Arabica Java Preanger pake Chemex

Nikmati kopi pake metode chemex, nikmat.

BANDUNG, akwnulis.com, Sajian penutup setelah makan siang sehat ala Cafe Greensandbean sebenernya banyak pilihan, tapi tetep saja kurang afdol tanpa hadirnya si hitam nikmat, kopi.

Dari mulai bye bye doctor, energy booster hingga aneka teh yang bisa refill hingga 3x. Tidak bisa mengalahkan hasrat meng-kopi, menikmati kopi. Maka dari 3 pilihan kopi yang akan di buat secara manual, kali ini jatuh ke kopi Arabica Java Preanger. Flores Bajawa dan Liberica bean.

Inilah dia, sajian kopi arabica java preanger dengan metode manual brew chemex. Hadir dihadapan dengan ditemani 2 gelas kaca mini, berarti bisa buat dinikmati berdua.

Bagi yang tidak biasa ngopi dikit-dikit, kemungkinan besar akan terjadi kecanggungan. Tapi itu adalah sebuah cara, bagaimana dengan gelas kaca mini ini, kita bisa minum perlahan tapi pasti, menyecap rasa yang tersaji tanpa basa basi. Trus tidak hanya sendirian, bisa juga menikmati bersama teman. Meskipun terus terang, segitu mah klo barengan, yaa takarannya kurang. Tapi tak apa, yang penting bisa minum kopi yang dibuat manual dengan biji spesial. Wilujeng ngopay, Wassalam (AKW).

SAMBUTAN Keluarga Wanita sebelum Akad Nikah

Tantangan baru, belajar memberi sambutan pada acara keluarga. Siapa tahu ada yang perlu, monggo di copas aja.

Photo : Orat oretku sebelum tampil menyambut (26/01) / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Suasana sakral dalam kehidupan, salah satunya adalah momen bersatunya dua insan dalam ikatan janji suci pernikahan.

Momentum ini tentu harus dipersiapkan secara matang, karena jikalau disiapkan secara serampangan maka hasilnya adalah sebuah acara yang datar atau mungkin seakan hambar tanpa kesan.

AKW tidak akan membahas tentang detail persiapan pernikahan, tetapi ingin berbagi salah satu tugas penting yang mungkin saja tiba-tiba pembaca yang ketiban tugas sebagai perwakilan keluarga calon mempelai pria atau wanita untuk memberikan sepatah kata sambutan.

Ini dia hasil orat oret AKW, monggo :

‘SAMBUTAN PERWAKILAN KELUARGA CALON MEMPELAI WANITA pada acara AKAD NIKAH.’

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Assholatu Wassalamu Ala Asrofil Anbiyaa’i Walmursalin, Wa ala aliihi Wasahbihi Azma’in.

Yang Kami Hormati Keluarga Besar bp AMIRUDIN dan bu ALFRIZALNI – Tangerang beserta rombongan.

Yang Kami Hormati, Bapak, Ibu, saudara para hadirin.

Kami Perwakilan dari Keluarga Besar bp ZAENUDIN HIDAYAT dan bu NANI HERYANI – Cimahi ingin menyampaikan beberapa hal :

Bismillahirrohmanirrohiim…

Pertama-tama dan paling utama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke-Hadirat Illahi Robbi, Allah Subhanahu Wataala karena atas ridho, rizki dan Hidayahnya, Kita semua bisa berkumpul bersua disini dalam rangka sebuah acara penting dalam keadaan sehat wal afiat.

Photo : Suasana Prosesi Akad Nikah Dini & Irvan / dokpri

Shalawat beserta salam, marilah Kita limpah curahkan kepada Junjunan Kita Nabi Besar Muhammad Salallahu Alahi Wassalam, berserta Keluarganya, para sahabatnya, tabi’in-tabi’innya serta kita semua selaku pengikut ajarannya.

