Wake Cup Coffee.

Wake up guys…. wake up di wake cup Coffee.

Photo : Sajian Americano / dokpri.

KEBON KAWUNG, akwnulis.com. Turun dari Kereta api Pangandaran yang bergerak 3 jam yang lalu dari stasiun Gambir Jakarta menuju stasiun akhir di Kota Banjar, berhenti sejenak di Stasiun Bandung untuk memberi kesempatan kepada para penumpang turun, ya jelas penumpang ke Bandung.

“Klo ketiduran gimana?”

Sebuah pertanyaan yang agak sulit dijawab, karena jika terbawa oleh Kereta api ini, maka pemberhentian selanjutnya adalah Stasiun Cibatu Garut, …. lumayan jauh kelewatnya.

Tapi jikalau naik kereta sendirian dan memang sering pelor (nempel molor), alias mudah banget tertidur.. yaa titip pesen sama petugas untuk diingatkan di stasiun pemberhentian atau berbaik-baik dan kenalan sama penumpang disamping kita, dan mintai tolong untuk membangunkan jika tiba di tempat stasiun tujuan.

Inget bebetapa waktu lalu, kejadian ketiduran di kereta api yang dialami sendiri. Setelah giat 2 hari di jakarta, sorenya pulang menggunakan KA Argo Parahyangan dari stasiun Gambir menuju stasiun Cimahi…. sendirian waktu itu.

Di perjalanan berusaha untuk bisa segera memejamkan mata sehingga di akhir perjalanan bisa segar kembali sebelum turun di stasiun yang dituju. Minimal bisa 1 jam tidur dan sisa 2 jamnya melek…. eh ternyata, pas naik di stasiun gambir… nggak ngantuk sama sekali, malah segerr….. apalagi semangat bisa bersegera bersua dengan keluarga.

Jadi di perjalanan, seperti biasa buka smartphone, maenin medsos dan sesekali menulis di notepad jika ada ide yang bisa dituangkan dalam jahitan kata per kata, hingga tak terasa sudah melewati stasiun purwakarta.

Photo : Sajian double espresso / dokpri.

Tiba-tiba kantuk datang tanpa aba-aba, tiada menguap yang menjadi tanda, reup… mata terpejam dan segera terbang Ke dunia mimpi tanpa bisa berkompromi lagi…

Zzzz…zzzzz…..zzzzz…zzz

***

Perlahan mata terbuka, terasa gerbong kereta sedang berhenti di sebuah stasiun. Beberapa orang terlihat berlalulalang, “Dimanakah ini?”

Menengok ke samping, penumpang sedang berdiri, sedang mengambil tas ranselnya di rak atas kepala.

Segera konsentrasi dikumpulkan, tarik nafas panjang sambil kedua tangan mengucek mata yang terasa masih akrab dengan rasa kantuk ini. Pas mau bertanya, terdengar pengumuman,

“Selamat datang di stasiun Bandung, terima kasih anda sudah menggunakan jasa kereta api indonesia….. “

Walaaaaah……!!!

Kelewat kawannnn…. mustinya turun di stasiun Cimahi, sekitar 10 menit sebelum tiba disini.

Wadduh… akhirnya terburu-buru turun dan langsung pesan ojol via aplikasi… nasibbb.. nasib. Gara-gara terlelap sesaat… eh sejam kayaknya, musti nambah waktu 35 menit pake ojek online, udah pasti duit buat bayar ojolnya…. klo pake taksi online kebayang bisa 1,5 jam-an karena melewati beberapa area kemacetan…. ampyuuun dech.

Tapi itulah kehidupan, sebuah rencana dan harapan bisa berbeda dengan kenyataaan….

***

Tulisan ini ternyata cocok bingit dengan nama cafe coffee di seberang pintu masuk ke Stasiun Bandung jalan kebon kawung, namanya ‘Wake Cup Coffee’….

Deket khan, wake up dg wake cup…. hehehehe.

