Longblack Only.

Tidak ada waktu bersantai, gasskeun…

MELBOURNE, akwnulis.com. Early check in menjadi pengobat rasa lelah dan mengurangi kepenatan setelah penerbangan selama 5 jam 45 menit dari Denpasar ke Melbourne, dilanjutkan 90 menit proses keluar bandara. Tentu itu membutuhkan stamina dan kesabaran, apalagi penyesuaian waktu dengan perbedaan lebih cepat 4 jam di banding di indonesia, perlu juga kekuatan lahir bathin menghadapinya.

“I need a mood bosster” teriakan halus dalam hati semakin menguat dan membahana hingga menyentuh amigdala. Maka tubuh segera bergerak ke kamar mandi hotel dan membersihkan diri menjadi sebuah kewajiban. Segar terasa disaat butiran air di shower menyentuh kulit di badan ini.

Tidak ada waktu untuk jetlag karena siang hari nanti langsung dihadapkan dengan agenda pertemuan perdana bersama pihak Melbourne Sympony  Orchestra. Semangat kawan. Mandi lalu bongkar koper dan ganti baju serta bersiap untuk menghadapi kenyataan serta bersyukur bisa menginjakkan kaki ini di benua australia.

Longblack & Chicken Salad / Dokpri.

Turun dari lift hotel langsung menuju ke loby dan bergegas belok kiri menuju sebuah cafe yang bernama Golden Mug’s cafe. Kebetulan relatif sepi sehingga bisa memilih tempat duduk sesukanya.

Disinilah sebuah percakapan awal tentang kopi dimulai, meskipun dengan bahasa inggris terbata-bata tetapi dengan kepercayaan tinggi bahwa kemampuan penguasaan bahasa kita lebih baik, maka semua jadi baik – baik saja.
“Maksudnya bahasa inggris kamu lebih baik?

Bukan begitu persfektifnya kawan, tapi begini. Mereka fasih sekali bahasa inggris tetapi hanya satu bahasa yang dikuasai sementara kita rata-rata menguasai 3 bahasa

Longblack & Air Mineral / Dokpri.

Bahasa apa saja?” Berondongan pertanyaan datang begitu gencar.

Kalem bro, kita bisa bahasa inggris terbata-bata, bahasa Indonesia dan bahasa sunda atau bahasa daerah lainnya”

Rekanku terdiam dan tersenyum, lalu mengangguk sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal. Tapi pada prinsipnya setuju dengan pendapatku.

Americano medium Sir”

Wajah pelayannya agak menegang dan menjawab, “We dont have Americano, only Longblack!” Tegas banget.

Sarapan yuk / Dokpri

Olala, otak langsung loading dan ingat bahwa ini australia, americano mah di amerika, lha wong namanya juga america + no.

Oke, medium longblack and chicken salad”

Baru tuh bule tersenyum dan melanjutkan pelayanan sambil menghitung harga hingga muncul angka 24.8 Aud atau sekitar Rp. 267.840.. lumayan mahal juga untuk ngopi dan sarapan. Kalau kopinya saja ukuran medium itu 5 dolar australia (Rp. 54.000).

Tapi karena ini judulnya adalah pengalaman, ya ditebak saja harga segitu. Asal jangan tiap hari, bisa jebol keuangan atuh.

Urusan rasa tidak ada yang istimewa karena longblack itu adalah sajian kopi espresso yang dicampur dengan segelas air panas sehingga secara volume lebih banyak. Hanya model pembuatannya saja yang dibalik jika dibandingkan kopi americano. Kalau americano diawali dengan menuangkan double shot espresso baru dikucurkan air sementara longblack sebaliknya.

Sisa sisa / Dokpri.

Srupuuut…… nikmat guys. Bukan rasa kopinya tetapi suasana dan perjuangan hingga sampai ke tempat ini termasuk kesempatan langka yang patut disyukuri. Lalu hadirnya chicken salad adalah sarapan perdana di negeri kangguru karena sejak turun dari Qantas Airlines tadi pagi belum masuk sedikitpun makanan di perut ini.

Nyam nyam
Srupuuut….

Piring berisi chicken salad sudah tandas begitupun disusul dengan kosongnya cangkir yang berisi longblack ukuran medium.

Sarapan pagi yang penuh arti dan ngopi hitam tanpa gula pertama di negeri orang. Wassalam (AKW).

Americano Cocorico

Menikmati Sajian Americano Cocorico dan kawannya.

