Dulokaeuw

Salah sawios panyawat nu kedah diwaspadai, terutami kanu tos jegud loba rejeki.

Photo : Masjid bumi Alloh di Lombok / dokpri

Mimiti ukur ngejeletit, tuluy nyaliara. Mapay urat muru kekemplong, karasa paregel tina indung suku nepika palangkakan. Teu loba rumahuh sabab da mun aya karasa téh cukup wé ku dibalur binahong jeung babadotan. Adug lajer tetempoan karonéng, leng… dunya karasa poék, jempling tingtrim leungit kasakit.

Jedug.. cangkéng katuhu karasa nyeri. Panon beunta. Geuning ngabadug sisi méja. Kénca katuhu ngariung loba jelema. Campuh parebut barang kawas nu kakara. Bari kukumpul pangacian, karasa nu tingjeletit leungit, pegel ngilang awak karasa seger. “Boa aing geus di surga?.. tapi pan aing lain jelema soléh. Ibadah gé belang betong” gerentes haté.

“Pih tos séhat ayeuna mah?… mamih ka tempat kudung heulanya” sora halimpu gigireun, dilieuk téh jikan jeung anak incu. Uing ngahuleng, unggeuk lalaunan.

Karasa ramo katuhu nyekel kertas leutik, tuluy diilikan. Geuning resép ti dokter subspésialis urusan panyakit jero. Dibaca diagnosis, uing téh katerap panyakit dulokaeuw (duit loba kabutuh euweuh). Ubarna ngan hiji, sedekah. (Akw).

Mengejar Gas Natural & Gas Pribadi

Urusan gas yang menarik untuk di catat, baik gas alam ataupun gas buatan termasuk gas buatan sendiri.

Photo langit dan taman di halaman Aston Cirebon / dokpri.

Perjalanan nyubuh kali ini menuju salah satu dari tiga daerah metropolitan dan titik pertumbuhan jawa barat yaitu wilayah metropolitan Cirebon Raya. Wuih metropolitan bro, yup memang Cirebon daerah yang sangat potensial. Selain Cirebon Raya ada Metropolitan Bodebekkarpur dan Metropolitan Bandung Raya, itu yang termaktub dalam Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2014.

Tapi tulisan sekarang bakal fokus tentang agenda acara terkait urusan energi yang berasal dari gas bumi yang kebetulan memang bakal tempatnya di Cirebon ini. Sebelum jauh bahas urusan di cirebon, tiba-tiba ingatan melayang ke masa kecil… rumah di kampung halaman. Klo inget di rumah, pasti kita akrab banget sama tabung warna biru yang disebut tabung elpiji. Dulu mah minyak tanah buat keperluan rumah tangga. Harap maklum karena bisa menikmati listrik itu di usia SLTP, maklum kampungku masuk daerah IDT…

Masih inget nggak?.. yg program Inpres desa tertinggal?... Jadi hingga tuntas sekolah dasar, sangat akrab ama yang namanya minyak tanah. Buat kompor yang pake sumbu dan juga beraneka lampu bagi penerangan di malam gulita. Ada 6 lampu minyak gantung dan 8 lampu minyak semprong.

Nah jadwal pembersihan kaca dari kesemua jenis lampu tersebut adalah ba’da asyar sekaligus mengisi minyak tanahnya… rutinitas nostalgia yang ternyata membentuk karakter kedisiplinan.

Photo : Aston Hotel Cirebon / dokpri

Balik lagi ke tabung biru yang namanya elpiji, ternyata elpiji itu merk dagang dari Pertamina.Isinya LPG (Liquified Petrolium Gas) yaitu gas minyak bumi yang dicairkan, hasil penyulingan minyak. Caranya dengan di turunkan suhunya dan ditambah tekanan, maka gas berubah jadi cair. Klo search di mbah gugel, LPG itu dalemnya propana (C3H8) dan butana (C4H10) dan sebagian kecil etana (C2H6) dan pentana (C5H12)… jadi inget belajar unsur kimia jaman SMA.. Hehehe. Aslinya si LNG ini tidak berbau sehingga ditambahin ‘mercaptan‘ supaya klo bocor terdengar oleh penciuman, eh tercium oleh hidung dengan baunya yang khas.