Tempatnya strategis meskipun memang belum menyajikan manual brew V60, aeropress, vietnam-drip atau kalita, tapi kopi hitam tanpa gula tetap ada yakni versi mesin kopi yaitu Americano, long black dan so pasti… espresso atau dopio.

Photo : Americano & Double espresso / dokpri.

Penyajiannya juga menarik, klo rasa sih…. yaa mirip2… moo apapun biji kopinya, klo udah pake mesin kopi maka hasilnya flat, body strong dan less accidity, after tastenya yaa kepahitan merata…. tapi itulah indahnya, di balik kepahitan tetap tersaji sensasi manis kehidupan.

Apalagi sambil memperhatikan, lalu lalang orang yang keluar masuk stasiun dengan berbagai ekspresi dan urusan.

Kemon, wake up guys!… Wassalam (AKW).

***

Catatan : Menunya bukan hanya kopi, tetapi berbagai makanan berat dan minuman lainnya tersedia, juga akses langsung ke lobby hotel, Hotel Grand sofia Kebon Kawung.

Kopi Si Petung – Jakarta.

Nikmati kopi si petung dan kerinci di sini…

Photo : Sajian Kopi Si Petung JCH / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com.Bolak balik bandung – jakarta menjadi rutinitas mingguan yang tak terelakkan, argo parahiyangan menjadi kawan setia menemani di perjalanan meskipun sesekali harus menggunakan kendaraan roda empat karena tugasnya mendadak, tiket KA habis nggak mungkin jalan ditempat, apapun situasinya… berangkaaaat.

Maka berbahagialah dikala ada sisa waktu yang bisa digunakan, meskipun itu berarti harus menghitung akurat jangan sampai memgganggu jadwal meeting berikutnya.

Maka…. kali ini dengan menikmati fasilitas transportasi massal di ibukota yaitu MRT, yang lagi hits lhoo……. bisa meluncur dari Bundaran HI ke blok M dengan sekejap, keluar stasiun langsung akses ke mall…. kerenn pisan.

Dibantu aplikasi gugelmap dan culang cileung clingak clinguk, akhirnya bisa bersua dengan Si Petung di lantai bawah, foodcourt Mall Blok M, Jakarta.

Tadinya dikirain adalah sebuah varietas kopi asli jakarta, khan namanya seperti Si Pitung, pahlawan legendaris…. tapi khan kecil kemungkinan di jakarta ada kebun kopi… kebun kopi beneran yaa… soalnya di batas kota bandung dan cimahi ada juga nama daerah kebon kopi… tapi nggak ada kopi nya hehehehe.

Pas dideketin… eh ternyata kopi si petung, sebuah varian kopi aceh yang disajikan oleh barista cantik, non Alsy. Nggak pake lama, duduk dibangku tinggi, order dech.

Nama cafenya jakarta coffee house, kantor pusatnya di Cipete (kata non Alsy), malah katanya di cafe yang cipete lengkap dengan mesin roasting dan juga sajian wild luwak kopi…. waaah menarik tuh, kapan-kapan beredar ke situ ah.

Sajian pertama adalah manual brew kopi si petung aceh, menggunakan perbandingan 18gr dengan 210ml air panas bersuhu 82° celcius dan metode seduhnya muter melawan jarum jam hasilkan sajian kopi yang ringan, body cenderung medium less, acidity medium dengan tastenya sedikit karamel dan berry…. enak buat pemula tanpa beban berlebih di lidah. Tetapi buat diriku yang keseringan ngopi…. serasa kurang, tapi tetap nikmat.

Photo : Sajian kopi kerinci JCH / dokpri.

Maka untuk menambah semangat siang ini, dilanjutkan dengaan order kotala (kopi tanpa gula) yaitu kopi arabica kerinci…… kerinci yaaa, bukan kelinci…. hati-hati, itu beda arti.