DAGO, akwnulis.com. Senin pagi identik dengan pelaksanaan apel pagi tentunya. Sebuah aktifitas rutin yang sekaligus dinilai sebagai salah satu komitmen kedisiplinan sebagai aparatur sipil negara. Maka ketepatan waktu hadir di kantor atau sebaiknya datang lebih awal menjadi sangat penting untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan, karena posisi sebagai peserta apel bisa seketika berubah menjadi pembina apel pagi.

Tuntas apel pagi maka bersiap dengan segala kesibukan seminggu ke depan yang diawali oleh rapim (rapat pimpinan) atau tugas lain yang mengharuskan hadir mewakili pimpinan sekaligus menyampaikan kata – kata sambutan. Begitupun kali ini, tugas disampaikan dan setelah briefing internal segera berangkat menuju lokasi acara di daerah dago atas.

Ternyata disinilah kembali bersua dengan kohitala, si kopi hitam tanpa gula. Alhamdulillah. Teman – teman panitia gercep dan langsung menyajikan di meja tempat para tamu undangan. Langsung disambut dan tentunya baca Basmalah baru di sruput.

..ups, sedikit terdiam, ternyata panitia yang membuatnya adalah kopi standar, maksudnya kopi hitam dan masih diberi gula. Terasa begitu manis tetapi bukan itu yang diharapkan. Manis ini yang menghilangkan makna rasa dari perkopian. Tapi demi sebuah penghargaan karena telah disajikan, sruput lagi sekali dan sudah. Manisnya begitu memabukkan seperti manisnya kamu huhuy.

Sesi sambutan telah berlalu diteruskan diskusi dan basa basi hingga tiba akhirnya jam istirahat dan bergeser dari tempat acara ke tempat makan siang. Disinilah pertemuan dengan kohitala yang sebenarnya yaitu ‘Americano Cocorico’. “Keren khan namanya?”

Sajian Americano Cocorico ini adalah segelas kopi hitam tanpa gula yang hadir dari sajian doubleshot espresso ditambah air panas sehingga menjadi secangkir besar penuh krema dan makna. Cocoriconya adalah nama cafenya. Sebuah cafe yang mengembalikan kenangan masa kecil karena namanya adalah nama sebuah permen terkenal bagi anak sembilan puluhan. Permen gula berbungkus coklat dan cukup awet diemut dimulut karena keras dan padat.

Melengkapi makna cocorico ini tentu perlu juga ditanyakan kepada managernya yang kebetulan berada di tempat. Makna cocorico itu katanya berasal dari bahasa itali yang berarti ayam berkokok di pagi hari… otak langsung muter, jangan – jangan suara ayam berkokok kita kedengeran sama orang itali bukan ‘kongkorongok’ tapi ‘koo korikoo’ .. ah aya aya wae.

Sang manager melanjutkan, secara makna memiliki arti mendalam yaitu untuk meraih rejeki yang banyak dan berkah maka harus bangun dan berihtiar sepagi mungkin diawali dengan kokok ayam cocorico, begitu katanya kawan.

Sekarang saatnya menikmati sajian Americano Cocoriconya tentu dengan sruputan pertama dan sruputan selanjutnya. Body boldnya hadir memanjakan indra perasa, acidity jelas less begitupun aftertaste, tapi sentuhan kremanya memberikan sensasi berbeda. Selamat ngopay hari ini. Wassalam (AKW).

Ngopi di Lombok

Kembali ke sini, sambil ngopi.

LOMBOK, akwnulis.com. Deburan ombak menyapa karang menyajikan harmoni musik alam yang menenangkan. Meskipun tahu bahwa kedalaman lautan bisa menjadi ancaman, tetapi suasana damai yang tercipta adalah keberkahan. Begitupun di siang yang menyenangkan ini. Setelah menempuh perjalanan dari Kota Mataram melewati jalan bypass yang lurus dan lebar, maka waktu tempuh 45 menitpun terasa hanya sesaat saja, karena dimanjakan oleh dengkuran manja yang tak tertahankan.

Oalah kirain nggak kerasa waktu perjalanan karena menikmati suasana yang dilewati sehingga waktu tak terasa, eh ternyata tidur toh”

Hahahaha, santai bro. Tidur itu sebuah berkah dan gratis pula. Jadi menikmati perjalanan dengan terbuai mimpi khan tidak ada salahnya. Lagian memang nikmat kok.

Akhirnya setelah 7 tahun berlalu, raga ini bisa kembali menyentuh batu karang dan merasakan semangat kebanggaan dari pantai mandalika lombok ini. Meskipun sekarang tidak kekejar kalau harus mendaku bukit di sekitar tanjung Aan lalu mencari jejak nyale di pantai. Tapi minimal beberapa momentum bermain di pantai bisa dilaksanakan.

