Panasaran”

Rasa panasaran mah aya mangsana, sanajan ngan satata mawa rasa hayang tamaha tanpa ngarasa.

Photo : Mobil treuk éngkel, tapi sanes nu ieu. /dokpri.

Panangan tipepereket nyepengan setir, soca dibolototkeun kalawan rénghap ngahégak. Sampéan katuhu dugi ka dadas nincak gas, erém mah hilap da hoyong énggal-énggal nyusul anjeun.

Angin ngagorowok ngémutan tong kekebutan tos teu dikuping. Pokona mah hiji tujuan kedah dugi pikeun nyacapkeun kapanasaran. Kitu ogé tatangkalan nu kalangkungan, pada mencrong bari gugupay hariwang. Ningal nu ngajejek gas tos teu nganggo étang-étangan. Siga nu gaduh nyawa salapan.

Mung hanjakal geuning kanyataan teu saluyu sareng pangharepan. Anjeun ngabelesur, sumkuring ngeyeted wé da geuning kéor. Gas dijejek sataker kebek téh sanés narikan, kalah ngadon ngayekyek bari ngebul bau hangit. Kapaksa nyisi da bilih kumaonam.

Teu pira nu dipikahoyong téh, badé nyalip teras miwarang lirén. Saatos paamprok jonghok, badé tumaros, “Aa supir treuk, naon hartosna éta seratan dina treuk anjeun?”

Anjeun tangtos moal ngawaler, paling ogé ngadon rambisak bari neunggeulan imbit treuk. Ngajeblag seratanna,
‘Tos lami teu kitu, pas kitu teu lami’, cag.(Akw).

Kerajaan Abu yang tak Kelabu… 2)

Menjelang malam menabuh tenteram di kerajaan abu yang menawan.

Photo : Gemerlap menjelang malam / Dokpri

Malam bergegas merebut terang bersekutu dengan hujan yang tak henti menyiram bumi. Senandung senja berkabut ungu mengelilingi kerajaan abu, memberi suasana magis yang melenakan. Apalagi gerimis hujan bertabur bubuk penidur, menguatkan rasa malas tiada tara sehingga diskusi mencari ilmu di ruang Tuscanypun harus menentukan pilihan. Lanjut atau jeda.

Acara Capacity Building dari KPPIPpun akhirnya harus berhenti sesaat (padahal emang rundown acaranya gitu…). Bukan karena kerajaan abu dalam keadaan darurat akibat kondisi alam yang tidak bersahabat ataupun karena harus berjuang melawan serangan troll dan monster jahat yang ingin merebut kekuasaan, tetapi konspirasi halus dari bidadari air dan dewa ngantuk didukung dengan lambaian puteri selimut membuat semua satu pemahaman bahwa mari nikmati malam tanpa berpikir dulu tentang pengetahuan.

Bergegas menuju ruang utama kerajaan untuk mendapatkan kunci kamar yang mungkin berguna untuk menyingkap misteri kerajaan abu yang tidak kelabu ini. Ahaay… nomer kamarnya spesial, moal béja-béja bisi aya nu maluruh (ga bakal dikasih tau, khawatir ada yang mencari). Langkah pasti menuju kamar menyusuri lorong yang terang benderang, tidak banyak ornamen yang terpampang tetapi hiasa gorden keemasan dan vitrase mewah menambah suasana kerajaan yang menenangkan.

Ternyata kamar yang dituju berada diujung selatan bangunan kerajaan, tanpa banyak tanya segera menempelkan selembar kertas bersegel pemberian pelayan di ruangan depan. Tittt…. pintunya otomatis terbuka, juga semburat titik hijau menyambut mata tepat pada gagang pintunya. Suasana kamar yang gelap cukup memberi suasana seram, tetapi semua sirna disaat langkah kaki memasuki kamar dan kertas tadi di tempel pada dinding kanan (sesuai petunjuk pelayan)…. lampu menyala dan kamar jadi benderang.

Sebuah ranjang king size menyambut kedatangan, ditemani sofa coklat klasik juga kursi malas beserta kekengkapannya, ah benar-benar serasa tamu raja. Bergerak ke kamar mandi, cukup luas juga. Tidak ada bak mandi tetapi secara fungsional lengkap termasuk obat kumur mini dan lotion penyegar kulit, ih bikin betah. Sayangnya gerombolan pengganggu datang, ikut masuk ke kamar dan tanpa basa basi mencoba nikmatnya kasur kerajaan. Yaa pasrah saja karena mereka semua adalah teman seperjuangan. Akhirnya senda gurau dan cerita tentang pengetahuan baru menjadi bahasan. Sambil leyeh-leyeh di kasur, sofa dan lantai.

