Kopi Ethiopia Duromina Sejiwa

Menikmati kopi afrika bersama ibu negara.

Photo : Sajian kopi Arabica Ethiopia Duromina / akw.

BANDUNG, akwnulis.com, Bangunan lantai 2 bercat putih dengan kaca bening memberi akses pandangan menerawang dan terbuka. Terletak di Jalan Progo Kota Bandung, bernama Cafe Sejiwa.

Melewati cafe ini sangat sering karena dekat dengan tempat bekerja kadang sambil jalan kaki di pagi hari dan dipastikan masih tutup. Di kala sudah buka, nggak punya waktu untuk sekedar mampir. Ya sudah, nanti aja kalau sempet.

Apalagi Ibu negara juga reques, pengen nyoba nongki disitu. Ya sudah cocok deh. Perlu kordinasi dan diskusi lebih lanjut. Kemungkinannya di hari wiken, klo nggak sabtu ya minggu.

Tapi, itupun masih ada tapi. Ibu negara juga dines antara sabtu dan minggu.

‘Garuk garuk nggak gatal deh‘ (garo garo teu ateul, bhs sunda).

Akhirnya mah gimana nanti sajaaah..

***

Ternyata, takdir itu memang rahasia kawan.

Ibu negara kebetulan ada tugas di dekat kantorku, dan jam istirahat bisa dimanfaatkan ngopi bersama, alhamdulillah.

Mau cerita makanan di Cafe ini ya?”
“Nggak, aku mah mau cerita sajian kopinya”

“Ih gitu kamu mah, kirain mau review sajian makanan dan minumannya!!!”

“Jangan marah atuh, da aku mah pengen nulis kopi, yaa tambah suasana lainnya yang bisa dirasakan langsung”

“Ya nyerah, gimana kamu aja”

Bukan tidak mau menulis tentang makanannya, tapi khan memang nggak makan. Ntar nggak obyektif. Jadi inilah cerita tentang kopi yang tiada henti.

Trus juga jangan nge-judge, “Kok ngopinya kopi di luar jawa barat atau malah kopi luar negeri, nggak cinta kopi jabar ya?”

Diriku ini dengan segala keterbatasan, yaa ngopi sesuai dengan stok kopi yang ada. Trus kalau di cafe, situasional. Jikalau ada sponsor maka coba yang specialty coffee. Tapi klo sendirian, yaa cari kopi yang harganya terjangkau dengan saku.

“Ih kapan cerita kopinya?”
“Bentaaar atuh laaah”

***

Yang disajikan sesuai pesanan adalah kopi arabica Ethiopia Duromina.

“Kenapa milih itu?”
“Karena harganya tengah-tengah”

Jadi dari penelusuran singkat di daftar menu yang bejibun, khusus untuk manual brew terbagi menjadi 3 pilihan. Ada kopi lokal, kopi internasional dan terakhir specialty.
Nah kopi internasionalnya arabica Ethiopia Duromina.

Yang bikin bangga, specialty coffeenya adalah Arabica Gunung Puntang, alhamdulillah. Tapi nggak pesen itu karena baru kemarin nyeduh sendiri di kantor.

Sekarang ke kopi ethiopia yaa…. klo liat tulisan di botol kopinya, ada taste notenya stonefruit, blacktea, bergamot, cocoanibs.

“Naon eta?”
“Stonefruit itu bisa apel, apricot dan cherry, bergamot sejenis jeruk dan cocoanibs adalah biji cocoa”

Cuma karena keterbatasan pengalaman rasa dan memang bukan tukang icip icip rasa kopi, jadi yang dapat dirasakan tastenya memang acidity medium dengan selarik rasa segar jeruk serta rasa pahit yang simpel, menebal diujung, baru itu saja.

Photo : Kopi dan laptop = kerja sambil ngopay / akw.

Oh iya, sajian Arabica Ethiopia Duromina ini dengan menggunakan metode manual brew V60. Disajikan dalam nampan mini beralaskan kertas dengan tulisan ‘sejiwa’, botol servernya bener-bener botol dan cangkirnya menggunakan cangkir espresso warna coklat ditambah dengan segelas sedang air putih dengan es batu.

Ibu negara asyik dengan hidangan dan minumannya. Alhamdulillah, akhir kesampaian berdua nongkrong disini meskipun dalam waktu yang terbatas.

