Kepahitan yang melenakan

Perlahan menapak kepahitan dalam ketenangan. Menyentuh rongga perasa dan memahitkan kemauan serta memperjuangkan harapan.

Photo : Cold Drip + Es batu / Dokpri.

Semarak sore terus menggemuruh diiringi alunan bayu berpendar rindu di pelataran kehidupan. Dihadapan terhampar meja besar sebuah bagian pohon yang dipernis sehingga menjadi cerah cemerlang seolah berbalut kristal alam yang memantulkan kerinduan.

Membentuk pantulan rasa yang memberi refleksi nyata tentang apa yang dirasa. Sambil bercengkerama dengan semilir angin sore, sebotol kecil coffee dingin cold press dan segelas es batu menjadi padu serasi yang sukses mengisi siang menuju sore hari.

Photo : Segelas black coffee di sela meeting / dokpri.

Cita rasa coffee arabika yang berani mengoyak ujung lidah dengan ‘pahit tegas’ nya semakun mengukuhkan rasa cinta untuk menikmati kopi… just a coffee… tanpa gula. Jika dulu favorite nongkring itu adalah affogato atau cappucino, dimana sang eskrim vanilla meleleh berpadu dengan rasa kopi pekat, bergumul sesaat hingga akhirnya menyatu dalam cita rasa yang membuat waktu seakan terhenti sesaat untuk ikut menikmati rasa yang tersaji sempurna. Sesekali kopi vietnam-pun menjadi pilihan.

Photo : Kopi luwak dan tumbuk halus merk Kiwari / dokpri.

Sekarang ada perubahan karena sudah cukup lama memisahkan kopi dari gula meskipun lidah belum faham mana robusta dan mana arabica tapi tetap yakin kalau afrikana rasanya beda.. ups ngarang itu mah :).

Photo : Kopi bubuk tumbuk halus sudah ready / Dokpri.

Maksudnya kopi saja tanpa gula, tanpa susu, tanpa krimer, tanpa teman pendamping setianya. Ternyata memang semakin di dekati, semakin penasaran. Biasanya untuk menikmati kopi hitam nan praktis, cukup 2 sachet nescafe kopi hitam dengan secangkir kecil air panas. Tapi semakin mengenal si hitam manis mulai berkolaborasi dengan coffee produk asli bandung yang terkenal yaitu merk Aroma. Meskipun awalnya nebeng bin minta dari istri tercinta yang udah demen lama. Sekarang makin rajin mencoba berbagai kopi hasil dari bumi parahyangan.

Photo : Didit 238Coffee lagi bergaya depan conternya / dokpri.

Apalagi 2 even ngopi saraosna yang digeber temen-temen humas jabar di halaman gedung sate makin melebarkan rasa penasaran dan memperluas ke-kepo-an tentang si hitam ngangenin ini. Ditambah sajian coffee yang diolah versi wine oleh 238coffee dengan tagline ‘sundawine‘ menyajikan rasa ‘berani‘ yang menantang lidah untuk terus menikmati. Meskipun ada pertanyaan menggantung, “Klo bikin mabuk gimana?… khan ga bisa juga disebut mabuk syariah?”

Ntar ditulis di tulisan selanjutnya setelah nanya ustad dan ulama.

Photo : Hario Dripper V60 + Filter / dokpri.

Nah supaya lebih kukuh dalam menikmati kopi hitam ini, coba ikutan beli V60 yang terjangkau plus filternya. V60 atau visixty… kata urang sunda mah ‘pisikti‘ hihihi… kata sayah ketang. Yang bentuknya mirip cangkir tapi dibawahnya bolong. Disimpan diatas gelas, bejana atau wawadahan untuk menampung coffee siap minum.

Pas udah beli tuh pede aja, langsung pake. Cuci dulu ding. Simpen diatas gelas, pasang kertas penyaring, isi dengan kopi bubuk. Currr…. dituang air panas dari dispenser.

Daaan…. hasilnya cawérang alias hambar. Itulah namanya sotoy tanpa ilmu, tapi hikmahnya jadi tau, klo caranya salah ya hasilnya ga sesuai harapan.

Coldbrew Sunda Wine / dokpri

Setelah sadar bahwa semuanya ada ilmunya baru nonton blog tentang kopi dan baca-baca yutub… ternyata tekniknya salah.

Malu aku… malu aku.