Sebagai catatan agar besok lusa tak lupa dengan acara KPPIP dan Tusk Consultan tentang Public Private Parnership maka yang musti dibaca dan diperdalam diantaranya : UU 22/2012, Perpres 38/2015, Perka LKPP 19/2015, PMK 190/OMK.08/2015, PermenBappenas 96/2016.

Akhirnya gelap malampun menyelimuti semua rasa yang tadi berbuncah diantara diskusi pengetahuan dengan kantuk serta kemalasan. Tetapi disaat langit malam masih menyisakan biru, segera diabadikan dipadu dengan gemerlap sinar yang muncul di sekitar bangunan kerajaan abu. Sebuah panduan fantastis, apalagi kerling bidadari air di kolam renang masih membekas meskipun rasa cemburu raja kantuk bisa mengalahkan segalanya..zzzzzzz..zzzz..zzz. Wassalam. (Akw).

Kerajaan Abu yg Tak Kelabu..1)

Mengejar tahu merintis ilmu sambil memintal silaturahmi tanpa misi pribadi di sebuah kerajaan abu di wilayah Bandung utara.

Photo : Om Teddy Bear lg santai / dokpri.

Desau pagi menumpang angin berpadu padan dengan segarnya kerinduan. Embun keengganan masih menggelayut manja pada hijaunya dedaunan. Sang waktu sudah melesat membelah pagi, mengantarkan seikat janji yang harus dipenuhi pagi ini.

Setelah merayap membelah rasa menyusuri arah Bandung utara, tibalah di halaman bangunan megah yang mengingatkan nalar menguatkan khayal berada di sebuah kerajaan masa lalu. Tembok tinggi berwarna abu tidak menyiratkan kelabu, malah menelisik hati untuk masuk lebih dalam lagi.

Setelah kendaraan terparkir sempurna, kedua kaki melangkah ringan memasuki pelataran kerajaan abu-abu ini. Senyuman menyebar bertaburan menyambut setiap kedatangan, gemerlap lampu gantung dan sofa-sofa besar berpadu dengan hadokpringatnya lantai yang berselimut karpet tebal. Di ujung dekat perapian, Sang Teddy bear sedang asyik bersantai. Sesaat bertemu muka, senyum mengembang dan anggukan hormat yang tulus menambah rasa betah berada dilingkungan baru ini.

Penjaga dan pelayan kerajaan terlihat berbagi tugas menyambut tamu yang datang. Begitupun raga ini bergerak menuruni tangga, melewati kolam renang ukuran besaaar dengan kejernihan air yang begitu menggoda. Terlihat lambaian manja bidadari air, merajuk untuk ikut bergabung dalam segarnya gemericik air. Tapi jiwa menahan karena hadir disini bukan untuk itu, tetapi mencari sejumput mutiara ilmu yang berada di ruang pertemuan tidak jauh dari tempat para bidadari air menari riang.

photo : Kerajaan GeHa Universal / dokpri

Setelah berhasil melewati godaan bidadari air, raga bergerak menuju tangga kristal. Perlahan menurun dan disambut lagi gemericik air mancur kecil sebelum masuk ruang Tuscani. Sebuah ruangan abu yang fungsional, terang temaram merebak rasa kebersamaan dan semangat berbagi pengetahuan. Sebuah bahasan pengetahuan beralur cepat dengan aneka bahasa yang saling melengkapi. Baik bahasa ibu yang resmi di kerajaan juga bahasa asing yang akhirnya hanya mengangguk dan tersenyum tanpa paham apa yang dibicarakan. Tapi minimal dari gestur, ada sedikit yang bisa dimengerti.

Bahasan ilmu biar nanti dibahas khusus tapi yang pasti makasih atas kesempatan bersua dan diundang oleh KPPIP serta rekan-rekan Tusk consultant di bangunan megah klasik, seolah berada di sebuah kerajaan abu yang megah di bilangan Bandung utara, namanya Kerajaan GeHa-Universal.

Photo : Air mancur mini depan Tuscani / dokpri.

Sambil menikmati harmoni musik klasik yang lembut digabung dengan penjelasan tentang Pi-pi-pi, menambah ilmu menambah silaturahmi apalagi yang hadir ada 3 petinggi negeri punggawa utama tentu menambah takjub dan betah berlama-lama.

