Bakakak.

Semangat pagi, sambil menulis sesuatu yang miliki arti.

Photo : Bah Enyeng bersiap2 / dokpri.

CIMAHI, akwnulis.com. Pagi yang cerah menemani kepenasaran tentang sebuah kata yang dari tadi siang mengganggu pemikiran, yaitu kata ‘bakakak‘.

Yang paling umum kata bakakak ini hadir dalam ritual rangkaian upacara adat prosesi pengantin sunda, dimana bakakak ini adalah ayam yang sudah diolah sedemikian rupa dan disajikan tanpa dipotong dan dalam upacara adat ini pasangan pengantin akan berebut dengan memegang paha kanan dan paha kiri. Maksudnya paha ayam ya, bukan paha mertua yaa…. ups.

Nah, dalam perebutan ini sering dikait-kaitkan dengan hasil yang terbanyak, jikalau salah satu mempelai hanya kebagian pahanya saja sementara paha satunya berikut seluruh badan berada di pasangan mempelainya, itu adalah pertanda rejeki yang banyak berpihak pada mempelai yang mendapatkan bakakak paling besar…. wallahualam, yang pasti sih, prosesi tarik-tarikan bakakak ini penuh dengan keceriaan dan tak jarang memancing gelak tawa hadirin, sehingga suasana akrab terjalin dari para tamu dan tentunya kedua mempelai beserta keluarga besarnya.

Photo : Bakakak sudah siap / dokpri.

Klo versi wiki wiki eh wikipedia, bakakak ini berasal dari istilah orang jawa yaitu bekakak yang artinya hasil penyembelihan hewan dan manusia yang bentuknya mirip posisi sedang bersila.. coba aja ayam gorengnya disajikan tanpa dipotong…. maka terlihat seperti sedang bersila. Disajikan untuk sarapan atau juga bisa untuk makan siang dan makan malam.

Kenapa ngomongin bakakak om?”

Lha, suka-suka penulis atuh. Kebetulan memang bakakak ini yang menjadi kepenasaran karena baru-baru saja menemukan tempat makan yang menyajikan bakakak dengan ukuran, rasa dan suasana berbeda. Juga favoritnya bukan bakakak ayam tetapi bakakak entog alias bebek dengan ukuran jumbo.

Sajian bakakak ini dibakar mendadak guys, bukan di goreng. Jadi perlu sedikit bersabar menunggu prosesnya. Tapi jangan salah, meskipun tempatnya sederhana, lesehan dan duduk di papan, urusan rasa dijamin tak kan kecewa, enak pisan dengan 3 pilihan sambal yaitu sambal dadak, sambal terasi dan sambal kecap… maknyuus. Lengkap dengan daun lalapannya sintrong dan pucuk teh hijau.

Photo : Setelah dipotong-potong siap dinikmati / dokpri.

Lokasinya di daerah Jalan cagak Subang menuju Kasomalang, tepat di pinggir kebun teh. Cari aja warung sederhana Bakakak Abah Enyeng, dijamin tidak kecewa.

Bakakak yang diproses tradisional, dicuci bersih, diberi bumbu dan dibakar menggunakan bara arang, setelah itu langsung disajikan.

Selamat menikmati… eh membayangkan makan bakakak ya guys. Jangan lupa, 3 macam sambalnya dicoba. Semangaat pagiiii… Wassalam (AKW).

CEMBURU & Kenikmatan.

Cemburu itu bumbu, syukur itu nikmat.

Photo : Es campur spesial / dokpri.

GARUT, akwnulis.com. Panasnya siang menyebar kegerahan dari segala penjuru angin, apalagi ditambah hati yang sedang terbakar api cemburu, betapa terasa panas membara luar dan dalam.

Langkah kakipun terasa berat tanpa arah dan tujuan, hanya setitik semangat saja yang masih membuat bertahan, niat untuk membalas dendam.

Tetapi ternyata, waktu dan kenyataan sering tak terlihat tetapi dibalik itu kompak menyelenggarakan pertemuan mini dan berdiskusi meskipun sedikit pihak yang dapat mengamati. Membahas banyak hal, termasuk bagaimana caranya menenangkan sejumlah hati yang hampir gosong terbakar api kebohongan dan penghianatan.

Disinilah sang waktu dan kenyataan bersatu, mengabdikan diri menjadi wujud sebuah momen yang menyenangkan dan berbekas mendalam dengan segala keindahan dan kedamaian. Juga hasil akhirnya adalah hilangnya dendam dan berganti menjadi perasaan kasih penuh sayang.