Sementara yang dibahas sekarang di lantai 2 Hotel Aston Cirebon adalah gas alam atau gas bumi yaitu bahan bakar fosil yang berbentuk gas. Ieu gas naon deui?.… Nama bekennya LNG (Liquified Natural Gas), gas alam yang didapat dari ladang minyak, ladang gas bumi serta tambang batubara yaitu gas Metana (CH4), molekul hidrokarbon terpendek dan teringan.

Gas alam juga bisa berasal dari pembusukan bakteri anaerob dari bahan-bahan organik biasanya terdapat di daerah rawa-rawa, tempat pembuangan sampah dan penampungan kotoran hewan dan manusia yang disebut ‘biogas‘. Klo gas alam ini didistribusikan yang paling umum adalah melalui pipa-pipa dari sumber gas hingga distribusi kepada pelanggan (end-user) tentunya sangat kompetitip bagi dunia industri yang membutuhkan sumber energi yang besar dan kontinyu. Termasuk juga untuk digunakan di urusan properti seperti apartemen, perhotelan dan transportasi serta berbagai bidang usaha lainnya.

Photo :Para pembicara / dokpri

Semangat membangun jaringan gas antara cirebon – semarang yang berjarak 230 – 235 kilometer ini yang bergema di sini. Sebuah acara kerja bareng Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat bersama PT Rekayasa Industri sebagai Pemegang konsesi pembangunan jaringan gas dengan PT Energi Negeri Mandiri yang merupakan anak perusahaan BUMD provinsi Jawa barat di bidang Energi yaitu PT Migas Hulu Jabar.

Setelah di akhir agustus 2017 lalu MOU, maka PT Rekind & PT ENM tancap gas untuk proses sosialisasi di jabar dan di Jateng sehingga target sehingga kegiatan offtaker gathering dan investor bisa tuntas di 2017, trus dilanjut ke penyusunan Feasibility Study, AMDAL serta pelelangan konstruksi di tahun 2018. Targetnya 2020 sudah bisa beroperasi dan melayani kebutuhan gas di wilayah Cirebon – semarang.

Diskusi hangat di acara ini saling melengkapi, baik dari BPH Migas sebagai pengatur juga para pelaku usaha di wilayah cirebon dan sekitarnya. Semua pihak berharap program ini bisa terwujud, bukan hanya BBG (bolak balik gagal, pinjem istilah pa Karsono Organda Cirebon)… plesetan dari bahan bakar gas (BBG) yang sudah pernah digagas sejak 10 tahun silam dengan berbagai nama termasuk juga program langit biru.

Eh ada yang lupa, si LNG inipun bisa juga di distribusikan menggunakan bejana tekan, tentunya sebelumnya dikompresi dulu. Nama istilahnya Compresed Natural Gas (CNG), kegunaannya adalah kepraktisan dan tentunya ramah lingkungan. Klo di jakarta sudah diterapkan pada busway dan bajaj. Juga didistribusikan untuk industri yang memerlukan gas alam.

Photo : Menu Maksi full / dokpri

Ya udh ah, gitu dulu cerita gas nyah. Soalnya kebanyakan makan siang berlemak jadinya pengen buang gas… ups maaf.

Nah klo yang akan keluar ini namanya kentut atau bahasa kerennya flatus, unsur kimianya adalah : Nitrogen: 20-90%, Hidrogen: 0-50%? Karbon Dioksida: 10-30%, Oksigen: 0-10% dan Methane: 0-10%. Flatus sering bau! Bener nggak?…. gak percaya?… coba aja diisap dech olangan.

Ada beberapa bahan kimia yang berkontribusi mewujudkan urusan bau ini yaitu Skatole (produk sampingan dari pencernaan daging), Indole (produk sampingan dari pencernaan daging), Methanethiol (senyawa sulfur), Dimetil sulfida (senyawa sulfur), Hidrogen sulfida (bau telur busuk, mudah terbakar), Amina yang mudah menguap, Asam lemak rantai pendek, Feses (jika ada dalam rektum) dan bakteri. Eh klo malah bahas kentut… tapi memang itu gas yang akrab juga dengan keseharian kita.

Sebelum berpisah, sebuah pantun dadakan semoga memberi sedikit hiburan dalam pembahasan gas-gas ini.. gasss polll.

“Membawa kawat dicampur abon, menjalin tali memanen kurma.

Diskusi hangat di Aston Cirebon, ngobrolin gas bumi bersama-sama”

Ada satu pantun lagi :

“Mengikat janji menjadi simpul, mencari ikan & cumi-cumi tanpa bertanya.

