Kopi Buhun yuk.

Menjaga imun, minumlah kopi sambil cingogo…

Photo : Kopi Buhun ditubruk pelan-pelan / dokpri.

SUMEDANG, akwnulis.com. Gemericik air yang bercengkerama dengan bebatuan menciptakan musik alami yang menenangkan hati. Di tengah kehijauan suasana yang mengantarkan rasa lebih tenang dan lebih damai dalam suasana kegalauan yang tak berhenti.

Yup, gejala Cabin Fever alias kesuntukan karena terpenjara suasana dan keterbatasan beredar akibat penyebaran covid19 menimbulkan stres tersendiri dan merasa terkotakkan dalam kabin atau ruang sendiri dimana sejatinya manusia adalah mahluk sosial yang gemar dan (harus) berkerumun serta bergaul, apalagi anak gaul heuheuheuheu….. maka mlipir sedikit ke tempat yang menyejukkan adalah jawaban atau obat penyembuhan setelah 7 bulan ini terkurung oleh ketidakpastian.

Sebagai pelengkap dalam mengobati rasa terasing ini maka kembali sajian kopi hitam tanpa gula adalah kawan sejati. Sebulan lalu dicoba dilupakan alias berhenti minum kopi tanpa alasan jelas, kali ini kembali menemani perjalanan kehidupan yang penuh dinamika.

Meskipun belum bisa berkerumun dan ngobrol ngaler ngidul sambil tertawa-tawa, minimal suasana alami yang berbeda ini memberikan ketenangan dan kesadaran bahwa nikmat hidup ini adalah salah satu nikmat dari Illahi Robb yang wajib disyukuri dan ditafakuri.

Secangkir kopi hitam tanpa gula yang masih mengepulkan asap kenikmatan ini adalah kopi buhun Rancakalong yang digiling manual oleh Juragan D dan dilakukan seduhan manual dengan metode kopi tubruk depan depan kecepatan pelan-pelan… naon siih….

Maksudnya kopi tubruk mas bro.

Dengan cangkir jadul yang mengingatkan suasana masa kecil yaitu cangkir kaleng berkelir corak putih hijau, cocok pisan dengan birunya dedaunan dan keputihan alami…. halah kok keputihan… maaf, maksudnya putih alami awan di langit sanah heuheuheu.

Tak lupa, secangkir kopi panas sebelum diseruput, biarkan berpose diatas batu sungai. Bergabung dengan gemericik irama alam dan ditemani gerakan lincah ikan kecil yang berenang disekitaran.

Srupuut….. woaaah panasnya air telah berubah menjadi rasa yang menenangkan. Body kopi medium dengan acidity tahap menengah serta diakhiri after taste fruitty yang hadir selarik ditambah tamarind dan sejumput rasa lemon…. enak euy. Sambil cingogo eh jongkok diatas batu sungai, bagaikan masa lalu di kampung halaman manakala kebelet buang hajat di dekat sungai…. carilah tempat strategis diatas sungai.. dann… berjongkoklah dengan bersahaja.

Selamat menyeruput kopi guys… srupuut… nikmaat. Wassalam (AKW).

Hijau Bergaya.*)

Puisi sederhana dengan pose binar yg lucu

Hijau itu Anugerah
Diantara pucuk merekah
Perlahan kaki melangkah
Menuju kebun yang indah

Bertiga berpose bersama
Aneka gaya ceria
Ikuti petunjuk pemandu yang ada
Harus kompak apa adanya

Tapi anak semata wayang ini beda
gaya sendiri diluar aba-aba
Kami bergaya gigit apelnya
Binar tetap dengan gaya berbeda

Beda gaya itu biasa
Karena hasil photo penuh nuansa
Yang penting semua bahagia
Dengan pose suka-suka

Petik apel itu judulnya
Kebersamaan adalah ruhnya
Jarak jauh itu perjuangannya
Momen kenangan berharga hasilnya

Segarnya suasana disini
Sambil gigit apel yang tersaji
Kunyah sepuasnya diri
Atau sekuat barisan gigi

Selamat tinggal 2019
Tahun penuh hikmah berkelas
Kebaikan harus dibalas
Kesalahan perbaiki sampai tuntas.

Wassalam,
Kusuma Agrowisata
Batu – Malang, Des 2019.

*) Puisi sederhana AKW.