Kesalahan pertama, kertas penyaringnya setelah disimpen di V60 musti di basahin dulu dengan air panas hingga merata. Kesalahan kedua, air panas yang dituangkan musti panasnya stabil dengan suhu tertentu. Ketiga, nuangin air panasnya pun ada teknik tersendiri. Pokona mah semua ada ilmunya.

Berhubung senjatanya baru V60 + filter didukung dispenser doang, akhirnya ngalah dech… ambil kunci motor, nggak lupa ajak anak istri dan ngloyor ke kedai kopi… ngopi yuuuk. Wassalam. (Akw).

Melarang Tapi Melakukan

Belajar menjadi ayah yang menjadi pedoman kehidupan anak-anaknya, mudah diucapkan tetapi penuh perjuangan dalam melaksanakan.

Photo : Mentari muncul di cakrawala, sebuah konsistensi yang di ciptakan Allah SWT / Dokpri.

Fragmen hidup memang senantiasa berdinamika. Bisa sederhana lurus-lurus saja atau berliku penuh tikungan bermisteri. Meski satu hal yang pasti adalah sang waktu terus melaju, menggerus jatah umur sekaligus membuat terlena sehingga hari demi hari terasa begitu cepat berlalu. Minggu bertemu minggu hingga bulan berjumpa tahun.

Tapi sebuah ‘legacy‘ bisa bertahan lama dan salah satunya yang ‘mungkin’ abadi adalah sebuah tulisan dan of course gambar photo serta video yang dikemas apik dan tersimpan rapih. Bisa dicetak menjadi sebuah buku, keping DVD video ataupun tulisan, gambar dan video yang selanjutnya diunggah dan disimpan di dunia maya baik di facebook, twitter, path atau pinterest juga instagram dan pastinya youtube serta seabreg aplikasi lainnya.

Maafkan jemari dan pikiran ini jikalau tulisan yang tersaji ini hanya berkutat dalam bahasan yang kelewat sederhana. Bukan menulis sesuatu yang mendalam atau berbuncah teori konspirasi yang sedang rajin menghiasi wall linimasa belakangan hari. Tapi satu keyakinan terpatri, bahwa sederhana itu adalah inti dari segala hal yang penuh kompleksitas kerumitan tingkat dewa.

Sebuah pilihan telah teguh dipegang sejak blog ini lahir. Tulislah apa adanya dan mencoba bertahan dalam balutan originalitas, baik tulisan ataupun gambar dan video. Jikalau ada kutipan dari sumber lain, sudah etika dan hukum alam bahwa pencantuman sumber tulisan adalah kewajiban. Juga rumus kehidupan bahwa ikuti aturan maka alam melindungi kita.

Hari ini tertarik menulis tentang hubungan ayah dan anak yang ternyata memberi hikmah tersendiri. Ceritanya… jeng jreng….

…………Siang itu cuaca begitu panas menyengat. Sehingga minuman dingin menjadi favorit, terlihat di ruang tengah 2 orang anak sedang menikmati kesegaran yang dihadirkan oleh es kelapa muda gula merah. Anak 6 tahun dan 12 tahun terlihat menyendok minuman yang tersaji dengan lahapnya.

Tetapi pestanya harus buyar karena suara sang ayah menggema, “Hey anak kecil nggak boleh minum es banyak-banyak” sambil bergerak merebut mangkok es kelapa muda yang sedang anak-anaknya nikmati. Kedua anak itu terdiam, kecewa tapi tiada daya.

Adegan selanjutnya sang ayah yang tadi begitu garang melarang, ternyata….. langsung menikmati es kelapa muda gula merah tersebut tanpa malu-malu dimana kedua anaknya memandang tanpa bisa berkata-kata. Tetapi rasa kecewa karena dilarang terlihat dari raut cemberut mereka, semakin bertambah dongkol karena sang ayah tidak konsisten dengan ucapannya, melarang tapi melakukan.

………………………………………

Itulah titik pangkal yang menarik yaitu melarang tapi melakukan alias standar ganda. Tapi yang kita bahas disini lebih ke sebuah komitmen konsistensi dari ucap dan sikap. Jangan mentang-mentang berkuasa sehingga bisa seenaknya dan semena-mena, tapi yaa kembali ke leptop… itulah kenyataannya.

