Kopi Kelinci

Nikmati kopi sambil ngasuh, inilah hasilnya.

Photo : Kopi kelinci putih / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Photo dan tulisan singkatan ini hanya sebuah refleksi di hari tadi. Manakala waktu libur tiba dan saatnya bersua manja bersama anak tercinta.

Sang anak semata wayang asyik dengan kelincinya yang berlari kesana kemari, bikin gemes dan jerit-jerit. Si Ayahnya juga sibuk bikin kopi Arabica Sunda Hejo pake saringan V60, sambil nenemin anak bermain, tetap waspada kok, tidak ashik… eh asyik sendiri.

Photo : Kopi kelinci coklat / dokpri.

Hasilnya terjadi kolaborasi tak biasa, dimana seteko kaca kopi panas siap saji bersanding dengan kelinci-kelinci lucu yang ternyata mau berpose sesaat, sambil (mungkin) meresapi rasa kopi yang segar hasil ekstraksi.

Wilujeng Ngopay bray (AKW).

Fiksi Dini Hari.

Sebuah cerita fiksimini tercipta, sambil menggendong anak tercinta.

CIMAHI, akwnulis.com. Tengah malam terbangun oleh rengekan si kecil yang badannya mendadak panas. Langsung semua posisi siaga, sesuai dengan posisi masing-masing. Pilihan digendong ayah adalah yang terbaik, meskipun ibundapun sibuk nyiapin obat, air minum hangat dan tetap terjaga hingga adzan shubuhpun tiba.

Sambil menggendong tubuh si kecil yang panas, terasa kekhawatiran menjalari sanubari. Berharap segera sembuh seperti sediakala dan sehat kembali.

Hampir 2 jam menggendong dan mengayun perlahan tubuh anak tercinta, sesekali ada rengekan dan sisanya memeluk erat leher ini, dia berusaha tidur tapi tidak nyaman karena tidak enak badan. Perlahan duduk di kursi dengan posisi tetap menggendong, anak kecil mulai terlelap.

Di kala akan ditidurkan, sang anak menolak dan merengek, akhirnya kembali diayun dan digendong untuk ke sekian kali… lalu kembali duduk di kursi.

Sambil duduk menggendong di kursi, tiba-tiba sebuah ide selarik tema hadir depan mata. Ide yang berbeda dengan basis ‘dilema‘, tak banyak tanya, sambil menggendong anak tercinta, segera menulis di smartphone sebuah cerita fiksi singkat dalam genre bahasa sunda.

Silahkan…..

Fikmin # Bagja Sulaya #

Peuting nu simpé ngajaul haté. Méré hariwang nu matak lewang. Sakedapeun ngarénghap, karasa beurat. Bangbaluh hirup beuki numpuk, abot nandangannana.

“Geura kulem Akang, tos ulah seueur émutan” soanten halimpu gigireun ngagedékeun haté. Tapi lain salsé kalah ka beuki lungsé. Gerentes téh, “Duh Gusti hampura.”

Garanyam ramona ngusapan kana tonggong, teras karaos angkeut kareueut napel kana lebah punduk, “I love u, darling”
“I love u too” Uing ngajawab rada ngageter, uteuk mah ngapung meuntasan sagara, ngeukeupan budak jeung indungna.

Saminggu campleng ngabaturan dunungan, bari kudu ngalayanan sapuratina. Iman jeung satia ukur jadi basa, nu penting bisa balik ka imah bari angkaribung dunya.

“Hatur nuhun Pah, usaha téh geuning mucekil, Si Ujang tiasa transfusi ogé kémoterapi, tuh segeran ayeuna mah” Jikan nyarios bari marahmay. Uing unggeuk bari imut, soca bareubeu neuteup raray murangkalih nu getihan deui sanajan masih teu walakaya. “Énggal damang Jalu.”

***

Itulah selintas kisah fiksi yang berhasil dibuat sekaligus menemani diri ini hingga pagi hari.