Hari ini kita berkumpul, jadi saksi terwujudnya pemanfaatan gas bumi di cirebon dan sekitarnya”.

Selesay…..

Akhirnya waktu jualah yang membatasi. Meskipun tetap sehari 24 jam tapi nilai manfaat kembali kepada apa yang kita perbuat. Wassalam. (Akw).

Sumber :

Ide sendiri + google.co.id, wikipedia.com, bphmigas.co.id, bisakimia.com

Sunrise di Sukageuri View

Berburu Sunrise di Bukit Sukageuri, berbagi rasa dengan sesama pelancong dan penikmat pemandangan serta udara segar pagi hari di kaki Gunung Ciremai.

Photo : Sunrise di gerbang Bukit Sukageuri/dokpri.

Adzan shubuh belum berkumandang tetapi mata sudah terbuka lebar, bersiap menyambut panggilan sholat sebagai salah satu kewajiban umat islam.

Berjamaah sholat shubuh dilanjutkan dzikir akhirnya usai. Segera berganti kostum dan bersepatu olahraga. Bergerak menembus dinginnya hawa menuju titik lokasi yang mungkin tepat untuk abadikan kehadiran sang mentari di ufuk timur kota Kuningan.

Berburu sunrise di kaki Gunung Ciremai menjadi judul tulisan ini, setelah disaat yang lalu mereport tentang kabut yang enggan beranjak di Tenjolaut. Sekarang saatnya mencoba melihat sisi lain wilayah Palutungan.

Photo : Sunrise diatas Kota Kuningan

Ada korelasi positif antara berburu sunset dengan pola perilaku seseorang. Perilaku positif tersebut atau premis yang ada adalah : pemburu sunrise PASTIrabadiri‘ alias rajin bangun dini hari. Karena klo males bangun pagi, momen menikmati sunrise akan terhapus dengan sendirinya. Perilaku kedua adalah ‘Tidak takut udara dingin dan angin’.

Pic : Gn Ciremai dipagi hari / dokpri

Perjalanan pagi dilanjut bermobil ria karena jarak yang cukup lumayan sekitar 8,1 km dari Kota dengan kontur jalan berkelok menanjak. Tapi dengan bermobil, nikmat pisan menanjaknya. Jalan kaki bisa dicoba tapi perlu waktu 2 jam lebih.

Cuman klo telat nyampe… yaa sunrisenya kelewat. Tepat pukul 05.28 wib, daku udah menclok di dataran tinggi Palutungan dan segera mengabadikan momen sunrise yang begitu mempesona. Sinar kuning keemasan menyeruak gelapnya pagi, sambil tersenyum untuk segera menyinari alam ini. Puas menikmati ciptaan Allah SWT ini, segera beranjak menuju kawasan wisata yang bernama ‘Sukageuri View’.

Pic : Petunjuk gerbang masuk Bukit Sukageuri / dokpri.

Sebuah kawasan wisata yang dikembangkan oleh Pemda Kuningan bersama Desa Cisantana dan Kompepar Palutungan sejak tahun 2012 silam. Petunjuk arah ke bukit Sukageuri relatif eye catching berada di sisi kiri jalan raya, langsung belok kiri aja dan 50 meter kemudian ada loket pembayaran. Tiket Rp. 15.000,- per orang (tertera tulisan di samping gardu tiket), hanya saja karena masih rebun-rebun pagi-pagi…. eh petugas tiket belum ada. Yaa lewati dan free…. (moo bayar bayar kemana?) Padahal klo dihitung pengunjung yang sedang asyik ber-wefi dan selfi dengan latar sunrise sekitar 60 orang.

Pic : menara padang bulan sabit / dokpri.

Beberapa panggung tinjau dari bambu sudah dibangun oleh pengelola sehingga digandrungi pelancong. Meskipun harus extra hati-hati karena tanpa pengaman yang berarti. Ada yang berbentuk bintang, bulan sabit serta mahkota raja. Dipadu dengan sinar mentari pagi atau gagahnya gunung ciremai plus kamera smartphone atau DSLR yang mumpuni dijamin photonya instagramable.

Pic : Sunrise diantara menara bintang / dokpri.

