Pagi bersama Mandheling-Lintong.

Menyeruput pagi sambil memandangi kopi…

KBB, akwnulis.com. Menyeruput sajian kopi panas hasil ekstraksi pada proses manual brew dengan v60 di pagi hari, adalah sebuah momen yang harus senantiasa disyukuri.

Dikala banyak orang masih misuh-misuh dan kesulitan menemukan kenikmatan kohitala karena rasa pahit dan asam yang mengguncang indera perasa, diri ini diberi kemudahan menikmatinya dan bisa merasakan sensasi rasa yang beraneka rupa. Alhamdulillahirobbil Alamin.

Sajian kopi Mandheling-Lintong ini memberikan rasa hangat cengkeh yang menggoda, tidak hanya selarik tapi 2-3 larik, menyegarkan kawan. Aroma herbalnya menjadi kental dan tentunya sejumput keasaman berry masih hadir menemani.

Sambil tidak lupa memperhatikan kehijauan pepohonan yang berkontribusi tinggi dalam menciptakan keindahan dan kesegaran pagi ini… srupuut… happy wiken kawanku, Wassalam (AKW).

CANGKEUL – fbs

Edisi menulis singkat berbahasa daerah dulu…

Fikmin # Cangkeul #

Bincurang ngeluk nangkeup harigu, bitis tungkul bari mapay jalur urat varisés. Paduduaan teu lemek teu nyarék. Pabeulit jeung pikiran séwang-sewangan, samutut bin baketut.

Geuning padeukeut lain hartina sapamadegan, tapi bisa waé tojaiyah béda kahayang bénten tujuan.

Bitis luis teu jadi jaminan bakal ngabalad jeung bincurang. Bitis gomplok ukur jadi panyumputan kutu kuar jeung babaturan.

Sanajan dina mangsana kudu leumpang, bitis jeung bincurang kapaksa layeut pakaléng-kaléng. Tapi beungeut teu bisa disumput salindung, haseum alah batan kopi ucing.

Sanajan kitu, ari mangsana rohmat Illahi geus datang ngajorag bumi, cunduk waktu nu geus tangtu teu loba carita duanana jempé, bari mimiti imut sanajan rada karijut.

Teu pira, pédah bincurang jeung bitis sarua ujug-ujug nandangan panyakit cangkeul nu teu bisa dicageurkeun saharita, jigana panyakit lével déwa, antukna daék teu daék kudu silih pencétan bari mimiti muka carita.

Babarengan maca jangjawokan du’a. Biwir samutut leungit saharita, diganti séréngéh baham mersihkeun dosa. Tungtungna dipungkas silih balédog carita, nu dilimpudan ku niat silih hampura, cag. (AKW).

Siang – Malam.

Diskusi terus dijalani, abadikan photo juga harus dilakoni dari siang hingga malam.

Photo : Suasana siang di Kuningan – Jakarta / dokpri.

JAKARTA, akwnulis.com. Sebetulnya nggak sengaja juga bisa mengambil posisi gambar ini, karena posisi meetingnya sebetulnya di gedung eh.. di ruangan yang tidak langsung berbatasan langsung dengan dinding atau kaca luar.

Trus kok bisa ngambil spot photo ini?”

“Konsepnya adalah luckyshot, photo keberuntungan lho”

“Ah kamu mah urusannya beruntung terus!”

Memang begitu kok, termasuk tidur dan bangun pagi, selalu hadir oksigen yang bisa kita hirup dengan sepuasnya dan gratis lagi, bukankah itu keberuntungan?… begitupun bisa ambil photo tadi

Tetapi pas ke toilet pria, ternyata dinding kacanya menyajikan kesempatan berbeda untuk mengabadikan indahnya lanscape kota tanpa banyak filter ataupun aplikasi photo yang bikin manjaaaa, tapi hasilkan photo apa adanya

Anggukan kepala menandakan persetujuan dari diskusi singkat kita. selanjutnya kembali terlarut dalam bahasan meeting yang penting kalau dilihat dari sudut pandang garis miring.

Diskusi terkadang hangat menyengat tapi sesekali bertahan dengan pendapat penting hingga tak bergeming. Itulah indahnya diskusi, berusaha menyamakan frekuensi meskipun masing-masing punya persepsi dan tendensi.

Photo : Suasana malam di kuningan jakarta / dokpri.

Photo kedua diambil dari titik yang sama, ujung kanan kamar mandi pria. Kota Jakarta bertabur gemerlap lampu serta terangnya lampu kendaraan yang sedang bercumbu dengan kemacetan.

Itulah sepenggal kisah kehidupan yang terekam oleh kecanggihan alat dan keisengan memposisikan sudut pengambilan gambar dari siang hingga tiba sang malam.