Meskipun bidadari air dan raja kantuk berlomba merebut rasa, tetapi ketetapan hati tak bergeming untuk terus menimba ilmu mengejar pengalaman. Sehingga keseluruhan latihan dan pembelajatan kehidupan bisa diikuti tuntas meskipun ada keterbatasan karena sudah mulai terjangkit penyakit endemik ‘lanang celup’, yakni gejala otak dan perasaan yang lambat nangkap dan cepat lupa he he he.

Met belajar para pangeran…….

Semoga nanti miliki waktu untuk menikmati hari menapaki relung relung kerajaan abu, selain untuk mendapat ilmu tapi juga pengalaman untuk beredar semu hingga berakhir pada satu pintu titik temu. (Akw).

Berseru hari berkawan hujan.

Biarkan sang hujan menjatuhkan diri ke bumi membuat goresan petualangan yang tak lekang oleh jaman….

Photo : Suasana Cafe di Cimahi Utara / dokpri.

Gemericik butir hujan menyentuh dedaunan dan atap yang menaungi kebersahajaan, membentuk melody kehidupan yang meresonansi jalinan kenyataan menjadi bentuk tafakur yang berbuah hikmah penuh berkah.

Peristiwa jatuhnya hujan terkadang dianggap penghalang, padahal hujan adalah pembawa berkah bagi semesta yang senantiasa menantang. Disitulah bedanya titik hikmah yang bisa menjadi tak serupa karena sudut pandang yang dipahami berdasarkan ilmu yang dimiliki.

Bagaimana cara menikmati gemericik hujan yang datang tidak terduga?….. banyak cara, tapi ada satu yang mudah yaitu ‘berkawanlah dengan dia, kopi’.

Pertama, jika berada di rumah bersama keluarga itulah saat luar biasa. Setelah selarik doa syukur terpanjat tentu menikmati penganan hangat dengan secangkir kopi panas plus senda gurau gelak tawa anak adalah keindahan rasa yang tak bisa dinilai. Tapi ingat usahakan kopi giling yaa… bukan kopi gunting atau sacetan (tah.. tah… tah mulai lagi urusan kopi).

Photo : Double shot espressoku / dokpri.

Jika tak punya coffee maker maka lakukan manual drip dengan V60 atau……. yang paling gampang adalah bikin kopi tubruk. Karena kopi tubruk adalah kepolosan yang menyimpan kejutan rasa nikmat, tanpa banyak basa basi kata Ben (Cicho Jericho) sang Barista dalam Filosopi Kopi The Movie. Tinggal pilih biji kopi pilihan hati, di grinder manual sambil melibatkan rasa dan cinta maka akan memunculkan sebuah citarasa yang tiada tara. Bagaikan kopi ‘tius‘ kopi tradisional dataran Dieng racikan Pak Seno yang bisa mengalahkan ‘Perpecto‘ nya kedai Filosopi kopi.

Kedua, disaat gemericik hujan mendera bumi dan kita posisi sedang dalam garis edar alias sedang beredar, maka menjambangi kedai kopi adalah sebuah sensasi tersendiri. Bisa juga cafe yang miliki varian produk kopi, peralatan dan tentunya barista handal yang ramah dan rendah hati.

photo kopi tersaji by V60 / dokpri.

Bagi penyuka kopi pahit, maka paling simple cukup beberapa pilihan dulu aja. Yaitu espresso, dopio alias double shot espresso atau kopi tubruk, atau bisa juga pake V60. Cold brewpun masih cocok meski dingin bersaing dengan derasnya hujan. Long black juga bisa menjadi teman setia.

Apa lagi klo cafe khan selain citarasa kopi juga pasti menjual suasana, bikin betah berlama-lama. Apalagi bersama istri tersayang yang memang lebih dulu ‘mencintai‘ kopi. Gemericik hujan terdengar berdentang riang, menemani sruput demi sruput angan yang berpendar keindahan.

Itulah secuil rasa yang bisa disesap dan dinikmati bersama sang kopi disaat langit sore sedang sendu terkungkung lembayung ungu. (Akw).

Kenangan pertama mengenalmu..*)

Jumpa pertama memberi kesan mendalam, apalagi dilengkapi peristiwa yang tak terlupakan. lengkap sudah sebuah memori terpatri di hati dan terekam jelas di ingatan.

Photo : Mamang bandros sedang standbye / dokpri.