Kami awalnya bertanya-tanya,
“Siapakah pemuda ini?”
“Ada apa gerangan datang kesini bersama orangtua dan keluarga besarnya?”

Ternyata….

Ternyata, yang datang saudara IRVAN PRIBADI, S.Ikom. Dia adalah pemuda gagah, dengan niat membawa janji suci untuk menyempurnakan ibadah. Ditemani oleh kedua orangtua, keluarga dan saudara-saudari yang tak kalah sumringah, untuk membuktikan janji suci dalam acara akad nikah bersama adik kami Ananda DINI YULIAWATI, SE demi terwujudnya keluarga Sakinah, Mawaddah Warrahmah.

(Tarik nafas panjang dulu guys… baru pidatonya dilanjutkan…)

Tentu kami menyambut dengan tangan terbuka dan senyum merekah, semoga niat baik ini berbalut berkah dalam jalinan persaudaraan dengan silaturahmi yang indah.

Karena dengan menikah, akan menyempurnakan ibadah. Mewujudkan rasa tenteram dan tenang atau Sakinah. Memberi kesempatan salin mencurahkan cinta kasih, senantiasa jujur, saling melengkapi kelemahan dan menjaga kehormatan pasangan (Mawaddah). Satu lagi tentu Wa-Rahmah, Wa itu artinya dan, Rahmah itu Kasih sayang, bukan hanya saling mengasihi tetapi saling menjaga, saling melindungi, saling membantu dan saling memahami hak dan kewajiban masing-masing sebagai pasangan suami istri. Itulah sekilas harapan tentang wujud ideal keluarga, yang disebut dengan bahasa kekinian adalah KELUARGA SAMAWA.

Selanjutnya, Permohonan maaf kami yang sebesar-besarnya, jikalau penyambutan kami yang sederhana ini mungkin tidak berkenan di hati bapak dan ibu semuanya.

Tetapi yang pasti, ini semua bisa terwujud dan terlaksana, hanya atas izin dan rahmat dari Allah Subhanahu Wataala.

Semoga kedatangan pemuda gagah dengan niat menyempurnakan ibadah ini segera terwujud dalam acara prosesì akad nikah.

Sebelum sambutan ini diselesaikan, ijinkan kami menyampaikan sebait pantun yang sudah kami persiapkan khusus untuk acara penyambutan :

MEMBAWA KERANG DIIKAT TALI
TAK LUPA JUGA SEKARUNG CUMI-CUMI
Dari Tangerang ke Cimahi
Membawa niat janji yang suci

MEMASAK IKAN BERALAS KAKI
TAK LUPA TUANGKAN MINYAK NABATI
Ingin mewujudkan persaudaraan abadi
Dalam ikatan pernikahan sejati
Disini, dimulai saat ini

PERGI KE KOLAM JADINYA BASAH
TERASA DINGIN SEKALIGUS CERAH
Setelah akad, semuanya jadi SAH
Dilanjut resepsi meriah yang penuh berkah.

Demikian yang dapat kami sampaikan, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh (AKW).

***

*)Acaranya di Ballroom V Hotel, Jalan Terusan Sutami III, Setrasari Bandung. 26 Januari 2019.

Vietnamese Noodle Salad

Menikmati menu maksi yang sehat, ceunah.

Photo : Sajian Vietnamese Noodle Salad / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com, Dikala siang menjelang, senandung nada lapar memberi sinyal dengan suara kerubuk kerubuk dari dalam perut. Ingin segera berlari menuju kantin bawah dan pesan makanan minuman segera, tetapi ternyata terhalang oleh banyaknya pengunjung yang memiliki tujuan sama.

Dan… makanan favoritku saat ini ternyata begitu banyak yang pesan. “Emangnya pesen apa?”