Jangan baper dengan jalan cerita yang ada, ini hanya fiksi, kisah rekaan yang idenya datang tiba-tiba dan datang begitu saja. Tak usah pula dihubung-hubungkan, ini hanya fiksi, baca dan nikmatilah.

Alhamdulillah, panas tubuh anak tercinta berangsur kembali ke suhu normal. Insyaalloh sehat kembali seperti sediakala. Wassalam (AKW).

Kopi Lembang Pak Ali.

Ngopay kopi dari pak Ali…..

Photo : Nyeduh kopi sambil ngasuh / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Tanggal merah ditengah minggu tentu menjadi anugerah, bisa dimanfaatkan untuk mencurahkan perhatian kepada anak semata wayang juga pasti kepada ibunya.

Tapi tetap, ngopay jalan terus. Peralatan manual brew V60 sudah siap di rumah dan di kantor. Sehingga tidak perlu dibawa kesanah kesinih…. cukup bermodal niat, kesempatan, kopi bubuk dan air panas 90°… maka bisa ngopay dengan nikmat.

“Trus sama anak gimana?”

Sebuah pertanyaan yang menarik, tapi itulah indahnya mengasuh anak sambil ninyuh… eh sambil nyeduh kopi ala manual… maka pola seni dan kompromi yang dimainkan.

“Gimana caranya?”

“Bentar atuh… sekarang pilih dulu, kopi mana yang akan diseduh manual”

“Ayahhh…..!!!, hayu main di kotak” rengekan manja anak princes segera disambut dengan anggukan dan senyuman.

Horeee!!!,

Binar berjingkrak kegirangan. Raga ini beringsut menuju ‘kotak‘, selembar karpet tebal yang berisi mainan dengan pagar plastik yang terbuka. Sebagai wilayah demarkasi untuk bermain dan berkreasi sang anak tercinta.

***

Jadi….. nyeduh kopinya sambil ngasuh. Sehingga kompromi terjadi… gambar proses seduhan kopi yang tadinya hanya kopi diatas corong V60 dan bejana saji serta gelas kecil kaca kesayangan, harus bersanding dengan warna warni ceria dari mainan disney yang ada yakni donald duck yang lagi boncengan sama mickey mouse.

Eh ternyata photo sajian kopinya jadi aneka warna. Ngasuh jalan dan ngopaypun tetap terlaksana, kehidupan terus berjalan.

Kali ini hadir kopi tanpa label, pemberian dari Bapak Ali yang punya sendiri kebun hingga produk kopi dari daerah Lembang… disaat bersua minggu lalu, memberi sebungkus kopi bubuk ukuran kira-kira 200gr.

Alhamdulillah, milik tah….

Photo : Manual brew v60 kopi pak Ali / dokpri.

Sore ini di eksekusi dengan fi-sixti, suhu air 89° celcius dengan komposisi 1:1, yups.. 30gr beradu dengan 300 ml air….. jreng jreng.. tes.. tes.. tes.

Dikala bungkus coklatnya dibuka, rasa harum aroma kopi terasa menyambar penciuman. Ada rasa buah yang muncul tapi sulit mendefinisikan, pokoknya selarik banyangan rasa manis hadir dalam sekejap.

Penasaran….. setelah tetesan air seduhan tertampung sempurna. Pindah ke gelas duralex kecil… srupuuut…

Hei…. rasanya enak kawan. Body medium cenderung boldnya menyisakan after taste yang ninggal diujung lidah belakang, meskipun tidak lama tapi berpadu dengan acidity medium khas kopi arabica menambah nikmat ngopay sore ini. Dari sisi tastenya ada selarik rasa lemon, dan kakao plus setipis rasa karamel.

Ah takut salah… coba sruput lagi…. slurp.. slurpp….

Enak euy… dikala temperaturnya menurun. Body dan aciditynya menguat… pahitnya sedikit meningkat tetapi makin nikmat. Karena pahit asamnya sajian kopi bisa mengurangi dan menutupi pahit asamnya kenyataan hidup…. eaaaaa, apa seeeh kamuuh.

