Pod Rail Transit Suite Gambir

Mencoba kamar super mini di Gambir, ternyata….

Photo : Dalam Pod room / dokpri.

SERANG, akwnulis.com. Perjalanan pagi dari Stasiun Gambir menuju Wilayah Provinsi Banten, terasa begitu nyaman. Semenjak keluar dari Gambir, Nissan grand livina 1500 cc ini tidak menemui kemacetan berarti. Melesat lancar menuju tol kota dan terlihat bertolak belakang dengan arus lalu lintas menuju pusat jakarta. Terlihat kemacetan mengular meskipun sudah digunakan metode contra flow.

Pak Pri Hartono, sopir GoCar dengan tenang mengemudikan kendaraannya membelah suasana sunyi di satu sisi ditemani sinar mentari yang mulai hadir menghangati bumi.

Perjalanan yang begitu tenang dan damai, termasuk melewati kebon jerukpun tidak ada kemacetan berarti, Alhamdulillah pilihan waktu keberangkatan yang tepat, tadi pas pukul 06.00 wib mulai start dari Stasiun Gambir setelah beristirahat sejenak di PODnya Rail Transit Suite Gambir

“Apa itu PODnya Rail Transit Suite Gambir?”

Photo : Ayo mau dimana? / dokpri.

Nah inilah pengalaman yang perlu dicoba. Kebetulan memang dengan waktu yang begitu ketat dengan penjadwalan padat merayap maka praktis dalam 1 minggu ini pergi kesana kemari, atau istilah kerennya ‘ijigimbrang‘ kesana kemari.

Jangan tanya lelah, karena itu adalah realitas. Jangan tanya cape karena itu bikin bete. Tapi jalani saja semua dengan tetap berusaha menyeimbangkan antara kepentingan kerja dengan perhatian kepada keluarga.

Karena apa, kerja keras dalam bekerja tentu berharap mendapat penghasilan untuk keluarga. Disisi lain bukan hanya penghasilan tetapi juga perhatian bagi keluarga menjadi unsur penting yang harus diseimbangkan.

Photo : 20 kamar pod room / dokpri.

Metodenya?….. itu mah terserah masing-masing. Yang pasti, diskusikan dengan pasangan dan anak bahwa konsekuensi pekerjaan menuntut seperti ini. Disisi lain, luangkan waktu untuk tetap berjumpa dengan keluarga meskipun hanya sebentar. Bercengkerama lalu pamit mengejar kereta, tertawa bersama dirumah lalu terbang dengan pesawat berbujet murah. Tugas negara di jalankan, keluarga tetap terperhatikan…

“Ih kok jadi curcol, kamar pod-nya gimana?”

Ini ceritanya…. jeng jreng….

Kamar pod itu ternyata berasal dari istilah bahasa sunda, yaitu ‘nyemPOD‘ alias nyempil di tempat sempit… heuheuheu, maksa ih.

Tapi aslinya, kamar POd ini memang seukuran badan alias segede kotak peti mati atau tempat kremasi dech (klo liat di film-film). Dengan model dormitory asrama, ranjang bertingkat maka harga yang ditawarkan jauh lebih murah, via aplikasi traveloka dapet harga 200ribu untuk 1 hari. Kalau direct ke hotelnya bisa pake 12 jam atau 6 jam dengan harga lebih murah… tapi tidak dijamin ready, karena penuh terus.

Pod room (male only, share room), itu tulisan di keterangan aplikasi. Soalnya penutup kamar nyem-Pod ini hanya tirai….euh kerai belaka, khan klo ada perempuan trus salah kamar bisa berabe, sementara posisinya berjejer dan bertingkat.

Photo : kopi item fasilitas hotel / dokpri.

Overall, ruangannya bersih, AC dingin meskipun berbagi. Kamar PoDnya pake kartu untuk nyalakan lampu, ada kotak penyimpanan dibawah kaki lengkap dengan kunci. Handuk, sikat gigi dan sebotol air mineral tersedia sebagai fasilitas. Kasur dan bantalnya empuk dan bersih.

Nah, kamar mandinya sharing juga, 2 buah wc dan 3 shower, cukup untuk penghuni kamar Pod ini, khan maksimal 20 orang, tinggal giliran aja.

Oh ya mushola juga ada… juga pas pagi harinya ada fasilitas sarapan dalam bentuk nasi kotak, lumayaan… Alhamdulillah.

Meskipun penulis hanya menikmati sekitar 4 jam saja. Karena tiba jam 01.00 wib dengan KA argo Parahyangan dan disambut suasana temaram serta lomba dengkuran dari para penghuni memberi sensasi tersendiri dan jam 05.00 wib sudah bangun, mandi dan shalat karena pagi harinya harus sudah berangkat ke Banten diantar pak Pri sang Driver Gocar. Tidak lupa sebelum berangkat, ngopay dulu fasilitas hotel. Yaa.. kopi ala kadarnya hehehehe.

Pengalaman ini menambah wawasan dan hikmah, dimana nanti di alam kubur akan lebih sempit dari ini dan gelap gulita kecuali kita bisa membawa amalan-amalan yang baik, shodaqoh yang ikhlas, serta ibadah lainnya yang bernilai berkualitas di hadapan Illahi robbi serta doa-doa dari anak sholehah serta siapapun yang mendoakan kita kelak. Amiin Yaa Robbal alamiin, Wassalam (AKW).

Kopi Kupu-Kupu.

Hati-hati dengan merk kopi.

Photo : Kopi Kupu-kupu / dokpri.

SERANG, akwnulis.com. Tadinya agak bingung juga dikala ada penawaran untuk menikmati kopi kupu-kupu.

“Kakak mau nyoba kopi kupu-kupu?”