Keteladanan memang mudah diucapkan, tetapi tetasa sulit dilaksanakan disaat kita dalam posisi merasa memiliki kewenangan, baik sebagai orang tua kepada anaknya atau atasan kepada bawahannya. Maka lebih sering tidak sadar dan yang menonjol adalah rasa arogan serta keteladanan terlupakan.

Padahal……… dengan keteladanan inilah pelajaran kehidupan bergulir dan menggema dalam lorong kehidupan fana, yang akan terpatri di dalam diri tertanam di dalam jiwa terutama bagi anak kita yang merupakan photo copyan atau cerminan dari tingkah polah perilaku kita.

Sebagai refleksi diri sendiri dalam belajar mendidik anak, adegan tadi memberi pelajaran berharga. Bahwa kita melarang anak berarti kitapun harus memberi contoh keteladanan bahwa kitapun tidak melanggar larangan itu meskipun secara kewenangan bisa dipaksakan.

Konsekuensinya yang menjadi poin penting adalah manakala inkonsistensi ini semakin berlarut maka mengikis rasa hormat sang anak kepada orangtuanya dan pada titik kulminasi akan menghapus sosok ayah yang harus diteladani menjadi sosok ayah yang tercampakkan dan tidak akan dihormati… audzibillahiminzalik.

Lho kok jadi nglantur beginih yah?….., ah gpp donk…….

Tulis saja apa yang terasa meski etika tentu harus tetap dijalani sempurna. Andaikan aku jadi sosok ayah tadi, tentu setelah melarang makan es kelapa gula merah tersebut lalu menyimpannya di kulkas. Daan…. kalaupun aku kepengen bingit, tahanlah sekuat tenaga hingga kedua anak sudah tidak ada di ruang makan. Ambil mangkoknya perlahan dan nikmati cepat-cepat. Insyaalloh anak-anak akan belajar ‘konsisten‘ dari sosok ayahnya.

Fragmen kehidupan terus berlanjut, menjalin rasa memintal peristiwa yang akhirnya menjadi cerminan dan kenangan. Selamat belajar menjadi ayah yang menjadi teladan bagi anak-anaknya. (Akw).

Ngopi saédanna.

Hayu édankeun lur…

Photo : Ngopi sareng dunungan ogé balad gawé / doklang.

Jelema pabeulit patingkuriling, dahareun ngaleuya. Oncor badag oncor leutik nyaangan kariaan. Peuting karék gé ngarawu poék, langsung hégar méncrang caraang. Ahéng pisan. Jampana pasulabreng pinuh ku rupa-rupa kukuluban. Papais, bugis, hui, sampeu jeung suuk ngabibita nu ngaliwat. Aya ogé duét maut, bandrék bajigur.

Nu matak uruy mah, loba pisan jongko dadakan, iimahan maké kenténg kararas dipasieup daun jagong ngora jeung tangkal kopi. Aya réwuan jongko, nu panglobana tukang kopi nu datang ti sikluk gunung, ti juru pasir ngadon adu rasa adu jajatén. Ogé kiripik kicimpring, opak jeung pilus teu hilap burayot sareng rangesing ngabagéakeun rahayat nu datang ngadon sukan-sukan di pakarangan karajaan.

Sagala rupa kopi sayogi, nu diolah biasa ogé anu diteureuy heula ku careuh tuluy dipodolkeun, réwak béak ku rahayat. Barungah bari surak. Jaipongan jeung wayang golék teu maké eureun. Éh eureun kétang pas adan isya jeung subuh.

Hayu ngopi saédanna… éh saraosna.(Akw).

Keringat di senin pagi

Manfaatin waktu di senin pagi, didera jenuh dan ingin mencoba tampil beda, ternyata….

Photo : Sunrise di Gasibu / Dokpri.

Mentari pagi masih malu-malu menyapa hari, sehingga gerimis di rerumputanpun tetap bercengkerama sebelum terbang berpisah menjadi hampa. Tapi dari sela pucuk dedaunan mulai bergerak semburat pagi terbelah oleh tiang bendera putih yang tegak berdiri setiap pagi.

Trek biru tua dan muda masih basah tergenang air di beberapa bagian lapangan Gasibu. Tetapi itu semua tidak menyurutkan berpuluh pasang kaki bergerak menurut irama diri dalam drama lari pagi atau sekedar berjalan perlahan melancarkan nadi.

