SATIDI – fbs

Niat baik bersua dengan kenyataan…

CIMAHI, akwnulis.com. Minggu siang bercengkerama bersama anak adalah sebuah momentum yang tak akan terulang. Maka manfaatkan sebaik-baiknya. Jika hari kemarin terpaksa bersama ibunya ikut ayahnya bekerja di kerimbunan hutan ciwidey, lalu kedinginan dan masuk angin karena ketahanan tubuh yang berbeda. Maka hari minggu ini menagih untuk sekedar kongkow dekat rumah sambil ngopi berdua.

Ternyata setelah makanan dan minuman tersaja, anak kesayangan malah sibuk dengan gadgetnya dan memainkan game Sakura School Simulator dengan asyiknya. Langsung ayahnya switch mode ke pilihan ‘soft me time’ alias menyesuaikan diri dengan gadget dan membuat sebuah cerita fiksi singkat berbahasa sunda yang idenya hadir secara tiba-tiba. Tapi ujung mata tetap memperhatijan gerak gerik dan aktifitas anak kesayangan.

Inilah tulisannya…

FIKMIN # SATIDI #

Hiungna motor RX king meulah jalan ciroyom kadèngè halimpu sabab dina cangkèng aya leungeun bèbènè nu pageuh nyekelan. Genep bulan teu panggih, ayeuna karèk bisa ka dayeuh deui.
Kusabab hayang mèrè surprise, ngahaja teu dibèjaan rèk dahar dimana. Teu nyangka ceunah boga kabogoh tèh meuni nyaah tur ngartos.

Nuhun Ayang, impènan Enèng ngawujud, tiasa tuang di restoran ieu”

Soanten nu hipu ngagugah kalbu, tapi teu loba carita. Asup na panto tuluy mayar heula sabab restoranna modèl ‘all you can eat’ atanapi SATIDI (sadayana tiasa dituang).

Pagawè restoran nyayogikeun sagala rupa dina mèja. Kompor mini diluhurna panci kuah tomyam oge hiji deui loyang kanggè babakaran. Hurang, daging lauk jeung daging sapi ipis langsung dipasak, kitu ogè sagala rupa satè, omelèt, sushi, sangu gorèng, beef teriyaki jeung sajabana. Rampus sèèp ku duaan.

Hanjakal nge-datè tèh gorèng tungtungna. Nèng Asih ngaborolo utah uger dina wastafel. Uing kapaksa ngodok liang wastafel sabab ngeuyeumbeu pikagilaeun.

***

Itulah sejumput cerita fiksi super pendek berbahasa sunda atau fiksimini bada sunda (fbs) dengan tema adaptasi dan rasa tanggungjawab seorang kekasih kepada orang yang disayanginya. Meskipun harus bertindak dan berkorban dalam melaksanakannya Selamat menikmati waktu tersisa dari weekend minggu ini, Semangaaat. Wassalam (AKW).

Kopi AKB

Menikmati Kopipun perlu adaptasi…

Photo : Menikmati Kopi AKB / dokpri.

BANDUNG, akwnulis.com. Pandemi covid-19 masih menghantui dan era baru harus dijalani. Istilah yang digunakan adalah adaptasi kebiasaan baru atau AKB.

Nah, terkait aktifitas ngopi eh minum kohitala (kopi hitam tanpa gula) yang biasanya dilakukan berkeliling ke cafe dan kedai kopi…. ahaay berkeliling gitcu… sekarang tidak bisa lagi, harus menahan diri demi terhindar dari si covid19 yang senantiasa mengintai.

Nah, dikala tugas bejibun dan laptop menyala maka kehadiran sajian kopi sangat dirindukan… aslinyah… sakaw kopi hihihihi…. tak ada kongkow tak ada ngopay… sedih rasanya… tapi itulah pengorbanan yang ada.

Begitupun kali ini, sajian kopi disamping laptop terpaksa ditemani sebotol kecil hand sanitizer… bukan untuk bahan campuran kopi tapi untuk jaga-jaga kebersihan jari jemari dan akhirnya untuk menenangkan hati.

Photo : Sajian Kopi AKB / dokpri.

Kopi disruput dengan perlahan tapi pasti, laptop mulai diraba-raba dan akhirnya ditekan-tekanlah keyboardnya dengan sebelas jari. Maka berderetlah angka dan hurup menjadi kata serta kalimat yang mewakili suara hati tentang membangun janji dalam balutan optimisme diri.

Setelah semua tuntas, file di laptop di save di google drive dan kopi di cangkir sudah tandas tanpa bekas. Maka semprotan hand sanitizer adalah penutup agar jari jemari kembali bersih dan terlindungi. Itulah salah satu protap ngopi AKB yang musti dijalani. Wassalam (AKW).

Ganti Bos

Pergantian itu alami dan perubahan itu niscaya. Jadi?….

Photo : Halaman buku berganti ditemani secangkir kopi/dokpri.

Berganti pimpinan…… secara otomatis berganti ritme dan suasana kerja. Karena setiap orang yang menjadi pimpinan memiliki karakter unik masing-masing.

Bagaimana sikap sebagai bawahan?

Gampang… segera adaptasi alias menyesuaikan.

Hehehe ngomong yang gampang, pelaksanaannya butuh sikap sungguh-sungguh dan ikhlas lho brow..

Kenapa?.. karena sifat dasar manusia pasti sudah nyaman dengan sebuah rutinitas dan kebiasaan yang telah terlaksana sedemikian lama…

Apalagi pas dapet zona nyaman… pasti ingin mempertahankan kondisi yang sudah tercipta.

Dengan adanya perubahan bos baru, maka galau mendera. Khawatir dapet tugas yang berat dan takut nambah tugas kerjaan.

Padahal… perubahan itu keniscayaan. Tidak ada di dunia fana ini yang tetap, semua berubah seiring gerakan waktu yang tak mau menjeda diri barang semenit, karena itu takdir sang waktu.. terus berjalan.. tik.. tak.. tik.. tak.

Jadi yang terpenting adalah…. atur mindset dan cek rasa ikhlas kita untuk menuju perubahan. Trus jalani pekerjaan sebagai wahana ibadah dan mencari nafKah bagi keluarga.

Tetapi tetap berpegang kepada regulasi agar tata nilai diri tetap berisi. Utamakan kesantunan dan tentu komunikasi yang elegan sehingga proses perubahan ini akan landai tanpa hambatan dan rintangan.

Ksatria baja hitam aja ‘Berubaaah!!!!’ Masa kita nggak?

Yang senyum dan paham ksatria baja hitam berarti udah berumur kepala 4 yaa.. ayo ngaku..

***

Jadi tidak perlu khawatir dengan bos baru. Gaya dan pola kepemimpinannya tentu harus kita ikuti sesuai dengan aturan, yang baiknya di ikuti.

Trus…… klo ada yang kurang baik, monggo pasang kuda-kuda gunakan jurus ‘halimunan‘. Agar bisa sedikit hilang dari pandangan tapi tetep berada di lingkaran.

Ah kok jadi ngoceh terus… udah ah. Kerja yuk… pertama sesuai tupoksi… selanjutnya sesuai tupoksi… tapi yaa kadang-kadang ada juga tugas lain yang mungkin agak sesuai tupoksi…

By the way.. tupoksi tuh singkatan dari tugas pokok dan fungsi yaa…. bukan tukang tepok yang seksi.. 🙂

Selamat malam kawan. Selamat menyesuaikan dan menua bersama heu heu heu. (AKW).