Puas menikmati panggung pandang, kaki bergerak menyusuri area Bukit Sukageuri ini yang cukup luas. Cocok untuk jogging trek dan acara outdor lainnya. Dengan kontur bukit berbatu dan berundak-undak alami, cukup menantang untuk di jajal.

Pic : Tangga turun dari menara pandang / dokpri.

Fasilitas parkir mobil leluasa serta mesjid yang lumayan bisa menampung pengunjung memberi poin tersendiri. Termasuk pembuatan rumah-rumah hobbit yang bisa memuaskan dahaga pengunjung yang ingin selalu eksis dimanapun dengan tongsis dan pastinya narsis habis hingga kadang photonya itu 1/3 selalu wajah si empunya gadget hehehehe.

Pic : Rumah Hobbit di Bukit Sukageuri / dokpri.

Itulah cerita singkat tentang bukit Sukageuri, Palutungan Kecamatan Cigugur Kuningan.

Keluar dari area tersebut kira-kira 1 km ke arah bawah terdapat gapura bertuliskan ‘Taman Cisantana’...

Pic : Pintu gerbang Taman Wisata Cisantana / dokpri.

Penasaran, langsung rush hitam belok kanan dan masuk ke lokasi tersebut. Ada bangunan gerbang tiket yang lagi-lagi masih kosong tiada orang. Tertera tarif masuk Rp 10.000,- per pengunjung. Didalamnya area jogging track, tempat bermain dan kembali fasilitas narsis diatas bukit.

Pic : Bukit batu Taman Cisantana / dokpri.

Yang menarik adalah bukit batu yang berdiri kokoh menyambut pagi diatasnya terdapat trek untuk view serta jalan-jalan bagi pengunjung. Hanya memang tidak sempat memanjat sang bukit batu karena waktu jua yang membatasi.

Pic : taman Cisantana / dokpri.

Fasilitas toilet dan tempat makan tersedia, tetapi daku tak berlama-lama berada disini karena janji kepada istri tercinta bahwa jam 07.00 wib sudah kembali tiba di basecamp. Hatur nuhun. (Akw)

Sensasi Kuliner Nostalgia

Melanglang nostalgia melalui indera perasa, mengingatkan memori masa silam yang sekejap sesaat dan nikmatt.

Photo : eskrim 3rasa/dokpri

Masa kecil adalah masa yang indah, sebuah ungkapan yang terasa mengena dan langsung membekas disaat bibir bersentuhan dengan buliran lembut es krim 3 rasa bercorong coklat muda.

Rasanya masih sama…. disaat dahulu, 30 tahun lalu bercanda ria di alun-alun Bandung bersama kedua orang tua.

Rasanya masih sama………. racikan eskrim lokal yang diolah tradisional rumahan. Dicecap lidahku yang mungil jaman harita. Kembali terbayang teduhnya alun-alun, ceruanya anak-anak yang bermain ceria. Juga tukang photo polaroid yang saat itu terlihat begitu canggih karena photo langsung jadi. Syaratnya hasil photonya di kipas-kipas dulu supaya gambarnya segera muncul.

Sekarang rasa itu kembali hadir dengan harga Rp 3.000,- , eskrim cone yang begitu ngangenin. Mencair di bibir membawa rasa tiada hingga, melupakan sesaat masalah hidup dan kerjaan yang ada. Menjelma sesaat menjadi anak kecil yang tak punya beban masalah kehidupan. Me-lamotan eskrim tiga rasa dengan nikmat tiada tara di saat mentari begitu garang memanggang hari.

Ya siang ini sensasi masa lalu 31 tahun silam seolah kembali lagi, hadir sesaat meskipun hanya berhitung menit yang akhiri oleh prosesi habisnya eskrim tiga rasa tandas tak berbekas di halaman Pusdai Jawa Barat, menanti waktunya sholat jumat tiba.

Sesi kuliner kenangan tidak hanya oleh secorong eskrim, karena ada juga semangkok sajian yang menjadi jajanan wajib semasa menjadi mahasiswa… ya sekitar 18 tahun lalu.

Apa itu?…

pasti para pembaca tau dech..

CUANKI…

Hayooo pasti pada tau khan?… Sajian semangkok baso berkuah ditambah tahu putih, siomay dan jika mau tambah kenyang untuk modal perkuliahan siang hingga malam… ya tambah indomie sebagai pelengkap penyempurna. Paten pokonya mah.