Gramasi dan jumlah air tetap sama, tetapi menggrinder beannya yang berbeda, dengan putaran 4 mesin grinder Meisser kaffee menghasilkan saja agak kasar dan langsung diseduh dengan air panas 90° celcius….. cirrrrr..

Eh…. currrrr…..

hmmm wangiiiii……

Sambil berbincang singkat dengam non Alsy yang cekatan dan terlihat confident memproses sajian kopi V60 maka waktu yang tersisa tinggal sedikit lagi.

Langsung kopi yang tersaji disruput dan dinikmati, owww bodynya bold agak ninggal di bawah bibir dan aciditynya mantabs, bikin nyengir, after taste tamarin dan lemonnya muncul bersamaan…. lumayaaaan.

Srupuuut….

Akhirnya waktu jua yang memisahkan kita, musti kembali ke alam nyata melaksanakan tugas negara, berangkaaat…

Jadi yang moo ngopay pas di sekitar sini, kedai kopi ini recomended. Srupuut…. sruput lagii,Wassalam (AKW).

Kontradiktif…

Berbeda itu biasa, meski perlu waktu untuk pembiasàannya.

JAKARTA, akwnulis.com. Dikala senja berkalang dusta
Disitulah terpuruknya sebuah jiwa
Harapan menyerpih berserak
Dihantam angin yang terus bergerak

Tiada keinginan selain pergi
Pergi dari kenyataan yang abadi
Terlintas gagasan untuk mati
Demi hindari perasaan hati

Biarkan kesakitan ini menjadi saksi
Betapa ku berkorban demi sebuah janji
Janji sehidup semati
Yang akhirnya kau ingkari

***

Photo : Hiasan dinding di Toilet Cafe Kotaku Pwkt / dokpri.

Bunga mekar dipayungi mentari
Merekah segar harum mewangi
Begitupun dengan hati ini
Terus berseri tiada henti

Harapan awal hanya impian
Kini terwujud menjadi kenyataan
Dikau pujaan hati yang kudambakan
Sekarang bukan lagi sekedar teman

Langkah kaki terasa ringan
Dikala kita berjalan beriringan
Nafasmu adalah nafas kehidupan
Bagi diriku yang butuh sandaran

***

Kamu memang penipu
Wajahmu ternyata palsu
Senyum tulusmu berubah kaku
Ternyata kejam semua niatmu

Aku terbuai bujuk rayumu
Yang meyakinkan dengan jurusmu
Janjikan harap ternyata tipu
Dasar buaya memakai baju

***

Inilah sajak kontradiktif yang tiba-tiba hadir di kepala dan langsung mengalir menuju jari jemari. Maka mulailah menjalin kata menjahit kalimat menjadi nyata.

“Kamu bikin tulisan apa seeh?… nggak jelas”

Itulah komentar perdana, sesaat setelah samwan membaca tulisan diatas.

Nggak usah jadi pikiran kawan, teruslah berkarya.

Photo : Salah satu obat galaw, esscaloppe de paullet / dokpri.

Diawali dengan tulisan receh, jikalau konsisten maka bisa ditukar jadi tulisan lembaran biru ama merah lho (Kayak diut aje).

Tapi ingat yang terpenting adalah konsistensi. Menulis adalah kegiatan sederhana yang mungkin semua orang bisa, “Nggak percaya?”.… buka aja medsos, dari mulai halaman facebook, Instagram, status WA lengkap dengan broadcast copas-nya, line, wechat dan teman-temannya tak lepas dari permainan kata-kata.

Kembali ke sajak kontradiktif diatas, itu adalah sekelumit cerminan kehidupan. Sebuah pasangan rasa antara sedih dan senang, terluka dan berbunga, marah versus keindahan trus marah lagi dan mungkin menjadi indah untuk kedua kalinya, begitulah seterusnya…. terus dan teruuss.