Euh, ada sedikit agak kurang nyaman. Pas ke toiletnya, ternyata bekas seseorang merokok. Akibatnya asap bergulung di dalam toilet yang sempit dan terasa begitu menyesakkan. Cuma posisi terjebak karena nggak kuat nahan kencing. Jadinya kencing sambil menghirup asap rokok dalam ruang sempit, nasiib.

Udah ah, yang pasti untuk sajian kopinya enak. Harga persajian kopi manual berkisar antara 25ribu – 55ribu. Srupuuut, tandas. Hatur nuhun (AKW).

Kopi Kenya-Starbucks

Kembali lagi menjajal kopi benua afrika, yakni berasal dari Kenya… mari kita cubbbaa…

Ternyata kawan, apa yang terjadi dalam jalinan keseharian terasa tanpa kesengajaan padahal semua sudah diatur dan merupakan takdir kehidupan.

“Urusan apa kang?”

“Eeuuh… kopii!”

“Kopi deui wae… bosen”

“Duh kopi mah bukan untuk diperdebatkan tapi untuk dinikmati”

“Hayu atuh… ngopaay”

Percakapan singkat dalam pertemuan dengan kawan lama ternyata terngiang kembali dari mulut Kang Hasan, Barista Starbucks Coffee di Bandara HuseinSastranegara, yakni….

‘Kopi bukan untuk diperdebatkan tapi kopi untuk bersama dinikmati’.

Dari pertemuan singkat di depan showcasenya Starbucks lantai 2 ruang tunggu penumpang, berbicara tentang biji kopi yang dipajang dan merekomendasikan kopi KENYA… apalagi yach?

Kemarin baru dibahas santai tentang kopi Afrika yakni Kopi KIBUYE sekarang ketemu lagi sama yang inih.

Hati-hati kawan, jangan berfikir ini bahasa sunda ya. Karena kalau bahasa sunda.. KE NYa itu artinya Ntar dulu.. atau nanti dulu yaach… jauh bingit khan?

Padahal yang akan dibahas adalah kopi darii…. lagi2 benua Afrika… kopi KENYA.

Kata kang Hasan, ini adalah kopi andalan para Barista di outlet-outlet Starbucks untuk di seduh manual… makin penasaran.

***

Sebenernya di outlet ini nggak nyediain manual brew untuk menikmati kopi tampa gula, yang ada standar siih… Americano dan klo moo bold ya espresso… tapi klo espresso khan bisa kehilangan sensasi originalitas kopinya. Jadi awalnya hanya tertarik untuk membeli biji Kopi KENYa ukuran 250gr yang dijual 95rb rupiah.

Ternyata… gayung bersambut. Disaat menyatakan untuk membeli sebungkus kopi tersebut, kang Hasan ngasih penawaran, “Mau dibuatin manual pake french press kang?…”

“Mau pisan, emang boleh gitu?”

“Boleh donk, saya ambil 20gr untuk di grinder dan akang silahkan lakukan pembayaran trus milih meja yang disukai”

“Okay…” wuiih seneng bangeet. Disaat tadi sedikit terdiam karena mendengar penerbangan delay, sekarang justru senang karena bisa menikmati manual kopi disini, dibuatin lagi… Fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban.

***

Sambil menikmati Cheese Quiche sebagai pengganti makan siang yang tertunda, pikiran melayang dan teringat wajah orang-orang tercinta andaikan ini liburan sama mereka, betapa menyenangkan. Tapi ya sudah meskipun hadir disini karena perintah, yang pasti jalani semua dengan hati yang pasrah. Menerima kenyataan adalah obat dan cara manjur untuk kehidupan tanpa beban pikiran berlebihan.

“Selamat siang kang, maaf menunggu agak lama” Suara kang Hasan memecahkan lamunan. Ternyata datang dengan senampan persenjataan barista profesional. Kopi KENYA sudah hasil menggiling, french press, es batu, gelas mini untuk espresso dan ada 2 gelas putih lain yang berisi sesuatu… “Apa itu kang?” Kepo donk.
“Ini lemon… nanti saya sajikan dengan kopi… dan rasakan sensasinya”

***

Ternyata di Starbucks ada namanya coffee talk, sebuah pelayanan kepada pelanggan yang memiliki interest tinggi kepada si biji hitam harum kecoklatan. Menyajikan kopi diseduh oleh sang barista di meja pelanggan sambil berbincang ringan… yummy. Tapi jangan lupa, beli dulu biji kopi pilihannya sebelum di grinder dan disajikan.