Jangan lupa saus sambalnya agak banyakan… pedas merangsang keringat untuk mengucur, memberi sensasi kegerahan yang menggembirakan. Trus jangan salah guys, istilah cuanki bukan bahasa dari negeri tiongkok tapi istilah asli yang muncul di tanah priangan yang miliki arti nasional, Cuanki kependekan dari ‘Cari UANg jalan kaKI’ jadi ngider membawa baso dan kawan-kawannya lengkap juga panci dan kompor yang menjamin air kuah panci tetap panas menggelegak sepanjang hari.

Ingin rasanya makan cuanki lengkap dengan indomienya, apa daya sang protokol melarang. Tapi urusan dokumentasi tetap jalan. Tinggal menunggu yang jajan datang dan minta ijin di photo…. mangkoknya bukan orangnya. (Soalnya ada yang ge-er disangka moo photo wajah trus ngarep jadi viral, ampyun dech!!).

Jadi dech kenangan kuliah melintas lengkap di pikiran, pa lagi jaman harita masa-masa duit terbatas. Semangkok cuanki kumplit dan bonus semangkok kuahnya doang sangat cukup mengganjal perut hingga malam menjelang. Sekarang harganya Rp 10.000,- per mangkok dengan status kumplit termasuk indomie 1 bungkus.

Photo : Mamang Cuanki & teteh Eskrim/dokpri.

Yang penasaran, ditunggu ama teteh tukang eskrim dan mamang Cuanki di halaman depan Pusdai Jabar. Khususnya hari jumat, ya jam 10an. Karena selain aneka kuliner juga di jalan raya arah timur adalah pasar kaget mingguan.

Photo : Shalat jumat 080917/dokpri

Jadi met hunting kuliner nostalgia, murah rasanya, muanteeebb kenangannya. Saya mah moo sholat jumat duyu…..

Selamat berbelanja dan berkuliner nostalgia. (Akw).

Gedung putih Tenjolaut

Jalan pagi mengejar Sun-ASI sambil bercanda bersama kabut yang setia di Tenjolaut Palutungan.

Gedung putih tenjolaut

Photo : Gedung putih Tenjolaut.Dokpri

Dingin masih menggigit kulit disaat langkah mengayun menuju daerah Cigugur, Kuningan. Tak lagi bermanja untuk berjalan cepat di trek menurun, tapi bergegas menuju tanjakan mengular menuju daerah Cipari. Betis terasa berat menyokong raga disaat menanjak curam, tetapi mengejar agar keringat segera keluar memang butuh perjuangan.

Perjalanan sang langkah kaki berlanjut memasuki jalan provinsi menuju daerah cigugur hingga sampai ke pertigaan yang memberi pilihan ke kiri Kota Kuningan, ke kanan arah Ciamis. Klo lurus ya mentok, khan udah di jelasin ini mah pertigaan. Belok kanan kira2 300 meter ada jalan ke kanan, itulah arah yang dituju. Arah menuju dataran tinggi Palutungan di wilayah Desa Cisantana Kecamatan Cigugur…

Photo : Tanjakan Palutungan/dokpri

Segera kaki menanjak lagi hingga 30 menit disambut gagahnya gunung Ciremai yang berbinar disinari mentari sesekali karena kabut masih terus melungkupi….. dan akhirnya ngaso dulu karena cape juga… hihihi… maklum beberapa bulan belakangan ini agak malas olah tubuh… jadi 5 km menanjak dirasa cukup dulu ah (sambil ngelirik aplikasi endomondo di Smartphone, lumayan 498 calori terbakar, katanyah).

Pembelaannya, “Khan 5kmnya nanjak, jadi dirasa cukup”. Perjalanan ke bukit palutungan dilanjut dengan kendaraan. Waktu baru 06.45 Wib tetapi mentari sudah tinggi dannn….. tertutup awan agak tebal. Gagal dech ngambil sun-ASi (sunrise agak siangnya). Tapi mumpung ada mobil, kita anggap aja survey pendahuluan.

Setelah mengamati dan waspada terhadap petunjuk jalan di daerah palutungan ada beberapa pilihan tempat yang bisa menjadi tujuan kunjungan keluarga. Antara lain : Beberapa restoran dengan parkiran yang cukup luas, Taman Cisantana, Wisata Bukit Sukageuri, Bumi perkemahan Palutungan, Curug Puteri atau sebelum jauh menanjak terdapat juga tempat wisata religi Goa Maria yang sudah dikenal lebih dulu.