Yang pasti…….. jangan lupa bersyukur, semua kegalauan rasa tidak akan menjadi cerita jikalau kita sudah tidak bernyawa. Mari syukuri nikmat kehidupan ini, ambil sisi positif dalam memaknai kesedihan-kesenangan yang datang silih berganti.

Isi nikmat kehidupan ini dengan mengumpulkan bekal untuk kehidupan akherat nanti sesuai petunjuk agama yang telah diyakini. Wassalam (AKW).

Nyoba MRT jakarta.

Akhirnya bisa menikmati MRT di negeri sendiri.

Photo : Kartu single trip MRT & kartu duit elektronik / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebuah kebanggaan menyeruak dikala meeting tuntas dan waktu luang masih tersedia sebelum tiba saatnya harus kembali ke Bandung menggunakan kereta api dari stasiun gambir jakarta.

“Emangnya moo kemana?.. ngopi yach?”

Ahay, pertanyaan tentang ngopi alias minum kopi menjadi common judge bagi diriku, sebagai penggila kopi, penyuka kopi yeaah… pokoknya minum kopi kapanpun dimanapun. Padahal, itu hanya pencitraan kok. Itu hanya sekelumit rutinitas kehidupanku yang merupakan salah satu syukur nikmat terhadap rejeki yang ada yaitu bisa menikmati kopi tanpa gula, kopi asli seduh manual dan offcourse without sugar, karena sudah manis seeeh….

Gubrak!!!!

Trus yang bikin keren adalah, semakin kita bersyukur dengan salah satu nikmat Illahi ini, semakin sering berkesempatan, berjumpa dengan beraneka jenis kopi atau kedai kopi, restoran yang menyediakan sajian manual brew hingga pas dapet kamar hotel…. eh ada mesin espressonya… ngopi lagi. Alhamdulillah.

Balik lagi ke waktu luang ini, meetingnya di area perkantoran SCBD (Sudirman Central Business Distrik) Jakarta, dan deket banget sama pintu masuk ke MRT Jakarta.

“Ohh… moo nyoba MRT, belum pernah yach?.. kacian”

Ya memang belum pernah, maklum jarang ke kota besar hehehe. Ah nggak usah dimasukin ke hati klo ada pernyataan nyinyir mah, biarkan saja. Memang belum pernah naik MRT di Jakarta, jadi mari kita coba. Cekidot.

Masuk dari stasiun Istora menuju Stasiun Bunderan HI, lalu keluar area stasiun… trus masuk lagi... jadi start resmi dimulai dari Stasiun Bundaran HI….. berangkaaat.

***

MRT Jakarta (Mass Rapid Transit) menjadi kebanggaan diriku sebagai warga NKRI, jadi bagi yang belum pernah mencoba MRT, nggak perlu musti terbang ke singapura. Sekarang tinggal beredar di ibukota, cari akses ke beberapa stasiun MRT….. langsung cobaa.

Oh iya, yang kepo dengan MRT ini, dari mulai sejarahnya, siapa yang jadi penanggungjawabnya, berapa biayanya termasuk bagaimana kelanjutan dari proyek MRT ini, tinggal pantengin aja.. eh emangnya radio.. 🤣🤣🤣, maksudnya klik aja website resminya DISINI.

Photo : Kolase ekspresi girang naik MRT / dokpri.

Nah karena aku juga baru berkesempatan nyoba sekarang, maka pengen berbagi sekaligus pamer, semoga menjadi informasi yang bermanfaat sekaligus ngomporin yang belum pernah nyoba, pasti ketagihan lho… dijamin.

MRT yang sekarang sudah resmi beroperasi terbentang dari Bundaran HI, nggak pas bundaran HI sih. Tetapi sedikit bergeser ke depan Plaza Indonesia ada petunjuk yang sangat jelas tentang pintu masuk MRT. Baik di kiri jalan depan Plaza Indonesia, di ssberang jalan Thamrin ataupun di jalur tengah tempat naik busway, cuman klo lewat jalur busway ini musti lewati dulu orang-orang calon penumpang busway baru di ujung ada jalan turun ke bawah tanah.