Ini senin pagi bung, tetapi dengan berbekal training dan sepatu olahraga maka bisa mengawali kerja dengan berjoging ria. Setelah tadi sholat subuh bersama maka sekarang lanjut berjamaah mengayunkan langkah menyusuri lintasan biru yang tiada ujungnya.

Trus jangan salah tafsir bahwa sholat shubuhnya pake trening. Tetap baju koko dan celana hitam kesayangan yang menemani pagi buta menembus jalanan lengang penuh makna dilanjut shalat bersama… berrr..sama.

Photo Trek lapangan Gasibu / dokpri.

Awalnya lari-lari kecil dilanjutkan dengan jalan cepat hingga semi lari. Tapi tak berani terlalu berkeras hati untuk berlari karena semua ada waktu dan tahapannya. Termasuk musti juga pemanasan agar otot tak tegang tiba-tiba. Sambil berlari pikiran ikut berlari menapak khayal berbaur keinginan memngkristal menjadi inspirasi yang ingin segera dieksekusi meski tetap harus berhitung tentang pentingnya eksistensi.

Sambil bergerak mengitari trek biru belang biru (B3) ini, tiba-tiba ada rasa jenuh karena selama hampir 2 tahun belakangan ini (maksudnya larinya sih sekali-kali hehehe. Nggak tiap hari)..

yang bikin jenuh itu adalah larinya pasti arahnya berlawanan dengan arah jarum jam dan semua sepakat ikut arah treknya seperti itu dan selalu seperti itu. Mbok ya sekali2 bisa berbalik arah sehingga searah jarum jam atau bisa aja satu dua orang berlawanan arah, khan jadi variatif dan rame.

Cuman resikonya mungkin dicemooh sama pejalan dan pelari lainnya. Tapi ternyata tak ada itu, semuanya taat dan patuh dengan alur trek seperti itu. Ayo dong ada yang berbeda arah…. tapi itu belum terjadi. Tadinya pengen nyoba, tapi sebelum itu perlu juga tabayun dan uji literasi mandiri via mbah gugel agar tak salah kaprah karena penasaran akibat jenuh dan keisengan bisa berakibat tidak menyenangkan.

Jadi search dulu donk, trus jangan kelamaan juga searchnya ntar ga jadi-jadi tulisannya. Langkah kaki terus bergerak menapak trek biru yang dibeberapa titik tertulis ‘bank jabar banten’ lengkap dengan logo serta dititik lain ada tulisan ‘Regupol‘ … eh penasaran juga, kayaknya merk cat yang digunakan di trek lari ini.

Photo Regupol / dokpri.

Buru2 buka smartphone sambil tetap berjalan cepat… tadaaa… ini penjelasannya begitu jelas dan lugas : ….…….Produkty BSW to producent podłóg sportowych, nawierzchni bezpiecznych, mat sportowych, wyrobów elastomerowych dla izolacji dźwięków krokowych i izolacji drgań, mat antypoślizgowych do zabezpieczania ładunków, a także mat ochronnych i mat przekładkowych…..

Euleuh ora muddeng, bahasa aon?… Ternyata kesalahan mata, ada logo bendera merah putih ternyata tibalik, atuh diterjemahkeun kana bahasa polandia… beuu.

Buru-buru dikoreksi, Regupol ternyata merk produk dari karet elastis yang di buat sedemikian rupa digunakan untuk melapisi trek atletik dan lantai lapangan beberapa cabang olahraga dengan berbagai fungsi.. udah ah gitu aja, yang penasaran mah search we olangan.

Kembali ke pertanyaan tadi tentang arah lari yang selalu memutari trek itu berlawanan dengan arah jarum jam ada bahasan simple tapi jelas dari brilio.net yang menjelaskan bahwa :

…..dari AnythingLeftHanded, Sabtu (16/5), meski terdengar sangat sepele, arah lintasan balapan yang berlawanan dengan arah jarum jam ternyata punya alasan tersendiri. Arah tersebut memang sudah menjadi kesepakatan internasional. Dalam Aturan 163.1 International Association of Athletics Federations (IAAF), tertulis, “The direction of running shall be left-hand inside.

