu bertanya kepada orang yang ada.. pasti ditunjukan, karena pas kita bingung-bingung itu sudah depan kantor yang dituju. Hanya saja karena agak sombong dan terlalu percaya teknologi, akhirnya maju terus menjajal jalanan yang semakin mengecil, menurun dan melewati rumah-rumah penduduk hingga akhirnya jalanan sepi dengan kanan kirinya adalah kebun penduduk dan sisi hutan…… aaaaah ini pasti salaah.

“Stop!!!”

Mobil berhenti, karena teriakan seseorang di motor yang berada di belakang mobil.

Photo : Tivi jadul menemani ngopi / dokpri.

Ternyata…. pegawai kantor tempat meeting yang menyusul… Alhamdulillah. Untung saja ada yang jemput, kalau tidak kami mungkin akan semakin jauh dan menuju ke arah kabupaten pangandaran, padahal tujuan kami adalah daerah cidolog ciamis.. yaa sekitar 155 km dari Bandung.

***

Photo : Arifin sang barista sedang beraksi / dokpri.

Urusan meeting akan tertuang dalam nota dinas laporan, klo tulisan ini mah bicara tentang hepi-hepinya yaitu….. ngopaaay, menikmati sajian kopi dengan berbagai variasi dan satu syarat pasti, tidak ada gula yang menemani kopi.

Lokasi kedai eh cafe kopi yang di tuju berada di kota Ciamis, sekitar 26 km dari tempat meeting kali ini atau sekitar 55 menit dengan menggunakan kendaraan roda 4. Arahnya dalam posisi ke arah pulang ke Bandung… jadi sekalian arah pulang bisa mampir duyuuu… Tepatnya di Jalan KH Ahmad dahlan No. 43 Kec Ciamis, Kab Ciamis, jabar, 46211.

Sajian kopi yang pertama adalah manglayang natural blackberry yang di roasting pada tanggal 29 juli 2019. Sang barista, Kang Arifin menggunakan komposisi 1 : 13 dengan temperatur air 90° celcius mengekstraksi bubuk kopi menjadi sajian yang harum, segar dengan after taste berry dan tamarind. Harganya 18 ribu per sajian.

Photo : Sajian Gayo Black Wine / dokpri.

Sebagai penutup maka pesen lagi manual brew V60 dengan kopinya gayo black wine. Kembali sang barista beraksi dan berhasil mengekstraksi menjadi sajian kopi sesuai karakter gayo wine yang bodynya bold, aciditynya kerasa bangeet dan harum…. udah sering klo menikmati gayo wine mah.

Sementara rekan lain memesan mie goreng dan pisang keju, diriku tetap setia dengan kotala (kopi tanpa gula), nikmatnya sama karena masing-masing dianugerahi indera perasa meskipun objek makanan minumannya berbeda… asyik khan?

Oh iya cafe ini buka dari jam 10.00 wib sampai jam 23.00 wib, siapa tahu ada yang moo mampir ngopay disini. Wassalam (AKW).

***

Catatan : Jandela coffee, alamatnya Jalan KH Ahmad dahlan No. 43 Kec Ciamis, Kab Ciamis, jabar, 46211.

Kopi BGG

Secangkir kopi hitam dan kenangan masa silam.

Photo : Kopi BGG berlatar Gn Geulis / dokpri.

JATINANGOR, akwnulis.com. Semilir angin harapan yang berhembus dari gunung manglayang menerbangkan angan ke masa silam.

Dikala rabu siang dan sabtu atau juga hari minggu harus pakepuk berkoordinasi demi terwujud 1 flight yang terdiri dari 3 orang mitra plus 1 bapak bos…. dan segera turun ke lapangan untuk bermain golf.

Di hari sabtu atau minggu, jam 06.00 wib sudah nyampe disini karena harus segera mengantar bos bergabung dengan pemain lain, jangan tanya jam berapa dari rumah dinas yang berada di kawasan bandung utara… so pasti nyubuh.

Pada saat bapak bos sudah turun ke lapangan golf, maka saatnya ‘me time’, meskipun tidak bisa pergi dari area Bandung Giri Gahana Golf & resort tetapi disini banyak pilihan kegiatan untuk membunuh bosan mengisi waktu dengan berbagai kelakuan.

