Bercocok Tanam 2 – Matoa.

Mencoba mindahin bibit Matoa sambil ngasuh.

Photo : Bibit Matoa berdesakan di pot / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Waktu bersama keluarga semakin terbuka di masa pandemi covid19 ini dan di satu sisi tingkat stres meningkat karena 4 minggu ‘terpenjara‘ di rumah. Tidam hanya bagi orangtua tetapi juga bagi anak-anak tentu menimbulkan rasa tertekan yang semakun kuat.

Nah, kita yang dewasalah yang semestinya lebih lembam memanage psikologis diri dan menguatkan mental bukan sebagai korban karena #stayathome tetapi menjadi bagian pembaharu bahwa dengan diam di rumah, banyak hal yang mungkin bisa dilakukan sehingga bisa mengurangi dan menghilangkan rasa bosan dan tertekan yang mendera.

Nah, aku mah sementara agak seret nulis tentang kopi atau kohitala, karena memang pas moo nulis idealnya sambil meminumnya jadi si rasa misteri kopinya langsung bisa dinikmati dan dituangkan dalam kata plus kalimat.

Bulan ramadhan mah bahaya, sruput siang-siang pasti nikmat, tapi khan membatalkan shaumnya…. sayang itu.

Photo : Sudah dipindahin ke polybag / dokpri.

Giliran di malam hari, waktu yang tersedia sangat terbatas. Sesudah tarawih harus berbagi tugas dengan orang rumah untuk saling membantu membereskan urusan domestik karena pembantu sudah lama dirumahkan karena pandemi covid19 ini. Trus klo maksain menggelar prosesi manual brew, pasti akan direcoki anak kesayangan yang antusias dengan kopi, ikutan nge’grinder, mindahin bubuknya ke kertas filter V60 dengan tingkat rata-rata tumpahnya 70%….. akhirnya nambah kerjaan dan malah bisa bikin kehebohan…

Jadi.. cara terbaik, yaaa…. nyeduh manual agak ditahan dulu, lebih banyak menikmati kopi asli yang sudah jadi seperti coldbrew biji kang yuda dan juga kopi susu biji pak asep.

Maka, bercocok taman eh bercocok tanam inilah yang menjadi jalan tengah yang relatif multiguna. Bisa menyalurkan hobi menulis, mengasuh anak sekaligus memperkenalkan anak untuk mencintai bumi dengan terlibat rebutan ngisi tanah ke polybag dan plusnya juga persiapan bakal panen sayur-sayuran dikala pandemi ini entah kapan usai.

Kali ini dengan bermodal 4 buah polybag dan mindahin tanah subur dari karungnya, cukup buat ngasuh anak kesayangan sekitar 2 jam. Meskipun maksudnya membantu tapi ternyata membuat tanah becacaran apalagi pas nemu cacing, langsung loncat dan berteriak histeris bikin heboh yang dirumah. Tapi over all, jadi acara kebersamaan yang menarik.

Setelah 4 polybag ini terisi tanah kompos ditambah dua pot plastik maka dilanjutkan dengan memindahkan tanaman hasil semaian alam dan semaian sengaja. Semaian alam adalah ada 3 bibit pohon jeruk yang tumbuh dari biji yang dilemparkan kalau tuntas mengunyahnya. Itu adalah jeruk kumkuat yang manis asam tapi bisa dimakan tanpa perlu kupas kulitnya, pernah ditulis DISINI.

Nah… lalu ada satu pot berisi 10 pohon matoa ukuran tinggi 10-15 cm.

Tahu matoa nggak?

Klo googling… nemunya bisa matoa sebagai nama pohon juga matoa sebagai merk jam tangan, coba geura.

Photo : Bibit matoa sudah berjajar sama jeruk / dokpri.

Nah matoa ini adalah berasal dari biji matoa yang sengaja disimpan di pot setelah daging buahnya dimakan sama aku dan keluarga. Rasa dagingnya lembut dan manis harum seperti cempedak dengan bentuk dagingnya mirip buah rambutan dengan kulit yang agak keras tinggal dibuka pake tangan atau digigit dulu.

Matoa ini pohon asli papua dan ukuran pohonnya besar dengan tinggi rata-rata 18 meter…. walah eta mah di hutan… gimana donk?….ya gpp…. makanya dipindahin ke polybag, siapa tahu ada yang mau nanam di tempat yang luas atau di kebun… lumayan khan.

Atau siapa tahu, di polybagpun ternyata bisa berbuah… lebih luar biasa itu. Tapi sekarang mah yang penting dipisah dulu aja pake polybag.

Inilah aktifitas bercocok tanam kali ini, karena prinsipnya jelas harus cocok dulu baru boleh menanam, karena kecocokan adalah hal yang utama kata Pak Komut BJB. Selamat menjalani shaum di hari ke-17. Wassalam (AKW).

Bercocok Taman.

Mari jaga semangat menanam dengan mencoba segala kemungkinan.

Photo : Bercocok Taman / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Sabtu pagi adalah saat yang sempurna untuk menjaga semangat diri dalam prosesi belajar bertani. Setelah melaksanakan tahapan bertani versi hidroponik, dimulai dari belajar hidroponik hingga belum berhasil ber-hidroponik maka sekarang mencoba bercocok tanam biasa saja.

Dengan berbagai pertimbangan maka media tanam kali ini adalah tanah bercampur kompos yang dimasukin ke dalam goodybag…. eh salah, polybag dan disusun berjajar atau berbaris.

Nah aktifitas ini jangan dijadikan benan ya guys, tapi justru multi moment. Selain benar-benar kita membuat media tanam sekaligus mengasuh anak semata wayang yang senang bermain sekop kecil, tanah dan polybag. Yaa… sesekali menjerit kecil dikala bersua dengan cacing tanah yang menggeliat kegeluan karena terangkat oleh sekop kecil disaat pengambilan.

Bibit atau benihnya dari mana?”

Pertanyaan yang mudah dijawab, karena bibit atau benih dibeli secara online termasuk polybag dan sejumput pupuk NPK, tinggal search saja atau kadang iklannya nongrkong di halaman facebook kita. Klik aja tapi harus hati-hati, baca teliti j7ga bagaimana testimoni serta bintang penilaian dari sang penjuak. Dilengkapi dengan manual book yang berbentuk e-book, tinggal download dan baca. Bisa juga di print dan dibawa-bawa sambil tangan belepotan tanah hehehehe…

Photo : Polybag sudah siap, Bismillah / dokpri.

Anakku bilangnya ‘bercocok taman‘ bukan ‘bercocok tanam‘. Ya sudahlah, yang penting dia senang dan belajar mengenal cara bercocok tanam.

Maka diisilah polybag dengan tanah subur versi tukang bunga seharga 10ribu perkarung beras ukuran 5 kg… ternyata 2 karung tanah itu untuk 10 polybag kecil dan 1 polybag sedang… sedikit ya?.. gpp ah.

Benih yang di tabur ada 5 macam yaitu mentimun, bayam,kangkung, cabe rawit dan wortel. Sementara sayuran lainnya masih menunggu kehadiran tanah subur dan polybagnya.

Semoga bercocok taman eh tanam kali ini bisa menghasilkan sayuran yang sehat dan bisa dinikmati keluarga plus menjadi ajang bermain dan belajar mengenal tanah serta fungsinya untuk anak tercinta. Wassalam (AKW)