Ternyata……. kepagian tiba di lokasi, jadi akses ke Curug Putri gerbangnya masih terkunci… nyubuh teuing lurr. Rush hitam bergerak lagi memasuki area parkir tempat wisata bumi perkemahan palutungan. Disambut jajaran kios, kayaknya kios souvenir tapi lagi-lagi masih tutup.

Trus Ada petunjuk yang tertulis ‘Tenjo laut’ (melihat laut), wow ini menarik, ada area yang bisa melihat laut, tapi laut mana?…. wilayah kabupaten kuningan khan di tengah pulau jawa?… jadi penasaran. Segera bergerak lagi, masuk jalan berbatu, jalan kecil hanya cukup 1 mobil. Kanan kiri semak belukar… asyik petualangan. Jalan berkelok menghijau dan ternyata sisi kirinya jurang… musti extra hati-hati.

Photo Merah putih di antara kabut/dokpri.

dan…. jreng…. tak berapa lama terlihat bangunan putih nan megah. “Apakah ini nyata?” Sedikit rasa khawatir menelusup kalbu, tapi segera dienyahkan dengan berdzikir kepada Illahi robbi. Semakin dekat dan semakin jelas bahwa itu bangunan nyata apa adanya. Bangunan besar berwarna putih berdiri megah dalam kesunyian.

Perlahan mendekat dan tentu penasaran karena pengen liat laut (khan namanya Tenjo laut). Masuk dari pinggir kiri sampai hingga ke halaman gedung, sang merah putih menyambut dengan kibaran semangat berangin pagi. Ternyata kabut belum berkenan untuk pergi dari gedung putih tersebut, tetap setia menyelimuti sehingga tak bisa melihat pemandangan sekitar.

Dingin pagi terus menusuk kulit, memaksa untuk segera pergi dari lokasi tersebut. Usut punya usut, gedung itu adalah gedung millik Kementerian Sosial Direktorat Rehabilitasi Sosial KP Napza IPWL RumahTenjolaut.

Photo loncat tapi kedinginan / dokpri.

Setelah mencoba bertahan dengan harapan sang kabut terurai dan pemandangan terhampar, ternyata belum terwujud. Mencoba loncat-loncat gerak badan, tetap saja kedinginan. Akhirnya menyerah untuk melihat pemandangan di Tenjolaut ini, karena kabut terlalu setia menemani. Padahal jam sudah bergerak di jam 08.00 wib. Kendaraan bergerak bergegas meninggalkan lokasi untuk kembali menyusuri jalan sempit berbatu menuju akses jalan raya dan kembali ke basecamp di wilayah kuningan kota.

Alhamdulillah sudah bisa menikmati udara pagi sambil berolahraga plus nambah pengalaman berkenalan dengan gedung putih di Tenjolaut Palutungan. (Akw).

Kolot Kalapa

Bari ngahuleng nungguan karéta, aya ideu ngajorélat. Teu seueur saur, langsung direcah bari bismillah.

Photo : Dokuing (dokuméntasi uing)

Keur ngahuleng nungguan karéta datang dina korsi panjang, teu eunggeuh aya nu bangir gigireun. Ngan karasa geter kahayang nyulusup na luhur kalbu, ngagilisir meulit jajantung. Méré jigrah mareuman amarah nu ngabebela tadi di lembur, basa Nyi Ijem ménta kapastian. Iraha rék tulus ka balé nyungcung méh pianakeun bisa ditulis saha bapana.

Lalaunan mélétét nempo nu rancunit, dibales imut bari neuteup geugeut. Teu loba carita jurus andalan dikaluarkeun, “Badé angkat kamana geulis?” “Ka Jakarta bah” Bah Juma gumasep, nyanghareupan nyi mojang nu matak uruy. Gancang mapatkeun jangjawokan. “Gampang jigana ieu mah yeuh!”

Keur husu bulak balik mapatkeun jampé pamaké,…. Jebréd!!! Bah Juma ngabangkieung, jangjawokan pabureuncay titingalian ranyay. Nyi mojang ngabedega.

Saacan kapiuhan kakuping soanten halimpu, “Dasar buhaya, geus bau taneuh lain tobat kalah ka kumat”

Tungtungna indit ka jakarta teu jadi sabab kareta datang pas keur kapiuhan. Beungeut béngo raga pasiksak, nyangsaya teu puguh rupa. Éra parada. (Akw).