Photo : Secangkir kopi BGG & Ikan Koi / dokpri.

Terkadang berenang, fitnes, ikutan sauna ataupun latihan mukul bola golf (practise) di dekat kantin bawah. Yang paling sering berselancar di menu restoran, mengunjungi eh menyicipi beraneka menu makanan yang tersedia… free.. karena nanti dibayarin bapak bos, “Baik bingit khaan?”

Nah jam makan siang standby jikalau bapak bos main 9 hole. Tetapi klo 18 hole maka dilanjut sampai sore…. nunggu lagi sambil jalan-jalan atau main tenis di belakang daan…. makan lagiiii. Efeknya samping depan belakang lho… maksudnya lemak di badan… sehingga dalam 3 tahun bertugas… naik berat badan suangat signifikan.. dari lulus kuliah 59 kg jadi 101 kg…… wuiiih penggemukan berhasil.

Maksudnya nggak hanya makan disini, tapi juga di tempat dan kegiatan lain…. dulu… 18 tahun lalu… oh my god… wiss tuwirr…. tobaaat.

Photo : Photo bersama-sama / Pic by IS.

Inilah tempatnya, Bandung Giri Gahana Golf & Resort dimana sekarang bisa hadir lagi disini menjejakkan kaki dan menyandarkan perasaan dalam acara silaturahmi dinas yang penuh kekeluargaan.

Kopi hitam jatah rapat hotel di cangkir putih menjadi teman pagi ini, tanpa gula diantara kita. Kopi tersaji berlatar belakang gunung geulis membuat suasana kembali memgingat ke masa-masa melankolis. Sebuah momen awal bekerja yang optimis dan belajar memahami apa yang disebut ‘realistis‘.

Sruputtt dulu bray….

Selamat memungut kenangan sambil menyeruput kopi pembagian. Wassalam (AKW).

Ngopay & Ngojay di Karawang.

Ngopay Ngojay Curhaaat……

Photo : Kolam Renang Hotel Akshaya Karawang / dokpri.

KARAWANG, akwnulis.com. Panasnya siang ini di daerah Teluk Jambe Kabupaten Karawang terobati oleh gemericik air di kolam renang yang merayu dengan aroma biru penuh kesegaran.

Dengan bentuk kolam renang yang dibuat berkelok, kedalaman flat 1,5 meter memanjakan penginap dan pengunjung untuk segera ngejebur dan bercanda ria bersama di area Hotel Akshaya.

Sayangnya, 2 agenda rapat marathon harus dijalani dan dihadapi. Semua rapat membahas tentang pertanggungjawaban tahunan, otomatis musti konsentrasi dalam melihat angka capaian dibandingkan target yang sudah ditentukan lebih dahulu.

Photo : Kolam renang anak dan dewasa / dokpri.

Apalagi mengacu pada pasal 33 ayat 1 PMDN 118/2018, sudah jelas bahwa Evaluasi itu adalah perbandingan antara target dan realisasi, titik.

Tapi dalam forum curhat tertinggi sebuah perseroan, maka diskusi hangat yang bersahutan antara reasoning dengan sanggahan akan berpadu dibalut oleh regulasi dan pembelaan….. yang penting kita kedepankan kepala dingin dengan semangat edukatif solutif…. ngomongin kepala dingin, maka berenanglah yang pas… paas bingit, tapi……

Tapi khan nggak pantas, peserta rapat keluar ruangan… eh liat kita lagi asyik berenang supaya kepala dingin meskipun hati panas dan kesel karena pengurus tidak bisa mencapai target.

Photo : Nge-Double espresso dulu yukk / dokpri.

Ada cara lain, pas break maka bergeraklah ke restoran dan pesan segelas kopi double espresso…. bawa di tepi kolam renang… angkat cangkir mininya…. srupuut… glek…… satu kali tandasss…… maka rasa mantaps kepahitan double espresso menyeruak memenuhi indera perasa dan menenangkan jiwa.

“Trus otak panas gimana?”

Sabarrr…. perlahan tapi pasti, pas jiwa sudah tenang maka syaraf ke otakpun ikutan tenang, tensi esmosi.. eh emosi akan berkurang dan otak akan kembali fresh, dingin dan rilex, percayalah.

“Kok cuma double espresso, nggak ada kopi manual brewnya?”