Sedangkan menurut alasan medis, superior vena cava mengumpulkan darah melalui pemompaan jantung. Pembuluh ini membawa darah yang kaya akan karbon dioksida dari kiri ke kanan di tubuh. Gaya sentrifugal yang berlawanan arah jarum jam membantu proses pemompaan ini. Sebaliknya, jika kamu berlari searah jarum jam, maka gaya sentrifugal akan menghambat jalannya proses pemompaan……

Terjawab sudah kepenasaran senin pagi ini, nuhun mbah gugel. Tadinya niatan mau lawan aruspun tak jadi. Langkah terus berlanjut hingga tak terasa keringat meleleh berbulir bulir pertanda badan sudah bereaksi dan waktu berjalan cepat harus segera diakhiri. Karena setelah jalan pagi ini harus segera mandi lagi, berganti baju seragam dan bersiap ikutan apel senin pagi… Ciaooo.

Tak lupa sebagai penutup gerak badan senin pagi ini, push up 25x secara riil dan 75x di otak sehingga total 100x….

Have a nice monday guys.

Ahlan Wasahlan 1 Muharram

Émut harita jaman beunceuh, diajar sapinah bari ngalong di kobong.

Pisaminggueun bulan rayagung rék lekasan, geus tatan-tatan ngécéng awi tali unggal balik ngaji, diajar sapinah jeung nahu sorop. Awi tali dina dapuran deukeut imah Wa Ustad. Dicirian mana nu rék dipénta keur nyieun oncor nu panghadéna. Minyak tanah meunang kukumpul tina sésa lampu téplok jeung ngabahékeun tina kompor ema geus aya lima dési. Lamakna sayagi meunang ménta ti Wa Atang jait.

Photo : Masjid Jami Cipari Kuningan / Dokpri

Ayeuna wanci bada lohor, oncor madé-in simuing geus ngajajar di gigir kobong, salosin. Awi konéng matak sieup ditambah rarangkén pucuk jeruk purut. Seger katingalina seungit kaambeuna. Teu butuh waktu lila, sakiceup dua kiceup oncor téh pindah leungeun digantian ku rupa-rupa. Aya nu méré béas dua canggeum, cau sasikat, tomat hejo sakérésék ogé céngék tilu rawu. Atoh pisan, da teu niat dagang, ngan pédah babaturan sok barutuh jadi wé dipangnyieunkeun.

Photo : Di pakarangan masjid agung Kota Makasar / doknyal.

Lumayan keur nambahan eusi dapur ema. Nu hiji disésakeun da uing gé hayang ngilu ngabring ngurilingan lembur bari nyambat asma pangéran, Allahu Akbar.

Photo Mesjis Muhammad CengHo di Kabupaten Gowa / doknyal.

Ba’da isya uing geus saged mawa oncor muru ka lapang hareupeun masid. Barudak loba bari marawa oncor séwang-séwangan. Aya ogé nu mawa dogdog tatabeuhan, dimimitian ku du’a basmalah, tuluy nyundut lamak babarengan. Hurung ngempur nyaangan beungeut polos santri kalong jeung santri mukim. Rék pawey mapay jalan nguriling lembur.

Ngabagéakeun taun anyar, Bismillah.

Allohumma soli ala sayidina muhammaddin… Waala alihi wasohbihi azmain…..

Ahlan wasahlan sasih muharram.

Wilujeng mapag mangsa tur nincak 1 Muharram 1439 hijriyah. Urang niatkeun kahoyong tur kiatkeun ihtiar regepkeun ibadah pikeun ngawujud janten golongan manusa anu taqwa. Amiin. (Akw).

Jus alpuket & KEK

Diawali oleh segelas jus alpuket dan angin sepoi-sepoi, berlanjut mencoba membuka lembaran cerita tentang Kawasan Ekonomi Khusus zona pariwisata. semoga bisa menambah cerita dan berbagi rasa.

Photo : Jus alpuket tanpa gula / dokpri.

Jus alpukat murni tanpa gula menemani siang hari yang cerah. Didukung angin sepoi menyapa rasa yang berhembus membawa rindu dari permukaan Situ Wanayasa. Panas terik matahari menjadi teduh penuh kedamaian. Sebuah saat untuk selalu ingat atas karunia Illahi. Ingin segera beranjak untuk bersujud di mushola atau mesjid diseberang situ (danau) karena waktu dhuhur telah tiba.

Tetapi… ada pertentangan, karena sate kambing lilit lemak dan semangkuk gule kambing juga terhidang sempurna. Aromanya begitu menggugah selera… ohh. Pertentangannya adalah sholat dulu atau makan dulu?…. bingung.

Sholat harus disegerakan, tapi takut sholat nggak khusuk karena inget sate, gule dan jus alpuket.