Segarnya udara pagi menambah energi untuk mengarungi hari yang selalu mudah untuk dijalani. Setelah masuk kelas diawali doa pagi serta menyanyi, tersaji bubur kacang hijau hangat yang diletakkan pada mangkuk warna warni.

Semua berdoa dengan seksama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya supaya si kacang hijau cepat berpindah ke dalam perut mungil kami. Kenapa kacang hijau?.. karena ini hari senin, klo selasa-rabu biasanya susu murni ditambah kue mari.

Nyam… nyam… nyam. Perut kenyang hati senang dan bu guru cantik kembali mengajak berdendang sesaat sebelum istirahat pagipun datang. Senda gurau bersama kawan disaat istirahat adalah momen yang begitu indah untuk dikenang. Tak banyak yang perlu dipikirkan. Cukup datang tepat waktu, berbaris berdoa dan bernyanyi, makan dan bernyanyi lagi sebelum akhurnya tiba waktu pulang.

Disinilah aku tumbuh bersama kawan lainnya, disebuah daerah pegunungan di perkebunan teh Bandung Selatan. Disini kami belajar mengenal teman dan bisa bermain sepuasnya meski dikungkung oleh bangunan dan taman menghijau yang cukup luas bagi kami untuk bersilaturahmi dengan alam dan menikmati aneka permainan. Dari mulai cungkelik cungkedang, panjat tali, komidi putar, rumah-rumahan, ucing sumput, rerebonan, balap karung serta yang paling trending adalah ayun-ayunan atau gugulayunan.

Photo : Seloyang Bandros / dokpri.

Ditempat ini pula mulai mengenal aneka makanan dan beberapa jajanan meskipun terbatas. Karena untuk jajanan, ibu kepala sekolah pasti pasang muka galak dan suara menggelegar sehingga hanya sedikit pedagang yang berani berjualan jajanan atau mainan. Satu jajanan yang jadi favorit adalah ‘bandros’, jajanan khas jawa barat yang bahannya adalah terigu, kelapa dan garam. Dibuat dengan menggunakan loyang cetakan, dimasak mendadak dengan memasukan adonan putih agak encer tersebut ke loyang dan dibawahnya dipanaskan oleh bara api yang menggunakan bahan bakar potongan kecil kayu bakar.

Bentuknya atau sebutan lainnya yaitu ‘kue pancong’ dan tersaji hanya dua rasa yakni original berarti agak asin dan manis, jika ditabur gula putih diatasnya. Belum berfikir rasa-rasa variasi lha wong gitu aja selalu ludes diserbu oleh kami, anak kecil haus jajan.

Aku punya selera setengah mateng sehingga hasilnys masih lembek dan lembut atau sekali-kali cukup kering sehingga ada kriuk dikit pas dikunyah di mulut kami. Itulah sensasi yang terejam di memori ini.

Yang lebih bikin nggak terlupakan tentang bandros ini adalah sensasi tenggelam akibat rebutan bandros. Dibilang tenggelam mungkin agak lebay, tapi itulah kenyataan.

Sekolah kami TK Melati milik PT Perkebunan Nusantara VIII di Bandung Selatan memang dikelilingi taman serta selokan kecil dan di depan sekolah kami ada selokan yang cukup besar buat kami anak TK.

Siang itu kami berkumpul mengelingi mamang bandros yang lagi hits saat itu. Pas satu baris bandros tuntas dimasak, kami bersiap menerima dengan sigap. Hanya saja karena ingin duluan jadi berebut dan saling dorong. Akibatnya aku dan Dade temanku terdorong ke belakang serta kecebur ke selokan.

Gujubar…….. semua terkesiap dan siap membantu. Tapi kami berdua yang tenggelam sudah bisa berdiri lagi di selokan yang cuma berkedalaman 40cm. Yang jadi judul tenggelam karena wajah kami.. eh kepala kami yang meluncur duluan menyentuh permukaan air selokan sehingga tenggelam ‘sesaat’ :).

Bu guru TK yang cantik terlihat datang tergopoh dengan wajah pucat pasi khawatir anak didiknya menderita luka. Tetapi sesaat tersenyum lebar melihat kami yang tertawa-tawa sambil menyantap banderos setengah mateng yang udah campur sama air selokan. Meskipun sudah pasti basah kuyup dan kedinginan. Tukang banderos hanya bisa terdiam dan serba salah. Tapi menjaga pikulan peralatan dagang lebih utama dibanding membantu kami, karena itu menyangkut hajat hidupnya.