Belum ada ternyata, baru kopi tanpa gula versi mesin yang tersedia… it is Okey, ini juga lumayannn.

Photo : Forum curhat tertinggi / dokpri.

Akhirnya menjelang sore, 2 rapat kinerja tahunan bisa dituntaskan. Meskipun ada dinamika yang tidak terelakkan, tapi itulah bagian dari proses pembelajaran. Diskusi hangat demi status Acquit et de charge, juga melebar ke urusan masa jabatan dan mekanisme pengusulan pengurus…

Makin rameeee… meskipun akhirnya harus fatsun kepada regulasi, tetapi semua pihak menjadi mengerti dan memahami.

Selamat beraktifitas di awal minggu ini kawan. Kerja total, ngopay santai, giliran ngojay lihat-lihat kesempatan. Wassalam (AKW).

Wake Cup Coffee.

Wake up guys…. wake up di wake cup Coffee.

Photo : Sajian Americano / dokpri.

KEBON KAWUNG, akwnulis.com. Turun dari Kereta api Pangandaran yang bergerak 3 jam yang lalu dari stasiun Gambir Jakarta menuju stasiun akhir di Kota Banjar, berhenti sejenak di Stasiun Bandung untuk memberi kesempatan kepada para penumpang turun, ya jelas penumpang ke Bandung.

“Klo ketiduran gimana?”

Sebuah pertanyaan yang agak sulit dijawab, karena jika terbawa oleh Kereta api ini, maka pemberhentian selanjutnya adalah Stasiun Cibatu Garut, …. lumayan jauh kelewatnya.

Tapi jikalau naik kereta sendirian dan memang sering pelor (nempel molor), alias mudah banget tertidur.. yaa titip pesen sama petugas untuk diingatkan di stasiun pemberhentian atau berbaik-baik dan kenalan sama penumpang disamping kita, dan mintai tolong untuk membangunkan jika tiba di tempat stasiun tujuan.

Inget bebetapa waktu lalu, kejadian ketiduran di kereta api yang dialami sendiri. Setelah giat 2 hari di jakarta, sorenya pulang menggunakan KA Argo Parahyangan dari stasiun Gambir menuju stasiun Cimahi…. sendirian waktu itu.

Di perjalanan berusaha untuk bisa segera memejamkan mata sehingga di akhir perjalanan bisa segar kembali sebelum turun di stasiun yang dituju. Minimal bisa 1 jam tidur dan sisa 2 jamnya melek…. eh ternyata, pas naik di stasiun gambir… nggak ngantuk sama sekali, malah segerr….. apalagi semangat bisa bersegera bersua dengan keluarga.

Jadi di perjalanan, seperti biasa buka smartphone, maenin medsos dan sesekali menulis di notepad jika ada ide yang bisa dituangkan dalam jahitan kata per kata, hingga tak terasa sudah melewati stasiun purwakarta.

Photo : Sajian double espresso / dokpri.

Tiba-tiba kantuk datang tanpa aba-aba, tiada menguap yang menjadi tanda, reup… mata terpejam dan segera terbang Ke dunia mimpi tanpa bisa berkompromi lagi…

Zzzz…zzzzz…..zzzzz…zzz

***

Perlahan mata terbuka, terasa gerbong kereta sedang berhenti di sebuah stasiun. Beberapa orang terlihat berlalulalang, “Dimanakah ini?”

Menengok ke samping, penumpang sedang berdiri, sedang mengambil tas ranselnya di rak atas kepala.

Segera konsentrasi dikumpulkan, tarik nafas panjang sambil kedua tangan mengucek mata yang terasa masih akrab dengan rasa kantuk ini. Pas mau bertanya, terdengar pengumuman,

“Selamat datang di stasiun Bandung, terima kasih anda sudah menggunakan jasa kereta api indonesia….. “

Walaaaaah……!!!

Kelewat kawannnn…. mustinya turun di stasiun Cimahi, sekitar 10 menit sebelum tiba disini.

Wadduh… akhirnya terburu-buru turun dan langsung pesan ojol via aplikasi… nasibbb.. nasib. Gara-gara terlelap sesaat… eh sejam kayaknya, musti nambah waktu 35 menit pake ojek online, udah pasti duit buat bayar ojolnya…. klo pake taksi online kebayang bisa 1,5 jam-an karena melewati beberapa area kemacetan…. ampyuuun dech.