“Ticketnya gimana?”

Nggak usah khawatir, pokoknya turun dulu aja ke bawah tanah… cuss, bisa via tangga dengan anak tangga yang lumayan banyak… latihan dengkul, atau bagi calon penumpang prioritas tersedia lift yang diperuntukan untuk lansia, bumil, busui dll.

Nah pas nyampe lantai bawah, banyak penawaran kartu duit elektronik baik dari beberapa bank nasional seperti e-money mandiri, flazz bca, brizzi bri, jak-card ataupun tiket sekali jalan yang dikeluarkan pihak MRT yaitu single trip card yang berlaku selama 7 hari.

Klo yang pertama kali, mendingan pake kartu yang dikeluarkan MRT, lumayan buat kenang-kenangan, untuk selanjutnya bisa pake e-money yang sudah dipunyai.

Pembelian single trip cardnya bisa via petugas, harganya 20ribu untuk kartunya dan 14ribu untuk biaya dari stasiun HI sampai Stasiun Lebak bulus…. murah khaan?... atau juga melalui mesin.

Caranya gampang, baca petunjuknya secara seksama dan sejelas-jelasnya, ikuti instruksi, keluar deh kartu yang diminta… jikalau bingung, bertanyalah pada petugas…. ingat dengan pepatah lawas, ‘Malu bertanya sesat di jalan, besar kemaluan susah berjalan’.

Beres urusan kartu, baru menuju mesin entri. Tempel dan masuklah kita ke area keberangkatan, tengak temgoklah petunjuk yang bertebaran… ikuti instruksi.

MRT yang datang akan membuka pintu otomatis, maka prioritaskan orang yang keluar dan masuklah dengan tertib.

Jikalau dapat tempat duduk, duduklah. Tapi prioritaskan lansia, bumil, busui dan… lihatlah petunjuk diatas kursi prioritas… jelas kok disana.

Lebih aman berdiri sambil berpegang tali, jangan lupa ambil photo selpi dan segera upload karena para netizen menanti….. eaaaaaaa.

Dari Stasiun Bundaran HI kita akan berhenti di stasiun dukuh atas-setiabudi-benhil-istora-senayan-sisingamaraja-blok M-blok A-haji nawi-cipete raya-fatmawati-.. hingga berakhir di stasiun Lebak Bulus.

Klo udah nyampe, jangan lupa photo-photo lagi, trus tap tiket di mesin untuk keluar, dari situ cari mesin lagi atau petugas untuk beli tiket 14ribu atau top up kartu elektronikmu… masuk lagi dech dengan cara yang sama, tap lagi di pintu masuk…. cekidot.

Nah…. saran aku sih, pilih gerbong MRT terakhir… dijamin masih kosong melongpong.

Trus?….

Disinilah sifat asli wong ndesonya muncul. Pertama sih pose jaim (jaga image), lalu mulai sedikit berulah, pegang sana sini, loncat-loncat… ih bikin malu aja.

Malah diriku juga kepeleset saking semangatnya loncat dan diabadikan oleh seorang rekan…. hasilnya jadi bisa berpose tiduran di lantai gerbong MRT…. aduuh malu. Tapi apa mau dikata, sekarang semua orang jadi pewarta dengan modal smartphonenya, jadi harus ikhlas jikalau photo nggak kobe (kontrol beungeut/wajah) kita tiba-tiba nongol di WAgrup tetangga… alamaaak.

Ah udah ah seru-seruannya, akhirnya kembali duduk di kursi yang tersedia karena di stasiun berikutnya mulai masuk penumpang lainnya dan semua kembali jaga sikap seolah-olah tidak ada kehebohan apa-apa.

Trus yang menarik untuk MRT koridor Bundaran HI sampai lebak bulus itu akan kita dapatkan 2 pengalaman sekaligus. Yaitu perjalanan gelap dari bawah tanah, trus di daerah depan Al Azhar sebelum Blok M, gerbong MRTnya muncul ke permukaan dan langsung berada di atas jalan serta hamparan kota jakarta selatan, excited bingit.