Ini salah satu tulisanku SI KECIL & TANJUNG AAN.

Apalagi saat ini kehadiran disini tidak hanya raga saja tetapi segenap jiwa hadir menemani sebuah kata yaitu ‘kopi’ yang menjafi nafas dari berbagai tulisan di blog ini. Apalagi memang kopi yang tersaji sudah melewati perjalanan panjang nan jauh termasuk mengangkasa membelah awan yang terkadang kurang bersahabat diatas sana.

Lalu jangan lupa, dikala kopi sudah tertuang di gelas kaca diatas batu karang di pantai mandalika. Ucap doa dan rasa syukur menjadi utama juga posisi duduk pas minum adalah sesuai tuntunan agama.

Srupuuut nikmat dan berkah.

Sebagai pelengkap dalam urusan ngopay dan ngopay ini maka setelah puas dengan mngopay di pantay eh pantai, maka dilanjutkan dengan hunting sajian kopi hitam tanpa gula di sekitar pantai ini. Ternyata ada sebuah cafe kecil namanya Lan Yan Kitchen meskipun sajian kopinya bukan seduh manual tetap berbasis mesin. Ya minimal ada rasa kopi hitam on site yang bisa dinikmati. Langsung saja order americano ala mandalikano.

Lumayan bisa melengkapi rasa tentang kohitala di pulau sumbawa. Salam ngopaaay. Wassalam (AKW).

KOPI CINTA di Kota MAKASSAR.

Mencoba Kopi penuh romantisme, ternyata…

MAKASSAR, akwnulis.com. Menikmati kopi dapat dimaknai dari berbagai sisi, tidak hanya dari rasa tetapi ada asa juga pembeda dari setiap sajian yang ada. Kalau bicara idealisme maka ada 2 golongan besar sumber rasa kopi yaitu jenis beannya, apakah arabica, robusta atau liberica. Tapi jika berbicara praktis maka pertanyaan sederhananya adalah kopi menggunakan mesin atau diproses secara manual?.. nah pertanyaan lanjutannya menjadi panjang jika dikaitkan kesana kemari, meskipun pasti bahwa rasa menjadi yang utama. Apalagi jika sudah bersua dengan susu dan jenis jenis gula, maka aneka rasa menjadi variatif dan ini yang malah menjadi lebih menarik.

Karena penulis adalah aliran kohitala, maka kenikmatan secangkir kopi tanpa gula adalah sebuah hal yang nyata. Maka kecenderungannya adalah kopi hitam tanpa gula dengan model seduhan manual yang menggunakan filter, baik V60, flatbottom atau cemex. Tetapi jika tidak berjumpa, maka kohitala produk mesinpun tidak mengapa. Pilihannya sangat terbatas yaitu espresso, dopio, americano, long black saja karena disaat memilih cafelatte dan capucinno maka campuran foam susu telah merubah formulasi kohitala.

Ih kami idealis bingit, udah ngopi mah ngopi ajaa, nggak bisa nikmati hidup”

Bisikan atau komentar agak pedas kadang hadir menemani kenikmatan ini. Namun yang terpenting adalah sebuah prinsip tentang bahagia. Bahagia itu unik kawan, dan setiap manusia memiliki nilai bahagia masing-masing. Nah urusan menikmati kopi hitam tanpa gula ini sebuah kebahagiaan, karena tidak setiap orang bisa menikmatinya. Merasakan selarik manis dan aneka rasa asam yang mengitari lidah dan mulut padahal jelas – jelas kopinya hitam tanpa gula. Ini bisa hadir secara maksimal jika dilakukan seduhan menggunakan pola manual. Jika produk mesin, maka rasanya bisa ditebak. Kepahitannya mendatar dan flat.. eh sama ya? Sementara acidity dan aftertastenya agak sulit untuk ditangkap oleh indera pengecap ini.

Tapi lagi-lagi, menikmati kopi hitam tanpa gula bukan hanya rasa. Ada asa dan suasana yang menjadi kenikmatan lainnya termasuk keunikan nama kopi tersebut. Kali ini ada penamaan kopi yang menjadi daya tarik yaitu KOPI CINTA.

Kopi cinta, sebuah sebutan yang memberi kesempatan angan untuk berimajinasi dan menerka-nerka, makna dari kopi ini. Tentu ada yang berharap ada sisi romantisme pas menikmati kopi ini, atau mungkin benih cinta akan hadir pada saat menyeruput kopi ini. Bisa juga disajikan dalam cangkir berbentuk hati.