Tapi itulah kehidupan, sebuah rencana dan harapan bisa berbeda dengan kenyataaan….

***

Tulisan ini ternyata cocok bingit dengan nama cafe coffee di seberang pintu masuk ke Stasiun Bandung jalan kebon kawung, namanya ‘Wake Cup Coffee’….

Deket khan, wake up dg wake cup…. hehehehe.

Tempatnya strategis meskipun memang belum menyajikan manual brew V60, aeropress, vietnam-drip atau kalita, tapi kopi hitam tanpa gula tetap ada yakni versi mesin kopi yaitu Americano, long black dan so pasti… espresso atau dopio.

Photo : Americano & Double espresso / dokpri.

Penyajiannya juga menarik, klo rasa sih…. yaa mirip2… moo apapun biji kopinya, klo udah pake mesin kopi maka hasilnya flat, body strong dan less accidity, after tastenya yaa kepahitan merata…. tapi itulah indahnya, di balik kepahitan tetap tersaji sensasi manis kehidupan.

Apalagi sambil memperhatikan, lalu lalang orang yang keluar masuk stasiun dengan berbagai ekspresi dan urusan.

Kemon, wake up guys!… Wassalam (AKW).

***

Catatan : Menunya bukan hanya kopi, tetapi berbagai makanan berat dan minuman lainnya tersedia, juga akses langsung ke lobby hotel, Hotel Grand sofia Kebon Kawung.

Kopi Si Petung – Jakarta.

Nikmati kopi si petung dan kerinci di sini…

Photo : Sajian Kopi Si Petung JCH / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com.Bolak balik bandung – jakarta menjadi rutinitas mingguan yang tak terelakkan, argo parahiyangan menjadi kawan setia menemani di perjalanan meskipun sesekali harus menggunakan kendaraan roda empat karena tugasnya mendadak, tiket KA habis nggak mungkin jalan ditempat, apapun situasinya… berangkaaaat.

Maka berbahagialah dikala ada sisa waktu yang bisa digunakan, meskipun itu berarti harus menghitung akurat jangan sampai memgganggu jadwal meeting berikutnya.

Maka…. kali ini dengan menikmati fasilitas transportasi massal di ibukota yaitu MRT, yang lagi hits lhoo……. bisa meluncur dari Bundaran HI ke blok M dengan sekejap, keluar stasiun langsung akses ke mall…. kerenn pisan.

Dibantu aplikasi gugelmap dan culang cileung clingak clinguk, akhirnya bisa bersua dengan Si Petung di lantai bawah, foodcourt Mall Blok M, Jakarta.

Tadinya dikirain adalah sebuah varietas kopi asli jakarta, khan namanya seperti Si Pitung, pahlawan legendaris…. tapi khan kecil kemungkinan di jakarta ada kebun kopi… kebun kopi beneran yaa… soalnya di batas kota bandung dan cimahi ada juga nama daerah kebon kopi… tapi nggak ada kopi nya hehehehe.

Pas dideketin… eh ternyata kopi si petung, sebuah varian kopi aceh yang disajikan oleh barista cantik, non Alsy. Nggak pake lama, duduk dibangku tinggi, order dech.

Nama cafenya jakarta coffee house, kantor pusatnya di Cipete (kata non Alsy), malah katanya di cafe yang cipete lengkap dengan mesin roasting dan juga sajian wild luwak kopi…. waaah menarik tuh, kapan-kapan beredar ke situ ah.

Sajian pertama adalah manual brew kopi si petung aceh, menggunakan perbandingan 18gr dengan 210ml air panas bersuhu 82° celcius dan metode seduhnya muter melawan jarum jam hasilkan sajian kopi yang ringan, body cenderung medium less, acidity medium dengan tastenya sedikit karamel dan berry…. enak buat pemula tanpa beban berlebih di lidah. Tetapi buat diriku yang keseringan ngopi…. serasa kurang, tapi tetap nikmat.

Photo : Sajian kopi kerinci JCH / dokpri.

Maka untuk menambah semangat siang ini, dilanjutkan dengaan order kotala (kopi tanpa gula) yaitu kopi arabica kerinci…… kerinci yaaa, bukan kelinci…. hati-hati, itu beda arti.