Jadi, yang belum mencoba.. disegerakanlah, bukan hanya menikah bagi para jomlo yang sudah berani eh mampu yang disegerakan, tetapi menjajal MRT inipun harus menjadi prioritas…. mungpung masih agak lowong.

Photo : Dulu, naik MRT di Singapura / dokpri.

Besok lusa tentu akan menjadi lebih padat karena merupakan tulang punggung transportasi massal di Jakarta… percayalah.

Oh iya satu lagi, ada satu stasiun yang akses langsung ke mall yaitu stasiun Mall Blok M… keren khan?… jajal MRT trus nge-mall, shopping, masuk lagi MRT… tepat waktu, murah, cepat dan bersih….. ayoo cobaa.

Oke itu dulu aja cerita kelakuan ndesoku, jikalau dulu berteriak girang karena bisa menjajal MRT di negeri singa, sekarang lebih berbangga karena menikmati MRT di negeri sendiri. Wassalam (AKW).

Musuh Gerot – fbs

Pangémut diri pikeun uih kana purwadaksina.

FBS : Fiksimini basa sunda, sebuah genre tulisan berbahasa sunda menceritakan sebuah cerita fiksi dalam tulisan maksimal 150 kata sudah membangun sebuah cerita.

Silahkan…..

# MUSUH GEROT #

Jempling ngalungkawing ngabaturan indung peuting. Haté sumeblak teu puguh cabak, cus cos émutan nu matak héman.

“Kunaon kasép?”

Patarosan nu nyamuni tapi ngabalukarkeun isin ka diri. Margi éta patarosan téh tos terang waleranna, tos apal kedah kumaha ngalaksanakeunnana, malih mah sok dicobi dipilampah, mung tara lana.

“Naha?”

Kitu geuning nyata karasa, nu jadi sabab musabab sanés patarosan salira, tapi musuh gerot nu ngahalangan saban mangsa.

“Tah geuning geus apal, naha teu dilawan lur?”

Carinakdak cisoca diusap ku dampal pangbagéa, sanés teu tiasa, tapi geuning musuh panggerotna aya dina jero dada, ogé ngawasa uteuk disabudereun néocortéx jeung amigdala.

“Cobian deui…”

“Bismillah..”, gerentes niat muntang ka Allah Maha Kawasa, Hapé diilo, lalaunan sababaraha aplikasi favorit dipupus saharita. Hapé ditunda, ngoléséd ka musola, wudu tuluy muka quran nu aya.

“Halah… naha janten balélol kieu?” hurup arabna teu tiasa di aos, ngadon nyarumput dina sisi tutunjuk awi. Cimata bedah ku hanjakal, haté gimir mayunan kanyataan, rumaos tambelar. (AKW).

***

Catatan : Diposting di halaman Grup Facebook FBS, Sabtu 270719 Pukul 01.13 wib.

Sedikit damai di Pantai Kuta.

Mencari sejumput damai disini..

Photo : Senja di pantai Kuta / dokpri.

KUTA, akwnulis.com. Menginjak pasir pantai di sore yang berangin memberikan ketenangan, bukan semilir lho… tapi hembusan kencang yang mungkin bisa menerbangkan harapan.

Memandang ke sekitar, sekian banyak mahluk yang sedang hadir bersama menikmati pemandangan alam dengan persepsi berbeda. Ada yang berbunga bersama pasangannya, ataupun yang sedang bersedih karena sekeping hatinya tertinggal disini.

Beberapa remaja bersendagurau sambil bermain air di tepi pantai, sementara remaja lainnya sibuk mengabadikan momen sunset pake kamera DLSRnya dan Smartphonenya.

Jepret… jepret.. jepret…Sepuasnya sepanjang memori mencukupi.