Maka cara terbaiknya adalah ayo kita buktikan saja. Memasuki tempat makan yang mengklaim merk kopi penuh romantisme…

Ternyata ini hanya branding marketing semata, karena resminya ini adalah rumah makan soto lamongan Cak Har dan ada menu kopi dengan label KOPI CINTA, itu saja. Karena pilihan kopinya hanya berdasarkan mesin saja dan kohitalapun hanya pilihannya americano dan espresso saja. Tapi supaya tidak penasaran maka pesan juga sajian sotonya yang memang memiliki rasa asli soto di pulau jawa sehingga serasa tidak berada di pulau sulawesi. Kehangatan kuahnya dan juga taburan koya sebagai ciri khasnya menambah kenikmatan rasa di sore hari penuh makna.

Kembali ke kopi cinta, pesanan americano tiba dengan cup putih dan ada cap dengan tulisan kopi cinta. Urusan rasa dan sebagainya biasa saja, seperti americano lainnya. Tidak ada analisis body, acidity dan aftertaste disini. Ya nikmati saja tanpa membawa perasaan yang beraneka.

Kalau melihat suasanapun biasa saja, tidak tampak romantisme yang berlebihan. Tentunya acungan jempol untuk ownernya yang bisa membawa dan bertahan dengan menu makanan yang jelas jelas bukan makanan khas makassar. Sruput dulu guys kopi cintanya, lumayan.

Tuntas menikmati kopi cinta tanpa cinta ini, maka raga bergerak ke luar kota menuju bandara yang akan menerbangkan semua rasa ini kembali ke bandung via penerbangan jakarta. Wassalam (AKW).

Americano Inkspirasi & Kruk penyangga.

Sruput Kopi dan berharap sembuh seperti sediakala.

BANDUNG, akwnulis.com. Memasuki pelatarannya relatif sepi, begitupun disaat keluar kendaraan dengan ditemani kruk untuk menjadi aksesoris di lengan kanan, sebagai pertanda bahwa ada sesuatu yang berbeda, sementara.

Inilah akibat dari terlalu memforsir diri dengan segala keceriaan dan kesenangan karena berbagai momentum yang dilewati sehingga satu hal penting terlupa. “Apa itu yang terlupa?”

Kondisi kaki kiri yang patah pada tulang jari atas kiri, patah menyilang TULANG KAKI PATAH 6 bulan yang lalu. Ternyata lupa, sehingga begitu aktif di acara menyemarakkan HUT RI ke 77 di kantor bersama seluruh rekan-rekan keluarga besar Disparbud Jabar.

Eh dilanjutkan dengan mengikuti latihan rutin tari tradisional ketuk tilu yang rencananya dipentaskan flashmob seribu penari pada hari puncak HUT Jabar ke 77 juga, meskipun pada hari H ternyata harus berdamai dengan kehadiran masyarakat yang begitu banyak sehingga para penari asli dan penari dadakan terpaksa berdamai dengan keadaan dan menari di hati masing-masing. Kaki kanan yakni telapaknya mulai terasa tidak normal, ada linu – linu yang timbul tenggelam.

Ternyata di hari sabtu dan minggunya mendapat titah untuk pergi ke sukabumi tepatnya di kaki gunung Halimun salak untuk menghadiri acara sakral tahunan kasepuhan ciptagelar SEREN TAHUN 2022 yang ditempuh dengan berbagai cara termasuk berjalan kaki menempuh jalan tanah merah dan berbatu untuk mencapai lokasi, disinilah kesakitan semakin menjadi. Tetapi kembali, semangat untuk menuntaskan tugas tetap membara sampai akhirnya kembali ke bandung hampir senin dini hari.

Dan pagi hari harus kembali bergabung dalam apel senin pagi yang merupakan bukti komitmen dalam balutan aplikasi TRK kebanggaan semua. Meski tertatih tapi itulah kenyataannya, ternyata kaki kiri semakin sakit dan harus beristirahat di ruangan. Maka untuk antisipasi hal – hal yang tidak diinginkan, segera kontak penyewaan alat kesehatan Griya Kami dan  sepasang kruk penyangga tubuh meluncur untuk menjadi teman beberapa waktu ke depan.

Esok harinya segera menuju pelataran rumah sakit, menuju lantai 3 dan disinilah raga yang ringkih terdiam menanti hasil rontgen serta titah dokter terhadap semua yang dirasakan.