“Pengen lotek atau karedok dan pencok leunca ditambah tahu tempe goreng, jikalau ada yaa.. nasi merah”

“Euh itu mah favorit semua orang, ngantrinya musti dari jam 10 pagi”

Jadinya niat bergabung di kantin diurungkan lagi, kembali berkutat di ruangan, ditemani air panas dan peralatan seduh kopi manual, bikin kopi lagiii….

***

Beres shalat dhuhur berjamaah, muncul tawaran maksi (makan siang) dari kolega lama yang ingin bersua.

“Kebetulan nich, mumpung masih jam istirahat”

Meluncurrr……

Kaki bergerak menyusuri jalan Banda dan belok kanan ke Jalan Bahureksa, cukup 11 menit berjalan kaki sudah tiba di lokasi Jalan Bahureksa No. 9 Bandung, Cafe Greensandbean.

Jabat tangan dan cakap berbalas menjadi pembuka cerita. Membahas masa lalu, masa kemarin, hari ini dan mungkin urusan karir di hari esok. Masing-masing membahas prinsip, mengedit cita-cita serta menempa rasa dalam tatanan birokrasi yang semakin penuh dengan tantangan dan harapan.

Cafe Greensandbean mengusung tema makanan dan minuman sehat juga gaya hidup yang menjaga alam secara komprehensif. Secara kemasan semua menggunakan daur ulang termasuk kantong plastik telo bag yang ramah lingkungan. Sedotan plastik sudah diganti dengan sedotan bambu, yang bikin terhenyak bagi yang baru menikmati sajian di cafe ini.

Photo : ‘Hawu’ Perapian tradisional di rumahku di kampung kelahiran / dokpri.

Apalagi kayak diriku yang lahir dan masa kecil di kampung, pas dapet sedotan kayu itu langsung teringat sama ‘songsong’, alat tiup buat ngebesarin api di kayu bakar yang menjadi bahan utama perapian kampung yaitu ‘hawu’.. heu heu heu heu.

Sajian makanannya berbasis sayuran beraneka daun, lalu bahan makanan seperti telur omega 3, shorgum, roti gandum, serta banyak lagi pokoknya mah….

Pesanan pertama, ‘Vietnamese Noddle Salad’…. wow sajiannya kereen, aneka rupa dan warna warni, langsung aja ambil posisi dan photo dulu, tuntutan jaman. Isinya vermicelli, mix green, carrot, cucumber, bean sprout, tofu, coriander, chicken, roasted peanut, mint, chili, vietnamese fressing, pita chip.. (copas dari catatan menu ini mah…:))

Minumnya teh panas aja, ada 4 pilihan. Yaa pesen salah satu, pake teko kaca dan bisa refill 3x… lumayan bisa ngirit.

Sebelum dinikmati, dressing vietnamesenya dituangkan ke sajian. Lalu perlahan dicoba….

Rasa asam dressing bikin sedikit dahi mengernyit, juga ada berbagai rasa yang berbeda dengan ekspektasi menari di lidah menyajikan kesegaran. Asam, manis, harum dan segar berpadu menjadi sajian rasa berbeda. Untung saja perut ini mudah menyesuaikan dan hanya memiliki 2 opsi terhadap makanan, yaitu enak dan enak banget, jadi mari kita nikmati.

Seiring waktu istirahat yang akhirnya habis, pertemuan singkat sambil maksi inipun harus usai.

Meninggalkan kesan yang banyak, baik dari sisi pertemanan, juga pengalaman rasa makanan sehat yang berbeda, juga jangan lupa urusan harganya.

“Makasih masbro atas traktirannya, jangan kapok yaa”

Kami berpisah dan kembali memasuki ritme kerja yang meniti waktu dengan segala dinamikanya, wassalam (AKW).

Kerajaan Abu yang tak Kelabu… 2)

Menjelang malam menabuh tenteram di kerajaan abu yang menawan.