Sruput lagii…….

Hatur nuhun Pak Ali, wilujeng ngopay bray. Wassalam (AKW).

***

Harimau Belenuk*)

Nilai kehidupan hadir dari Boneka Harimau belenuk.

Photo Wajah macan tampak depan | lucu | dokpri.

“Ayah beli Boneka Harimau yaa..” Sebuah permohonan sederhana dari anak semata wayangku.
“Siap, Ayah kerja ke luar kota dulu yaaa”
“Oke Ayah, eh jangan lupa sama lolipop ya, dua” sambil kedua tangan terbuka semua, jarinya jadi sepuluh.
“Iya sayangku, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”

Dialog singkat disaat akan kembali berdinas ke pulau dewata dalam rangka pendidikan dan pelatihan yang sedang dijalani dengan pola on-off ini menjadi sebuah kontrak pribadi yang miliki konsekuensi serta hak dan kewajiban. Permintaan sederhana dari seorang anak kecil yang ternyata memberi hikmah besar dalam memandang dan mencoba memahami nilai kehidupan.

***

Di sela-sela istirahat sore ataupun malam hari, video call menjadi keharusan. Kemajuan teknologi yang memutus jarak ratusan kilometer menjadi sebatas jengkal, bisa bercengkerama, bercanda sambil melihat wajah masing-masing di layar smartphone. Ah indahnya kemajuan jaman, meskipun ada beberapa rekan yang tidak suka video call sama istrinya, entah karena apa. Mereka lebih suka telepon suara saja. Ya gpp juga, silahkan itu mah urusan masing-masing.

Photo macan nyamping | belenuk | dokpri.

Setiap kontak baik video call ataupun telepon biasa, pertanyaan tentang oleh-oleh boneka harimau menjadi pertanyaan utama sehingga menjadi kewajiban untuk membelinya.

“Sayang anak… sayang anak…” jadi teringat ucapan pedagang asongan mainan anak di bis, dulu jaman masih muda.

***

Hari ketiga acara di Bali, akhirnya ada kesempatan untuk meluangkan waktu mencari boneka ‘cheetah ceetah bang bang’ sebelum bertolak ke bandara. Ternyata lokasi Bali Safari bertolak belakang dengan arah bandara. Ya sudah jajal aja. Ditemani sopir taksi kenalan yang baik hati dan sopan, kami meluncur ke Bali Safari demi membeli sejumput janji untuk anak penyejuk hati.

***

33 menit berlalu, tiba di gerbang depan Bali Marine & Safari. Masuk melewati pos penjagaan dan taksi mengantar hingga ke loket pembayaran. Disitulah bersemayam eh terdapat jualan souvenir binatang-binatang.

“Ada boneka harimau mbak?”
“Ada pak, ada yang kecil 60 ribu, yang berbentuk topi 160 ribu dan ini agak besaran 135 ribu”

Boneka topi kayaknya nggak mungkin, trus yang ukuran kecil kayaknya terlalu kecil, nah berarti ini mungkin yang menjadi pilihan, boneka harimau lucu.

Tapi, sebelum memastikan membeli, agak tertegun karena wajahnya harimau lucu sementara badannya agak aneh, buntet eh bantet nggak jelas gitu. Badannya lebih mirip binatang hamster dech atau anak kelinci. Jadi klo dilihat dari samping memang tampilannya aneh tapi tetep lucu.

“Duh gimana ya?, udah beli ternyata anaknya nggak suka. Tapi beli aja ah, daripada jauh-jauh nggak dapet apa-apa”

Diskusi dalam hati karena kondisi boneka yang badannya nggak mirip harimau. Malah kepikiran beli juga yang ukuran mini, tapi ntar pemborosan, ya sudah lah. Belum lagi kalau diitung sama ongkos taksinya.