Alhamdulillah tidak ada yang serius di kaki kiri hasil operasi, titanium tetap kokoh mencengkeram tulang. Hanya saja beberapa otot menegang akibat dipaksa beraktifitas melebihi kemampuan. Disinilah pesan yang penting bahwa kendalikan keinginan dan ingatlah bahwa kaki kirimu bukan kaki kirimu yang dulu, tetapi punya catatan cidera dan perbaikannya.

Maka pertemuan dengan Americano di cafe inkspirasi ini menambah rasa percaya dili.. eh diri untuk segera kembalikan kesembuhan diri meskipun dalam 2 minggu ke depan harus kembali berakrab ria dengan kruk si tongkat penyangga.

Sruput dulu ah kohitala hasil mesin kopi ini, kepahitannya tidak terasa karena rasa syukur atas kondisi kaki kiri yang bukan kembali cidera tapi kelelahan dari beberapa otot saja. Wassalam (AKW).

KOPI KANTOR KOPI DINAS

Urusan dinas, rapat offline dan Zoom meeting berjalan, hadirnya kohitala tetap menyertai.

BANDUNG, akwnulis.com. Pekerjaan bejibun dan tugas bertumpuk menjadi tantangan tersendiri minggu-minggu ini. Bagi tugas dan saling mengisi antar divisi menjadi sebuah kolaborasi yang begitu menguras energi. Tetapi itulah dinamika pekerjaan yang harus dihadapi sekaligus disyukuri. Karena diluar sana banyak saudara kita yang bingung mau mengerjakan apa, sementara disini begitu banyak tugas, alhamdulillah, mari berbagi pekerjaan.

Meskipun ada tugas – tugas yang memang tidak bisa diwakilkan, karena memang kita yang musti mewakili pak bos. Itu mah resiko, atur jadwal dan hadiri. Titik.

Nah bagaimana nasibnya ngopi, ditengah kesibukan ini?”

Ya nggak gimana-gimana, ngopi mah harus tetep jalan. Khan tinggal bikin atau dibikinin aja. Yang penting syarat utamanya satu. Metodenya manual brew dan jelas tanpa gula. Selesai.

Oh iya, supaya kualitas kopinya sesuai selera kita. Ya bekel sendiri, baru seduh di dapur kantor dengan peralatan manual brew V60 yang ready setiap waktu. Apalagi Bu Santi, TU kantor juga punya keahlian menyeduh kopi secara manual, cocok dah. Tambah lagi di lantai 2 ada juga sang barista, Ojan namanya. Pasti seneng dia bikinin manual brew setiap diminta, kecuali kalau pas beannya habis heuheuheu… kasiaan deh.

Kopi manual yang pertama, dibuat dengan hati-hato oleh Bu Santi menggunakan filter phisixti (V60) dengan panas 92┬░ celcius dan gramasi 14gram membuat sajian kohitala yang nendang. Karena dimodali  bijinya adalah arabica wine sylvasari gununghalu tea geuning.

Para penikmat kopi terhenyak dengan sentuhan awalnya yang ‘menggigit’ dengan acidity poool… lalu bodynya pun medium high hingga aftertaste tamarind, citrun dan berrynya begitu menyayat hati… eh begitu paten menguasai rongga lidah serta memberi efek ninggal yang lumayan (moo bilang rasanya luar biasa, ntar pada komplen karena cuman cerita dan ngabibita sementara biji kopinya nggak pernah ngirim), harap maklum stok disetting limited supaya bisa memaknai kenikmatan dalam keterbatasan kawan.

Pak Galih, Rivaldi, Ojan dan Bu Santipun ikut menikmati sajian kohitala ini dengan gelas kaca tipis yang rentan pecah jikalau terbentur dengan benda keras, seperti kepercayaan yang terhianati maka hancur berantakan dan sulit dipulihkan. Tapi itulah kenyataan, maka kehati-hatian adalah kunci segalanya. Maksudnya hati-hati nyimpen gelas kacanya guys, bukan nyimpen rahasia.

Jadi sambil diksui… eh diskusi, juga rapat koordinasi via zoom. Bisa sambil ngopay bersama. Atau di kesempatan lain, nyuguhin tamupun bisa sambil ngopay kopi hitam tanpa gula dengan metode V60.

Nah gimana ngopinya kalau pas rapat diluar kantor?”

Ini mah rumusnya ‘mimilikan‘ atau sesuai rejekinya. Jadi kalau pas kebetulan rapatnya diluar kantor, semoga ada sajian kohitala meskipun berbasis mesin kopi.

Kalau yang pengen liat versi videonya, monggo klik aja link youtubenya : KOPI KANTOR | menyeruput kopinya di kantor ya guys.

