Sarapan Goim-Jekisam

Mencoba sarapan dengan jenis makanan yang berkualitas, tapi kok rasanya asing?

Photo : Sajian Sarapan Goim-Jekisam/ dokri.

PURWAKARTA, akwnulis. Pagi meninggi dan mentari berseri. Ada kewajiban diri yang tak bisa dihindari. Apa itu?… makan pagi.
“Hahaha, kirain boker.. eh buang air besar”

“Ah kamu mah mikirnya itu aja, dasar obok!”

Makan pagi alias sarapan, sangat dianjurkan. Mayoritas gaya hidup dan gaya diet mensyaratkan sarapan alias makan pagi.

Ingat yaa…. makan pagi.. sarapan.. makan pagi!!!

“Bukan makan nasi?”

“Bukannn… tapi makan pagi”

“Ah nggak kenyang makan pagi mah, aku tetep makan nasi”

“Ih ngeyel kamu, cubiit geura”

***

Sarapan pagi tidak harus nasi, atau aneka karbohidrat saja. Bisa lontong, bubur, leupeut, kupat, hucap, bacang, lemper, tangtang angin, buras, jagung, kentang, talas, ubi, singkong…. trus golongan gorengan seperti bala-bala, gehu, rarawuan, comro, misro, karoket, lumpia, dan gorengan lainnyaaa…. eh semuanya karbo ya????

Iyaaaa….. 🙂 🙂 🙂

Ada juga yang sarapan dengan minum kopi doang dan rokok, atau gorengan dengan rokok, atau buah-buahan, atau dengan sereal dan banyak pilihan lain.

Tapi kembali ada hal yang hakiki dimana sarapan ini menjadi seni mensyukuri. Sebuah momen yang harus dipahami sebagai bagian penting kasih sayang Allah SWT. Karena mungkin saja, saudara kita dibelahan dunia lain atau mungkin tetangga kita masih kesulitan untuk mendapatkan sarapan di hari ini.

Eh ada juga yang tidak sarapan dengan yang disebutkan tadi, tetapi cukup teguk setetes madu dan 2 sendok teh cairan virgin coconut oil (vco), ini aliran diet ketofastosis (klo nggak salah).

Klo yang sarapan buah-buahan itu biasanya aliran diet food combining, atau memang penyuka buah yang sudah konsisten istiqomah.

Tetapi rasa bosan itu terkadang menghinggapi, sehingga perlu variasi dan inovasi dalam sarapan di pagi hari.

Menu diawal tulisan ini mencoba mewakili. Alhamdulliah rasanya jadi aneh dan menantang. Padahal dipilih potongan jeruk yang berkualitas, goreng ikan mas yang menggugah selera serta sambel dadak yang begitu menggiurkan.

“Tapi kok rasanya aneh dan asing?”

Akhirnya disadari bahwa menggabungkan sesuatu yang menurut kita enak dan baik belum tentu berujung baik manakala komposisinya tidak tepat. Kecuali emang nekat, ya monggo tanggung reskio eh resiko sendiri.

Nama sajian ini GoimJekisam (Goreng Ikan Mas Jeruk Sunkist Sambel). Rasanya campur-campur, manis asin hanyir pedas heu heu heu…..

“Berani?… silahkan cobaa!!”

Photo : Secangkir kopi luwak ala-ala / dokpri.

Tidak lupa secangkir kopi luwak ala-ala dengan metode seduh biasa, disajikan menjadi teman sarapan pagi ini.

Selamat sarapan dan makan pagi setiap pagi kawan, jangan sarapan yang macam-macam juga jangan macam-macam dengan sarapan. Wassalam (AKW).

Belajar Bahasa asing itu Penting

Penting juga sedikit paham tentang bahasa asing…

Perjalanan menjelajahi detik dan menit adalah sebuah cerita hidup yang terancang rumit tetapi jelas tercatat dalam labirin lauh mahfudz. Begitupun hari ini, seiring perjalanan takdir maka bisa menjejak lagi di tanah luar dan menjadi sebuah perjalanan yang penuh rasa syukur.

Meskipun karena keterbatasan bahasa, semua dijalani dengan ceria. Salah dikit mah boleh atuh, yang penting nggak bikin orang celaka.

Termasuk hari ini. Hari ini dapet 2 kejadian selama beredar tugas di Negara Singapura.

Mau tau?……

***

Pertama adalah riweuh habis batere handphone di negeri orang. Program meeting yang diatur ternyata menyulitkan mencari tempat colokan…. atuh kebayang khan beberapa orang mulai panik. Maklum rata-rata bapak-bapak ISTI (ikatan suami takut istri) yang whatsappsnya musti on terus untuk menghindari kecurigaan… kasiaan deh.

Pas ditempat meeting ternyata nggak ada colokan yang pas karena pake steker internasional yang kakinya 3…. sedih langsung mendera wajah bapak-bapak yang udah nenteng kabel charger sana sini… moo keluar dari ruang meeting.. yaa nggak mungkin.

Akhirnya terhenyak menjatuhkan badan di kursi peserta diskusi sambil menghela nafas panjang. Padahal sebenarnya kita bisa bersyukur dengan HP mati. Jadi istirahat sesaat, terutama jempol nggak bakal cape mijit-mijit permukaan HPnya.

Apalagi yang udah nggak bawa kabel charger atau power bank… meranaaaa….. padahal agenda meeting bejibun ampe tengah malem.

***

Tepat pukul 10 malam. Rapatpun usai…. dua orang bapak berjalan cepat melewati lobby gedung dan keluar ke halaman menuju jajaran toko di seberang jalan….

Menuju toko yang terang benderang, tokonya tidak terlalu ramai dan terlihat tulisan besar ‘Money Changer’.

… Ternyata si Bapak bukan moo nuker duit tapi moo beli ‘Charger‘ buat hapenya. Maklum bahasa inggrisnya terlalu pintar plus tekanan bathin karena HPnya nggak ada listrik jadi moo beli Charger di Money Changer trus cari colokan buat NgeCas….

?????

Padahal kenapa nggak beli powerbank aja?…

Entahlah……

Itu cerita yang pertama.

***

Kedua, adalah disaat akan meeting hari ketiga. Bapak-bapak berjalan menyusuri trotoar karena parkirnya bis tidak bisa depan gedung.

Pada saat sedang berjalan bersama antay-antayan alias berurutan, tiba-tiba tertahan karena bapak-bapak yang melaju paling depan berhenti nggak pake basa basi.

“Ada apa nich?”
“Ada apa?”

Ternyata…. mereka harus berhenti dulu membaca plang peringatan. Khawatir ada informasi penting yang harus dipahami, maklum di negeri orang. Nich photonya…. cekidoot.

Catetan : Danger khan mustinya dihindari yaaa???

Setelah tuntas ngintip ke dalam secara bergiliran, barulah melanjutkan perjalanan dan sampai di tempat meeting tepat pada waktunya.

***

Gitu dech ceritanya, yang pasti satu kesimpulan terpatri. Pemahaman bahasa asing itu penting. Penting pisan. Haturnuhun (AKW).