Kopi Tubruk & Angka2.

Mengamati angka demi angka sambil ngopi, yummy.

Photo : Kopi Tubruk kuled Giggle box / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Memandangi angka yang tertera di layar besar memang menarik untuk disimak, apalagi mengandung semangat optimisme dan pemenuhan target yang nyaris sempurna… atau malah melebihi dari target yang sudah ditentukan. Dilanjutkan dengan proyeksi langkah peraihan target di akhir tahun, makin banyak angka-angka bertaburan.

Silih berganti para pemateri memberikan presentasi sesuai divisi masing-masing, berbagai strategi dan rencana tindak yang sudah dipersiapkan.

Beranjak istirahat makan siang, maka segera mlipir mencari pilihan kudapan yang sesuai dengan harapan, yaitu kopaaay… eh kopi maksudnya.

Ditempat acara sudah tersedia sajian kopi standar hotel, tetapi dengan pertimbangan akan terjadi suasana rebutan karena perbandingan peserta dan stand minuman yang jomplang… maksudnya stand kopinya satu… pasti pada kesitu semua… sementara kopinya standar… ya sudah mlipirr.

Hotel Aryaduta Bandung itu punya akses langsung ke BAndung Indah Plaza Mall, jadi geser dikit….. cari yang lain….

tapi… dengan waktu istirahat terbatas juga belum shalat duhur, perlu berpikir cepat dan bertindak praktis.

Disamping pintu masuk mall, ada resto… “Kopi item ada?”
“Ada pak, pilihannya kopi tubruk, americano dan espresso”

“Oke.. masuuk!”

Milih tempat di lantai 2, sehingga menjadi pos tinjau yang baik, bisa lihat orang-orang lalu lalang sekaligus melihat ke pintu masuk ruang rapat.

Pilihan kopinya terbatas, tetapi tidak masalah, maka dipesanlah kopi tubruk dan kawan-kawannya.. karena tidak sendirian tetapi bersama kru, kasian khan klo mereka cuman minum kopi doang.

Photo : Max & Chesse / dokpri.

Maka cireng dan Max & Chesse ala Giggle Box menjadi teman mengopi dan mengudap siang ini… yummy.

Sajian kopi tubruknya kuled (kental) dengan tekstur permukaan yang tebal, wah meyakinkan nich meskipun sang pelayan nggak bisa jawab tentang kopi apa, tapi biasanya kopinya campuran (blended) antara arabica dan robusta… dan robustanya yang banyak hehehehe

Photo : Cireng (aci digoreng) / dokpri.

Diskusi ringan sambil nyruput kopi tubruk dan nyemal-nyemil…. udah ajaa. Setelah hajat mengopay tersalurkan, kami kembali bergabung ke ruang makan siang di hotel dan menikmati makanan yang ada, nikmaat.

Tuntas shalat dhuhur kembali ke tempat acara, mendengarkan pemateri selanjutnya, daan….. di meja sudah tersaji juga 1 cup coffee…. langsung coba diicip…. mmmmm.. americano maxx coffee BIP, pas bangeet… srupuut lagii, nikmaaat.. tapi lupa ngambil photonya.

Oh ya dalam penutupan acara ini, bapak big bos, Pak RK menekankan kepada Jajaran Direksi, Komisaris dan seluruh pejabat eksekutif yang hadir untuk bersiap menyongsong segala perkembangan jaman dan dinamikanya dengan penguatan IT yang betul-betul sempurna, profesionalisme SDM. Juga tidak lupa agar bisa kembali ke khittahnya sebagai Bank Pembangunan Daerah yang memiliki konsep, kepedulian serta fokus dalam membangun daerah, UMKM serta sinergitas dengan BUMD.

Itulah sejumput kisah kopi kali ini, bersama angka-angka dan kopi, selamat menjalani hari dengan senantiasa bersyukur kepada Illahi Robbi, Wassalam (AKW).

Kopi & Mutasi

Perubahan tugas bernama mutasi, harus dihadapi tanpa basa basi. urusan kopi terus dinikmati.

Photo : Sajian kopi hitam tanpa gula di cangkir hitam / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pahitnya kopi menjadi pemecah suasana yang cenderung formal berhias angka-angka akuntansi. Diawali dari basa basi, penuh janji dan ambisi ditutup dengan angka-angka target yang mengejar presisi. Meskipun yakin secara niat, semua yang hadir memiliki tujuan hakiki.

“Kenapa bicara pahitnya kopi?”
“Karena rasa kopi pahit bisa menetralisir pahitnya angka-angka rumit dalam perjalanan kehidupan”

‘Ahaay lebaay’

Tapi benar saja, setelah ungkapan ‘kopi pahit’ tadi mengemuka, suasana perbincangan dalam meeting perdana ini menjadi cair dan penuh keakraban. Angka-angka yang menjadi target tetap dibahas dalam kerangka keilmuan, tetapi suasana penuh kekeluargaan.

“Ngapain ngurusin angka-angka?”

Senyum dikulum menjadi jawaban sederhana. Dengan pendekatan telepati, jawaban tiba tanpa perlu berteriak lantang yang menggegerkan dunia.

Photo : Meeting perdana bertabur angka / dokpri.

“Ini efek mutasi, berpindah tugas baru beberapa hari, bersua kembali dengan angka-angka yang menari. Berbalas pantun membaca neraca akuntansi demi sebuah kemajuan lembaga keuangan di wilayah tasikmalaya yang loh jinawi”

Kata berima menjadi jawaban, nafas perlahan menandakan ketenangan. Secangkir kopi hitam di gelas yang hitam tidak menghitamkan pandangan, malah menyalakan secercah cahaya untuk menghapus kelam setelah lembaga ditinggal oleh sesepuh yang penuh dedikasi di dunia perbankan lokal di jabar selatan, selama-lamanya.

Secangkir kopi hitam tanpa gula, menjadi saksi diskusi yang berusaha menghasilkan keputusan penuh arti. Inilah meeting perdana pasca mutasi, hidup kopi, Wassalam (AKW).