Ternyata memang milik rejekinya, rapat di Resto Teras Akasya bahas urusan penting, ternyata ada sajian kopi. Cocok pisan gan, pekerjaan kelar dan ngopay pun jalan.

Pertama adalah kopi tubruk dengan biji kopi dari malabar jawa barat, alhamdulillah rasanya cukup lembut karena memang ditubruknya pelan-pelan. Kebayang kalau ditubruknya dengan keras, pasti tikusruk (terjerembab).

Kopi kedua lebih kepada kompromi dari sajian yang ada, karena seduh manual pake filter V60 tidak tersedia, maka berdamai dengan kohitala versi mesin kopi. Hadirlah segelas kecil espresso dan secangkir americano, tanpa gula. Sruput gan.

Itulah cerita kopi sambil berdinas sehari-hari. Jadi ngopi hitam tanpa gula adalah bagian dari keseharian, baik di dalam keseharian ataupun jika kebetulan hunting di luar kota baik itu karena dinas ataupun memang sedang beredar bersama keluarga.

Selamat nyruput si hitam tanpa gula, Happy weekend. Wassalam (AKW).

HEHA Sky view (Dragon Smoke vs Americano)

Nikmati pemandangan dan sruput selalu kopay.

JOGJA, akwnulis.com. Pergerakan raga dan rasa dalam mencicipi kopi beserta kelengkapannya terus tak terbendung. Disaat kohitala perdana di kunjungan ke Jogjakarta kali ini diawali oleh hadirnya KOPI V60 MANGLUNG. Maka petualangan harus berlanjut, sayang atuh udah jauh-jauh bergerak ternyata cuman meeting trus tiduran di kamar saja. Tapi beredarlah sebelum beredar itu dilarang hehehehe.

Maka insting pencarian kopi terus berlanjut, meskipun tentu tetap saja harus menyesuaikan dengan jadwal dan keinginan untuk mengacu kepada tempat wisata yang katanya ‘happening bingit.’ Yaitu HEHA sky view. Awalnya ingin mencoba menjajal HEHA ocean view, namun dengan berbagai pertimbangan dan juga saran masukan dari sopir selaku GPS. Maka dipending karena terlalu jauh dan lama sementara banyak anak-anak yang kecapaian setelah 6 jam perjalanan dengan KA Argowilis dari stasiun Bandung.

Isi perut dan kopi awal sudah aman di Manglung Resto & View. Jadi ke HEHA tinggal menikmati suasana. Dari Manglung resto ke HEHA ternyata cukup 8 menit saja. Nggak percaya?… ya entar coba aja.

Tangga HEHA resto / dokpri.

Ternyata, HEHA memang besar dan megah. Namun seperti pasar kaget karena pengunjung begitu membludak. Untuk pengelola tentu ini yang dicari, tapi bagi kami penikmat suasana, terasa hiruk pikuk ini agak mengurangi kenyamanan.

Masuk ke HEHA sky view membayar Rp 20.000 per orang dan didalamnya bisa berjalan-jalan mencari posisi dan spot menarik sesuai keinginan terutama pemandangan sunset yang katanya begitu spektakuler. Tapi karena terlalu banyak orang, sulit mengabadikannya. Ya sudah apa adanya saja.

Meskipun kemalasan mengabadikan sedikit terobati dikala melihat seorang ibu berbaju kuning rebahan dengan santai, menikmati suasana sekaligus ketiduran. Sebuah ilmu tingkat tinggi dimana bisa menemukan kesunyian ditengah hinggar bingar dan kegaduhan. Eh atau memang udah kelelahan ya?… jadi cape ngantuk nggak nahan, entahlah.

Untuk menjaga mood tetap di level yang baik, maka saatnya hunting kopi guys. Tapi sebelumnya tetep ngikutin keinginan anak untuk mejajak jajanan yang katanya happening di HEHA ini, yaitu Dragon Smoke. Harganya 25rb perporsi.

Kirain apaan, ternyata chiki bentuk kotak yang diberi nitrogen cair. Nah makannya ditusuk pagi tusukan dari bambu, lalu berasap deh dari mulut kita, atau kalau mulutnya ditutup bisa keluar asap dari hidung…. ohhh pantesan namanya naga merokok (dragon smoke) hehehe… ada – ada aja. Pasti ketawa – ketawa pas makannya, apalagi sambil mengepul asapnya.

Tapi hati-hati, kalau tidak terbiasa bikin tenggorokan gatal, kering dan batuk lho. Jadi saran kalau beli satu porsi, makan bareng-bareng aja. Bukan masalah ‘iritisasi‘ tapi khawatir menimbulkan iritasi di rongga mulut.