***

Ternyata, setelah mendarat dengan keras di runway Bandara Husein dan dijemput hingga tiba di rumah. Boneka harimau dan lolipop yang menjadi pertanyaan.

Perlahan tapi pasti boneka harimau buntet (belenuk, bhs sunda) diambil dari koper, daan….

Reaksi senangnya terpancar dari wajah anak semata wayangku. “Makasih Ayaah” dengan sumringah boneka harimaunya dipeluk-peluk, dibelai dan dipamerin sama nenek serta ibunya.

Anak tidak terganggu dengan tampilan badan yang belenuk (buntet) karena imajinasi mereka tentang harimau lebih melihat muka dan belangnya saja. Tidak perlu berfikir detail tentang bentuk hewan yang proporsional, semua itu cukup dan menyenangkan.

Tiba-tiba tersadar bahwa terkadang diri ini sering mengharapkan suatu barang atau seseorang itu sempurna untuk membantu kita sesuai harapan kita. Sehingga mudah dihinggapi rasa kecewa disaat kenyataan tidak sesuai harapan.

Padahal, semua barang dan juga seseorang pasti ada kekurangan atau kelemahan masing-masing. Sikap ikhlas menerima dari diri kita lah yang memberi warna sehingga rasa syukur akan muncul bahwa ini semua adalah takdir yang harus kita jalani dan syukuri.

Anak kecilku memberi contoh bagaimana menerima sebuah mainan yang bentuknya tidak proporsional meskipun harganya lumayan. Dengan gaya penerimaan yang senang, ikhlas serta apa adanya, menghilangkan rasa cape, melupakan berapa biaya taksi tambahan, berganti aura kebahagian yang menjadi bekal kehidupan.

“Hai Ayah, jangan bengong, ayo kita joget bersama bonekaku, Cheetah cheetah bang bang” Suara anakku membuyarkan lamunan ini. Segera berganti senyuman dan langsung melarut dengan permainannya.

Terima kasih atas pelajaran sederhana ini. Wassalam (AKW).

***

Belenuk*) : Buntet atau Bantat.

Melarang Tapi Melakukan

Belajar menjadi ayah yang menjadi pedoman kehidupan anak-anaknya, mudah diucapkan tetapi penuh perjuangan dalam melaksanakan.

Photo : Mentari muncul di cakrawala, sebuah konsistensi yang di ciptakan Allah SWT / Dokpri.

Fragmen hidup memang senantiasa berdinamika. Bisa sederhana lurus-lurus saja atau berliku penuh tikungan bermisteri. Meski satu hal yang pasti adalah sang waktu terus melaju, menggerus jatah umur sekaligus membuat terlena sehingga hari demi hari terasa begitu cepat berlalu. Minggu bertemu minggu hingga bulan berjumpa tahun.

Tapi sebuah ‘legacy‘ bisa bertahan lama dan salah satunya yang ‘mungkin’ abadi adalah sebuah tulisan dan of course gambar photo serta video yang dikemas apik dan tersimpan rapih. Bisa dicetak menjadi sebuah buku, keping DVD video ataupun tulisan, gambar dan video yang selanjutnya diunggah dan disimpan di dunia maya baik di facebook, twitter, path atau pinterest juga instagram dan pastinya youtube serta seabreg aplikasi lainnya.

Maafkan jemari dan pikiran ini jikalau tulisan yang tersaji ini hanya berkutat dalam bahasan yang kelewat sederhana. Bukan menulis sesuatu yang mendalam atau berbuncah teori konspirasi yang sedang rajin menghiasi wall linimasa belakangan hari. Tapi satu keyakinan terpatri, bahwa sederhana itu adalah inti dari segala hal yang penuh kompleksitas kerumitan tingkat dewa.