Sejak itu keakraban kami dengan banderos semakin erat, tiada hari tanpa jajan sang bandros dengan menu tetap, setengah mateng. Termasuk disaat kami mulai menginjak sekolah dasar, banderos panas tetap setia menanti di halaman depan sekolah untuk ditukar dengan uang receh yang kami pegang. Meski tentu mamangnya berganti-ganti orang.

Photo : Bandros siap tersaji dokpri.

Udah mateng pak, ini bandrosnya!!”, suara mamang bandros membuyarkan kenangan, terlihat sajian hangat satu loyang bandros yang membangkitkan kenangan. “Makasih mang” selembar uang berpindah tangan, selarik kenangan memperkaya ruang. Hatur nuhun mang. (Akw).

*) Maksudnya kenangan pertama mengenal bandros.

T&M di Sukabumi

Kembali berceloteh tentang T&M alias tugas dan makan, maka ditulislah apa yang sudah dimakan. Jangan lupa baca doa sebelum makan.

Perjalanan menuju wilayah Kabupaten sukabumi tak lepas dari tunainya tugas dan terpenuhinya janji. Memenuhi undangan rapat adalah salah satu kewajiban, jarak yang terentang menjadi pengalaman tersendiri untuk dijalani dan tentu ditafakuri.

Bandung – Sukabumi tepatnya daerah Cikidang berjarak 140 kilometer dan jarak tempuh versi gog-mep 4 jam 34 menit dalam kondisi lalulintas normal. Klo kenyataan bisa mencapai 7 jam lebih karena kemacetan sudah dimulai dari turunan jembatan layang paspati menuju pintu tol pasteur akibat dari proyek gorong-gorong yang katanya sebulan lagi kelar. Trus padat merayap di jalur tagog apu padalarang, daerah Karang tengah Cianjur karena aktifitas bubrik (bubar pabrik) dan terakhir yang parah di daerah Cimangkok Sukabumi dengan suasana sama karena aktifitas keluar masuk kendaraan dan karyawan pabrik di wilayah tersebut.

Secara kasar dengan perhitungan rasa, terlihat bahwa rasio jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan sudah tidak seimbang. Apalagi kalau membandingkan data pertumbuhan mobil dan motor yang beredar di jabar di bandingkan pertumbuham jalan… itu pasti jauh pisaaan. Makanya konsep pemerintah tentang pembangunan jalan tol sukabumi – bandung menjadi stategis. Alhamdulillah tol Bocimi (Bogor – Ciawi – Sukabumi) sedang dibangun. Harapannya tentu lanjutannya yang sudah di konsep dalam dokumen pra desain adalah sukabumi – Ciranjang, Ciranjang – Padalarang yang selanjutnya terkoneksi dengan ruas tol Cipularang.

Tapi ada hal penting lain yang menyangkut kebijakan pemerintah terkait pembatasan umur kendaraan bermotor roda empat dan roda dua. Hanya saja implementasinya belum jelas hingga kini.

Photo : Mesjid besar di Warung Kondang-Cianjur / dokpri.

Balik lagi ah ke urusan cerita perjalanan kali ini. Yang pertama sebelum masuk ke wilayah sukabumi, singgah dulu ke Mesjid di daerah Warung Kondang Cianjur ….. untuk sejenak rehat dan laporan kepada Sang Maha Pencipta. Nuansa sejuk dan damai menyelimuti rasa memberi kesejukan sebelum berlanjut menuju arah tujuan dunia.

Photo : Interior Mesjid di Warungkondang / Dokpri

Memasuki wilayah Cimangkok Sukabumi maka jalan tersendat dan lebih sering terdiam. Ya gimana lagi… tinggal sabar dan sabar. Akhirnya mendengarkan musik dan ber WA ria menjadi hiburan sementara.

Alhamdulillah perjalanan yang tersendatpun bisa terlewati hingga memasuki wilayah kota Sukabumi… wah waktunya sudah cocok untuk makan siang….. Sambil menuju daerah Cibadak yang menjadi perbatasan menuju Kabupaten Sukabumi, disitu menemukan pengalaman berkuliner yang bisa jadi rujukan dikala perut keroncongan dengan rasa yang dijamin ngangenin.

Photo : Rumah makan di Cibadak / dokpri.