Pilihan makanan lain masih banyak namun tak berani lagi beli karena bejubel dan banyak orang. Maka mlipirlah menuju restoran sambil berharap bisa mendapatkan view sunset terbaik dan ditemani sajian makanan terbaik.

Ternyata, di restoranpun sudah penuh hehehehe, ada beberapa meja tersisa tetapi bukan di posisi strategis samping kaca. Ya sudah duduklah dan pesan cemilan plus kopinya americano.

Khusus yang males baca tapi pengen liat video youtubenya, ini dia linknya : KOPI DI JOGJA VOL 1.

Rebutan sunset / dokpri

Hehehehe, ternyata lama juga. Akhirnya mendokumentasikan suasana yang ada dan menikmati minuman yang disajikan. Americano ya rasanya begitu, agak sulit bahas body, acidity dan aftetastenya. Yang pasti kepahitannya tetap memberi nuansa berbeda, apalagi jaraknya jauh dari rumah, ya sudah kita nikmati saja.

Eh ternyata anak – anak mulai cranky dan nggak sabar menanti pesanan cemilan, tetapi tak kunjung tiba, mungkin karena banyak sekali pesanan. Maka kami menyerah, akhirnya diputuskan bungkus saja. Masih menunggu beberapa saat waktunya.

Tepat sruputan terakhir secangkir americano, pelayan datang dan mengabarkan pesanan sudah dibungkus dan siap bayar. Yuk ah bayar dulu. Eh sruputtt habiskan dulu americanonya brow.

Americano at HEHA resto sky view / dokpri.

Itulah cerita singkat perjalanan ngopay di kota Jogja edisi 2, edisi satunya khan KOPI MANgLUNg. Akhirnya raga bergerak menuruni dataran tinggi ini, dan menuju tempat hotel yang akan diinapi dengan estimasi perjalanan 46 menit dari sini. Wassalam (AKW).

KOPI Modern vs KOPI Jadul

Perbandingan yang menikmatkan.

YOGYAKARTA, akwnulis.com. Sejuknya pagi menambah kenyamanan kali ini. Setelah berjalan santai di taman yang rindang dan menghijau, tiba saatnya sarapan dengan beraneka sajian. Meskipun tetap, kopi menjadi catatan penting. Karena dengan kopi, tema tulisan tetap terjaga sekaligus marwah blog ini sesuai janji dan taglinenya NGOPAY & NGOJAY.

Makanan yang disajian beraneka pilihan, membuat sebuah catatan penting bahwa hotel Royal Ambarrukmo ini sebuah hotel recomended buat liburan keluarga dan atau suatu saat bisa berkesempatan mengajak orangtua.

Terkait tentang sajian kopi, ternyata para penginap begitu dimanjakan. Karena aneka macam kopi berbasis mesin hadir disini, dari mulai versi kohitalanya adalah Espresso dan Americano, ataupun cappucino dan cafelatte. Ditambah juga kopi asli yang diseduh manual tanpa brew, alias ditubruk langsung di gelas dan kocek dengan sendok dengan nama yang tak kalah menariknya yaitu Kopi Lawasan.

Maka dua sajian beda jaman ini melengkapi kopi pagi yang penuh arti. Versi mesin kopi diwakili oleh sajian secangkir americano, jelas tanpa gula. Lalu versi masa lalu, Kopi tubruk Lawasan menjadi wakilnya. Lengkap sudah.

Terkait rasa, jelas sajian americano lebih lembut tanpa ada ampas dibandingkan kopi lawasan. Namun kopi lawasan menang dari sisi rasa kenangan kejayaan kopi di masa silam. Sementara kesamaannya adalah tinggal sruput aja jangan bikin repot sendiri. Jikalau kohitala baik americano dan kopi lawas bisa berbicara, maka kalimat yang hadir adalah : “Biarkan kepahitanku memanisi hidupmu.”

Begitulah cerita kopi pagi di kota gudeg kali ini, tunggu tulisan berikutnya menyusuri ‘hidden gems’ dengan tetap bertema kopi. Sekarang berkeliling dulu untuk menyantap sajian sushi, nasi uduk, jamu, omelet, coklat fountain dan dimsum. Nikmaat, Wassalam (AKW).

Douwe Egbert & Gula Cair.

Ikutan dan nikmati tapi hati-hati.

Photo : Bersiap ujian / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Keseriusan dalam mengisi ujian dan keriuhan di kepala masing-masing peserta meramaikan jagad kompetisi sehat kali ini. Semua berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya plus adaptasi dengan peralatan yang disediakan panicia…. eh panitia.

