Banana ripped brownies peanut butter.

Menemani istri membuat sajian kue bergizi…

Photo : Brownies karya Ibu negara / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Baca judulnya dipastikan eh kemungkinan besar muncul pertanyaan, “Kok nggak nulis kopi lagi? atau “Kehabisan bahan tulisan tentang kopi yaa?” dan berbagai pertanyaan lain yang semakna.

Apakah perlu dijawab?

Nggak usah, mendingan silahkan jempol menari diatas keyboard virtual smartphone dan menghasilkan barisan kata yang mungkin diperlukan oleh seseorang, mungkin dekat ataupun di tempat yang jauh dan berbeda.

Kali ini mendokumentasikan sebuah aktifitas ibu negaraku (baca : istriku) dalam sebuah acara pembuatan kue yang mungkin berguna bagi yang memerlukannya… cekidot… namanya Banana ripped brownies peanut butter atau lebih singkatnya Bikin BROWNIES CAU-PLUS.

Resepnya nyomot dari applikasi tasty di internet, dan inilah bahannya :

Bahan :
Pisang ambon 4 buah
Gula pasir 350 gram
Gula semut 50 grm
Melted butter 200 gr
Terigu 150-180 gr
Cocoa powder 60gr
Vanilla dan garam secukupnya

Bagaimana caranya :
Pertama berdoa dulu yaa, memohon kemudahan kelancaran dan keberkahan serta rasa enak nikmat dari brownies yang akan dibuat. Lalu dibuka kulit pisangnya trus si pisang dibejek bejek sambil perlahan tapi pasti tambahin sugar.

Photo : Browniesnya mateeng / dokpri.

Butter yang beku di kulkas di cairkan dulu dan si melted butter juga dimasukin perlahan ke adonan, diaduk pelan penuh perasaan. Selanjutnya terigu mulai bergabung sedikit demi sedikit, dilanjutkan ocoa powder, garam dan bubuk vanill secukupnya.

Adonan yang sudah jadi bersiap masuk ke loyang tapi jangan lupa cetakannya diolesin mentega dulu biar nggak lengket gimana gituuh.

Masukan adonan ke cetakan dan sebelum masuk mesin open pemanggang, olesin dulu atasnya adonan dengan peanut butter denga model random tapi harus hati-hati agar tidak terlalu melarut dengan adonan browniesnya.

Nah adonan di cetakan yang sudah rapih langsung dimasukan ke open pemanggang dengan suhu 180° selama 30-40 menit… Sebelumnya panasin dulu open pemanggangnya 30menit… memanaskan open pemanggang bisa dilakukan sambil bikin adonan awal.

Masukan open pemanggang..

Tunggu yaaaa…

***

Setelah 35 menit berlalu, maka saatnya menemani ibu negaraku (baca : istriku), mengambil brownies hasil pemanggangan tadi… dan hasilnya.. woaaaw sebuah brownies yang cantik dan harum menyeruak, membuat ingin segera menikmati meskipun tetap harus bersabar.

Sabar itu karena 2 hal, pertama masih panas dan kedua wajib di photo untuk dokumentasi di dunia narsisitasi.

Cetrek.
Cetrek….

Photo : Brownies cauplus + tomatillo / dokpri.

Sudah ah, saatnya menikmati. sebuah piring kecil eh tatakan cangkir berisi potongan brownies sudah hadir di depan mata, tak lupa sebagai hiasannya 1 buah tomatillo menemaninya.

Rasa browniesnya maniees menggugah selera, rasa pisangnya hadir melengkapi sensasi rasa dan ditutup oleh peanut butter di permukaan browniesnya… enaak pisan.

Tapi maaf buat yang baca, cuman cerita dan gambar saja. Klo moo menikmati yaa… silahkan coba bikin hehehehe… maaf.

Selamat mencoba membuat brownies ini kawan, makasih istriku atas usaha dan perjuangannya menghasilkan brownies yang nikmat rasanya. Wassalam (AKW).

***

Memilih & Kopi Halu Pink Banana.