Gramasi dan jumlah air tetap sama, tetapi menggrinder beannya yang berbeda, dengan putaran 4 mesin grinder Meisser kaffee menghasilkan saja agak kasar dan langsung diseduh dengan air panas 90° celcius….. cirrrrr..

Eh…. currrrr…..

hmmm wangiiiii……

Sambil berbincang singkat dengam non Alsy yang cekatan dan terlihat confident memproses sajian kopi V60 maka waktu yang tersisa tinggal sedikit lagi.

Langsung kopi yang tersaji disruput dan dinikmati, owww bodynya bold agak ninggal di bawah bibir dan aciditynya mantabs, bikin nyengir, after taste tamarin dan lemonnya muncul bersamaan…. lumayaaaan.

Srupuuut….

Akhirnya waktu jua yang memisahkan kita, musti kembali ke alam nyata melaksanakan tugas negara, berangkaaat…

Jadi yang moo ngopay pas di sekitar sini, kedai kopi ini recomended. Srupuut…. sruput lagii,Wassalam (AKW).

Ngopay Ngojay di Ohana Bali

Ngopay Ngojay di Ohana Kuta.

Photo : Kolam renang anak & dewasa di Ohana Hotel / dokpri.

KUTA, akwnulis.com. Mendarat di Bandara Ngurai Rai, trus meluncur menuju hotel adalah hal yang lumrah, tetapi yang bikin degdegan adalah memilih hotelnya begitu mendadak dan pertimbangan utamanya adalah budget, budget dan budget… baru tentang lokasi dan kenyamanan.

Awalnya memang dikala jari jemari menjelajahi aplikasi perjalanan online untuk menemukan berbagai hotel murah di sekitar Kuta Bali, tetapi tentu tidak hanya murah tetapi juga memiliki standar kenyamanan. Jadi dalam waktu yang terbatas, melototin pilihan photo-photo hotel dengan harga pas di kantong.

“Lha.. nggak dibayarin kantor mas?”

“Sttt…. jangan ribut, ini mah non-Budget”

“Ooh… xixixixi….”

Jadi petualanganpun harus di jalani, meskipun cukup pede karena dilihat dari photo-photo dan cek lokasi via gugelmep memang masih di sekitar area Kuta meskipun bukan di jalan utama…. nah lo.

***

Jam 23.58 wita, kaki menjejak di lantai hotel disambut senyuman satpam dan resepsionis. Alhamdulillah hotelnya lumayan, meskipun jauh dari area pantai (klo jalan kaki) tetapi lebih tenang karena tidak mudah tergoda oleh hiruk pikuk keramaian seperti di sekitar kuta-legian-dan sekitarnya.

Photo : Kamar di lt.3 / dokpri.

Dengan harga 350Ribuan/malam udah dapet kamar hotel yang cukup bersih dan tenang, Bed yang besar juga ada kursi luarnya di mini balkon….. tapi lorong menuju kamarnya agak sempit, jadi mirip masuk ke lorong kamar kost-kosan hehehehe….. atau mungkin lantai ini aja kali….. jadi gampang akses ke kamar.

Over all untuk ruangan dan kelengkapannya cukup baik dengan kamar mandi yang memadai.

Yang menarik adalah terdapat juga kolam renang di lantai dasar, cukup buat bermain-main dengan sang buah hati (klo ikut maksudnya)… yang memang sudah dari sonohnya anak kecil mah seneng main air. Karena sekarang sendirian, ya sudah… tidur aja segera.. eh mandi dulu deh, baru tidurrr…

Nama hotelnya adalah Ohana Hotel Kuta, liat di traveloka lebih megah dari kenyataannnya tapi ya memang iklan harus begitu… ditampilkan semenarik mungkin dengan sudut photo dan pencahayaan yang memberi hasil lebih wah… yaaa mirip kamera jahat yang bikin wajah bercorak menjadi lembut tanpa jejak… kenyataannya juga lumayan, dengan budget terbatas dapat hotel yang bisa memberikan kenyamanan, menghilangkan penat dan mengembalikan kesegaran untuk menyongsong kerjaan yang nggak kelar-kelar.