Tata tertibnya membuat kangen pergi ke bandara kawan, karena semua peralatan elektronik dan peralatan penyimpanan eksternal harus ditanggalkan termasuk jam tangan canggih yang selalu terkoneksi dengan smartphone kita. Untung aja daleman nggak disuruh dicopot juga hehehehe.

Samrtphone, flashdisk, jam tangan, tablet atau tab, laptop apalagi PC harus dititip di panitia. Praktis hanya bawa otak, otot dan kumpulan perasaan yang tidak karuan. Apalagi digunakan metal detektor, serasa mau naik pesawat dan pergi terbang ke suatu tempat…. ah kangen yach, semoga pandemi covid-19 ini segera berakhir.

Allohumma inni Audzubuka Minal Baroosi Waljunuuni Walzuzami Wassayyidil Askoom

Photo : Espresso dari DE / dokpri.

Proses ujiannya menjadi menantang, karena konsentrasi menjadi super penting, fokus terhadap satu hal, suara arahan panitia dan apa yang ditampilkan di layar di depan peserta. Lalu laptop yang disediakan panitia sudah standby bersiap menjadi tempat penuangan ide gagasan dan mimpi yang akan diwujudkan dalam kerangka wewenang jabatan.

Cemunguut kakak….

Disinilah raga dan jiwa ini bersua dengan mesin kopi Douwe Egbert pada saat jam istirahat. Mesin kopi yang terlihat tangguh dan gagah dengan pilihan sajian lengkap meskipun tidak semuanya akan dinikmati…. kembung atuh kalau semua di coba mah.

Photo : Douwe Egbert coffee machine / dokpri.

Pastinya espresso dan americano yang dipijit berulang kali, capucinno dan latte hanya coba sesekali, agak takut soalnya ada susu….. suka pengen terus kalau ada susu… gemes soalnya :).

Jadi lengkap sudah, tantangan dan fasilitas yang mumpuni, memberi kesempatan terbuka untuk meng-eksplore diri. Hadirkan kemampuan dan kebisaan secara elegan hingga akhirnya diukur oleh deretan angka yang singkat namun penuh makna.

Catatan penting : harus hati-hati dikala akan menikmati sajian kopi dan masih membutuhkan manisnya gula. Bukan apa-apa, selain gula putih dalan bentuk sachet terdapat juga gula cair….. upss…. ternyata bukaaannnn gula cair, itu adalah hand sanitizer… sebuah bentuk adaptasi kebiasaan baru d masa pandemi corona ini.

Tapiiii….. karena posisinya deket mesin kopi, ini bisa salah menuangkan… meskipuuun…… eh tapi jadi penasaran, gimana rasanya kopi espresso ditambah gula cair hand sanitizer hehehehehe.

Selamat berkarya di jumat ceria. Wassalam (AKW).

Kopi Gan

Sruput Kohitala di JP3

MALANG, akwnulis.com. Dahaga ngopay akhirnya bisa terpenuhi meskipun dengan keterbatasan, tetapi itulah indahnya kehidupan. Dibalik semua kesulitan tersimpan hikmah sabar dan ketawakalan, apalagi diberi kemudahan maka wajib bersyukur pada kesempatan pertama.

Jadi, meskipun bukan menggunakan peralatan manual brew berfilter V60 dan bean arabica tetapi bersua dengan kohitala (kopi hitam tanpa gula) di luar kota adalah berkah.

Hadirnya kohitala menjadi penting karena memberi nuansa warna rasa dalam perjalanan kehidupan di propinsi ujung timur pulau jawa.

Nama tempatnya ‘Kopi Gan‘, sebuah ajakan untuk ngopay bagi juraganbaik juragan lanang ataupun juragan dewe (perempuan), tempatnya strategis dan nyaman dengan interior simpel fungsional. Nyarinya gampang, masuk di pintu masuk area Jatim park 3, luruss aja…. langsung keliatan. Klo mau masuk ke area pembelian tiket tinggal belok kiri dan turun ke lantai bawah menggunakan eskalator.

Kohitala yang disajikan memang sangat terbatas hasil dari proses mesinisasi yaitu americano, longblack dan espresso. Tetapi tidak mengapa yang penting kohitala. Americanolah yang menjadi pilihannya….. yummy.

“Gimana rasanya?”

Rasanya lebih strong bodynya karena beannya adalah robusta. Tidak ada acidity sama sekali, tetapi dibalik kepahitannya tersaji rasa manis kehidupan yang wajib disyukuri… srupuuut… glek.. nikmat. Wassalam (AKW).