***

Sajian pertama dengan menggunakan french press, suhu air 90 derajat celcius dan dibiarkan berektraksi selama 4 menit. (Nggak lupa kang Hasan bawa stopwatch). Setelah itu ditekeeen.. dan langsung disajikan ke gelas yang tersedia. Takarannya 1 :15 ya… jangan lupa sisa kopi di tabung french pressnya dialihkan ke tempat berbeda, agar tidak terus berekstraksi dan menghasilkan rasa berbeda.

“Mangga kang…”

Harumm menyentuh hidung…

Srupuuut….. hmmmm… sebuah aliran misterius menggenangi mulut merendam bawah lidah, perlahan ditahan. Terasa nikmatnya menyerap, body dan acidity medium, ada selarik rasa berry yang mampir diujung bawah lidah, taste yang menyegarkan…. yummy.

***

Sajian kedua ditambah es batu menghasilkan ice coffee yang segeer pisan…

Dan sajian ketiga adalah ice coffee dicampur lemon… jadi gimana rasanya ya?.. penasaran.

Ternyata… rasanya luar biasa… segernya sensasi berbeda. Kesegaran lemonnya dominan disaat minuman menyentuh lidah tetapi pas diakhir rasa kopinya tertinggal begitu pas bikin pengen lagi… komposisinya monggo sesuai selera… apalagi kata kang Hasan ditambah sedikit gula.

“Nggak bakal tergoda ah dengan sedikit gula… udah maniees”

Awwww…..

Terima kasih atas kesempatan menikmati sajian manual kopinya kang Hasan.

***

Akhirnya pengumuman petugas bandara yang memisahkan kita. Karena nggak lucu khan klo ketinggalan pesawat gara-gara terlarut dalam menikmati kopi. Wassalam (AKW).

Kopi Kibuye d’Ambrogio

Menikmati lagi Kopi dari benua Afrika, cekidot.

Menikmati kopi memang bukan harga mati yang musti tiap hari wajib tersaji. Tetapi anugerah Illahi yang selalu membuka pintu rejeki untuk bisa dan dimampukan menikmati secangkir minuman penuh sensasi dan berbalut misteri.

Tulisan kali ini mengulas kenikmatan kopi tanpa gula dari benua afrika sana. Jika sebelumnya udah dinikmati dan dibahas Kopi Afrika Mbirizi-Burundi… Trus Kopi Kamwangi AA – Kenya, nah sekarang kita nikmati Kopi Kibuye-Bukirasazi-Burundi.

Judul awalnya adalah makan siang sama istri dan anak tercintah… ya dengan siapa lagi atuh. Karena merekalah yang menjadi kawan sejati dalam hidup ini juga nanti di akherat kelak…. dan pilihan makan siangnya jatuh ke sebuah restoran eksotik nge-hits di Kota Bandung yakni Restoran Ambrogio Patisserie di jalan Banda Nomor 62 Bandung.. kebetulan pas kesitu ada tempat untuk parkir (biasanya klo weekend, parkirnya penuh mulu…) yang penasaran monggo gugling aja.

Setelah dapet meja dan nggak lupa minta baby chair, peseen makanan dan bla bla bla… (makanannya nggak diulas disini ya, maaf).

Disinilah kenalan sama si kopi Afrika Kibuye. Akang pelayan dengan senang hati ngeliatin dulu biji kopi dalam bungkusnya… tulisan sederhana tapi dengan packing standar sehingga bisa menjaga keutuhan kopi.. (ahayy keutuhan rumah tangga kaleeee).

***

Nggak pake nunggu lama, orderan kopi manual brew V60 Kibuye tersaji. Aromanya terasa lembut menyapa cuping hidung dan memberi rasa nyaman. Nggak lupa diabadikan dulu.. Cetrek!!!

Tapi… agak mengernyitkan dahi karena disajikan dalam poci abu-abu tua lengkap dengan cawan mini berwarna senada, pake tatakan kayu yang warnanya matching plus segelas air putih ukuran sedang yang udah berisi irisan melon eh lemon, buat penetral rasa dan perasaan yaaa….

Serasa minum teh lho.