Sebagai awalan, sajian penyejuk hati adalah sebuah minuman es campur yang dikemas diatas kelapa muda yang dibelah mendadak begitu rupa. Rasa manisnya menggugah rasa ditambah kesegaran alami buah kelapa dan dinginnya es batu yang melingkupinya hadirkan sejumput damai dan dinginkan perasaan.

Selanjutnya sajian makan siang yang begitu banyak pilihan, tak bisa mengelakkan wajah terhadap ikan goreng yang berdiri menantang. Seolah memberi peluang untuk mencurahkan dendam dan kemampuan.

Photo : Wajah mupeng versi Aa Riz / dokpri.

Wajah yang sulit dikontrol terlihat absurd dihadapan sajian makan siang. Lidah menjulur kecil dengan mata menatap tajam penuh harap, bagaikan kucing yang rindu kriuknya ikan gurame goreng. Tenang, nanti kebagian kawan.

Itulah momen pertemuan yang mendamaikan. Hati dan rasa tidak lagi membara karena diberi treatment dingin yang menyenangkan. Dilanjutkan dengan pendekatan kekenyangan sehingga tidak terasa, hanya bisa bersandar tanpa banyak kata-kata.

Mamam yuk… nyam nyam nyam.

Piring dan mangkuk tandas tiada sisa, kecuali duri-duri dalam daging serta seonggok penyesalan. Wassalam (AKW).

Note : Nuhun jamuannya Mr D&D

Kopi Buntut Bajing dkk.

Sruput kopi dan nikmati temannya…

Photo : Kopi & singkong / dokpri.

CIKOLE, akwnulis.com. Silaturahmi itu menghadirkan rejeki. Bersua dalam ikatan janji akhirnya dapat berbagi informasi dan juga sajian secangkir kopi yang memiliki banyak arti.

Kali ini silaturahmi dengan salah satu pejabat di dinas peternakan provinsi jawa barat yang senantiasa humble dan ramah serta menyambut hangat kedatangan kami di sela-sela fungsi pekerjaan beliau yang bejibun.

Tema diskusinya tidak jauh-jauh dari pekerjaan dimana peran kemitraan yang menjadi ujung tombak pembicaraan. Menyambungkan tugas pokok dan fungsi dalam semangat kolaborasi, meskipun baru sebatas menautkan ide, tetapi yakinlah bahwa untuk mampu berlari kencang diperlukan satu langkah awal yang mungkin mengayun perlahan.

Urusan kerjaan mah ntar aja dibahas di nota dinas dan aplikasi kinerja onlen ya. Disini mah moo bahas kopi yang tersaji dan dokumentasi tentang si kohitala yang senantiasa memiliki aneka cerita.

Photo : Kopi & Ketan bakar / dokpri.

Kopi yang disajikan adalah kopi java preanger ciwidey yang diproses melalui mesin kopi sederhana dengan komposisi yang menitikberatkan kesederhanaan dan kecepatan sehingga hadirlah sajian kopi panas tanpa gula dengan ukuran rasa lite.

Rasanya bisa dinikmati oleh berbagai kalangan dan jikalau masih perlu rasa manis…. tatap wajah ku… ahaay pede ya. Yaa klo merasa kurang manis, ya minta gula atuh.

Yang keren adalah lalawuh… eh teman-teman untuk sruput kopinya. Diawali dengan roti koboy alias singkong kukus, dilamjutkan denganketan bakar lengkap dengan bumbu. Baru aja mencapek eh memamah biak, datang lagi colenak (dicocol enak) sebuah snack tradisional yang ngangenin suasana masa kecil di kampung halaman. Tape singkong diguyur cairan gula merah dan kelapa, nikmat pisan… sambil tak lupa minta tambahan kopinya untuk terus disruput.

Photo : Kopi, Colenak dan Buntut Bajing / dokpri.

dan… sebagai pelengkap dokumentasi akhir, tak lupa sesi photo sajian kopi ditemani oleh sepiring colenak dan latar belakang tanaman buntut bajing (ekor musang) berwarna hijau menggemaskan.

Jangan marah yaa para pembaca, buntut bajing yang dimaksud adalah nama tanaman hias yaaa… jadi Kopi buntut bajing adalah kopi yang di photo bersama tanaman hias buntut bajing hehehehe…. bukan memaksa tetapi maksakeun.

Akhirnya alarm kekenyangan yang mengingatkan sruputan kopi beserta teman-temannya hari ini. Nggak kebayang di perut campuraduk, saling mempengaruhi rasa dan kepentingan.

Fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban…

Alhamdulillah semuanya enak. Hatur nuhun Pak Panca dan Pak Ahmad atas penyambutan dan suguhannya. Selamat beraktifitas di hari Senin ini ya Guys, Wassalam (AKW).