Lebih tepatnya ditunjukin sama pa bos yang dulu pernah lama bertugas di Sukabumi. Beliau nunggu kami dan makan bareng-bareng. Warungnya sederhana sempit dan tempat duduk terbatas. Posisinya juga tidak dipinggir jalan, tapi sedikit masuk ke gang. Untuk parkir mobil harus di seberang jalan, itupun rebutan.

Menu yang tersaji adalah aneka sop baik sop daging, sop kikil, sop babat serta aneka jeroan ayam, sapi, kambing plus dendeng sapi dilengkapi perkedel kentang serta kerupuk aci. Sopnya disajikan panas – panas, nikmat pake bingit dech. Trus pelayan dan (kayaknya) merangkap pemilik juga lincah dan ramah melayani para tamu yang datang. Dengan harga terjangkau, kami bisa makan sepuasnya dan melewati siang ini dengan ceria.

Photo : Capture Yutub Bazit.

Perjalanan di lanjutkan menuju wilayah bukit Cikidang tempat meeting akan dilakukan. Bicara Cikidang maka serasa akrab karena sudah dipublikasikan onlen di yutub dengan akun ‘bazit‘ yang mentraslate adegan film yang dibintangi bruce willys dengan bahasa sunda yang agak kasar tapi jadi menghibur dengan judul ‘nyasab ka cikidang‘, buat yang ngerti bahasa sunda dijamin tersungging minimal senyum simpul. Ah udah ah… kok jadi ngomongin bazit.

Tiba di tempat meeting dan dilanjut nginap mungkin nanti ditulisnya, sekarang lagi concern sama kulinernya. Esok hari jam 11 siang meetingpun usai, segera kendaraan dikebut menuruni perbukitan Cikidang hingga tiba di pertigaan jalan raya yang menghubungkan Cibadak dengan Palabuanratu. Sopir reflek mengarahkan kendaraan ke kanan dan berhenti di halaman warung sate.

“Kok brenti disini pa?” Kami bertanya. Sang sopir jawab malu-malu, “Maaf pa, itu daging kambing mentah yang menggantung menarik saya untuk berhenti”.

“Moduuuuss kamuu!!!” Kami serentak teriak sambil tertawa, karena memang kami semua sudah mulai merasa lapar.

Photo : Sate + sop + kopi item / dokpri.

Ternyata feeling sopir terbukti benar, sajian sate kambing dan sop kambingnya maknyus dilengkapi dengan minuman penutup yang begitu ngangenin yaitu kopi item minus gula. Entah apa merknya tapi rasanya cukup memuaskan lidah dan nenangin hati. Meski nggak pake V60 ataupun fresh bean yang di grinder ngedadak, tapi bisa bertemu segelas kopi pahit adalah kenikmatan yang wajib disyukuri. Alhamdulillah.

Itu saja secuil cerita kuliner jalur Bandung ke Cikidang Sukabumi PP. Selamat wayah kieu (Waktu saat ini). Wassalam. (Akw).

Gagenhésbeg

Lain istilah ti Jérman ieu mah, tapi geus loba nu ngiluan, WASPADALAH.

Potona doklang (dokumén olangan).

Enggah enggéh bari ngahégak padahal sakuriling gé can tamat, lumpat pasosoré di lapang gasibu. Lumpat pacampur jeung leumpang bari teu nolih kénca katuhu. Pokona targét soré ieu bisa hatam 5 kuriling. Baju kaos jeung tréning ngahaja meuli tadi ba’da jumaahan di golodog pusda’i. Néangan nu mècing, meunang kaos beureum jeung tréning héjo.

Sabot anteng leumpang gancang dina trék bulao. Ujug-ujug trék nampuyak, suku mebes kawas nincak leutak. Tuluy sacangkéng, beuheung nepi ka laput ngaliwatan congo buuk. Leungeun roroésan teu ngaruh sabab sagala rupa nu dirawél téh haripu. Leng poék mongkléng.

Lalaunan beunta kaciri loba jelema, “Dimana ieu?” Jajang ngagerendeng. “Cicing tong gogorowokan jang, geus ngilu ngantri kadinyah” gigireun nini-nini gembrut nyorongot. Jajang murungkut, teu loba ngomong kapaksa nurut. Kaciri nu ngantri rébuan jelema, kabéh bayuhyuh. Ditelek-telek sakabéhna muru lawang cahaya nu gumebyar caang, aya tulisan ngajeblag di luhur gerbangna. Dibaca lalaunan, “Wilujeng sumping Aliran Gagenhésbeg”.