…..dan langkah selanjutnya adalah membewarakan kepada dunia luar via medsos pribadi yang sudah sesak dengan postingan meskipun minim like apalagi komenan….

“Santai bro, kita khan bukan selebgram”

Itulah cakap terakhir di lantai 12A The H Tower di bilangan Kuningan Jakarta. Karena selanjutnya harus turun membumi dan bergegas memacu kendaraan dalam perjalanan panjang, untuk kembali menemui anak istri yang menanti dengan segala keikhlasan hati. Selamat menikmati malam ini, Wassalam (AKW).

Spadaa Koffie.

Hunting Kopi lagiii…. Spadaaaa

Photo : Dinding pink Spadaa Koffie / dokpri.

BANDUNG,akwnulis.com. Tembok warna pink menyambut kedatangan raga ini dengan sedikit tulisan di sudut kanan. Cukup mengecoh bagi yang baru pertama kali datang, karena kamuflase yang gokil sehingga tingkat kenyasaran yang cukup tinggi.

Diriku sih aman karena sudah tahu, tetapi ketiga rekan yang datang belakangan malah mengetuk pintu kantor PO Bus Kramat jati yang memang tepat berada didepan mata hehehehe… bingung mereka, kok kedai kopinya mirip kantor, padahal itu memang kantor.

Padahal, tinggal menyelinap dibalik tembok pink maka langsung memasuki area cafe kopi yang unik dan nyaman ini.. namanya Spadaa Koffie, berlokasi di Jl. Ternate No.5 Kota Bandung.

“Oalaah keyword ternate itu jalan ternate di Kota Bandung toh, kirain lagi di Malukuuu….”

“Hehehehehe, mainnya masih lokalan, belum antar pulau kawan 🤣😀😀🤣”

Suasana kafe nan unik dan simpel tetapi peraturannya jelas, –No Smoking-, cocok banget buat diriku yang tidak merokok.

Photo : Pesan & bayar disini / dokpri.

Langsung pilih menu kopinya dan yang pertama adalah sajian kopi dengan metode manual brew jatuh pilihan pada Kopi Toba Clove Garden ditemani dengan menu makanan beratnya yaitu Mushroom slider pilihanku dan Bacon pilihan kawan-kawan.

Photo : Mushroom Slider / dokpri.

Jangan khawatir dengan bacon yang mengarah ke daging babi, karena yang dimaksud adalah beef bacon. Meskipun….. awalnya bikin ragu kawan-kawan. Membuat suasana dilematis pas sajian bacon itu hadir, dilema antara pengen segera makan tapi takut nggak halal… sementara mau nanya ke pelayannya nggak enak.

Akhirnya mainin sendok sambil wajah bingung berpandang-pandangan.

Supaya kebekuan dan kebingungan ini tuntas, langsung aja teriak, “Neng, ini baconnya halal?

Langsung dijawab neng Aya sang Baristi, “Halal Om, itu mah beef bacon alias daging sapi”

Ketiga wajah kawanku langsung girang dan hap…. lalu ditangkap.. eh dimakann… karena ternyata sudah pada lapar sangaat… nyam nyam nyam.

Photo : Javanese Coffee Kerinci Banira / dokpri.

Sebagai penutup, diriku memesan Javanese Coffee dengan pilihan beannya Kerinci Banira…. suegerrr tenan.

Selamat ngopay dan makan berat di sini kawan dan dimanapun kawan berada.. sruput.. nyam nyam. Wassalam (AKW).

Toba Clove Garden Coffee

Menikmati Kopi Toba Clove Garden.

BANDUNG, akwnulis.com. Ini dia Toba clove garden coffee, disajikan dengan metode fisixti (V60) dan dibuat oleh sang baristi disini.

“Disini dimana?”

“Ya disini…!!!”

Supaya penasaran, moo cerita rasanya dulu ya guys.

Rasa kopi yang dihasilkan dari 18gr bean yang dihancurkan oleh grinder lalu berpadu dengan air panas bersuhu 90° celcius menggunakan komposisi 1:10 adalah sebuah rasa khas yang nikmat.

Dengan ekstraksi yang tepat maka kandungan unsur dalam bean bisa dieksplorasi relatif sempurna.

Bodynya medium dan acidity medium high, dengan after tastenya muncul rasa buah berry serta selarik rasa manis alami plus dark coklat.

Awalnya klo liat namanya kayaknya ada rasa cengkeh, “Clove itu cengkeh khan?”

Nggak ada yang jawab, semua membisu karena disibukkan dengan urusan masing-masing. Ya sudah lah…. sruput dulu…

“Hmmm…. segar, tidak terlalu pahit, bisa dinikmati untuk penikmat kohitala pemula…”

Nah urusan lokasi bagi yang penasaran, keywordnya sih ‘ternate‘… tapi cerita lengkapnya bisa klik DISINI.

Met penasaran guys, Wassalam (AKW).