Sesaat terhenyak dan menjawab tergagap, “Mau… tapi itu kopi beneran?”

Terlihat seringai bibirnya lalu tertawa tertahan, “Ini kopi biasa Kak, emangnya Kakak pengen kopi kupu-kupu apa?”

Giliran diriku tersipu, wah cilaka entar disangka pengen kupu-kupu yang lain. Padahal diriku paling suka melihat kupu-kupu, baik yang besar seperti kupu-kupu sirama-rama gajah (Attacus Atlas) yang berasal dari ulat hijau mahoni yang berwarna hijau serta ukuran cukup besar ataupun aneka kupu-kupu kecil yang bermacam warna.

Tetapi setelah dijelaskan maka kekhawatiranku sirna. Karena kupu-kupu disini adalah merk dari produk kopi bubuk yang dikemas 1 sachet sekali seduh dengan berat bersih 6 gram-an. Dibungkus dengan plastik warna kuning dan cap serta tulisan kupu-kupunya berwarna merah.

Kopi bubuk kupu-kupu ini diproduksi di daerah kecamatan Rangkasbitung Kabupaten Lebak Provinsi Banten.

Kupu-kupu yang dikhawatirkan adalah kupu-kupu beneran yang termasuk kedalam ordo ‘lepidoptera‘ atau ‘serangga bersayap sisik‘, beda lagi jikalau ‘kupu-kupu malam’, kupu-kupu ini diyakini super akrab dengan yang namanya kopi hitam dalam kehidupannya yakni dalam kehidupan malam hehehehehe.

Bicara kopi harus sambil dinikmati, maka tanpa banyak waktu berarti, segera diseduh ala tubruk aja karena sekarang lagi meeting dengan tema ‘Singkronisasi‘. Begitupun bubuk kopi kupu-kupu harus singkron dengan guyuran air panas sehingga dihasilkan sajian kopi terbaik ala Rangkasbitung Banten.

Currrr…. kocek.. kocek, jangan lupa #hindarigulakarenakamisudahmanis maka kita tunggu…..

Jreng…. secangkir kopi tersaji. Mantaaabs, tanpa banyak tanya langsung tiup dqn sruput…. nikmaaat. Rasanya seperti kopi… “Eh gimana seeh?, ini khan kopi!!!”

Maksutnya nikmat kopi biasa tersaji dengan body ringan, less acidity dan less taste tetapi ada sedikit keharuman yang membantu menjaga mood untuk terus berbincang tentang masa kini dan tantangan masa depan. Selamat ngopay bray, Wassalam (AKW).

Pecak Bandeng & Bersyukur

Kuliner Banten dan Pengabdian.

Photo : Pecak bandeng & kopi hitam / dokpri.

BEKASI, akwnulis.com. Perjalanan panjang menuju Kabupaten Pandeglang perlu stamina dan keikhlasan. Sebetulnya jikalau tidak terjebak kemacetan cukup dengan 4-5 jam saja, itu dibuktikan dengan perjalanan tengah malam dari Bandung dan di tol Cikampek keluar di pintu tol Karawang Timur, menyusuri jalur arteri pantura hingga akhirnya masuk lagi di pintu tol Bekasi Barat…. amaan terhindar dari kemacetan di ruas tol Karawang – Bekasi.

Trus blasss….. membelah dini hari menuju tujuan melewati tol Jakarta – Merak dan tiba di Pandeglang disambut dengan kumandang adzan shubuh. Berarti sekitar 4,5 jam pejalanan karena dikorting waktu istirahat di KM72 Cipularang.

Pulangnya… perjalanan Pandeglang -Bandung ditempuh dengan waktu 9 jam perjalanan….. 2x lipaaat. Berangkat pukul 3 sore dan tiba di Bandung tepat pukul 12.00 malam.

Pertanyaannya : “Apakah semua harus disesali atau dijalani dan disyukuri?”

Untuk jawabannya maka kembali kepada kita sang penerima amanah sementara raga dan jiwa, yang hanya sebentar saja singgah di dunia fana.

Jikalau disesali, lelah sudah didapat, pegalpun memang tak perlu bercerita karena sudah menjadi kenyataan.

Maka….. cara terbaik adalah memaknai perjalanan ini dengan konsep tasyakur binnikmah.

Masih diberi kesempatan sehat dan kuat, masih diberi keluangan waktu untuk bergerak menyusuri jalan raya melintasi 2 provinsi yang tidak semua orang berkesempatan seperti ini.

“Bener nggak?”
“Bener juga”

Trus untuk keluarga di rumah, mungkin merasa terganggu karena tengah malam baru pulang sebentar … eh berangkat lagi dan besok malamnya dini hari baru tiba. Semoga pengertian keluarga yang di rumah menjadi bagian dari ibadah.

Semua lelah ini insyaalloh menjadi berkah, dan silaturahim dalam rangka tugas ini adalah rangkaian kerja yang juga bermakna ibadah.

***

Photo : berbagi ekspresi di sini / dokpri.

Tiba dini hari di kamis pagi bukan berarti menjadi hari libur, ada kewajiban masuk kantor yang tak terelakkan, apalagi tugas dan kerjaan lain sudah menanti.

Ya sudah jalani, nikmati dan syukuri.

Sebagai penutup cerita, photo awal di tulisan ini adalah penghibur di perjalanan di kala perut mulai terasa lapar. Sajian ‘Pecak Bandeng’ RM Ibu Khadizah di Kota Serang menyambut kami dengan segarnya ikan bandeng dan bumbu pedasnya yang begitu mengurai keringat serta cucuran air mata kepedasan. Dilengkapi dengan nasi putih yang pulen plus secangkir kopi tanpa gula, memberi semangat kami untuk tetap berkarya dan tetap ceria. Wassalam (AKW).