Photo : Gemerlap menjelang malam / Dokpri

Malam bergegas merebut terang bersekutu dengan hujan yang tak henti menyiram bumi. Senandung senja berkabut ungu mengelilingi kerajaan abu, memberi suasana magis yang melenakan. Apalagi gerimis hujan bertabur bubuk penidur, menguatkan rasa malas tiada tara sehingga diskusi mencari ilmu di ruang Tuscanypun harus menentukan pilihan. Lanjut atau jeda.

Acara Capacity Building dari KPPIPpun akhirnya harus berhenti sesaat (padahal emang rundown acaranya gitu…). Bukan karena kerajaan abu dalam keadaan darurat akibat kondisi alam yang tidak bersahabat ataupun karena harus berjuang melawan serangan troll dan monster jahat yang ingin merebut kekuasaan, tetapi konspirasi halus dari bidadari air dan dewa ngantuk didukung dengan lambaian puteri selimut membuat semua satu pemahaman bahwa mari nikmati malam tanpa berpikir dulu tentang pengetahuan.

Bergegas menuju ruang utama kerajaan untuk mendapatkan kunci kamar yang mungkin berguna untuk menyingkap misteri kerajaan abu yang tidak kelabu ini. Ahaay… nomer kamarnya spesial, moal béja-béja bisi aya nu maluruh (ga bakal dikasih tau, khawatir ada yang mencari). Langkah pasti menuju kamar menyusuri lorong yang terang benderang, tidak banyak ornamen yang terpampang tetapi hiasa gorden keemasan dan vitrase mewah menambah suasana kerajaan yang menenangkan.

Ternyata kamar yang dituju berada diujung selatan bangunan kerajaan, tanpa banyak tanya segera menempelkan selembar kertas bersegel pemberian pelayan di ruangan depan. Tittt…. pintunya otomatis terbuka, juga semburat titik hijau menyambut mata tepat pada gagang pintunya. Suasana kamar yang gelap cukup memberi suasana seram, tetapi semua sirna disaat langkah kaki memasuki kamar dan kertas tadi di tempel pada dinding kanan (sesuai petunjuk pelayan)…. lampu menyala dan kamar jadi benderang.

Sebuah ranjang king size menyambut kedatangan, ditemani sofa coklat klasik juga kursi malas beserta kekengkapannya, ah benar-benar serasa tamu raja. Bergerak ke kamar mandi, cukup luas juga. Tidak ada bak mandi tetapi secara fungsional lengkap termasuk obat kumur mini dan lotion penyegar kulit, ih bikin betah. Sayangnya gerombolan pengganggu datang, ikut masuk ke kamar dan tanpa basa basi mencoba nikmatnya kasur kerajaan. Yaa pasrah saja karena mereka semua adalah teman seperjuangan. Akhirnya senda gurau dan cerita tentang pengetahuan baru menjadi bahasan. Sambil leyeh-leyeh di kasur, sofa dan lantai.

Sebagai catatan agar besok lusa tak lupa dengan acara KPPIP dan Tusk Consultan tentang Public Private Parnership maka yang musti dibaca dan diperdalam diantaranya : UU 22/2012, Perpres 38/2015, Perka LKPP 19/2015, PMK 190/OMK.08/2015, PermenBappenas 96/2016.

Akhirnya gelap malampun menyelimuti semua rasa yang tadi berbuncah diantara diskusi pengetahuan dengan kantuk serta kemalasan. Tetapi disaat langit malam masih menyisakan biru, segera diabadikan dipadu dengan gemerlap sinar yang muncul di sekitar bangunan kerajaan abu. Sebuah panduan fantastis, apalagi kerling bidadari air di kolam renang masih membekas meskipun rasa cemburu raja kantuk bisa mengalahkan segalanya..zzzzzzz..zzzz..zzz. Wassalam. (Akw).

Kerajaan Abu yg Tak Kelabu..1)

Mengejar tahu merintis ilmu sambil memintal silaturahmi tanpa misi pribadi di sebuah kerajaan abu di wilayah Bandung utara.