Mending mana guys?… sholat inget makan atau makan inget sholat?

Dilema menjalari kepala, berbenturan antara keroncong perut dengan nurani keyakinan. Tapi apa daya, saat ini makan dulu dech sambil inget sholat.

Photo mushola kecil yg enakeun.

Daaan….. setelah tandas tuh sajian, segera bergerak menuju mushola kecil di halaman rumah makan. Terdapat 2 kamar mandi dengan kloset jongkok yang bersih terpelihara. Begitupun mushola mungilnya ditata minimalis dan fungsional. Hanya cukup bertiga jika berjamaah, tetapi dengan tempelan banner besar bergambar Ka’bah dan sajadah bersih serta empuk memberi rasa khusuk yang merata, juga memang sudah kenyang he he he….

Photo Toilet bersih / Dokpri.

Meski tidak sempat meng-explore lebih komprehensif, tapi merasa puas dengan sajian rasa dan pelayanan di rumah makan Bang Jo di tepi Situ Wanayasa. Yup karena perjalanan musti dilanjut menuju daerah Jatiluhur dalam rangka menghadiri meeting tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Photo : satu sudut senja di Waduk Jatiluhur / Dokpri

Klo bicara Kawasan Ekonomi Khusus maka sangat perlu kita pahami dari sisi regulasi yang mengatur tentang hal ini. Sebagai pegangan maka 2 regulasi musti dibaca duluan, yaitu Undang-undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi khusus…. udah itu, aja baca ampe kelar, beres tuh urusan.

Masalahnya baca aturan itu cepet ngantuk dan banyak yang malas baca. Jadi ya udah, .. ..coba disarikan, diperas dan dipilih intisari philosophisnya sehingga lebih mudah dipahami… go!!!.

Kawasan Ekonomi khusus adalah Kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu….

Nah tuh definisinya. Trus KEK ini ada beberapa zona, klo yang udah agak familiar adalah kawasan ekonomi khusus industri. Ternyata ada zona KEK lain selain industri yaitu zona pengolahan ekspor, logistik, pengembangan teknologi, pariwisata, zona energi, zona ekonomi lain.

Untuk bedainnya…. ini lho Penjelasan :

Zona pengolahan ekspor itu berkaitan sama area yang diperuntukan bagi kegiatan logistik dan industri yang produksinya ditujukan untuk ekspor.

Zona logistik adalah area yang diperuntukan bagi kegiatan penyimpanan, perakitan, penyortiran, pengepakan, pendistribusian, perbaikan, dan perekondisian dari dalam negeri dan dari luar negeri.

Zona industri adalah area yang diperuntukan bagi kegiatan industri yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi, serta agroindustri dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri yang produksinya untuk ekspor dan/atau untuk dalam negeri.

Zona pengembangan teknologi : area yang diperuntukan bagi kegiatan riset dan teknologi, rancang bangun dan rekayasa, teknologi terapan, pengembangan perangkat lunak, serta jasa di bidang teknologi informasi.

Photo Keindahan Pantai di Zona KEK Tanjung kelayang / Dokpri

Zona pariwisata : area yg diperuntukan bagi kegiatan usaha pariwisata untuk mendukung penyelenggaraan hiburan dan rekreasi, pertemuan, perjalanan insentif dan pameran serta kegiatan yang terkait.

Zona ekonomi lain adalah area yang diperuntukan antara lain dapat berupa zona industri kreatif dan zona olahraga.

Photo panorama KEK Mandalika / dokpri.

Dari ke7 zona tersebut yang sekarang sedang digenjot juga oleh pemerintah adalah KEK Pariwisata yang tersebar di seluruh indonesia. Diantaranya KEK Tanjung Kelayang Pulau Belitung, KEK Mandalika di Lombok, KEK Morotai Maluku Utara dan KEK Tanjung Lesung Banten. Pengusulan KEK ini menjadi menarik karena dengan target nasional di tahun 2019 adalah lahirnya 10 KEK baru zona pariwisata dari target 15 KEK berbagai zona, maka diperlukan effort dan koordinasi intensif serta sinergi semua elemen khususnya kesiapan calon pengusul yaitu Pemerintah daerah atau badan usaha.

Photo Situ Wanayasa / Dokpri.

Udah ah gitu dulu urusan KEK, karena waktu jua yang tak bisa diubah seenaknya. Next time pengen bahas juga lanjutan KEK ini terkait kriteria lokasi untuk calon usulan Kawasan Ekonomi Khusus zona pariwisata. Wassalam. (Akw).