Tapi bayangan suasana minum teh tergantikan setelah nyeruput kopi di dalam cawan. Aciditynya medium high, body medium dan taste-nya ada selarik rasa floral yang menyejukkan…. nikmaat.

Sampe-sampe dikomplen ibu negara lho, saking seriusnya nikmati dan abadikan kopi… istri tercinta nggak diphoto-photo…. Ampyuuun dech.

***

Itulah sekelumit rasa yang selalu menggelora, menikmati sajian asa dalam segelas.. eh sepoci kopi yang datang dari benua Afrika. Hatur nuhun, Wassalam (AKW).

Kopi Kamwangi AA – Kenya

Menikmati Kopi Spesial dari Afrika bersama Keluarga kecil yang ceria.

Hari minggu sekarang terasa begitu berharga karena satu-satunya hari yang bisa bercengkerama dengan keluarga kecilku. Setelah senin hingga sabtu sore tergadaikan oleh kesibukan yang menyita waktu tanpa perasaan.

Tapi itulah hidup, kesibukan adalah keniscayaan apalagi dibalut oleh tanggung jawab dalam mengelola komitmen. Klop sudah kawaan.

Profesi diri menjadi suatu cerminan bahwa dimanapun berada dan kapanpun beraktifitas perlu menjaga sikap yang disebut istilah ‘Religius disiplinus’

Mari kita jaga sopan santun, toleransi dan kebersamaan.

“Eh jadi serius nulis beginian?”

“Justru beginian itu yang bakal bikin kita survive dan akhirnya memenangi pertautan semu antara abu-abu hingga menghitam.

Hayu ah ngopi manual brew duuuluuu……

***

Karena posisinya sedang beredar bersama istri tercintah & anak semata wayang. Maka pencarian kopinya menyesuaikan dengan tempat dimana kami bertiga sedang kukurilingan.

Cafe Toby’s Estate yang jadi pilihan kali ini. Terletak di Lobby depan Mall Paskal23 Bandung.

Awalnya moo pilih-pilih aneka kopi untuk di manual brew pake V60… eh ternyata cuman ada 1 jenis… ya gpp… siapa tau emang the best coffeenya.

Langsung orderrrr……

Sajian perdana adalah babycino yang nggak pake lama disruput Neng Binar hanya hitungan detik.

“Tambah lagi ayaah” rengekan anak kicik yang mengagetkan. Lha wong bapak ibunya blom ngopi eh nich anak udah curi start aja.

Ibunya akhirnya tersenyum lega setelah pesenan kopinya datang, cafelatte yang menggugah selera. Tapi teteep kurang bisa menikmati aku mah, beda jalur…. khan aliran kopi tanpa gula dan tanpa lainnya… susu, cream, dll.

***

Kesempatan terakhir, tibalah sajian single origin manual brew V60 hasil racikan barista Toby’s State… tradaaaa : 200ml kopi ‘Kamwangi AA’ dari Kenya Benua Afrika sana.

Tersaji apik dengan gelas tabung plus ada ukurannya serta satu gelas kecil untuk digunakan menikmati sajian kopi sedikit demi sedikitt…. serta satu kartu informasi kopi yang apik dan lengkap.

Aromanya harum menyegarkan… wuihhh tak sabar segera srupuuut. Srupuut… pelan tapi pasti. Bodynya medium light…. buat pemula nggak terlalu bikin kuagheet

Nah acidity-nya juga medium… trus tastenya muncul rasa tomat dimulut, lidah bawah serasa menari digelitik asam segar rasa tomat dan sedikit orange plus nuansa tropis terasa memenuhi ruang imajinasi, melupakan sesaat rasa hati dan seakan tidak menjejak bumi… aaaw lebay.

***

Ternyata sesaat tuntas menikmati manual Brew Kamwangi AA… anak cantik juga abis 2 gelas ‘Babycino‘… waddduh gaswaat…. ntar kita bahas khusus tentang BABYCINO ini yaa….

Yang pasti, bersama keluarga adalah utama tapi ngopi hitam adalah keharusan. Wassalam (AKW).

Catatan :
Alamat Toby’s Estate Bandung
Lobby Cai, Lt 1 10 -11, Jalan Pasirkaliki, Kebon Jeruk, Andir, Kb. Jeruk, Andir, Kota Bandung, Jawa Barat 40181