Sebuah pilihan telah teguh dipegang sejak blog ini lahir. Tulislah apa adanya dan mencoba bertahan dalam balutan originalitas, baik tulisan ataupun gambar dan video. Jikalau ada kutipan dari sumber lain, sudah etika dan hukum alam bahwa pencantuman sumber tulisan adalah kewajiban. Juga rumus kehidupan bahwa ikuti aturan maka alam melindungi kita.

Hari ini tertarik menulis tentang hubungan ayah dan anak yang ternyata memberi hikmah tersendiri. Ceritanya… jeng jreng….

…………Siang itu cuaca begitu panas menyengat. Sehingga minuman dingin menjadi favorit, terlihat di ruang tengah 2 orang anak sedang menikmati kesegaran yang dihadirkan oleh es kelapa muda gula merah. Anak 6 tahun dan 12 tahun terlihat menyendok minuman yang tersaji dengan lahapnya.

Tetapi pestanya harus buyar karena suara sang ayah menggema, “Hey anak kecil nggak boleh minum es banyak-banyak” sambil bergerak merebut mangkok es kelapa muda yang sedang anak-anaknya nikmati. Kedua anak itu terdiam, kecewa tapi tiada daya.

Adegan selanjutnya sang ayah yang tadi begitu garang melarang, ternyata….. langsung menikmati es kelapa muda gula merah tersebut tanpa malu-malu dimana kedua anaknya memandang tanpa bisa berkata-kata. Tetapi rasa kecewa karena dilarang terlihat dari raut cemberut mereka, semakin bertambah dongkol karena sang ayah tidak konsisten dengan ucapannya, melarang tapi melakukan.

………………………………………

Itulah titik pangkal yang menarik yaitu melarang tapi melakukan alias standar ganda. Tapi yang kita bahas disini lebih ke sebuah komitmen konsistensi dari ucap dan sikap. Jangan mentang-mentang berkuasa sehingga bisa seenaknya dan semena-mena, tapi yaa kembali ke leptop… itulah kenyataannya.

Keteladanan memang mudah diucapkan, tetapi tetasa sulit dilaksanakan disaat kita dalam posisi merasa memiliki kewenangan, baik sebagai orang tua kepada anaknya atau atasan kepada bawahannya. Maka lebih sering tidak sadar dan yang menonjol adalah rasa arogan serta keteladanan terlupakan.

Padahal……… dengan keteladanan inilah pelajaran kehidupan bergulir dan menggema dalam lorong kehidupan fana, yang akan terpatri di dalam diri tertanam di dalam jiwa terutama bagi anak kita yang merupakan photo copyan atau cerminan dari tingkah polah perilaku kita.

Sebagai refleksi diri sendiri dalam belajar mendidik anak, adegan tadi memberi pelajaran berharga. Bahwa kita melarang anak berarti kitapun harus memberi contoh keteladanan bahwa kitapun tidak melanggar larangan itu meskipun secara kewenangan bisa dipaksakan.

Konsekuensinya yang menjadi poin penting adalah manakala inkonsistensi ini semakin berlarut maka mengikis rasa hormat sang anak kepada orangtuanya dan pada titik kulminasi akan menghapus sosok ayah yang harus diteladani menjadi sosok ayah yang tercampakkan dan tidak akan dihormati… audzibillahiminzalik.

Lho kok jadi nglantur beginih yah?….., ah gpp donk…….

Tulis saja apa yang terasa meski etika tentu harus tetap dijalani sempurna. Andaikan aku jadi sosok ayah tadi, tentu setelah melarang makan es kelapa gula merah tersebut lalu menyimpannya di kulkas. Daan…. kalaupun aku kepengen bingit, tahanlah sekuat tenaga hingga kedua anak sudah tidak ada di ruang makan. Ambil mangkoknya perlahan dan nikmati cepat-cepat. Insyaalloh anak-anak akan belajar ‘konsisten‘ dari sosok ayahnya.

Fragmen kehidupan terus berlanjut, menjalin rasa memintal peristiwa yang akhirnya menjadi cerminan dan kenangan. Selamat belajar menjadi ayah yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. (Akw).