Taruang & Tataruang

Sambil ‘tuang’ ingat sama tata ruang, ya udah orat oret tanpa sebab semoga jadi manfaat.

Photo : makan siang yuk / dokpri.

Siang yang cerah berbuah berkah, menggugah tingkah agar tidak terengah. Hilangkan pongah tapi tetap bungah… alias kembung di tengah.

Intermezzo dulu di siang yang cerah.

Makan siang sepiring yang mengenyangkan bersama teman-teman lainnya yang dalam bahasa sunda, makan itu ‘tuang‘ dan yang makan lebih dari satu disebut ‘taruang‘… nah… taruang ini ditambah –ta– didepannya maka jadilah ‘ta-taruang’ atau tata ruang yang definisinya adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.

Struktur ruang dan pola ruang itu apa?… sebelum lebih bingung, mending kita cari dulu definisi ‘Ruang’ dulu…

Ruang adalah : wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara termasuk ruang didalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia dan mahluk lain hidup melakukan kehidupan dan memelihara kelangsungan hidupnya (ps1a UU 26/2007).

Tah definisi yang serius dan ini adalah undang-undang yang menjadi pedoman bagi penataan ruangan di negara tercinta ini. Sebelum bergerak lebih luas ini kata UU 26/2007 lagi ya….

Pengertian Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan sarana prasarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional (ps1.3).

Pengertian Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya (ps1.4).

Belum kelar pasal 1 udah mulai puyeng pala berbiih.. tapi pengertian kudu paham dulu sebelum bahas lebih daleem.

Ngomong-ngomong tata ruang, klo penataan ruang artinya naon?… Jawab lagi sama pasal 1.5 dech :

Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Menarik atau ngebosenin?… silahkan jawab masing2 dech.

Buat penulis mah egepe, moo dibaca syukur nggak dibaca juga harus, khan ini penting 🙂 apa lagi menurut khotib jumatan tadi, yang bakalan diminta pertanggungjawab dari kita semua itu ada 4 hal lho.

Salah satunya ‘Ilmu“. Uraiannya gini lho….

Pertama Umur, moo umur pendek moo umur panjang bakal ditanya ngapain aja tuh umur dipake?

Kedua Ilmu, nyari ilmu apa aja? Trus ilmunya dipake ibadah atau ngadalin orang lain?…. nah ini yang nyambung dengan ilmu tata ruang, biarpun puyeng ayo kita pelajari… insyaalloh berkah.

Ketiga harta, ini jelas bakalan ditanya cara nyari harta dan dipake apa aja? Ibadah atau maksiat. Kadang kita mah bingung, harta banyak eh kebutuhan nggak ada (ngarep…).

Keempat raga, raga ini dipakai apa saja selama hidup didunia. Itu pertanyaan yang harus kita jawab dan pertanggungjawabkan. Balik lagi ke urusan tata ruang guys…

Jika melihat aktor dan unsur perbuatan maka urusan tata ruang ini terbagi 3 yaitu : pemerintah, pengusaha dan masyarakat. Pertama pemerintah berarti meliputi pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten/kota.

Apa yang menjadi tugas pemerintah?…..

Ada 4 tugasnya yaitu : 1) Membuat regulasi. 2) Menyusun Arah Kebijakan 3) Melakukan pengendalian 4) Melakukan koordinasi.

Bicara regulasi tentu salah satunya mengacu kepada Undang-undang 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Undang-Undang bidang Agraria Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria dan Undang Undang No.32 Tahun 2009 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan ditindaklanjuti dengan berbagai Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, peraturan menteri hingga peraturan daerah di level provinsi dan kabupaten/kota.

Penyusunan arah kebijakan maka ini harus singkron dengan mekanisme perencanaan nasional yang di breakdown oleh daerah melalui peraturan daerah baik di pemerintah provinsi juga pemerintah kabupaten/kota. Sebagai acuan tentu Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional menjadi pedomannya plus Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007. Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 serta Peraturan Presiden (Perpres) No. 2/2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang memuat sasaran, arah kebijakan, dan strategi pembangunan.

Photo : menu maksi juga / dokpri.

Segitu dulu yach…. ntar dilanjut guys, taruang eh… makan siangnya dilanjut duyuuu.(Akw).