Masuk kamar, lalu mandi, sholat, nyalain tivi… dan tivi nonton diriku… alias dotonton tivi…. yaaa karena diriku yang langsung terlelap, ternyata jam dinding di kamar sudah menunjukan waktu yang melewati tengah malam.

Photo : Nikmati Kopi Hotel / dokpri.

Esok harinya turun ke lantai 1, Sarapan pagi lumayan variatif, tapi karena hanya buah potong yang boleh dimakan di pagi hari, maka potongan semangka dan melon menemani makan pagi kali ini, sambil memperhatikan anak kecil dan kakaknya yang bersiap bermain air di kolam renang (Kolam renangnya di tengah-tengah dan untuk akses ke ruang makan akan melewati pinggir kanan kiri kolam renang).

Tak lupa secangkir kopi hotel dinikmati sambil mereka-reka rencana dan mempersiapkan diri untuk bertugas hari ini, cemunguuutz…

Jebur….

“Brrrr dingiiiin!” Celoteh sang kakak, diikuti adiknya meloncat ke tengah kolam untuk bercengkerama dengan air kolam renang di pagi ceria. Mereka tertawa dan duniapun penuh dengan canda. Selamat menjalani hari di pulau bali. Wassalam (AKW).

Viet Black Coffee

Minum kopi di tempat berbeda.

Photo : Viet Black Coffee / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sensasi mencoba sesuatu yang berbeda itu bisa diartikan mendapatkan pengalaman baru, karena sudut pandang suatu momen tergantung dari mana kita melihatnya. Meskipun mungkin sudah tahu tentang barang itu, tetapi dengan lokasi yang berbeda akan lain juga suasana yang didapatkannya atau sebuah rasa yang dihadirkan.

Itulah yang terjadi sore ini, memasuki basement Plaza Indonesia Jakarta, berkeliling mencari kedai kopi hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah restoran yang berornamen asia, yaitu restoran Namnam, sebuah restoran vietnam.

Photo : dilihat dari luar / dokpri.

Restoran ini berbasis di Singapura, dan membuka cabang di Jakarta dan Bali…. “Lha kok promosi?…”

“Yo wis, monggo gugling aja yang pengen tahu resto ini”

“Kenapa memilih tempat ini?”

Jawaban yang muncul sederhana, hanya ingin tahu dengan sajian kopi vietnam yang dibuat dengan metode vietnam drip.

“Halah kagak aneh itu mah, udah banyak yang pake”

Nah itulah pokok bahasan ini, merasakan sebuah sajian kopi dengan cara seduh yang sudah lumrah pake vietnam drip tapi tempatnya beda, sebuah tempat yang disetting suasana vietnam banget sehingga mungkin bisa menghasilkan rasa berbeda.

Photo : Kopi & salad / dokpri.

Sajian kopinya bernama CÀ PHê DEN ( Viet black coffee) dengan harga 35 ribu, bentuknya yaa…. sajian kopi dengan vietnam drip.

Rasa yang dihasilkan memiliki kecenderungan body strong atau bold dan tanpa acidity karena memang basisnya adalah kopi robusta. Tetapi tetap gula yang disajikan tidak akan disentuh, karena sudah istiqomah dengan Kotala, kopi tanpa gula.

Dilengkapi oleh sajian salad yang bernama GÓI BUÓI TOM THIT, berisi Pomelo salad, prawn, chicken, assorted crackers alias kurupuk udang…. ternyata miliki rasa nano-nano, rasa manis dari jeruk.bali yang segar bergabung segarnya udang dan sejumput daging ayam ditambah dengan olive oil dan cuka, hasilkan rasa rujak seafood yang agak asing di lidah…. segar meski agak membingungkan..

Tapi tenaaaang kawan…

Photo : Suasana Restoran Namnam / dokpri.

Masalah rasa jangan khawatir, reseptor otak menerima sinyal kesyukuran, menghasilkan warna rasa di dalam kepala dan mengkristal menjadi rasa segar diantara kepahit-asam-manisan yang merata.

Ditopang oleh suasana resto vietnam yang detail lengkap dengan lampion merahnya, maka sruputan kotala yang tersaji berhasil memberikan aneka makna. Menambah rasa syukur terhadap tambahan pengalaman yang begitu berharga. Sruputtt… nikmaat, Wassalam (AKW).