Photo : Om Teddy Bear lg santai / dokpri.

Desau pagi menumpang angin berpadu padan dengan segarnya kerinduan. Embun keengganan masih menggelayut manja pada hijaunya dedaunan. Sang waktu sudah melesat membelah pagi, mengantarkan seikat janji yang harus dipenuhi pagi ini.

Setelah merayap membelah rasa menyusuri arah Bandung utara, tibalah di halaman bangunan megah yang mengingatkan nalar menguatkan khayal berada di sebuah kerajaan masa lalu. Tembok tinggi berwarna abu tidak menyiratkan kelabu, malah menelisik hati untuk masuk lebih dalam lagi.

Setelah kendaraan terparkir sempurna, kedua kaki melangkah ringan memasuki pelataran kerajaan abu-abu ini. Senyuman menyebar bertaburan menyambut setiap kedatangan, gemerlap lampu gantung dan sofa-sofa besar berpadu dengan hadokpringatnya lantai yang berselimut karpet tebal. Di ujung dekat perapian, Sang Teddy bear sedang asyik bersantai. Sesaat bertemu muka, senyum mengembang dan anggukan hormat yang tulus menambah rasa betah berada dilingkungan baru ini.

Penjaga dan pelayan kerajaan terlihat berbagi tugas menyambut tamu yang datang. Begitupun raga ini bergerak menuruni tangga, melewati kolam renang ukuran besaaar dengan kejernihan air yang begitu menggoda. Terlihat lambaian manja bidadari air, merajuk untuk ikut bergabung dalam segarnya gemericik air. Tapi jiwa menahan karena hadir disini bukan untuk itu, tetapi mencari sejumput mutiara ilmu yang berada di ruang pertemuan tidak jauh dari tempat para bidadari air menari riang.

photo : Kerajaan GeHa Universal / dokpri

Setelah berhasil melewati godaan bidadari air, raga bergerak menuju tangga kristal. Perlahan menurun dan disambut lagi gemericik air mancur kecil sebelum masuk ruang Tuscani. Sebuah ruangan abu yang fungsional, terang temaram merebak rasa kebersamaan dan semangat berbagi pengetahuan. Sebuah bahasan pengetahuan beralur cepat dengan aneka bahasa yang saling melengkapi. Baik bahasa ibu yang resmi di kerajaan juga bahasa asing yang akhirnya hanya mengangguk dan tersenyum tanpa paham apa yang dibicarakan. Tapi minimal dari gestur, ada sedikit yang bisa dimengerti.

Bahasan ilmu biar nanti dibahas khusus tapi yang pasti makasih atas kesempatan bersua dan diundang oleh KPPIP serta rekan-rekan Tusk consultant di bangunan megah klasik, seolah berada di sebuah kerajaan abu yang megah di bilangan Bandung utara, namanya Kerajaan GeHa-Universal.

Photo : Air mancur mini depan Tuscani / dokpri.

Sambil menikmati harmoni musik klasik yang lembut digabung dengan penjelasan tentang Pi-pi-pi, menambah ilmu menambah silaturahmi apalagi yang hadir ada 3 petinggi negeri punggawa utama tentu menambah takjub dan betah berlama-lama.

Meskipun bidadari air dan raja kantuk berlomba merebut rasa, tetapi ketetapan hati tak bergeming untuk terus menimba ilmu mengejar pengalaman. Sehingga keseluruhan latihan dan pembelajatan kehidupan bisa diikuti tuntas meskipun ada keterbatasan karena sudah mulai terjangkit penyakit endemik ‘lanang celup’, yakni gejala otak dan perasaan yang lambat nangkap dan cepat lupa he he he.

Met belajar para pangeran…….

Semoga nanti miliki waktu untuk menikmati hari menapaki relung relung kerajaan abu, selain untuk mendapat ilmu tapi juga pengalaman untuk beredar semu hingga berakhir pada satu pintu titik temu. (Akw).