Jadi ingat masa lalu, dimana aktifitas mengambil gambar photo via kamera itu adalah sesuatu yang cukup butuh pengorbanan, termasuk keterbatasan pengambilan gambar karena harus sesuai dengan roll film yang dibeli. ISOnya musti pas, ada yang 200 atau 400, masangnya juga musti bener, klo nggak… semua gambar photo yang diambil akan hancur atau istilahnya ‘kebakar‘,… atau kadang photonya numpuk dan seolah ada siluet mahluk lain… hiiiy.

Belum lagi, proses cetaknya nggak sembarangan, musti ke Toko cuci cetak photo dan hasilnya ada 2 ada photo gambar dan ada negative photo….. ah.. masa lalu yang sudah terlewati.

Aih kok jadi melamun siih…. padahal khan tujuan kesinih adalah dalam rangka menenangkan pikir memberi rongga leluasa di jiwa di sela tugas yang tak rela jikalau manusia ini bersantai barang sebentar saja.

Kembali berjalan, menjejakkan hati eh…. kaki diantara kelembutan pasir pantai yang terdiam dalam kepasrahan. Sambil menikmati semburat jingga diujung pantai, menghiasi horizon langit bertabur warna.

Meskipun lalu lalang manusia yang cukup banyak tetap bergerak dengan arah masing-masing, dengan pikiran masing masing dan niat yang berbeda satu sama lain.

…….Mungkin kesamaannya adalah bagaimana menikmati suasana, menyerap rasa dan akhirnya sedikit rilex serta sejumput damai menyeruak di pantai Kuta. Wassalam (AKW).

Sunken Pool & Sunken Bar

Berenang sambil bersantai…

Photo : Sunken Pool / dokpri.

KUTA, akwnulis.com. Bersantai sesaat ditengah tekanan tugas dan target yang harus tuntas segera adalah salah satu obat mujarab yang bisa mengembalikan mood serta semangat untuk terus berkarya, bertugas dan ceria.

Caranya tentu beraneka macam, tapi di kala bertugas di luar kantor maka fasilitas hotel tempat menginap bisa dimanfaatkan untuk lepaskan penat.

Salah satunya adalah disini, di sebuah kolam renang yang memiliki multi fungsi, selain sebagai kolam renang tempat berenang dan bercengkerama dengan kesegaran air, sekaligus bisa sambil kongkow dan makan cemilan dengan posisi sebagian tubuh masih terendam air kolam renang, asyik khan?.

Inilah salah satu tempatnya, Sanken Pool & Sanken Bar. Sebuah kolam renang yang merupakan fasilitas hotel Inna Garuda Kuta di Bali ini memanjakan penginap untuk bersantai sejenak.

Kedalaman kolam dewasa 1,5 meter dan dipinggir sebelah kiri terdapat area untuk berenang anak dengan kedalaman 1,15 meter serta terdapat pagar pembatas dari stainless, sehingga relatif aman bagi anak yang sedang berenang tidak akan loncat ke kolam yang lebih dalam.

Photo : Sunken Bar Inna Garuda Kuta / dokpri.

Jadi beres berenang merapat ke sisi bar, pilih kursi dan segera pesan makanan atau minuman. Sayangnya diriku nggak bisa sempurna menikmatinya, karena pas nge-jebur ke kolam dan berusaha berenang dengan gaya batu andalan.. ternyata rekan sekamar dipinggir kolam memanggil sambil memperlihatkan smartphone yang dititipkan.

Segera menelepon setelah menepi dan, “Hallow..”

“Segera meluncur ke Denpasar, bawa berkas lengkap!!!”

“Siyaaap”

Sunken bar-nya gatot (gagal total), segera beringsut setengah berlari menuju kamar, mandi dan berganti pakaian secepat kilat dan langsung menghambur menuju kendaraan yang akan membawa diri bersama kawan untuk bergabung dalam diskusi pekerjaan di Kota Denpasar.

Cusss……….