Qurban 1438 H

Ikuti tuntunan agama, belajar ikhlas, sabar dan pasrah sesuai syariat agama.

Sore ceria menemani langkah menyusuri jalan menembus gang kecil menuju satu sasaran. Supaya tidak kesasar maka di WA minta send location dan mister Jipi-és pun otomatis beraksi. Tak khawatir meskipun satelit telkom dikabarkan hilang, karena jaringan internet tetap aman. Yang rawan adalah dompet, karena gesek di mesin ATM semua pada diam. Tak ada respon seolah sudah tidak berkenan ditarik uang.

Meskipun dari hasil penerawangan, ATM tidak bisa keluar uang itu banyak faktor, bisa karena gangguan satelit, emang rekening tabungannya kosong atau salah pake ATM khusus seperti ATM beras :)…. atau bisa aja kartu ATM yang di masukkan ke mesin ATM ternyata kartu e-money untuk tol ( maklum buru-buru).

Photo : domba yang malu-malu domba/dokpri

Kembali ke posisi ondewey, sambil liat layar hape dengan petunjuk arahnya plus kondisi riil yang kasat mata, akhirnya tiba di rumah saudara yang sudah menunggu beberapa lama. Sebuah rumah di kampung yang adem dan komplit, ada kolam ikan, kebun kecil untuk bercocok tanam dan kandang domba… yaa kandang domba, disitulah tujuan akhir kedatangan sore ini. Untuk menengok dulur sekaligus memastikan keberadaan sang domba yang akan dikurbankan esok hari.

Domba gagah berbulu keriting dengan tanduk yang besar, juga terlihat berkaos kaki putih hitam. Tatapannya masih malu-malu karena baru berjumpa secara langsung. Tetapi dengan rayuan rumput hijau ditangan, bisa juga mengelus kepalanya meski terlihat sang domba tetap tegang. Itulah sang domba kami…

Sampai berjumpa esok pagi dom.

Trek..

Trek…

Trekk…

“Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Laailaahaillalloh huwallahu akbar, Allaahu akbar walilla ilham!!”

Gema takbir menggetarkan kalbu terus berkumandang sepanjang malam. Bergema seluruh alam memuji dan memuja Allah Sang Maha Pencipta. Hingga pagi haripun tiba. Bagi saudara kita yang datang dari segala penjuru dunia untuk menuju satu tempat suci tentu sedang bersiap dan berkumpul di padang Arafah. Melaksanakan wukuf di Tanah Suci Mekah Almukaromah.

Photo Mushofahah / dokpri

Photo sedang bersalaman : Dokpri

Kami yang disinipun bersiap menuju masjid besar di lereng gunung Ciremai untuk bersiap menunaikan shalat Idul Adha secara berjamaah. Suasana kekeluargaan terasa begitu kental, karena rata-rata adalah saudara meskipun saudara jauh. Mesjidpun tak kuasa menampung jemaah sehingga jalan dan pelataran rumah penuh berebut demi shalat bersama. Begitupun usai sholat dan khutbah ied, antrian bersalaman (Mushofahah) cukup panjang dan mengular.

Usai shalat ied bergerak menuju makam papah mertua, berdoa bersama di tahun ketiga kematiannya, semoga tenang dan bahagia di alam sana. Kembali ke rumah, segera menuju tanah belakang tempat yang disepakati untuk penyembelihan hewan kurban. Alhamdulillah ijab kabul dan doa memanjat menuju arasyi dengan taburan ayat alquran dan keheningan. Mencoba memaknai ketaqwaan, kesabaran dan kepasrahan serta keikhlasan yang tiada hingga dari Nabi Ibrahim dengan putranya, Ismail.

Darah sudah mengucur dan domba segera diproses untuk berbagi dengan sesama. Ijab kabul penyerahan hewan qurban berikut 3K (kaki, kepala dan kulit) bagi yang bertugas menguliti, mencacag dan membagi. Sekaligus hak 1/3 diijabkan untuk silahkan menjadi bagian yang akan disebar.

Kambing, sapi ataupun unta hanya perantara karena yang sampai kepada Allah SWT adalah nilai taqwa dari hambanya.

Happy Iedul Adha 1438 H. (Andriekw).