Old Coffee Soreang.

Suasana panas, mening ngopay dulu biar cekas.

Photo : Arabica gambung honey V60 / dokpri.

SOREANG, akwnulis.com. Setelah beberapa waktu tidak menampilkan tulisan tentang kopi, tibalah saatnya untuk kembali menikmati suasana sambil menyeruput sajian kopi kohitala.

Kali ini kopi yang dihidangkan adalah kopi arabica gambung dengan metode honey process. Sang Barista Andri, memainkan komposisi 1 : 10 dengan gramasinya 18gr bean dipertemukan perlahan tapi pasti dengan air panas 85° celcius.

Photo : Ornamen cafe sebelum masuk / dokpri.

Hasilnya sebuah sajian apik dengan botol server dan gelas kecil. Nggak pake basa-basi langsung disruput aja sendiri… rasanya ada manis-manisnyaa gitu.. manis gula merah berpadu dengan acidity medium berry-berry an juga body yang cenderang bersahabat, nggak memberi suasana ninggal yang dahsyat.

Ornamen dari mulai luar, lalu masuk ke dalam cafe maka berserakanlah barang-barang masa lalu, ada televisi yang berada diatas lemari jadul, sepeda yang tergantung di dinding dan Lampu Petromak memberikan suasana masa lalu yang kental dan memiliki karakter kesederhanaan.

Photo : Suasana Cafe / dokpri.

Oh iya nama kafenya cocok banget, yaitu old Caffee Soreang, berlokasi di seberang pintu masuk ke kantor samsat eh Kantor pusat pelayanan Bapenda Jabar wilayah soreang, yakni jalan Jl. Gading Tutuka I No. 68 Soreang.

Selamat ngopay kawan-kawan, apalagi siang panas terik gini… maka javanese arabica atau es kopi yang akan memberi sensasi kesegaran tiada tara. Wassalam (AKW).

***

Menjadi (seperti) Setrikaan

Bolak balik dan pulang pergi, jalani – hepi – beres sesuai target yang disepakati.

BANDUNG, akwnulis.com. Sebuah analogi seolah menjadi kesepakatan dari semua insani, padahal tanpa perjanjian dan kesepahaman, berjalan begitu saja dan mayoritas atau malah semua orang setuju dan menggunakan istilah ini dengan sadar tanpa paksaan dan diluar tekanan.
“Istilah apa brow?”

“Istilah klo bolak balik di dua tempat dan dilakukan dengan durasi yang sering, maka disebut –seperti setrikaan‘-“

“Emangnya lo bolak – balik kemana hari ini?”

“Ah cuman Gesat-Pakuan-Gesat-Pakuan-Gesat… euh, kayaknya ke Pakuan lagii”

“Ih kayak Setrikaan… ups” Keceplosan…… dia merona wajahnya. Tapi jadi manis.. awwwww.

Nyambung dari cerita ‘Tugas & Kopi’, itu adalah sepenggal proses diantara bolak baliknya raga ini mengawal sebuah map yang berisi tinta dan didalamnya berdesakan kalimat yang terdiri dari barisan kata, yang mungkin suatu saat mengguncang dunia…. (lebaaay nyaa….).

Photo : Sarapan Salad 8M berlatar Gdsate / dokpri.

Yang pasti, mari jalani menjadi setrikaan di hari ini dengan ikhlas dan ceria. Pekerjaan dan tugas adalah sebuah perjalanan kehidupan yang harus diselesaikan sesuai kemampuan dan kewenangan kita. Tetapi sambil menjalaninya, perlu juga sedikit bergaya menyimpan dokumen di dunia maya atau bisa juga mengabadikan momen gambar dalam file poto dan…. di upload juga di IG plus medsos lainnya.

Selain sebagai laporan online ke pimpinan dan teman-teman, juga media ekspresi diri ditengah kesibukan yang tiada henti.

Pagi hari berjamaah dan mengaji, ditutup dengan menikmati sajian salad 8 macam serta soto panas yang ngangeni.

Pagi hari secangkir kopi di ruang tunggu pimpinan, dilanjutkan dengan secangkir americano sambil menunggu dan melanjutkan tahapan pemarafan kalimat yang saling melengkapi.

Kembali ke gedung sate lanjut ke gedung pakuan, eh gedung sate lagi dan gedung pakuan lagi….. ngaso dulu ahh dan berpose sejenak di kursi tamu pendopo.

Sebelum mentari menghilang di ufuk barat, maka mengabadikan sebuah hotel di depan gedung pakuan berpadu dengan kerimbunan dedaunan, membingkai sebuah gambar yang (mungkin) suatu saat menjadi kenangan.

Photo : Halaman depan Gd Pakuan / dokpri.

Selamat menikmati menjadi setrikaan kawan, Wassalam (AKW).