Menikmati Kopi Arabica Halu Pink Banana…

Photo : Sajian Kopi Halu Pink Banana / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Hari ini, eh sudah beberapa minggu deng… kata ‘Memilih‘ menjadi frasa yang begitu trending topik, menghiasi linimasa dan berbagai platform dan level kehidupan.

Jadi, hayu kita memilih…

“Memilih naon?”

“Yang pasti memilih sesuatu yang dua-duanya bikin kita nikmat dan nyaman”

“Ada pilihan yang dua-duanya enak?”

“Adaaaa…… memilih cara untuk nyeduh kopiiiii”

“…… beuh kopi lagiii.. kopi lagiii”

***

Menikmati sebuah sajian kopi bisa dengan berbagai macam cara. Tetapi secara garis besarnya ada 2 cara lho. Cara pertama nyeduh manual brew sendiri dan cara kedua dibuatin orang laiiin… bener khan?

Masing-masing tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Yuk kita bahas satu-satu. Pertama, ngebuat kopi dengan seduh manual yang dikerjakan sendiri. Kelebihannya adalah :

a) bisa kapan aja yang penting ada kopinya, ada peralatannya, ada air panasnya… tinggal curr.
b) bisa foya-foya, maksudnya komposisi kopi bisa lebih dari standar 1 : 12, bisa ditambah jadi 1 : 20 klo pengen rasanya makin nendang atau sekalian bisa bikin ‘teh kopi’ dengan cara seduh kedua kali tanpa ganti kopinya…. ntar dapet kayak teh, rasa kopinya hilang tapi tetep haruuum kopi.

c) edukasi kopi, bisa jadi momen mengenalkan kopi kepada saudara, rekan, kenalan dengan magic wordnya kayak open boxing di channel yutub, “Hai guys.. dst”

Photo : Tampak belakang dus Kopi Halu Pink Banana / dokpri.

Kelemahannya adalah :

a) Wajib punya kopi…. Ya iyaa donk. Trus apa yang mau digrinder?…

b) Musti punya alat-alatnya : ini juga pengorbanannya, minimal mesin grinder kecil, pemanas air, teko goose neck, timbangan digital kecil, termometer, temper glass, coring V60, kertas filter V60, ember…. lha ember buat apa?… pokoknya penting dech. Ntar dijelasin.

Padahal fungsi ember adalah…. menampung air sisa dari kertas filter v60, terus sampah dari serbuk kopi yang sudah diseduh dan sekaligus menyimpan sampah sementara….

Kenapa nggak pake tempat sampah?”

“Ih rewel banget, kata aku ember ya.. ember”

c) Musti tahu cara manual brewnya…

Ribet ya?….

Beda dengan pilihan kedua, yang dibuatin orang lain. Tinggal datang ke suatu tempat, pilih-pilih, pesan dan tunggu…

cuman itu tadi, kita sulit untuk berkreasi.

Trus perlu modal duiiit dan nggak bisa foya-foya kopi, karena pasti di kedai dan cafe sudah ada ukuran, supaya dapet untung….

Yang lebih penting, sensasi prosesi manual brewnya yang nggak dapet, itu yang tidak ternilai… really?…. yeaah pengalaman memproses manual brewnya hingga bisa tersaji rasa kopi yang enak itu adalah ‘sesuattu bangeedd’.

Jadi… tinggal milih dech.

dan…

Sore ini pilihannya adalah pilihan dibuatin orang lainn aah….

Kopi yang dinikmati adalah Kopi Arabica Halu Pink Banana, tempat nongkrongnya di Kurokofee, Jl. Ciumbuleuit.

Rasanya cocok pisan dengan suasana sore berhujan deras. Dengan suhu 90° celcius, manual brew V60. Menghasilkan kopi beracidity tinggi dengan body eh kepahitan yang mempesona khas kopi java preanger. Harumnya mah keren pisan dan after taste fruity terasa banget…

Nanti di rumah, baru nyeduh manual dengan peralatan yang ada dan tentu sesuai dengan stok kopi yang tersedia. Wilujeng memilih.. eh ngopay bray. Wassalam (AKW).